
Mentari di pagi hari begitu cerah di hari ini, sinar matahari telah membentang menyinari bunga bunga ku hingga begitu tampak indah nan berseri.
betapa cantiknya bunga penuh warna warni tampak bermekaran sangat cerah dan menyejukkan mata hingga turun ke hati.
KRIEKK!!
suara bunyi pintu mengalihkan pandanganku tertuju padanya
"Diki?" ucapku tak menyangka, akhirnya dia datang menemuiku
Ia datang dengan wajah kusut tak biasa hari ini, mungkin sudah banyak yang dilalui nya beberapa hari ini saat kami tak bertemu.
"apa kabar?", sapaku memulai percakapan
Dia hanya menatap kosong padaku, lalu menarik tanganku untuk memasuki rumah.
aku hanya bisa mengikutinya tanpa perlawanan karena aku tahu, pembicaraan kita akan memutuskan hubungan baik kami berdua.
"kemana saja kau hari itu? apa kau bersama pria itu?" tanya Diki menatap tajam padaku
"namanya Yogi", sahutku
"aku tidak peduli", teriak Diki lalu memegangi kedua sisi pundakku, "katakan kepadaku bahwa kau tak bersamanya? katakan bahwa perkiraanku salah! katakan?" teriak Diki sambil terisak padaku
"kau benar", jawabku parau, "aku bersamanya, aku memilih mempercayainya"
"kenapa?", teriak Diki, "apa aku tak cukup baik bagimu selama ini hah? kau bilang bahwa saat aku dewasa nanti, kau akan menyukaiku tapi mana? kau malah mencampakkan aku"
"kau salah, aku tidak mencampakkanmu. aku masih datang kepadamu walau aku ragu", sahutku tegas, "kau boleh menghapus semua ingatanku tapi kau takkan bisa merubah isi hatiku, berapakali pun itu"
"apa? kau mengatakan apa?"
"aku sudah tahu semua kebohonganmu, jadi menyerahlah", pintaku, "aku lelah kalah dengan hatiku, selama aku hidup bersamamu yang ku lihat hanyalah kebohongan darimu. aku bisa merasakannya sejak awal. aku tidak tahu hatiku berada dimana sekarang tapi bagiku kau hanyalah palsu"
Diki memundurkan langkahnya tak percaya, terkekeh frustasi jelas dari wajahnya yang terisak dan tersiksa.
aku melangkah meraih nya, memeluk tubuhnya.
"mari kita mulai dari awal, jaga hubungan baik kita. kau adalah adikku"
"tidak!", Diki mendorongku, "sampai kapanpun aku tetap tak akan menerimanya, dan aku bukanlah adikmu"
"Diki, aku menyayangimu. seburuk apapun yang telah kau berikan kepada kehidupanku agar terpisah dari suamiku, tetapi aku tidak dapat membencimu"
"kakak", ucap nya menyeringai, "kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan itu hah?"
"mari kita menjadi keluarga", pintaku
__ADS_1
Diki kemudian mencengkram lenganku hingga aku kesakitan, "aku sudah memulainya dari awal, itu artinya aku tak akan lagi menjadi adikmu"
"apa...apa kau membunuh Ayah?"
Diki melepas cengkeramannya dan tertunduk lemas mendengar pertanyaanku
"dia sudah mati, kenapa kau masih membahasnya hah?"
"Diki"
PLAKK!! aku menamparnya
"kenapa kau menjadi mengerikan seperti ini?", ucapku parau hingga bibirku pun bergetar tak tertahan, "bertahun tahun aku bertahan dalam kehampaan, dalam lelah melawan keraguan padamu. tapi apa yang telah kau torehkan kepadaku, kau menyakitiku, kau kejam!"
"aku memang kejam", sahutnya menyeringai tanpa penyesalan, "itu semua karena kau, karena kau telah memberi pengharapan padaku"
"jadi kau pikir semua salahku?"
