AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Mengambil Milikmu?


__ADS_3


aku mengawali pagi ini dengan senyum, membuka mata dan tepat didepan ku berada seorang pria tampan sedang tidur terlelap.


suamiku, aku melihat senyum mu sebelum tidurku dan aku mengawali pagiku dengan melihat wajah polosmu.


bagaimana tidak, aku jatuh cinta setiap hari kepadamu?


ku elus wajahnya yang tegas, Ia pun menggeliat mencoba membuka matanya dengan berat lalu Ia balik mengelus pipiku juga, "selamat pagi", ucap nya lembut


membuatku terdorong untuk mengecup bibirnya yang menggoda penglihatanku,


"bangun! hari sudah siang, kau harus bekerja"


"hmmm", Yogi tetap tak mau beranjak lalu memelukku, "hari ini tidak ke kantor, aku ingin bermalas malasan seharian denganmu"


"bukankah sekarang kau ada rapat penting?"


Yogi membuka matanya lebar, "ah iya, aku lupa!", Ia langsung bangun dari baringannya tapi lagi lagi datang memelukku, "tapi aku ingin terus bersamamu, bagaimana ini?", ucapnya merengek membuatku tersipu


"tidak sayang, kali ini kau harus datang ke kantor! setelah urusanmu selesai, kau bisa pulang dan memelukku lagi"


"tapi.."


"tapi apa?"


"kau janji jangan marah ya? tidak boleh marah", ucapnya membuatku tak tenang


Yogi ingin membicarakan apa ya, aku penasaran tapi aku takut bahwa itu akan mengundang kemarahanku.


"iya janji",


masa bodohlah, aku penasaran


Yogi beralih mendekatkan bibirnya ke sisi telingaku, dan berbisik dengan pelan, "aku ingin lagi"


"hah aku kira apa, sudah sana mandi lalu bersiap kerja!" aku memukul dadanya pelan hingga Ia tertawa dan berlari


"ha ha ha", tak hentinya kita tertawa dan bercanda di pagi hari.


aku menyiapkan sarapan untuknya, nasi goreng buatanku yang dimasak dengan sepenuh hati.


"sayang, hayo sarapan dulu!", aku menyambut Yogi yang sudah rapi untuk duduk di kursi meja yang sudah ku siapkan, tak lupa juga menyodorkan nasi goreng buatanku.


ku lihat Yogi menelan ludahnya kasar dan dengan ragu mengambil piring berisi nasi goreng yang sudah ku buat agar lebih mendekat padanya.


"kenapa hanya di lihat? katanya kau suka nasi goreng buatanku?"


Yogi menggaruk tengkuknya penuh salah tingkah, "hmm sayang, sebenarnya..", dia hendak berkata lebih tapi Ia urungkan lalu setelah mengambil nafas panjang mulai melahap nasi goreng buatanku dengan cepat.


aku juga dengan sigap merebut nasi goreng butanku, karena ku rasa Yogi suami ku ini sangat berat untuk memakannya.


ataukah dia bohong selama ini bilang suka? apa nasi goreng buatanku tidak enak.


"loh kenapa diambil sayang?", cetusnya kepadaku tapi aku tak menghiraukannya dan mencoba menelan sendiri hasil karyaku mengingat usia kehamilanku sudah berumur lebih empat bulan jadi hormon berlebih sebelumnya sudah cukup normal kembali dirasakan tubuhku,


"cih, asin! ga enak" aku memuntahkan makanku lalu meneguk segelas air putih tanpa jeda.


berbeda dengan ekspresiku, Yogi sedang memegangi mulutnya manahan tawa.


"kenapa tidak bilang dari awal?", tanyaku kemudian


"hmm sayang, kan aku sudah pernah mengatakan padamu kalau lebih baik kita memesan makanan dari restoran langgananku saja"

__ADS_1


"aku kan tidak mengerti, coba katakan yang jelas kalau memang tidak enak"


"iya maaf, ya?" ucapnya tersenyum manis kepadaku


aduhh seharusnya kan aku yang meminta maaf, dia hanya tidak mau aku kecewa karena sudah repot repot menyiapkan dia sarapan.


aku menghembuskan nafas panjang kemudian aku pergi mengambil roti yang sudah dipanggang di toaster, menyiapkannya di piring beserta telur serta susu.


ya, hanya itu yang bisa aku lakukan, setidaknya enak untuk dimakan.


kali ini Yogi tersenyum lebar padaku, melahap sarapan yang aku saji kepadanya sampai habis.


dan kali ini dia datang lagi mendekat, memeluk serta memanja padaku, "istriku sayang", seketika wajahku memanas mungkin sudah merah merona bagai kepiting rebus karena mendengar sebutan istri dari nya, "sepulang aku dari kantor, kita jalan jalan, bagaimana?"


aku mengangguk cepat dengan senang, "aku mau", jawabku spontan


"baiklah!", Yogi mencubit gemas kedua pipiku, "jangan cemberut lagi ya!", lalu mengecup bibirku berkali kali


"hmm", hanya itu yang dapat ku ucap karena saat ingin membuka mulutku, Yogi lagi lagi mengecup bibirku


aku pun mendorongnya menjauh, "sudah sana berangkat! nanti telat",


"baiklah, jaga diri baik baik ya sayang! hubungi aku jika kau butuh sesuatu"


pekerjaanku saat ini hanya menghabiskan waktu membaca serta menunggu kepulangan suamiku setiap harinya, tentu para pelayan yang bertugas membersihkan rumah sebesar ini.


tapi aku meminta mereka pergi ketika pekerjaan mereka semua sudah selesai karena untuk makanan aku bisa menyiapkan sendiri meski apa adanya, serta aku lebih suka memesan makanan diluar sana ketimbang memasak yang belum cocok dengan seleraku yang selalu berubah ubah setiap waktu.


