
aku membuka mataku terbangun lebih lambat dari biasanya, ya memang biasanya bangun siang tapi semenjak aku menjadi seorang istri, kebiasaan bangun siang ku, ku rubah demi menyiapkan suamiku sarapan sebelum bekerja.
ku rogoh tempat biasa Yogi berbaring disisiku tapi Ia sudah tak ada di tempat, aku mencarinya di kamar mandi tapi Ia juga tidak ada.
"apa dia sudah pergi ke kantor? katanya ingin mengajakku berjalan ke suatu tempat", gumamku kesal
tok tok tok, suara ketukan di pintu kamar
membuatku menerka nerka pasalnya aku jarang sekali memiliki seorang tamu, apalagi sampai menuju ke kamar pribadiku.
ku melangkah pelan membuka pintu, tiba tiba saja sebuah bibir mendarat ke bibirku membuatku kaget membelalak
"sayang, selamat pagi"
"astaga, kau membuatku jantungan"
Yogi tertawa lalu memelukku dengan begitu hangat, entah angin apa yang menerka nya pagi ini. dia bersikap lembut membuatku bahagia menyambut pagi.
"ada apa?", tanyaku karena sikap lembutnya yang tak biasanya
"aku jatuh cinta padamu, setiap membuka mata melihatmu di dekatku, bagaimana ini? jantungku rasanya mau meledak", gombalnya masih mengeratkan pelukannya padaku
"ya Ampun, kamu begitu gombal sekali ya ha ha"
aku melepaskan pelukannya lalu ku jinjit kaki ku untuk mengecup balik bibirnya.
"lakukanlah dengan benar, sayang?", ucapnya menggoda
aku hanya bisa menahan senyum padanya karena malu mendengar perkataannya yang terdengar vulgar, ku lingkarkan kedua lenganku di lehernya yang kokoh sementara menahan pinggangku agar tertahan pada posisi sejajar walau Ia harus berdiri setengah membungkuk.
ku hadiahi Ia ciuman hangat di pagi hari, ya tak sekedar ciuman lembut dan lambat tapi Ia malah menggiringku ke atas ranjang tanpa mau melepas pagutannya, masih melumat bibirku penuh nafsu.
"hadiahku di pagi hari", bisiknya membuatku semakin merona di buatnya.
menyambut pagi hari dengan segala cinta dan kenyamanan, bukankah akan sangat bagus jika melakukan nya di pagi hari?
****
kini kita sudah sama sama membersihkan diri, melakukan hal sama lagi dikamar mandi.
ah rutinitas yang melelahkan tapi tak bosan.
aku duduk didepan cermin, seperti biasa Yogi yang menyisiri dan mengeringkan rambutku.
sepertinya aku tidak akan pernah merapikan rambutku lagi jika sudah terbiasa dengannya setiap hari.
dia sudah berada jauh dalam lubuk hatiku, begitu penuh dengannya, dengan kebiasaan yang sudah kita lakukan bersama.
tak bisa ku bayangkan jika dia meninggalkanku, jika ini hanya sebuah dogeng, biarkan aku terlelap dan terus jatuh didalamnya. aku takut mengetahui kenyataan yang ada.
sekelibat kata kata Jesi dan Dio masuk dan menyerap dalam otakku, membuatku tak bisa tenang. aku sudah terlanjur jatuh tenggelam dalam perasaan cinta, dan itu akan sangat menyakitkan jika aku terluka.
"sayang?"
"iya, ada apa?", tanyaku
"kau menyukai salju?"
"sangat suka, memangnya kenapa? apa kau akan mengajakku melihat dan menikmati musim salju?"
"iya, kau senang sekarang?", Yogi tersenyum lalu mengecup pipiku
__ADS_1
aku mengangguk senang
"baiklah, selesai aku mengeringkan rambutmu, pakailah mantel hangat lalu kita pergi. tapi kita tak akan berlama lama"
"kenapa?", tanyaku agak kecewa padahal aku surah membayangkan bermain dan berlama lama disana.
"kau lupa ya? kita bertiga sekarang"
"ahh iya aku mengerti"
Ketika rambutku sudah kering, kita mulai berlalu pergi ke suatu tempat.
kita berjalan di bawah pohon pinus, lambang cinta yang kokoh, lurus tidak bercabang bahkan daunnya yang tak pernah tua seperti cinta abadi yang tak mengenal kata akhir.
jemariku tenggelam dalam jemarinya, lalu ia masukkan dalam saku mantelnya untuk mendapatkan kehangatan lebih.
aku tidak ingin hari ini segera berakhir, suasana yang sangat mendukung untuk saling menghangatkan diri dan penuh kasih.
aku melihat pohon berdiri tak jauh dari jangkauan yang terdapat banyak salju mengapung diatasnya, saat Yogi berjalan dibawahnya. ku tarik ranting tersebut hingga salju yang mengapung tersembur dan jatuh ke atas kepala Yogi.
aku tertawa menjahilinya, aku berlari pelan dan ia mengejarku. membalasku dengan mengambil salju yang berserakan dan melemparkannya padaku.
kemudian kita bermain saling melempar salju tanpa takut akan dingin, juga tak lupa membuat boneka salju yang lucu tapi sayangnya moment tersebut tak bisa kita abadikan.
