
Flashback
aku merebahkan tubuhku yang ku rasa kaku karena aku memaksa tubuhku untuk bekerja hari ini tapi aku tak ingin mengeluh lebih banyak karena pasti Yogi tak akan mengizinkanku lagi untuk bekerja.
"sayang", sapa Yogi memasuki kamar dan duduk di tepi ranjang menatapku dengan lembut.
"iya, ada apa?", tanyaku karena aku rasa Yogi ingin mengatakan sesuatu padaku.
"bisakah nanti malam kau ikut dengan ku hadir ke pesta temanku?"
aku beranjak ikut duduk disampingnya, "maaf, kali ini aku tidak bisa mendampingimu"
"aku sudah lama tidak bertemu dengan teman temanku, jika kau tidak ikut bagaimana aku bisa datang?", tanya Yogi memaksa dan memelukku dengan rayu
"tapi aku capek sayang", sahutku
"kau hanya perlu menemaniku saja, sayang! aku ingin memperkenalkanmu sebagai istriku"
"iya, tapi.."
"masih banyak wanita yang mencoba merayuku, lalu bagaimana jadinya jika aku tidak membawa istriku?"
"huh, kau memaksa ya", ucapku kesal, "baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau aku mendadak ingin cepat pulang?"
kali ini mendengar jawabanku Yogi tersenyum senang, "aku hanya perlu pamer saja kepada teman temanku"
"aduhh, kau ya, gemas sekali", aku mencubit pipinya lalu mengecupnya sama seperti kebiasaannya kepadaku.
****
****
PLAK!!
Tamparan itu begitu keras hingga membuatku sedikit pening serta ku rasa perih disekitar bibirku yang sudah pecah,
"jangan, ku mohon!" rengek ku setengah menjerit
lelaki itu tak menghiraukanku yang sudah gemetar serta meronta ketakutan memohon ampun, Ia masih malakukan aksinya menyecap sisi leherku dengan kasar.
hanya tangisan serta jeritan yang keluar dari mulutku saat dia **** tubuhku dengan gusar, gaun yang menutupi tubuhku terkoyak sudah akibat ulahnya yang tak sabar dan memaksa. begitu jelas sudah di depan mata bahwa dia ingin memperkosaku.
ku lirik ada benda yang dapat membantuku, sebuah vas bunga yang tak jauh dari meja dekat sofa yang membaringkan tubuhku saat ini.
Rendy mengecap leher serta dadaku penuh nafsu sedangkan tanganku yang lemah tak dapat melakukan apa apa kecuali mengambil vas bunga yang ku lihat, lalu dengan cepat ku hentakkan kepada kepalanya yang persis sudah diatas dadaku yang terbuka.
PRANKKK!
Ketika kepalanya terhantam dan mengaduh kesakitan, segera aku bangkit menendangnya hingga tersungkur.
__ADS_1
"perempuan sialan", bentaknya sambil memegangi kepalanya yang sudah bocor bersimba darah
dengan cepat aku bangkit walau langkah begitu berat, aku berlari ke arah pintu memegang gagang dan mencoba menariknya tetapi sayang, pintunya terkunci dari luar.
entah siapa yang melakukan semua ini, tapi itu tak penting memikirkan sekarang.
aku mencoba meng gendor gendor pintu dan berteriak meminta pertolongan tapi belum juga ada jawaban hingga sebuah tangan menarik kakiku, mengangkatnya sejajar keatas hingga aku terjatuh membanting ke lantai.
Rendy menyeretku, menyeringai kepadaku penuh amarah kali ini karena aku sudah berani menyakitinya.
ku rasa sudah tamat riwayatku kali ini.
Ia masih menunduk kepadaku yang tergeletak dilantai, mengangkat daguku, "tidak ada yang akan menyelematkan mu, sekalipun suami tercintamu itu", ucap nya membuatku membelalak.
Ia lalu mencekik leherku dengan erat hingga membuatku kesulitan bernafas, aku mencoba melepaskan genggamannya dileherku tapi itu tak berarti.
Uhukk Uhukk
aku terbatuk ketika dia melepas cengkramannya yang menyiksa, dan aku tahu pasti dari ucapannya tadi adalah bahwa semua ini sudah dia rencanakan. kenapa Yogi tak menyadari itu?
tatapan matanya sudah tergambar jelas bahwa dia akan menghabisiku, tapi kali ini bukan hanya aku yang akan terbunuh tapi juga bayi dalam perutku.
dengan berat aku memeluk kakinya yang jenjang, memohon pengampunan padanya.
