
ia mulai mencoba melepaskan pakaiannya, melepas satu persatu kancing baju nya untuk bertelanjang dada, memberitahu ku tentang tubuh indah penuh otot dari nya.
lalu ia kembali memposisi kan berada di atasku, lalu melumat bibirku lagi yang sudah bengkak akibat ciuman kasarnya,
"sayang", bisiknya setelah melepas ciuman, membuat ku membelalak kaget tak percaya apa yang aku lihat
"Yogi", gumam ku lirih, seakan aku melihat Yogi yang sedang berada diatas ku
ya Tuhan, kenapa wajah nya tergambar jelas di ingatanku
"apa?", Bima tak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut ku, aku menyebut nama pria lain dan pasti ia merasa kecewa pada ku
"maafkan aku", hanya kata itu yang dapat terlontar dari mulutku dan segera aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil pakaian yang berserakan, lalu aku memakai nya kembali
Bima hanya tertegun melihat ku, dan seketika menghentikan langkah ku ketika aku beranjak ingin pergi, "aku tak tahu seberapa besar kau mencintai nya, tapi ku mohon padamu, hapuslah dia dan menoleh lah kepadaku!", ucap Bima sambil memelukku erat, "aku sangat mencintai mu, Bela"
ada rasa yang berkecamuk dalam hati ku tapi aku juga tak dapat menafsirkan nya,
dengan enggan, aku melepas pelukan Bima, "biarkan aku memikirkan nya!", ucap ku menatap mata nya dalam dalam, mata yang penuh dengan kesedihan dan pengharapan, entah sudah berapa kali nya aku telah menoreh kan luka kepada nya, "maafkan aku"
aku pun melangkah pergi tanpa menoleh kepadanya karena sungguh aku pun tak sanggup lagi melihat mata nya yang tengah terluka karena ku,
"Bela, kau mau kemana?", tanya Tante yang sedang berada di lantai bawah dan mencoba menghentikan ku, "apa kau tidak ingin bermalam disini? apa Bima melakukan kesalahan pada mu?", Tante melihat dan menerka nerka eskpresi wajah ku yang tengah sedih dan bersalah
aku menggelengkan kepala, "tidak Tante, bukan seperti itu, Bela hanya tidak bisa bermalam hari ini, maafkan Bela, Bela pamit pulang dulu", ucapku mencium pipi kanan kiri Tante dan melangkah pergi terburu buru tanpa menghiraukan Tante yang sedang memanggil manggil nama ku,
di depan rumah Bima, supir sudah siap dan membukakan pintu mobil untukku, akupun lekas masuk.
sepanjang perjalanan aku hanya mengigit jari kuku ku dengan gemetar dan was was, air mataku pun jatuh begitu saja tak tertahan.
"Nona, apa kau tidak apa apa?", tanya Supir pribadi Bima yang melihat keadaan ku dari cermin mobil,
segera aku menghapus air mata yang membasahi pipi ku dan mendenguskan ingusku, menutup menggunakan tissue, "saya tidak apa apa pak", jawab ku menyangkal padahal hatiku sedang tidak dalam keadaan baik.
****
kini aku sudah turun dan mobil, dan kini aku melihat Yogi sedang berdiri bersindakap di depan pintu rumah ku,
"Yogi", sapaku, "untuk apa kau kemari?"
__ADS_1
"aku ingin bertanya sesuatu padamu", jawab nya memberi senyum, "apa aku boleh masuk dahulu?"
"ya baiklah jika itu memang penting!", aku mengambil sebuah kunci di dalam tas kecilku, dan mencoba menbuka pintu rumahku yang sudah terkunci sebelumnya,
tiba tiba terdapat pantulan dari cahaya mobil yang datang, aku menoleh tapi tak tahu siapa yang datang karena cahaya mobilnya me nyilaukan mata yang lurus ke arah ku dan Yogi yang tengah berdiri.
yang aku tahu sekilas, seorang pria turun dari mobil tersebut, "Bima", ucapku sembari bertanya karena sudah terlihat sangat jelas ketika mesin mobil dimatikan yang otomatis lampunya juga ikut berhenti menyala seketika.
mereka berdua saling pandang dengan tatapan tajam, memiringkan bibirnya juga menyeringai
apa aku sebaiknya mengusir mereka berdua? ah, tidak.