Yogi selalu mengatakan, "jangan jauh jauh dariku" padahal aku ada didepan matanya.







entahlah aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata kata bagaimana dia selama ini lekat kepadaku, membuatku sangat dicintai.


aku tidak bisa membayangkan lagi kedepannya jika aku tidak hidup dengannya, apakah aku bisa sebahagia ini?


kini aku terjerat dalam lamunanku sampai tak terasa bahwa langit sudah mulai gelap, "katanya dia mau pulang cepat dan akan mengajakku jalan?", gumamku kesal


kemudian aku mendengar ponsel ku berdering, ku raih ponselku dan melihat di layar depan bahwa Yogi sedang memanggilku


"hallo", jawabku


"sayang, aku sepertinya akan pulang terlambat! kau ingin ku bawakan apa?"


"tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri"


"jangan kemana mana! hari sudah mulai malam, biar sekretarisku yang mengurus semua keperluanmu, baik baik ya, aku akan usahakan pulang cepat"


dia langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa memberiku jeda untuk menjawab, menyebalkan sekali


tiap kesal aku selalu beralih mengelus perutku yang sudah mulai menonjol ini, "cepet keluar temani mama ya", padahal aku tahu usianya masih lebih dari empat bulan tapi aku sudah tidak sabar untuk melihatnya lahir ke dunia dan menimangnya.


dengan iseng aku memutar siaran televisi tentang gosip selebriti, ya itulah yang biasa di lakukan seorang ibu rumahan sepertiku saat ini.


dan aku berhenti pada siaran televisi yang cukup membuatku tercengang, aku melihat seseorang yang sangat aku kenal.

__ADS_1


"bukankah dia sedang belajar ke luar negeri? kenapa dia mendadak menjadi seorang Idol seperti ini? apa aku yang terlalu tidak peduli dengan dunia entertainment?"


aku memutar otakku tak mengerti, tapi ini lebih baik karena dia menemukan kebahagiaan.


"aku akan memainkan Biola ini hanya menunjukkan kepada kakak"


"aku akan datang setelah aku dewasa"


"tunggu aku"


kata kata itu memutar diotakku kemudian, membuatku memukul kepalaku kesar, "sial, apa sih!"


kemudian aku beralih kepada Idol lain yang tak lain adalah Dio adik iparku, dia memakai setelan tuxedo biru sehingga membuatnya terlihat sangat menawan apalagi dengan wajahnya yang cenderung cantik bagi seorang pria, pasti banyak para gadis yang memujanya.


Dio tidak datang seorang diri menghadiri pesta para selebriti, Ia menggandeng seorang perempuan tinggi cantik mirip sekali dengan Jesi, bahkan lebih cantik darinya. bahkan namanya pun mirip "Jena", Ia terlihat lebih dewasa daripada aku.


"cantik cantik suka juga sama berondong", gumamku,


ya sih, siapa juga yang tidak akan tertarik dengan pesona Dio yang mengagumkan.


Bel pintu rumah berdering membuatku mengalihkan perhatianku,


ah itu pasti sekretaris pribadi Yogi, Devan.


aku langsung melangkah membuka pintu rumahku dan ternyata yang datang tak lain adalah Dio dengan kekasih yang baru saja ku lihat di televisi.


"hallo Nona", sapa Dio kepadaku


wanita itu pun tersenyum mengangguk sopan kepadaku,


aku hanya bisa menganga saja melihat mereka berdua bak lukisan saja, begitu indah di pandang mata.


aku kemudian mempersilahkan mereka masuk setelah beberapa menit mematung, "silahkan masuk!"


akhirnya mereka pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu, lain hal wanita itu melihat dan menyusuri ruang rumahku dengan bibir sedikit merengut, "cih", lontarnya membuatku kaget


apa apaan dia?


"ada perlu apa kesini?", tanyaku pada Dio yang sedang duduk didepanku


"aku ingin mengambil milikku kembali", sahut wanita itu memotong, "oh ya perkenalkan, aku Jean kakak Jesi, kau mengenalnya kan?"


kenapa sekarang ekspresinya angkuh sekali, ya tentu aku mengenal wanita sialan itu, ternyata kau sejalan.


aku mengangguk, "ya tentu aku mengenalnya", aku meraih jemarinya untuk berjabat tangan, "Bela"


"baguslah! ku harap kau tidak merepotkanku nanti saat aku mengambil milikku kembali"


hah, dia bicara apa sih? ingin sekali ku cakar wajahnya. cantik cantik beracun.


"milikmu?", tanyaku ragu


wanita itu belum menjawab, tanpa kabar Yogi tiba tiba datang begitu saja membawa sebuah boneka di genggamannya.


"sayang, aku pulang!", dia memasuki ruangan dan berhenti melangkah seketika, pandangan matanya tertuju pada Jean dan mematung.


aku bisa melihat dengan benar bahwa pandangan matanya pada Jean terkejut, sedih, marah, senang campur aduk.


Deg!! apa ini? Dio? Jean? Jesi? yang disembunyikan oleh Yogi, apa yang sebenarnya tak bisa ku tebak?


cinta itu mudah, hanya jurangnya saja yang begitu terjal dan menyakitkan


JANGAN LUPA BACA JUGA JUDULNYA " I'M NOT A GAY " atau langsung klik PROVILKU ya :*

__ADS_1




__ADS_2