"ku mohon jangan bunuh aku! aku sedang mengandung", ucapku dalam tangis memohon ampun.
tanpa ku duga dia lelaki tanpa belas kasih, mendengar ucapan kehamilanku dia semakin membenci lalu menjambak rambutku, lalu membanting tubuhku lagi dengan kasar ke lantai.
dan Kini hanya suara lirih yang keluar dari mulutku saat Ia tak ada hentinya menendang perutku berkali kali,
BRUKK!
BRUKK!
"hentikan!"
BRUKK!
"ku mohon hentikan!"
tanpa ragu dia menendangku yang tergeletak, menendang tepat diperutku yang berisi hingga nyeri begitu sangat dan teramat.
"berani beraninya kau hamil! Yogi sialan itu, beraninya mengabaikan perempuanku lalu memilih perempuan jalang sepetimu"
BRUKK!
"mati saja kau sekarang!"
aku rasa aku sudah mencium aroma anyir darah keluar deras dari daerah intimku serta rasa nyeri yang amat teramat sangat hingga membuat kesadaranku mulai menurun.
Ia menghentikan aksinya menendangku karena sudah merasa puas melihat darah yang mengalir deras membasahi gaunku serta lantai. Dia menyeringai nan kejam.
****
__ADS_1
****
samar samar aku melihat seorang lelaki tak asing mendobrak pintu, lalu begitu terpaku melihatku.
Ia datang begitu emosi dan menghantam tinjunya dengan keras kepada orang yang ingin membunuhku.
"brengsek kau!" terikanya lantang **** dadanya lalu memukuli wajahnya berkali kali, "berani beraninya kau melakukan hal kejam seperti ini kepada isteriku"
"sialan!" lagi lagi dia berteriak keras tak hentinya memukul lelaki yang sudah tergeletak lemah di bawahnya.
aku mencoba menajamkan penglihatku yang sedari tadi samar, "Yogi", ucapku lirih.
mungkin jika tidak aku memanggil namanya, dia akan tetap pada emosinya lalu menjadi seorang pembunuh.
Yogi kemudian datang memelukku yang sudah tergeletak setengah sadar, "sayang, maafkan aku. maaf aku sudah memaksamu datang ke pesta bajingan ini, maaf sayang", ucapnya gemetar dalam tangis dan memelukku yang sudah merasa mati rasa, hanya kedinginan yang menyelimutiku.
"Dingin" ucapku lemah dan Yogi mengeratkan pelukannya padaku.
tangannya gemetar saat hendak mengambil kedua pahaku untuk Ia usung keluar mencari bantuan untuk segera membawaku kerumah sakit.
begitu banyak darah kental keluar mengalir begitu deras dari daerah intimku, membuat Yogi tak hentinya menangis setengah teriak melihat kondisiku yang sudah sangat buruk, terbilang kritis.
aku tak kuat membuka dua bola mataku serta suaraku, hanya mampu mendengar suara samar yang masih masuk kedalam kesadaranku yang tak penuh.
sepanjang perjalanan di ambulan, Yogi tak hentinya mengecup tanganku yang Ia genggam, sesekali membentak tanpa sadar pada petugas yang tak cepat menanganiku dikala kritis pada detak jantungku.
Dan tak lupa lontaran kata maaf dan juga penyesalan karena memaksaku untuk pergi dengannya.
tapi ku rasa kali ini mobil ambulance tak melaju pada yang semestinya, didalam mobil hanya terdapat aku, Yogi serta para petugas.
"kenapa berhenti?", bentak Yogi.
dan entah apa yang terjadi, aku hanya mendengar suara ledakan dari sebuah tembakan pistol yang membidik tepat kearah orang orang yang berada di dalam mobil tak terkecuali Yogi.
"Dorr" "Dorr"
****
"kakak, maafkan aku jika caraku membawa kakak pergi seperti ini. kita akan bersama tak terpisahkan", bisik seseorang sebelum menyuntikkan sesuatu kepadaku hingga membuatku hilang kesadaran penuh.
****
****
"Hitunglah umurmu dengan teman, bukan tahun. Hitunglah hidupmu dengan senyum, bukan air mata."
****
eitsss jangan marah dulu ya, pasti akan ada adegan romance setelah ini hehe.
__ADS_1