"kau tidak membawa kamera?" tanyaku
"aku lupa sayang, saat musim salju tiba lagi, aku akan mengajakmu lagi untuk kesini"
"benarkah?"
Yogi mengangguk, "aku berjanji padamu, setiap musim salju datang. kita akan datang kesini untuk menikmati bersama, tentu bertiga dengan anak kita"
"baiklah, aku pegang janji mu ya!"
sekali lagi ku tatap wajah tampan suamiku penuh kasih, membuatku tersenyum malu karena lagi lagi dia membuatku berdebar dan jatuh cinta lebih banyak.
"sayang", sapaku manja
"iya sayang", sahutnya berjalan memandang lurus.
aku pun menghentikan langkahku, melihatnya apakah Ia akan berbalik jika tahu aku tertinggal tak disampingnya
benar saja, dia mencariku lalu berbalik.
tersenyum lebar sambil membentangkan kedua tangannya membuka lebar untuk menyambut pelukanku.
aku berlari kecil kearahnya guna mendekatkan diri dalam pelukannya yang sudah disambut.
aku benar benar sudah tenggelam dalam rasa cinta kepadamu
****
mendadak malam ini aku di ajak datang ke pesta perayaan ulang tahun teman lama Yogi, suamiku.
tanpa persiapan apapun aku harus menghadirinya, kewajibanku untuk menemaninya.
ku pakai riasan sebisaku, tak perlu penata rias profesional karena aku lumayan mahir dalam menghias wajah akibat suka melihat tutorial dan praktek diam diam selama Yogi sibuk bekerja dikantor.
"sayang, kau sudah siap?", sapa Yogi mendekatiku yang tengah berada di depan cermin.
Yogi menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajahku agar saling bersentuhan dan memandang cermin seperti mau berfoto bersama saja, aku hanya tersipu malu dan Yogi segera mengecup pipiku yang sudah merona.
__ADS_1
"kau cantik sekali malam ini", bisiknya di telingaku
entah ini sudah ke berapa kalinya Yogi selalu memujiku, walau aku tahu dia hanya ingin menyenangkan ku. pujian untuk isteri sendiri tak akan membuatmu merugi bukan?
aku sangat beruntung memilikinya
aku juga sama halnya dengan dia, suka memuji dirinya tapi aku berbeda karena hanya dalam hati tak dapat mengungkapkan nya.
"aku sudah siap, hayo kita berangkat"
****
sesampai di pesta sungguh sangat meriah, kita disambut dengan baik disini.
"selamat ulang tahun, teman!" Yogi memberi selamat kepadanya temannya tersebut, "oh ya perkenalkan ini Bela istriku"
"hai Bela, dia sangat manis sekali!", akupun menyambut sapaannya, "kalian menikah tapi tidak mengabariku"
aku hanya tersenyum mendengar itu, perihal pernikahan kami juga secara mendadak.
"pestanya akan segera di mulai, sebaiknya kalian gunakan kesempatan ini untuk berdansa", ucap teman Yogi tersebut sembari berbisik
Yogi menoleh kepadaku lalu memberikan talapak tangannya bagaikan menyambut sang tuan puteri dongeng.
"maukah berdansa denganku?"
"tapi aku tidak pandai berndansa"
"hayolah, tak apa"
mau tak mau aku segera menyambut telapak tangannya yang sedari tadi Yogi tawarkan.
dan akhirnya kita berdansa bersama, berpelukan, saling pandang, menempelkan dahi serta mendekatkan hidung masing masing hingga bergesek, merasakan nafas satu sama lain.
aku tidak ingin keluar dari momen ini.
****
Kini aku beristirahat diruang yang disediakan, duduk berhadapan bersama dengan suamiku.
"hai, kalian sedang apa?" tiba tiba suara itu datang dan masuk diantara kita.
tanpa sungkan dia duduk disebelahku, seketika pandangan Yogi kecut.
"ah, aku tak betah berdiri lama lama jadi kita beristirahat disini", sahutku
"ah iya, kau kan sedang hamil", ucap Jean.
karena perutku lapar jadi aku sudah tak tahan, "aku permisi mengambil makan dulu ya!"
"baik sayang", sahut Yogi sebelum aku meninggalkannya
aku percaya padanya, mana mungkin aku menaruh curiga. jika cinta, bukankah harus saling percaya?
setelah aku keluar dari pintu, mengambil beberapa menu makanan diatas nampan serta tak lupa kue yang tak bisa ku lepas.
aku pun melangkah untuk masuk ke ruangan kembali tapi kini langkahku kaku dan terhenti saat melihat mereka sangat jelas saling pandang dengan tatapan serius, sangat jelas di lihat melalui celah pintu yang terdapat kaca tebus pandang.
"Nona, kenapa tidak masuk saja?", tanya Dio
****
pohon pinus melambangkan cinta yang kokoh lurus tak bercabang, bahkan daunnya sama seperti cinta yang tak pernah tua sampai akhir
__ADS_1
****