
"sayang, aku pulang!", dia memasuki ruangan dan berhenti melangkah seketika, pandangan matanya tertuju pada Jean dan mematung.
aku bisa melihat dengan benar bahwa pandangan matanya pada Jean terkejut, sedih, marah, senang campur aduk.
mereka berdua saling pandang dan membeku cukup lama membuat Dio senyum menyeringai padaku penuh Ironi yang menjijikkan,
"Nona, bagaimana ya sekarang? sepertinya kakakku tertarik dengan kekasihku"
aku mengernyitkan dahi, memberinya tatapan sinis.
apaan sih ini bocah, dia bercanda ya?
aku tidak mengetahui apapun, tapi takkan berdiam diri saja.
aku memberanikan diri untuk beranjak dari dudukku, dan seketika itu pula Jean ingin mendekati Yogi, suamiku.
"Yogi, sudah lama kita..", sapa Jean ketika ingin mendekati Yogi tapi pandangan Yogi memotong perkataannya karena telah beralih kepadaku.
"sayang, aku membawa sesuatu untukmu", Yogi melingkari pinggangku dan mendekatkan pada pelukannya, "kau menyukainya?", memberi boneka panda
"ah, kamu kira aku anak kecil huh?", manjaku di pelukannya, "oh ya, kita kedatangan tamu"
walaupun Yogi sudah sadar itu, sebagai Tuan rumah, aku harus menyambut tamu kan. aku ingin menekankan bahwa mereka hanya seorang tamu.
aku tidak suka tatapanmu padanya.
"oh, hai sudah lama tidak bertemu", sapa Yogi kemudian mengelurkan tangan kepada Jean, tapi dengan enggan dia tanggapi. sampai Yogi memasukkan uluran tangannya lagi ke dalam saku celana.
Jean menatap tak suka padaku, mengepalkan tangannya yang sedikit gemetar.
apa sih isi pikirannya?
"sayang, aku ke dapur dulu membuatkan minuman", lalu aku mendekatkan bibirku ke sisi telinga Yogi, "jangan nakal ya aku tinggal sebentar!"
Yogi terkekeh, menahan tawa tapi hendak aku melangkah pergi sekali lagi Yogi menahanku lalu mengecup pipiku, "kau mulai berani ya sekarang", bisiknya di telingaku membuatku memerah menahan malu.
berbeda dengan Jean yang kesal, ku lihat Dio menutup matanya agar tak jauh memandang ku dan Yogi.
bukankah tadi dia mengejekku?
aku pun segera pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk tamu, ya hanya sebuah Jus dan teh saja.
aku meninggalkan mereka bertiga untuk berbincang, aku juga masih tak mengerti.
sembari membuat Jus, aku menebak nebak pikiranku yang mulai memanas.
untuk apa Dio mencoba membuatku cemburu begitu, bukankah dia kekasihnya?
apa dia sedang menyombongkan diri bahwa Jean itu sangat cantik sehingga lelaki yang melihatnya pasti takjub tak terkecuali suamiku,
ku akui tatapan Yogi tadi serasa campur aduk tak dapat ku tebak, seperti tatapannya kepadaku.
"eh tidak tidak, aku sedang berpikiran apa sih!" aku mengetuk dahiku sendiri, "tidak mungkin Yogi akan terpikat"
"Nona, kau sedang memikirkan apa?", tiba tiba Dio mengagetkanku
"ah, aku tidak sedang memikirkan apapun", sahutku berbohong padahal gumamku tadi pasti terdengar, "untuk apa kau kesini, temani saja kekasihmu itu?"
"Nona yakin itu kekasihku?"
he, kenapa dia balik bertanya sih
"lalu siapa?"
Dio malah tersenyum kecut menanggapinya tanpa menjawabku.
apa sih, jangan membuatku pusing.
"ah aku tidak peduli", sahutku kemudian
sekali lagi Dio mendekatkan dirinya disisi telingaku yang sedang asik menuangkan jus ke dalam gelas, "nanti Nona juga akan peduli"
"apa?", jawabku spontan sembari berteriak.
