
hari ini aku bangun pagi karena pinggang ku terasa kaku serta perutku kram,
hueekk hueekk, arghhh rutinitas di pagi hari
aku mengambil secarik kertas di laci yang berisi resep obat dari bidan yang belum aku tebus di apotik, aku pun ragu antara menggugurkan nya atau tidak.
tok tok tok suara ketukan pintu
se pagi ini ada orang bertamu ke rumah ku?
ku Buka pintu rumahku dan ku lihat Bima tersenyum, aku mulai mencium aroma yang membuatku ingin mual
"taraa aku membelikan mu ini", ia menyodorkan mie tepat di hadapan hidung ku yang sensitif
seketika kau berlari ke arah kamar mandi dan mual mual karena tak tahan, bau nya sangat menyengat, hueekkk hueekkk
"Bela, kau kenapa?", tanya Bima panik sambil penepuk pelan bahuku
aku memberi isyarat padanya menggunakan tangan bahwa aku sedang baik baik saja, sementara mulutku tetap tak berhenti untuk mual.
aku takut keluar dari kamar mandi karena aroma dari mie masih tercium sampai ke hidungku, "Bim, aku minta tolong padamu, bawalah mie itu kembali!"
"mie? bukankah kau sangat menyukai nya?", tanya Bima heran, tapi aku harus bagaimana, aku juga tak ingin ia curiga, "baiklah kalau begitu aku akan membuang nya"
mendengar jawaban Bima membuat hatiku lega, Bima pergi membuang mie di tong sampah dekat rumah ku, sementara aku membasahi wajah ku di wastafel kamar mandi.
"Bela, apa kau sudah baikan?", tanya Bima
aku mengangguk, "iya aku sudah baikan", jawabku tersenyum paksa
"hmm aku pamit pulang dulu karena pagi ini aku ada jadwal rapat penting?",
aku tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban
Bima kemudian mengecup keningku sebelum akhirnya ia melangkah pergi
Degg! aku melupakan sesuatu
aku melangkah cepat dengan panik kearah meja hias yang terletak di meja tamu, karena tadi aku menaruh resep obat di atasnya.
aku melihat kertas itu masih ada diatas nya, "ah untunglah Bima tidak tahu!", gumam ku lega
****
aku melangkah masuk ke ruang kerja ku semula tapi aku sudah melihat orang lain sedang mengisi nya, duduk di tempat kerja ku
"maaf permisi, bukankah ini meja kerja saya?", tanya ku pada pria yang duduk di kursi ku dan sedang sibuk melihat beberapa berkas ditangan nya
"iya benar, tapi saya sudah di pindah tugaskan di ruangan ini", jawab pria itu sedikit mengabaikan ku
"ahh", aku melangkah mundur tidak mengerti dan kebetulan Dina sudah datang dan memberitahu
"Bel, ruangan mu sekarang pindah!"
"hah, pindah? kemana?", aku kaget, apa ini karena sikap ku semalam hingga membuat Yogi kesal
"mari aku antar!", Dina menuntunku memasuki sebuah ruangan cukup luas untuk diriku sendiri di dalam nya, begitu mewah karena terdapat pajangan mahal di dalam nya, "Tuan Yogi memindahkan mu disini agar kau lebih berkonsentrasi dan tidak bersikap ceroboh, itulah pesan nya"
hah ceroboh? bisa bisanya dia berkata seperti itu dan membuat ku malu
"baiklah, terimakasih banyak atas bantuan nya", ucapku sambil membungkukkan badan
"iya sama sama"
aku melangkah mengitari ruangan baru ku, mencium aroma segar di dalam nya, bahkan barang barang ku sudah tertata rapi di atas meja kerja ku
****
"sayang, apa kau menyukai ruang kerja mu yang baru?", tanya Yogi mendekati ku,
"ya lumayanlah, aku kan hanya seorang karyawan biasa, aku hanya takut mereka yang diluar menggunjing ku karena kau memperlakukan ku berbeda", sahut ku memiringkan bibirku
__ADS_1
Yogi lalu datang semakin mendekatkan diri pada ku dan memutar kursi kerjaku agar berhadapan dengan nya, "aku masih marah padamu", ucapnya lembut sambil menatap ke dua bola mataku dari dekat
aku tidak bisa berkata apa apa lagi
