AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Ngidam (2)


__ADS_3


"sayang, jangan menangis! apa aku keterlaluan?", Yogi pun panik merasa bersalah karena sudah membuatku menangis, dan ia membalas memelukku, "sudah jangan menangis lagi! baiklah, hayo kita mandi bersama"


"tidak, aku mau kue coklat!"


"kenapa kau sekarang yang lebih galak?", Yogi mengerutkan kening tak mengerti


"aku juga mau minuman dingin!" aku meminta sambil cemberut


"hei, bukankah sekarang seharusnya aku yang marah?", ia menggaruk kepalanya frustasi, "baiklah aku mengalah, aku akan memesannya semantara kau bergegas mandi duluan!"


"tidak, kita mandi bersama!"


Yogi lebih frustasi lagi, "jadi kita akan melakukan apa dulu?"


"memesan kue dan minuman dulu, sambil lalu kita mandi bersama, bagiamana?", tawarku sambil memeluk tubuh Yogi dengan manja


"sesingkat itu?", ia mengangkat satu alisnya, membuatku berpikir lebih dalam


"kau pikir kita akan melakukan apa?"


"ya tidak, tapi.. ah baiklah, hayo kita mandi!", tanpa sabar dia menarik lenganku menuntunku ke arah kamar mandi dan menenggelamkan diri mendahului ku disana.


"sayang, kau sedang apa?", tanya Yogi sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bak mandi


"kau tidak lihat! membuka baju untuk mandi denganmu", sahutku ketus


"tidak, kau harus menepati janjimu!"


"janji? aku berjanji apa padamu?"


"ambilah kursi mini, lalu duduk di belakangku. kepalaku sedikit pusing karena ulahmu, katanya kau akan memanjakanku kali ini, cepatlah!"


aku tadi kan hanya membual saja, kenapa dia menagihnya sih, menyebalkan sekali.


aku pun mengindahkannya, ku ambil kursi lalu duduk dibelakangnya, memijat kepalanya dengan hati hati. memberinya shampoo yang sangat wangi di kepalanya lalu memijit nya lagi dengan perlahan.


entah ini sudah berapa lama, terasa jemari kesayanganku sudah mulai keriting.


"sangat enak, begini saja sayang setiap hari, aku menyukainya", ucapnya sambil tersenyum


dia hanya ingin mengerjaiku kan? seharusnya dia menanyaiku sudah lelah atau tidak. kenapa terdengar menyebalkan sekali.


baiklah jika begitu


ku keraskan jemariku menekan nekan kepalanya, "sayang sayang, pelan pelan!"


"katanya enak? aku sudah pelan loh", sahutku menggertakkan gigi


"tidak ah, kau sengaja dikeraskan!", Yogi pun ingin beranjak dari sandarannya tapi aku menarik nya kembali


"jangan pergi dulu, aku belum selesai!"


belum selesai melumatmu


"tidak sayang, sudah cukup. kesini berendamlah bersamaku!", Yogi langsung beranjak dari bathtup lalu melepaskan bajuku


entah kenapa aku menurut begitu saja, lalu menuntunku masuk di dalamnya, "duduklah di depanku, aku akan menggosok punggungmu!"


aku pun mengindahkannya begitu saja, terasa nyaman rasanya ketika Yogi menggosok punggungku dengan busa

__ADS_1


"enak"


"benarkah?", tanya Yogi masih menggosok pelan punggungku


aku pun mengangguk, "iya"


"Oh, lihatlah! punggungmu sangat kotor", ucapnya membuatku malu dan langsung menjauhkan diri, tapi ia malah justru menertawaiku


"haha sayang, kau menggemaskan sekali!"


aku mengerutkan kening tidak mengerti, "kau mengerjaiku?"


"haha maaf, habisnya kau lucu jika sedang kalau marah!"


aku pun menangis, "tidak lucu tahu, kau menyebalkan!"


"maaf sayang, jangan menangis! lagi lagi aku membuatmu menangis, maaf", Yogi memelukku dari belakang lalu mengelus lenganku guna untuk menenangkanku


****


seperti biasanya aku duduk di depan cermin sementara Yogi menyisiri rambutku, mengambil helaian rambutku lalu mengeringkannya menggunakan hairdyer yang memang sudah termasuk fasilitas untuk hotel berbintang.


aku pun duduk sambil membaca sebuah Novel romance tak lupa pula menyeruput minuman dingin yang aku pesan.


"sayang",


"iya"


"kenapa kau begitu sensitif dan suka menangis akhir akhir ini?"


"karena kau menyebalkan!", jawabku merengut


"hemm, iya iya, tapi tidak seperti biasanya, apa karena kehamilanmu?"


