AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Wanita Bertopeng


__ADS_3


ku rebahkan tubuhku yang lelah diatas ranjang, menatap langit luas yang terlihat dari jendela kamarku yang luas. sungguh indah bintang bintang menghiasi kegelapan malam ini, berbeda dengan diriku yang tengah meratapi kegundahan hati.


"Bima, apa kau baik baik saja?" aku bergumam sambil menatap langit tinggi


aku masih saja memikirkan perkataan Yogi, dan masih saja terngiang di kepalaku tak mau berhenti, apa yang harus aku lakukan?


aku menggerakkan tanganku dan mendekatkannya didada, mengelus dan menepuk pelan, "kau akan baik baik saja", ucapku berharap perasaan yang tinggal dalam hati ku bisa sedikit tenang dan damai


cinta itu menyakitkan, sunggu aku tuli karena selama ini tidak pernah mendengar jeritan hati, hanya karena emosi aku meninggalkan nya pergi, ahhh


"malam, biar kan aku terlelap untuk malam ini"


****


hari ini aku berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya, aku harus semangat untuk bekerja dan menjalani hari hariku dengan lebih baik.


"Bela, kau disuruh ke ruangan Bos!", ucap Mira salah satu teman kerjaku, dan langsung saja aku melangkah pergi ke ruangan Bos ku kerana tidak seperti biasanya, Bos ku hanya memanggilku jika ada sesuatu yang sangat genting, dia cukup tidak peduli pada karyawannya apalagi hanya anak magang seperti diriku.


tok tok tok permisi, aku mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan kerja milik Bos ku.


"Bos, mencari saya?", tanyaku sambil menunduk memberi hormat


"ah iya, Bela duduklah!", ucap Bosku, lalu aku mengindahkan perintah nya, "ini beberapa proyek yang harus kau tangani! ini adalah proyek penting, akan menjadi pemasok utama untuk perusahaan kita", ucapnya sambil menyodorkan beberapa berkas penting kepadaku


aku tidak percaya bahwa hal penting dan berharga seperti ini diberikan kepadaku yang masih belum cukup handal dalam mengelola perusahaan, "kenapa Bos mempercayakan saya untuk menangani proyek besar ini?", tanyaku gugup tidak percaya


Bosku hanya tersenyum dan semakin melebarkan senyumnya ketika melihat ekspresi ketakutan di wajahku, "kita mendapatkan proyek besar ini juga berkat mu, jadi kau yang harus bertanggung jawab untuk mengurusnya", ucap Bosku membuat ku bingung tidak mengerti


"sa... saya? bagaimana bisa?", ucapku gugup masih tak percaya sekaligus bingung, "perusahaan apa yang mau menggunakan jasa kita?" tanyaku kemudian karena penasaran


Bosku hanya tersenyum lebar melihatku, "coba kau buka dan baca sendiri!", ucapnya menyuruhku untuk memastikan sendiri,


tak urung aku lekas membuka dan melihat perusahaan besar apa yang menginginkan jasa kita yang terbilang masih kecil dan kurang mumpuni, seketika aku kaget, "perusahaan farmasi dan perusahaan produksi alat kesehatan?", aku membelalak kaget tidak percaya


bayangkan saja jika memeperoleh kepercayaan untuk pengiriman serta keamanan barang yang jumlah nya begitu fantastis, keuntungan akan begitu besarnya karena mengingat perusahaan yang aku berkerja didalamnya adalah hanya perusahaan kecil yang hanya mampu mengirim paling banyak lima puluh container dalam sebulan.


"Bela, kau harus menemui mereka sekarang! tolong jangan kecewakan kami!", ucap Bos ku memohon, tetapi aku tahu ini pasti Yogi karena mengingat bahwa keluarga nya lah yang memiliki perusahaan di bidang kesehatan.


"maaf Bos, tapi saya tidak bisa menerima nya!", ucapku sambil mengembalikan berkas yang sudah Bos berikan kepadaku, "aku mohon undur diri dulu" ucap ku sambil melangkah pergi


aku tahu bahwa Bos ku kecewa dan menaruh harapan besar untuk proyek ini tetapi, aku ingin menghindari nya.


****



****


"Bela, kau kenapa?", tanya Mira yang sedang berada di dekatku, menyaksikan kegelisahan di raut wajahku


aku menggelangkan kepala, "aku tidak apa apa Mira", ucapku menatap Mira, sepertinya ia lebih bersedih dibanding denganku sehingga memicu diriku untuk tidak bertanya, "kau ada masalah?"