"dengarkan ini baik baik, aku hanya akan mengatakan bahwa aku cinta kamu setiap hari sampai kau menoleh ke arah ku, dan aku tak peduli jika kau akan kesal karena hal itu", ucap Yogi sambil mengelus pipi ku dan mengecup nya sekilas, "aku mencintai mu", ucap Yogi sebelum akhir nya ia beranjak pergi
aku mematung, membelalak kan mata ku lebar lebar, ku rasa jantung ku berdetak sangat kencang, aku hanya bisa terpaku dan mengelus dadaku yang seakan jantung nya mau copot
"ya Tuhan, tahan lah perasaan ku ini", gumamku sambil mengelus dada
****
****
tok tok tok suara ketukan pintu di ruang kerja ku
"permisi Nona, ini beberapa berkas yang Anda minta", ucap karyawan perusahaan sambil menyodorkan berkas yang aku minta dan meletakkan nya
"terimakasih"
aku memeriksa dengan teliti dan tak percaya, bahkan aku membaca nya berulang kali tapi hasilnya tetap sama, aku takut akan salah menafsirkan tapi hal ini benar, banyak nya barang barang alat kesehatan yang tidak sesuai standart dan pengujian bisa lolos serta barang yang datang tidak sesuai dengan invoice, "ini sangat aneh, bagaimana hal ini bisa terjadi, aku harus memberi tahu Yogi masalah ini"
segera aku membawa berkas menuju ke ruang kerja Yogi, tapi ia tidak ada di tempat, "maaf Nona Bela, Tuan sedang tidak ada di tempat", ucap seketaris nya yang berada tepat di depan ruang kerja Yogi
"jangan memanggil saya dengan sebutan Nona, saya hanya keryawan biasa disini"
"maaf tapi saya tidak dapat menolak perintah Tuan Yogi", sahut nya sambil membungkukkan badan memberi hormat
aku memutar bola mataku, "ya sudahlah, kamu tahu kemana Tuan Yogi pergi?"
"Tuan Yogi sedang melakukan pertemuan penting dengan Xiayo Group guna untuk memperpanjang kontrak kerjasama"
"Xiayo Group?", gumamku sambil memutar ingatan, jelas sekali keanehan dan penyelewengan ini dilakukan oleh mereka, aku harus segera menghentikan nya. "Berikan aku alamatnya"
aku bergegas pergi dengan was was, semoga Yogi belum menandatangani kontrak, bagaimana ia bisa tertipu oleh hal sepele seperti ini?
****
****
BRAKK
aku menghentakkan meja sambil terengah engah karena aku berlari, pinggang ku juga ikut menengang, "jangan di tanda tangani!", ucap ku sedikit berteriak membuat orang orang kaget
"hei, apa yang sedang kau lakukan!", teriak Jesi melotot kepada ku
aku merampas kertas perjanjian dan meremasnya, "mereka telah mempermainkan kita", aku menunjuk dua orang dari Xiayo Group, "dan lihat ini berkas bukti penggelapan pengadaan alat kesehatan, mereka merekayasa pengiriman dan mencurangi nya"
ke dua orang perwakilan langsung dari Xiayo Group bergidik ngeri melihat ekspresi kemarahan dari Yogi, "tidak Tuan, wanita ini berbohong!"
"benar Yogi, kau tidak boleh mempercayai nya! keluarga ku tidak mungkin menghianati mu", ucap Jesi dengan segala alasan nya
membuat ku muak, sudah bermuka dua, penghianat pula.
Yogi mengambil berkas yang aku tunjukkan, dan tanpa melihat nya Yogi langsung mempercayai ucapan ku, "kita batalkan kerjasama kita, dan sampai jumpa di pengadilan", Yogi langsung beranjak dari tempat duduk nya lalu menarik ku keluar
"Yogi, kita mau pergi kemana?", tanya ku kebingungan karena sikap nya tak dapat aku tebak,
bukan kah seharusnya ia tinggal dengan Jesi dan meminta penjelasan nya?
"masuklah!", ia membukakan pintu mobil nya untukku, aku pun masuk
sepanjang perjalanan kita hanya diam saja, sesekali aku menoleh menatap wajah nya, dia tersenyum melihat tingkah ku yang canggung.
ya kita seperti itu sepanjang perjalanan, bukan hanya itu, jantungku berdetak lebih kencang tidak karuan.