Dio pun terkekeh mendengar tanggapanku, dia memang sengaja memancing emosiku rupanya.
aku menyipitkan mataku lalu membuang mukaku padanya, sebal.
hendak aku membawa nampan yang sudah ada beberapa gelas terisi di atasnya, tapi dia merampasnya.
__ADS_1
"biar aku saja! aku takut Nona akan menjatuhkannya nanti", ucap Dio sambil tersenyum mengejek kepadaku.
"kau kira aku tidak sanggup cuma membawa nampan terisi seperti ini ha?"
"bukan begitu Nona"
"lalu, apa maksudmu?"
"aku takut Nona akan kaget lalu menjatuhkannya nanti"
hah, lagi lagi dia berbicara diluar nalar
"Aneh!", cetusku lalu melangkah pergi mendahului Dio yang membawa nampan.
aku melangkah kan kakiku cepat penuh was was dan menerka nerka, tidak mungkin kan?
ya, dan benar saja membuatku tercengang begitu hebat.
ku lihat Jean berusaha memeluk Yogi, tapi berkali kali Yogi menolaknya hingga akhirnya Jean terjatuh dan duduk diatas sofa.
drama apa lagi ini?
aku hanya bisa menghentikan langkahku, melihat mereka membuat dadaku sesak.
"Nona manis", sapa Dio yang sudah berdiri dibelakangku yang masih mematung, "kau sudah melihatnya?"
cih, aku harus bertanya langsung pada Yogi.
aku melangkah, berbalik arah lagi ke dapur sebelum Yogi mengetahui keberadaanku yang melihat adegan berpelukan tadi.
"Nona", Dio memanggilku yang berlalu pergi, mambuat Yogi dan Jean menoleh kearah Dio.
aku pun langsung bergerak lagi ke arah mereka, berpura pura baru datang dan tidak mengetahui adegan yang ku lihat tadi.
ya Dio pasti sedang menganga melihat sikapku yang pintar berakting melebihinya,
"Nona Jean, silahkan diminum!", tawarku saat setelah Dio menaruh Jus diatas meja, "maaf saya tidak menawarkan anggur karena saya pikir Anda tidak akan berlama lama disini bukan?", aku tersenyum manis
pengusiran halusku membuat Dio menahan tawa, menutup mulutnya yang ingin terbuka lebar.
"Dio, hayo kita pulang!", tanpa mencicipi minuman, Jean berlalu pergi dengan merengut.
"kakak, Nona, aku pamit dulu. Terimakasih minumannya", Dio memberi salam lalu melangkah pergi juga mengejar Jean yang mendahului nya.
****
****
aku membersihkan diri, mencoba menetralkan pikiranku yang sudah berpikir negatif tentang suamiku, aku akan menunggu penjelasannya terlebih dahulu.
aku melihat Yogi sudah duduk diatas ranjang sambil menyilangkan kakinya dan menonton siaran televisi yang tepat berada diatas kaki ranjang.
aku mendekatinya, tapi dia tidak memelukku dengan sigap seperti biasanya.
Yogi mematikan saluran televisi, lalu siap untuk memejamkan mata.
"sayang", akhirnya aku bersuara untuk memecah suasana.
"sini, peluk!", aku pun masuk ke dalam selimut hangat dan menenggelamkan wajahku di dadanya.
aku gelisah, sesekali memandanginya. dan menghembuskan nafas panjang yang masih terasa sesak.
"kenapa belum tidur, sayang?", tanya nya yang mulai bersuara serak karena kantuk.
dia seharian sibuk kerja hingga pulang terlambat, pasti sangat melelahkan.
"hmm aku kepikiran sesuatu", ucapku tanpa basa basi
"apa? coba katakan!"
"bukankah kamu yang seharusnya mengatakan sesuatu padaku!", ucapku membuat Yogi mengernyitkan dahinya lalu memandangiku
"soal apa?"
"Jean", sahutku spontan
Yogi berusaha menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum Ia bersuara, "dia hanya teman lamaku, kakak dari mantan tunanganku"
"kau tidak sedang berbohong kan?"
__ADS_1
Yogi mengeratkan lagi pelukannya kepadaku lalu memegang daguku agar mendongak menatapnya, "percayalah padaku!"
dari tatapan matanya aku tahu Ia sedang tidak jujur padaku, apa yang sebenarnya Ia sembunyikan dariku?