__ADS_1


dia mengangguk tanpa menatapku, ku lihat sedihan di wajahnya yang biasanya terlihat ceria, "perusahaan kita akan segera mengalami Loksek (bangkrut), padahal aku butuh biaya untuk pengobatan ibuku", ucapnya membuatku tak percaya


aku baru saja mengambil gaji pertamaku dan perusahaan tempatku bekerja akan mengalami kebangkrutan? arggghhh


"mengapa bisa terjadi? perusahaan kita terus stabil dan selalu meningkat dalam pengiriman barang bahkan bulan ini meningkat lebih pesat", ocehku masih tidak menerima kenyataan.


"ya kau benar, tetapi ada suatu perusahaan pemasok barang terbesar marah kepada perusahaan kita sehingga membuat pelanggan kita yang selama ini setia bisa beralih ke tempat lain walau mereka lebih mahal dari jasa yang kita tawarkan", sahut Mira menjelaskan membuatku memahami dan sangat jelas


"apa perusahaan itu bergerak di bidang kesehatan?", tanyaku untuk memastikan dugaan ku yang tak ingin salah sasaran.


"bagaimana kau tahu?", ucapnya kaget, lalu aku segera beranjak dari tempat dudukku dan pergi segera ke ruangan Bos ku


tanpa permisi aku melangkah masuk, membuat Bos ku kaget yang semula tengah menopang dahinya yang sudah berkerut


"maaf Bos saya langsung menerobos masuk", ucapku menunduk memberi hormat


"tidak apa apa Bela, ada apa kau datang kemari menemuiku?", tanya Bos lemah masih mengerutkan keningnya karena memikirkan bahwa perusahaan yang didirikan nya sudah puluhan tahun akan mengalami Loksek.


"berikan kepada saya berkas proyek untuk perusahaan farmasi dan alat kesehatan, saya akan berusaha untuk membujuk mereka agar menggunakan jasa kita", ucapku yang penuh keyakinan membuat Bos ku tercengang dan beranjak dari tempat duduknya dan bergembira,


"terimakasih Bela, aku memang bisa di andalkan, aku akan memberikanmu saham dari perusahaan ku", Bos ku sambil mengambil tanganku dan mengayuhkan nya ke atas bawah serta tersenyum sumringah kepadaku, dia sangat berterimakasih


****



****


kini aku datang sendiri ke sebuah perusahan besar yang terletak tak jauh dari pusat kota, wahh sangat besar sekali


"apa Anda adalah Nona Bela?", seseorang wanita cantik bertubuh bugar, rapi nan cantik khas wanita kantoran menyambutku, "tuan muda sedang menunggu mu di ruang kerja nya", ucap wanita itu lalu menuntunku memasuki ruangan yang begitu luas


lebih luas dari rumah kontrakan ku, dan ini hanya untuk satu ruangan saja?


karyawan tadi melangkah mundur sampai keluar pintu lalu menutupnya, aku melihat seorang pria dari postur tubuhnya sedang duduk di kursi kerjanya yang terbuat dari kulit khusus bak singgasana, dia membelakangiku


dan benar saja aku aku kaget, setelah tahu bahwa pria itu yang aku kenal, "sayang, kau akhirnya datang", ucap Yogi tersenyum lembut kepadaku


mataku membelalak kaget, ya tentu aku tahu semua ini ulahnya tapi tak terpikir olehku bahwa Yogi sendirilah yang menjalanakan perusahaan ini


aku gugup dan dia berdiri dan mulai mendekatiku, "kau tidak usah takut, sayang! aku takkan menyakiti atau memaksamu", ucap Yogi tersenyum menyeringai kepadaku karena rencana yang ia susun telah berhasil dan tak mampu ku tolak, "aku akan menunggu keputusanmu dan menghargai nya"


dia sungguh arogan, egois bahkan sangat keras kepala, bagaimana bisa aku melawannya?