Yogi menghembuskan nafas panjang manahan kesal, "iya, aku salah"


"dasar kau memang tidak peka!"


terdengar suara hairdryer sudah tidak beraturan lagi dan mengacak ngacak rambutku. aku yakin dia memakiku didalam hatinya, haha menyenangkan


****



****


kini aku sudah berada diatas ranjang, di selimut yang sama dengan Yogi, menenggelamkan wajahku di dadanya yang bidang.


sedari tadi aku memikirkan betapa lembut dan kenyal lengannya,


kemudian aku mendongakkan wajahku untuk kembali menatap wajahnya yang tampan, "kau sudah tidur?", tanyaku berbisik


"hemm", sahutnya serak, sepertinya ia sudah mulai tenggelam dalam tidurnya, "apa?"


"hmm apa aku boleh meminta sesuatu padamu?"


"kau ingin kue?" tebaknya


"bukan", aku kemudian mengambil sedari tadi lengan yang aku incar, lalu mengelusnya, "aku ingin lengan ini, bolehkah?"


Yogi tersenyum dalam lelapnya, pasrah akan lengan yang aku idamkan. entah apa yang di pikirkan nya, mungkin dia kira aku akan mencium lengannya yang halus dan berotot?

__ADS_1


aku sedang aneh, ya aneh tapi ini memang benar adanya di pikiranku, lengan yang tampak menggoda dan kenyal akan memuaskanku.


"sayang, bolehkan aku melepas baju tidurmu?", tanyaku pada Yogi yang terlelap


tanpa menunggu jawabannya aku pun membukanya, membuka setengah badan hanya bagian lengan yang aku idamkan agar tidak ada kain yang menghalangi,


kini aku pun berhasil tanpa mengganggu tidur Yogi yang mulai tenggelam, ku dapati lengannya tepat di depan mataku.


ku elus lengannya, lalu ku tempelkan pada bibirku, kemudian langsung saja ku buka mulutku dan menggigitnya dengan keras. begitu kenyal seperti yang aku banyangkan


tapi, sontak Yogi bangun menjerit kesakitan, sedangkan aku masih menikmati dan tak mau melepaskan gigitanku.


"awww aaa sakit!", Yogi berteriak. untung saja kita dikamar khusus dan kedap suara, kalau tidak orang orang pasti akan terganggu serta kaget dengan teriakan Yogi yang sangat dahsyat.


aku pun melepaskan gigitanku karena kasihan padanya yang sudah sangat kesakitan.


segera Yogi menggosok bekas gigitanku yang memerah serta terdapat bekas gigi ku tenggelam di kulit lengannya, ia menggosok menggunakan telapak tangannya.


aku juga ikut menggosoknya, aku tahu ia sangat kesakitan tapi aku tidak bisa menahannya, "sayang, apa yang kau lakukan?"


"anakmu menginginkannya, terasa kenyal!"


"argghhh tapi kau membuatku kaget"


"maaf, tapi aku tadi sudah ijin kepadamu"


Yogi memutar otaknya, mengingat kembali, "aku kira kau hanya butuh sentuhanku, tapi ternyata kau malah menggigitku"


"ya maaf, aku kan hanya mengikuti naluriku"


"hmm sudahlah, tidak apa apa", Yogi kemudian menggerakan jemarinya mengelus perutku, "sayang, jangan nakal lagi ya! Ayah kesakitan, Ayah tahu bahwa Ayah sangat menggemaskan tapi kau minta yang lain saja ya?"


aku hanya bisa terkekeh mendengar Yogi menceloteh begitu, Ia begitu sabar dan menyanyangi anaknya ini.


"mulai besok pagi aku harus menggunakan pengaman pada lenganku, siapa tau secara mendadak kau akan menggigitku lagi", ucap Yogi melirik kesal padaku


"percuma, jika aku menginginkannya, ya kau harus memberikan dengan sukarela", sahutku lalu kembali pada posisi tidur ku, berbaring miring memunggunginya


Yogi langsung memegang lenganku dan membalikkan tubuhku agar memiring menghadapnya, lalu ia memegang daguku agar mendongak padanya.


tanpa permisi dia melayangkan bibirnya, melumatku penuh kelembutan.


"aku ingin menghukummu sayang, tapi tidak bisa karena kondisi tubuhmu yang masih belum sehat betul", ucapnya kecewa setelah melepas pagutannya


"bukankah tidak apa apa jika kita melakukannya pelan?", sahutku memberi nya semangat


dia membalasku dengan senyum lalu mengecup keningku, "tidak, aku akan bersabar demi bayi kita"


kita pun kembali kepada posisi yang semula, hangat dalam pelukan bersama. tapi malam ini aku akhiri dengan kecupanku padanya.


"selamat malam"


****


Hati manusia selalu berubah, dikehidupan manusia tidak ada yang abadi


****



****

__ADS_1



__ADS_2