Yogi lalu memejamkan matanya sambil melumat bibirku dengan lembut, kali ini aku tidak dapat membalasnya.
aku mencoba manjauhkan diriku, "maaf, aku mangantuk!"
aku berbalik memunggunginya dan pura pura sudah tertidur walau Yogi berbisik memanggilku, aku hanya tidak sanggup dengan rasa sesakku.
"selamat malam, sayang", Yogi mengakhiri dengan mengecup sisi keningku.
setelah aku rasa Yogi tertidur sudah cukup lama, aku pun berbalik memandanginya yang terlelap.
aku mengelus alisnya yang tebal dengan jemariku, lalu aku berbisik pada Yogi yang sudah terlelap, "kenapa aku merasa kau berbohong padaku, kenapa aku merasa kau berbeda?. aku merasa kau akan segera menjauhiku", tak terasa air mataku menetes yang sedari tadi ku tahan, "kenapa aku begitu bodoh dahulu tidak tahu apapun tentangmu"
"ya kau bodoh", sahutnya membuatku kaget
eh, dia belum tidur.
segera aku berbalik lagi memunggunginya, "haha sayang, kau menangis? kau cemburu ya?", dia mengguncang lenganku
"apaan sih, tidak!"
"ha ha kau selalu seperti ini lagi, berterus teranglah, katakan kalau kau mencintaiku!"
"tidak!"
"huh, percayalah! dia bukan apa apa untukku, kau itu istri sekaligus calon ibu dari anakku", Yogi memelukku dari belakang.
"benarkah? sepertinya kau tertarik padanya"
Yogi menarik lenganku agar berbalik padanya
"itu tidak benar sayang, jangan terlalu cemburu seperti itu!"
"sudah aku katakan, aku tidak cemburu!"
"ya ya ya, apapun itu, percayalah padaku!"
"ya baik, lalu menurutmu lebih cantik siapa, aku apa Jean?"
"kau kekanakan sekali", Yogi tersenyum, "tentu dirimu, bagiku kau paling cantik didunia ini"
"kan, kamu berbohong. kau bodoh ya? jelas jelas Jean lebih cantik"
"ya Tuhan", Yogi menembus, "sayang, penyakit sensitifmu kenapa kumat lagi? cantik menurut pandangan orang itukan berbeda beda dan itu relatif, aku menyukaimu, kau terlihat indah dimataku jadi hanya kau lah yang paling cantik yang bisa mengetuk hatiku"
"kau bosan ya?"
"hah, apa maksudmu sayang?"
"kau sudah bosan dengan wanita cantik, kau kan playboy!"
Yogi menyunggingkan bibirnya kesal, "sudah ah tidur, kau sedang hamil. tidak boleh banyak berpikiran negatif, itu tidak baik!"
"tidak, aku masih belum puas dengan jawabanmu!"
"hmm baiklah, aku masih punya tenaga malam ini"
Ngggg "apa maksudmu?"
tanpa permisi Yogi membungkam bibirku yang merengut, menciumi setiap sisi tubuhku hingga membuat ku menggeliat.
membuka piyama yang ku kenakan lalu mengecupnya dengan lembut, menjilati bagian dadaku hingga ku rasa terasa basah di bagian intimku.
"ah, hentikan!", pintaku tapi Yogi tetap tak menggubrisnya, dia tetap melanjutkan aksinya hingga sekarang tetap berada diatasku, berada di antara kedua pahaku.
"bagaimana sekarang, kau percaya padaku?", tanya nya setelah melepas pagutannya di dadaku lalu memulai aksinya lagi
"ah, iya iya, ah", aku mendesah. dia sedang memaksaku, "jangan begini, hentikan!" pintaku seraya mendesah karena nikmat
kali ini Yogi menyeringai penuh kemenangan, membenarkan piyamaku kembali lalu memposisikan dirinya untuk mendekapku.
"tidurlah! besok aku akan mengajakmu pada suatu tempat"
****
jika kau mencintainya, maka dunia serasa hanya milikmu semata, tak ada yang lain.
****
__ADS_1