"ya, itu memang salahmu"
"kau pikir dengan aku menolak tegas dirimu dari awal, watakmu akan berubah begitu saja?", tanyaku menohok, "tidak Diki, kau tetap dirimu yang menyeramkan, kau sakit jiwa"
"Diam!" teriaknya membuatku ketakutan, "aku tidak sekejam itu, aku ini mencintai. tulus mencintaimu dari siapapun itu"
aku menggelengkan kepalaku menolak, "tidak Diki, kau hanya terobsesi padaku. mencintai seseorang bukan begini caranya"
"jika begitu, mari kita belajar mencintai bersama", Diki memelukku tanpa permisi, "pernikahan kita semakin dekat, bertahanlah sebentar untukku!"
"tapi aku lebih menginginkanmu"
"Diki, dengarkan aku", aku menggenggam tangannya penuh harap, "akui semua kejahatanmu kepada pihak berwajib, aku akan mendampingimu. kita berdua akan baik baik saja nanti"
"tidak!" Diki menepis tanganku lalu menarikku, "kita akan menikah!"
Diki menyeretku, membawaku masuk kedalam mobilnya dan pergi.
sekuat tenaga aku meronta memohon lepas tapi Ia tidak menggubrisnya.
"Diki, jika kau begini. kau yang akan menyesal kemudian!"
****
Entah aku harus berbuat apa untuk mengembalikan keadaan.
Diki menarik paksa tanganku keluar dari mobilnya, lalu melepaskanku dengan kasar.
"para pelayanan akan menjaga dan membantumu, besok kita akan menikah!" ucap Diki sebelum pergi meninggalkanku
menangis pun aku tak sanggup, jelas sudah Diki mengurungku. Ia tidak akan melepaskanku lagi dengan sikapnya yang kasar itu.
__ADS_1
semula Ia terlihat riang dan menggemaskan layaknya sebuah bunga yang tampak indah ingin dimiliki tapi jika kau sentuh, maka Ia akan menusukmu hingga berdarah. seperti itulah Diki sebenarnya.
aku sekarang layaknya orang orang yang sedang menyanyikan lagu sedih tapi berbahagia, kau tahu mengapa? karena kebahagiaan adalah luka yang bersandiwara.
****
Kini pagi sudah menjelang, aku pun sudah memakai gaun putih mewah nan cantik, gaun pengantin.
ku tatap ccermin menyaksikan seksama wajahku yang sudah berhias tampak berwarna.
aku tak akan menangis, aku tak ingin juga menangis karena aku tahu hari ini adalah puncaknya.
Bima akan datang dan aku akan kehilangan adikku,
hah, aku lelah dengan permainan hidup ini.
aku ingin berlari, berlari begitu jauh tapi aku tahu arah pulang jika aku ingin.
aku menghirup nafas panjang, dan juga menghembuskannya perlahan.
"Nona, Tuan sudah menunggu didepan mimbar" ucap salah satu pelayan kepadaku
aku beranjak, melangkah menuruti kemauan Diki yang tengah menunggu dan tersenyum padaku dengan memakai setelah Tuxedo yang pas dengan tubuhnya, rambutnya tersisir ke belakang dan lebih terlihat jauh lebih matang dan menawan.
BRUKK!!
Pintu gedung pernikahan terbuka lebar, para wartawan, media masa tiba tiba beramai ramai memasuki gedung.
"apa yang terjadi?" tanya Diki keheranan pada salah satu pengawal disampingnya
tapi para wartawan semakin tak terkontrol dan tak terhitung jumlahnya. mereka mengambil gambar dengan flash dimana mana.
"jangan dihiraukan, mari kita mulai!" pinta Diki
"Diki, menyerahlah!" ucapku menunduk menahan air mata
"apa maksudmu? apa kau yang merencanakan ini semua?"
"menyerahlah sekarang! kau masih belum terlambat" hanya jawaban itu yang dapat aku lontarkan sebelum kemudian Bima datang dengan para polisi.
****
cantik belum tentu baik, layaknya bunga yang berduri. melindungi dirisendiri dengan menyakiti.
****
mohon dukung Author dengan cara kasih POIN (vote) sebelah nama Author.
baca juga " IM NOT A GAY "
__ADS_1
Makasih banyak yaa :*