"kalian berdua, masuklah!", ucapku mempersilahkan masuk
mereka sekarang duduk saling berhadapan dan saling menyilangkan lengan nya di dada, saling bertatap tajam dan menyeringai, seolah mereka akan saling menyerang satu sama lain, mereka membuat ku meringis.
"ekhemmm", aku berbatuk untuk memecah suasa nya yang sedang mengerikan, "kalian ada perlu apa kemari?" tanya ku memulai obrolan
mereka juga tidak menghiraukan pertanyaan ku, tapi tiba tiba tangan Yogi menarikku sehingga tubuhku terbanting dan duduk disebelahnya, ia langsung merangkul ku
"untuk apa kau kemari?", geram Yogi menyipitkan mata nya
justru hanya di balas tawa mengejek oleh Bima, "apa kau lupa, Bela sudah bukan lagi kekasihmu! untuk apa kau menanyakan hal itu? konyol sekali"
"hah? sejak kapan Bela mau berhubungan dengan calon suami orang lain?", ucap Bima ketus dan menyunggingkan bibirnya,
yah aku hanya jadi penonton sajalah, tutup telinga, toh mereka pasti akan tetap bertengkar walau aku mencoba untuk menghentikan
"lalu kau sendiri, bukan kah kau akan melangsungkan pertunangan dengan Niken?", tanya Yogi juga tak mau kalah
Bima semakin tertawa geli mengejek membuat Yogi melepaskan lengannya yang semula merangkul ku, malah berubah menjadi genggaman yang gemetar
"aku sudah menyudahi nya, semua demi Bela"
"aku juga akan melakukan hal yang sama", sahut Yogi tak ingin kalah,
"benarkan? pernikahan mu akan berlangsung bulan depan, apa kau sanggup menghentikan nya?", tanya Bima semakin mengejek
"cihh, kita tanya Bela saja, siapa diantara kita yang akan Bela pilih, kau atau aku?"
hah, aku hanya celingak celinguk tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dan menatap ku tajam hingga membuat ku meringis
__ADS_1
"sayang, kau pilih siapa antara aku dan Bima?", Tanya Yogi menatapku cemas
aku menghembuskan nafasku panjang, "aku memilih Bima", ucapku santai tanpa melihat matanya, aku tak sanggup, sehingga membuat Yogi yang berada disebelah ku kaget
ia mencengkeram pundak ku hingga terasa, "Bela, apa keputusan mu ini sirius?", tanya Yogi tak percaya
aku tak memperdulikan nya
"sayang, katakan kau hanya bercanda!", ucap Yogi mendesak ku dan mengguncang tubuhku
"tatap mataku jika kau memang serius!", desaknya berteriak tapi aku tetap tak memperdulikan nya
Bima langsung datang dan melepaskan cengkeraman Yogi dengan kasar,
api kemarahan berkobar di antara kedua nya, Yogi menggenggam serta mengangkat krah baju milik Bima, Bima pun sama dan saling ingin melayangkan tinju ke wajah mereka masing masing
"hentikan! kalian berdua apa apaan sih", ucapku sambil memisahkan mereka berdua yang saling bertatap tajam ingin saling membunuh, "Yogi, pulanglah",
Yogi terhentak kaget dengan ucapanku, "apa?", ia tak percaya apa yang baru saja aku ucapkan, "kau memintaku pergi dan memilih dia?"
"iya, jadi lekas pergilah!", sahut ku santai walau hatiku juga ikut sakit karena nya
"baiklah aku akan pergi tetapi aku tak akan menerima keputusan mu ini, aku hanya akan tetap menunggu mu untuk menghentikan ku!", ucap Yogi yakin dengan pendirian nya, dan pergi dengan wajah merah padam
aku hanya mengawasinya dengan sedih saat ia melangkah pergi meninggalkan ku, tapi aku tak dapat berbuat apa apa dan tak akan pernah bisa mengubah keputusan ku
"Bela", sapa Bima mendekatkan diri kepadaku
"iya Bim, ada apa?"
"apa yang kau katakan tadi itu serius?"
"maaf, aku perlu memikirkan nya!", jawabku tersenyum terpaksa karena perasaan ku hambar, "kau juga bisa pulang dulu, aku ingin sendiri"
jemari Bima mengusap pipi ku lalu mengecup keningku, "baiklah, aku tunggu jawaban mu"
****
Andai aku bisa memilih biarkan cinta antara kita tetap terjaga dan baik baik saja untuk selamanya tapi kenyataan selalu memberi pilihan pahit antara memilih dirimu atau memilih dirinya
****
__ADS_1