
aku melemparkan badanku diatas kasur,
manahan jantung ku yang berdegup kencang tidak karuan, seakan ingin meloncat jauh dari tempatnya
apa aku sudah benar benar mencintai nya?
aku termenung dalam lamunan, mengingat semua yang telah terjadi dan berfikir lebih jernih, apa alasanku untuk menolaknya pergi?
sikapnya memang kasar, angkuh dan tak terkendali tetapi aku sangat tahu pasti, dia orang yang baik dan lembut kepadaku.
ah, tidak mungkin, aku tidak mungkin menyukainya
aku melangkah mengambil ponsel yang sudah lama aku simpan di dalam laci, aku ingin memastikan sesuatu
aku men charge nya terlebih dahulu karena mengingat sudah lama aku tidak menggunakan nya, lalu aku pencet tombol on
aku menarik nafasku panjang, khawatir bahwa akan banyak pesan dari Bima, dia pasti mengkhawatirkan ku
ku lihat dan aku cek ternyata tidak ada satu pun pesan dari Bima, ah aku kecewa
apa aku harus merasa kecewa atau lega, tapi yang pasti aku sedih karena dia tidak sekalipun mencoba mengabariku
tok tok tok, suara ketukan pintu tengah malam mengagetkan ku
"siapa ya?", gumamku curiga, sedikit was was aku melihat di balik jendela yang sudah tertutup gorden, "Sindi"
segera aku membuka pintu, "Sindi, bagaimana kau.."
belum sempat aku berkata, Sindi langsung memelukku dan menangis membuatku sangat khawatir, "ada apa Sin?", tanyaku sambil mencoba menenangkan Sindi
"Bima", ucapnya serak dalam tangis, "Bima Bel!", membuatku semakin panik dan bingung
aku melepaskan pelukan Sindi lalu meremas kedua sisi lengannya, "kenapa Bima?", tanyaku dengan nada tinggi, dan mataku berkaca kaca takut hal buruk telah terjadi, "kenapa?", tanyaku mendesak
"Bima, kecelakaan! dia keritis", sahut Sindi membuatku melangkah mundur dan terjatuh karena tubuhku mendadak lemas dan tak bertenaga
"tidak mungkin",ucap ku tak percaya, kemudian aku bangun berdiri sekuat tenaga melawan perasaanku yang hancur, "sekarang antarkan aku, aku ingin melihat nya!"
aku segera mengemas semua pakaian ku, dan langsung kembali ke tempat asalku untuk menemui Bima tanpa pikir panjang,
sepanjang perjalanan aku hanya bisa menggenggam kedua jemariku yang gemetar, menahan tangis dan berdoa, memohon pada Tuhan untuk keselamatan Bima, aku merasa sangat bersalah kepadanya karena selama ini aku tidak dapat membalas kebaikan nya, aku hanya bisa memberi rasa sakit terhadapnya, tidak seharusnya aku pergi meninggalkan nya dengan egois.
Bukan kah dekat dengan nya sudah membuat ku merasa cukup?
****
****
dan kini tiba saat nya aku berada di rumah sakit, aku melangkah masuk dan membayangkan hal hal buruk diluar kendaliku masih berputar diotakku tak mau berhenti,
setelah sampai di ruang ICU, aku melihat Tante duduk di kursi tunggu sambil menahan tangis, dan ku lihat juga bahwa ada Niken sedang berdiri di sebelah nya.
seketika langkah ku berhenti, mengingat bahwa Tante tidak menyukai ku lagi dan juga aku tidak ber hak berada disini lagi.
aku ingin sekali melihat kondisi Bima agar perasaanku yang khawatir menjadi tenang, tapi bukan saat ini, aku membalikkan langkah ku tapi pak Gugum asisten Bima telah melihat dan mengetahui keberadaan ku.
segera aku pergi melangkah cepat untuk keluar dari rumah sakit, aku hanya bisa menangis karena aku tak dapat melakukan apa pun
__ADS_1
"Bela", tiba tiba suara datang mengejar dari arah belakang ku,
aku pun berhenti dan membalikkan badanku, "Niken?"
"Bela, jangan pergi!", ucapnya membuatku tak percaya, "Bima membutuhkan mu", ucapnya pilu
aku membelalak kaget karena yang aku tahu bahwa Niken tidak menyukai ku bahkan menginginkan ku menjauh dari Bima, tapi sekarang?
