AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Terungkap


__ADS_3


aku terlelap di tidurku, tanpa satupun mimpi yang bisa menguras pikiranku


tapi itu tak berlangsung lama setelah ponselku berdering


"hallo, Din", jawabku masih setengah sadar


"Bela, kau tidak usah masuk kantor hari ini"


"apa?", aku sadar penuh karena kaget, "apa aku dipecat?"


"bukan, bukan begitu"


"ah untunglah", aku bernafas lega, "lalu kenapa?"


"Tuan Yogi mengadakan pesta besar dadakan nanti malam yang akan dihadiri oleh semua kalangan yang turut berpartisipasi dalam pengembangan farmasi, kau harus datang!"


"yah baiklah. aku pasti datang jika itu undangan resmi perusahaan"


"sampai jumpa"


hah, lelah sekali tapi aku hanya punya baju pesta yang sudah pernah ku gunakan untuk datang ke rumah Niken, ya tapi tak begitu buruklah


aku menggulingkan diri beranjak dari tempat tidurku


melangkah ke ruang dapur untuk mengambil air mineral yang sudah dingin dan meneguknya guna lebih menyadarkan ku dari rasa kantuk


tidak kuliah, tidak bekerja juga tidak ada tujuan untuk keluar rumah, rasanya malas sekali. aku lebih menyukai kesibukan sekarang,


apa aku menghubungi Bima untuk mengajaknya jalan jalan? sepertinya tidak terlalu buruk


aku mencoba melakukan panggilan telefon kepada Bima


"hallo, Bel?" jawab nya sembari bertanya


"hm apa kau sibuk hari ini?"


"ya, aku memiliki beberapa hal yang harus aku kerjakan. juga aku akan pergi keluar kota hari ini guna mengecek kondisi perusahaan cabang",


"ah, baiklah",


"maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini"


"ah, tidak apa apa, tidak masalah, kau kan sibuk. jaga kesehatan mu ya!"


"kau juga jaga kesehatanmu dan bayi kita, selamat siang Bela"


"siang"


aku ternga nga tak percaya apa yang baru saja ku dengar, "bayi kita?"


ah membuat jantungku berdegup tak karuan, entah rasa senang atau rasa bersalah. yang pasti ini bukan perasaan cinta.

__ADS_1


****


hari sudah mau memasuki waktu malam, aku masih sibuk dengan gaun gaun yang akan ku kenakan di pesta perusahaan milik keluarga Yogi.


aku mencoba melakukan panggilan telefon kepada Sindi tapi ia tak menjawab, mungkin dia sedang keluar


tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu


"siapa ya?"


"maaf Nona, saya datang untuk mengantarkan paket khusus untuk Anda", ucap pria muda rapi dengan model rambut disisir ke belakang dan berkecamata.


"untuk saya?", tanyaku lagi tak percaya


ia mengangguk, "benar, ini dari Tuan Yogi"


"ah begitu, terimakasih"


pria itu kemudian undur pamit, sedangkan aku kembali masuk dan membuka kotak lebar dengan penuh tanda tanya, apa ini gaun?


ya ternyata benar, aku senang sekali karena aku sudah tidak perlu lagi untuk susah susah untuk memilah baju yang akan aku kenakan.


***



****


pesta nya memang sungguh sangat besar, tamu tamu penting juga berdatangan, yang lebih menarik perhatianku adalah Yogi, yang berdiri tak jauh dariku sedang menyambut tamu tamu yang datang an.


ah tidak tidak, ku tarik lagi ucapanku, dia adalah pria yang selalu memaksakan kehendak terhadapku, dia kasar.


atau aku yang akuh?


"Bel, ngapain begong liat Tuan Yogi? kagum ya?", ledek Dina yang tiba tiba sudah berdiri di sebelahku,


"ihh, apaan sih Din", sahutku gugup manahan malu


"lihat tuh dia melihat kemari?", senggol Dina menggukan siku nya


Yogi tersenyum kepadaku dari kejauhan, aku pun hanya bisa membalas senyumnya dengan kaku dan membungkukkan badan memberi hormat kepadanya sebagai sopan santun pada atasan.


aku berdiri lama berbincang bincang mengenai hal remeh dengan Dina, ya sesekali dia menanyakan bagaimana bisa aku kenal dengan Bima,


kemudian datanglah waitress menawarkan sebuah minuman anggur kepada tamu yang berkunjung.