"lalu kenapa kau tidak membiarkan ku sendiri?", tanyaku memandang sinis kepadanya, dan malah ditanggapi dengan tertawa olehnya


"sudah ku katakan, kau tidak boleh jauh dariku apapun itu yang terjadi kau harus tetap disisiku sampai kau mengambil keputusan", Yogi berucap tajam dan kembali mendekati ku lalu menarik tubuhku yang kecil agar menempel dengan nya, "aku merindukan mu", ucapnya penuh maksud terselubung


"kau gi....", belum selesai aku berucap, dia langsung melayangkan bibirnya mendekati bibirku lalu melumatnya, menahan tanganku yang hendak memukulnya


lumatannya sungguh sangat kasar, tapi ku langsung saja menggigit bibir bawahnya nya yang tipis hingga ia mengeluarkan darah dan melepaskan ciuman nya


ia membersihkan darahnya yang mengalir menggunakan punggung tangannya, gigitanku mungkin cukup kuat hingga membuat luka nya cukup serius di bibir manisnya

__ADS_1


arghhh esssssh dia kesakitan, "kau...kau tidak apa apa? maaf?", ucapku gugup dan cukup spontan karena panik melihat nya begitu kesakitan


tanganku gemetar ingin mengusap bibirnya yang berdarah, anehnya dia menatap ku lalu tersenyum, "kau mencintaiku bukan?", ucapnya tiba tiba membuatku bingung


"aa...apa?", dia malah membuatku semakin gugup,


"kau khawatir padaku, berarti kau menyukaiku", ucapnya yang tak bisa aku jawab, dia membungkukkan tubuhnya yang jenjang dan menatapku dengan menelisik membuatku merasa ngeri, "mengaku saja?"


"tidak!", ucapku spontan, ku katakan dengan tegas kali ini, "aku permisi dulu jika tidak ada hal yang perlu dibahas",


aku melangkah pergi membelakangi nya tapi dia menahan dan membalikkan tubuhku dengan kasar dan membanting agar menempel ke tembok, "semakin kau mengelak, maka semakin kau mengakuinya", ia berucap dengan tatapan tajam tapi bibirnya masih menipis terhadap ku


tiba tiba Jesi masuk begitu saja tanpa permisi, "sayang", ucapnya tersekat seperti sedang memergoki kekasihnya sedang bercumbu dengan wanita lain


segera aku menggelengkan kepalaku, "tidak, ini tidak seperti yang kau pikir Jesi, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Yogi", ucapku menjelaskan dengan panik


"benar begitu kah, Yogi sayang?", tanya Jesi bersedih dengan mata berkaca kaca


Yogi malah tidak menjawab dan tidak menghiraukan ucapannya, langsung saja aku menyela "Yogi cepat katakan padanya kalau kau dan aku.."


Yogi langsung memotong ucapanku, "benar, dia adalah kekasihku, wanita yang aku cintai"


bukan menyejukkan suasana, ia malah semakin memperburuknya


"Bela, kau tegaa, kau jahat!" ucap Jesi menangis sambil berlari meninggalkan ruangan kerja milik Yogi


"kau", aku ingin marah dan memaki Yogi tapi ini bukan saatnya karena aku harus mengejar Jesi dan meluruskan kesalah pahaman ini.


Jesi adalah wanita yang lemah lembut, ia tidak pantas untuk disakiti apalagi oleh pria brengsek seperti Yogi.


"Jesi, tunggu!", ucapku mengejar langkah Jesi yang berlari, tapi untunglah ia berhenti dari kejaran


ia menundukkan kepalanya dengan sedih, tangan ku bergerak ingin menyentuh bahu nya guna untuk menenangkan nya tetapi ia malah menepisku dengan kasar


Plakkk! dia menamparku dengan keras


aku kaget tidak percaya, sebegitu marahnya kah dia?


tapi ku lihat dengan jelas bahwa matanya menatap kepadaku, dan tersenyum sinis, sungguh sangat berbeda dengan dirinya yang selalu terlihat lembut dan membuatku merinding karena meringis


ia mendekatkan bibirnya ke sisi telingaku, dan berucap dengan tajam, "kau pikir akan menang dariku, tidak ada seorangpun yang bisa memiliknya kecuali diriku", ia kemudian menatapku dengan kejam dan seakan aku musuhnya yang harus ia bantai, "dasar perempuan rendahan!", ucapnya lalu mendorong tubuhku hingga tersungkur,


ini seperti mimpi, bagaimana dia selama ini berpura pura bahkan memakai topeng agar sifat asli nya tak terlihat, dia sungguh wanita yang mengerikan


****


Jika kamu sedang mencintai seseorang, maka kamu bisa merasakan apakah itu getaran cinta dan rasa khawatir yang teramat sangat apakah di baik-baik saja atau tidak


****



__ADS_1



__ADS_2