"Yogi Yogi, apa kau punya uang?", tanya ku di depan sebuah toko kue
"ya tentu, kau menginginkan nya?", tebak Yogi memperhatikan mataku yang tertuju kepada sebuah kue yang terpanjang
__ADS_1
aku mengangguk, "hayo kita masuk!", ucap Yogi menarikku untuk masuk dan membeli kue yang di penuhi oleh toping cream coklat, keju, buah cherry serta oreo.
aku melahap nya bak orang kelaparan
"emmm enak, lembut", ucapku dengan mulut yang masih dipenuhi oleh kue
Yogi hanya menopang wajahnya dan melihatku sambil tersenyum lebar, membuat ku canggung tapi aku tak peduli karena kue ini terasa nikmat,
"sejak kapan kau suka manis?", tanya nya membuat ku membelalak, aku hampir lupa bahwa aku tidak suka dengan manis manis tapi sejak kehamilan ku, aku jadi sangat menyukai nya
"ah, aku memang suka, kau saja yang tidak tahu", jawabku tertawa paksa, "ohya, kenapa tadi kau langsung percaya begitu saja padaku?"
"karena aku memang percaya", jawabnya santai
"bohong, kau pasti sudah mengetahui nya", tebak ku yang kemudian mengundang senyum Yogi, dan jemarinya mengacak rambutku, ahh,
"ya kau benar, aku hanya membiarkan mereka", ucap nya enteng membuat ku kesal
"kau gila ya? seberapa besar kerugian yang kau alami karena nya, bagaimana bisa kau membiarkan nya?", ucapku kesal sambil memakan kue yang masih tersisa, "apa ini karena kau tidak ingin menyakiti Jesi?"
Yogi menggelengkan kepalanya, "tidak, sudah ku katakan aku akan menjelaskan nya padamu saat hari itu tiba?"
"cihh, kau membuatku penasaran, kenapa harus dihari pernikahanmu? kau pikir ini drama, kau hanya perlu membuka mulut mu", ucapku ketus sambil menyatukan alis
"ah begini", Cup dia melayangkan bibirnya ke bibirku, dan tersenyum
"apaan sih, dasarr kau!", aku berteriak kesal, yang justru malah mengundang tawa
"lihatlah pipi mu memerah!", ucap nya membuat ku membelalak canggung
ya memang benar aku merasakan panas di kedua pipi ku, tapi tak ku sangka malah mengundang perhatian nya
aku melangkah menjauh dari nya, sungguh kesal sekaligus bahagia melihat nya tersenyum bahagia seperti itu
****
"Bela, kenapa kau lebih memilih Bima? apa kau takut untuk jatuh cinta kepada ku?"
ya aku takut sekali
"maaf, aku tidak bisa menjawab nya", sahut ku menundukkan kepala
"apa selama kau bersama ku, kau tidak pernah merasakan bahagia?"
aku bahagia, tapi aku pun juga tak dapat mengatakan nya
"sayang, awal nya memang aku hanya penasaran atas diri mu yang tak tahu akan ku, semua wanita tergila gila kepadaku hanya karena statusku tapi kau berbeda, aku malah menyukai perempuan yang dimana hari pertama kencan mereka menggunakan kaos oblong kedodoran dan berpenampilan seadanya, bahkan kau tidak pernah mau tahu tentang status keluarga ku, kau selalu memberi senyum tulus kepadaku hingga..", Yogi berhenti meneruskan dan menundukkan kepalanya akibat penyesalan, tapi tak urung dia meneruskan ucapannya
"hingga, dimana Bima datang kepadaku bahwa ia akan merebut mu, di saat itulah aku merasa takut jika harus kehilangan dirimu, aku datang kepada mu dan merenggut bahkan merantai mu karena aku tahu hanya dengan hal itu, kau tak akan pernah meninggalkan ku", dia berucap sambil menyeka air mata yang keluar dari sudut mata nya, "maafkan aku"
aku tidak tahu harus memaafkan nya atau tidak, dan juga ini adalah kesalahan diriku juga yang tak dapat mengontrol diri,
arggggh aku juga ikut terbawa perasaan dan menangis memalingkan muka untuk menyeka air mata ku
****
aku hanya bisa menatap wajah nya, hanya mampu berkata dalam hati.
aku mencintai mu, tapi aku takut.
aku takut karena kita sungguh terlalu berbeda.
aku juga tak dapat meninggalkan Bima, sungguh aku tidak dapat menyakiti hati nya.
Biarkan hanya hatiku yang tersiksa, aku rela menanggung segalanya
(Seandainya) aku bisa, aku ingin mengutuk CINTA yang sebentar penuh luka dan sebentar penuh ceria.
****
Cinta adalah saling memberi kasih sayang, Bukan rantai dan kekangan
****
__ADS_1