Dina mengambil dua gelas anggur untuk dirinya dan diberikan kepada ku.


aku lupa tentang kehamilanku dan hendak meminumnya, untunglah lagi lagi wanita paruh baya berkacamata mencegahku.


ia mengambil gelas berisi anggur yang hampir akh teguk dari tanganku, "Nona, Anda kan sedang hamil jadi Anda tidak boleh meminum minuman beralkohol"


Deg!! Dina membelalak

__ADS_1


"kau hamil?", tanya Dina tak percaya, dengan sigap aku langsung menutup mulutnya rapat rapat agar tak terdengar orang orang, bagaimana jika Yogi tahu, urusannya akan kacau


"huss diam, nanti akan aku jelaskan!", ucapku sambil menyumpal mulut Dina, "terimakasih ibu Bidan sudah mengingatkan saya"


"sama sama, tapi tolong di jaga kesehatan serta bayi yang sedang berada di dalam perut Anda dengan baik agar ia tumbuh sempurna dan menjadi anak yang menggemaskan kelak", ucap Bidan itu sambil mengelus perutku


"saya akan mengikuti nasihat Anda, sekali lagi terimakasih atas bantuan Anda, saya sangat ceroboh", ucap ku disambut senyum tulus dari nya, "Anda juga diundang disini?"


"iya, saya dulu adalah salah satu pengasuh dari Tuan muda Yogi. dia mengundang saya khusus kemari, saya sangat terharu karena ia masih mengingat jasa saya yang pernah merawatnya sewaktu masih kecil"


Deg!! aku mulai gelisah, ditambah Yogi melihat kearah kami. sebuah kebetulan yang tak sengaja


"saya permisi dulu Nona, saya akan memberi salam kepada Tuan muda Yogi", ucap Bidan tersebut kemudian melangkah kepada Yogi


mereka sangat akrab, apa dia akan menanyaiku? apa Bidan itu akan memberi tahu nya?


"Bela, kenapa kau terlihat gelisah?", tanya Dina yang mengawasiku yang tengah bercucuran keringat dingin


aku menggelengkan kepala dengan panik, "aku tidak gelisah, aku baik baik saja"


"kau mungkin kecapean karena terlalu lama berdiri, sebaiknya kau beristirahat di ruang belakang, kau kan sedang hamil", ucap Dina dengan kata kata hamil, membuatku menjadi lebih penik tapi tak urung aku iya kan nasihat nya


aku mengangguk, "iya, sebaiknya aku pergi beristirahat sejenak"


aku pun membalikkan badan dan melangkah ingin menjauh dari keramaian pesta, tapi tiba tiba ada tangan yang menggapai tanganku hingga membuat langkah ku terhenti


tiba tiba saja orang orang memberi ruang untuk ku, bukan, tapi kita


aku membalikkan badanku, guna mencari tahu siapa yang mencegahku pergi.


aku membelalak, tatapan nya tajam padaku hingga membuat ku mematung karena ngeri.


ia mengangkat tanganku, menghadapkan jemariku di depan matanya, dan langsung melepas paksa cincin yang tengah melingkar di jemariku lalu melemparkan nya.


"aku sudah berusaha menunggu ke egoisanmu, menyabari mu, dan mencoba mengerti segala upaya yang kau berikan untuk lepas dari ku tapi sekarang.. aku tak akan membiarkan mu berlaku seenak mu dengan keputusan konyol mu itu", ucap nya penuh penekanan di tiap kata membuat ku tersentak dan merinding


aku ingin menyuarakan perotesku dengan tegas tapi, "kau..", belum sempat aku berbicara dia langsung memegang tengkuk leherku, menyatukan bibir nya ke bibirku.


aku ingin memberontak, tapi ia juga dengan kuat memegangi tubuhku, melumatku lebih kasar dan sensual, tak peduli pada pandangan mata semua orang yang sedang kaget melihat kita, kita yang sedang intim di tengah keramaian.


KRANG!! suara gelas pun pecah terhantam ke lantai


aku yakin itu adalah Jesi yang tak terima atas apa yang sedang dia lihat sekarang, pasti nafasnya memburu menuh kebencian dan amarah, topeng nya terbuka.


lain hal nya Yogi, yang masih saja sibuk melumat bibirku tanpa memberiku jeda untuk bernafas, panas sudah bibirku terlalu lama di hisap


habis sudah riwayatku, menghadapi kehebohan di tengah keramaian. dan bagaimana caraku untuk menjelaskan kepada rekan rekan kerjaku termasuk Dina? dia pasti sedang melongo menatap ke intimanku.


****


Luapkan segala yang ada di dalam hatimu, menangislah jika itu dibutuhkan, karena kau manusia, bukan mesin.


****

__ADS_1




__ADS_2