"kau mungkin bertanya tanya kenapa aku menahan mu pergi! tapi aku tidak bisa membiarkan orang yang aku cintai menderita, asal kau tahu, aku selalu mencoba untuk membuat dia jatuh cinta kepadaku tetapi tetap tidak bisa karena kau tahu?", ucap Niken menangis dan sesak, kemudian mencengkram erat kedua bahu ku, "hanya ada kau di hati nya, bahkan kepergian mu, dia menjadi berbeda, dia mabuk mabukan, meninggalakan pekerjaannya, bahkan tidak menghargai dirinya sendiri dan akhirnya menjadi seperti ini"
seketika aku tertegun, aku tidak tahu jika akan berakhir seperti ini. saat ini aku sungguh menyesal telah menyakiti nya
"jadi ku mohon, temuilah Bima! aku rela melakukan apapun asal dia bahagia, walaupun aku merelakan kalian bersama kembali", ucap Niken sambil menahan tangisnya
kini aku tahu bahwa cinta nya sungguh tulus untuk Bima
"terimakasih", aku memberi Niken pelukan sebelum akhirnya aku melangkah kembali untuk pergi menjenguk Bima
aku masih melihat tante yang duduk bersedih dan menundukkan kepalanya, "Tante?" ucapku menyapa
"Bela", Tante kemudian berdiri dan memeluk ku, memecahkan tangisnya yang sudah ditahannya sedari tadi hingga membuatnya meraung tak terkendali.
aku sangat mengenal mama Bima karena dia lah yang membesarkan, merawat bahkan mambantu biaya pendidikan ku sejak nenekku meninggal.
dia adalah mama terbaik, dia masih saja cantik tanpa kerutan di wajahnya, walau umurnya sudah hampir setengah abad
Bima di rawat di ruangan ICU khusus, bahkan beberapa lantai sudah di kosongkan demi kenyamanan Bima. hanya fokus untuk dirinya dalam penanganan terbaik,
"Tante, apa aku boleh menemui Bima?", ucapku kemudian setelah tante sedikit tenang
Tante mengganguk menyetujui ku, dia masih menangis tak mampu berbicara.
kini aku melangkah dengan hati hati, memakai pakaian protektif khusus berwarna hijau yang di sediakan oleh rumah sakit agar menutupi seluruh pakaianku,
ku usap wajah nya yang sudah pucat pasi, bahkan bibirnya pun menjadi putih seperti tak ada aliran darah mengalir di dalamnya, "sayang", ucapku sambil meneteskan air mata
ku genggam tangannya yang tanpa selang infus, ku dekat kan di pipiku yang basah, ku cium berkali kali, "bangunlah!", ucapku berbisik serak, "aku sudah disini"
"aku berjanji, tak akan meninggalkan mu lagi", aku berucap dalam tangis dan penuh janji, "jadi aku mohon, bangunlah sayang"
setelah semua ucapanku, masih saja Bima tidak sadar kan diri, mambuatku semakin hancur dan menangis, ku belai wajahnya dan ku kecup bibirnya sekilas kemudian ku rebahkan kepalaku menidurkannya disisi ranjang dan masih menggenggam jemari Bima yang masih terasa dingin
tak lama kemudian aku merasakan, tangan yang ku genggam bergerak, aku kaget
aku berdiri menatapnya senang bukan main, lalu ku pencet tombol panggilan darurat agar dokter penjaga segera datang melihat kondisi Bima yang mulai sadar,
belum sampai mereka tiba, aku melihat mata Bima mencoba untuk terbuka walau masih terlihat berat sesekali memejamkan dan membuka mata dalam sekejab, akhirnya ia bisa membuka mata penuh
aku membungkukkan badanku, mendekatkan wajahku dan membelai rambutku, "sayang", ucapku kepadanya, lalu perlahan ia menggerakkan kepalanya dan menoleh kepadaku, dia tidak membalas sapaan ku tapi ku lihat jelas, air matanya menetes
apa kau merindukan ku? sangat merindukan ku? ... aku pun sama.
kemudian masuklah dokter penjaga serta dengan beberapa perawat dan asistennya, sehingga membuatku melangkah mundur memberi dokter serta perawat leluasa untuk merawat Bima
aku keluar dan langsung disambut oleh Tante, ia masih menunggu padahal hari sudah mulai pagi, wajahnya yang cantik sudah dihiasi oleh lingkar mata panda akibat kurang tidur serta mata bengkak akibat menangis
"bagaimana keadaan Bima?", tanya Tante penuh harap sambil menggenggam tanganku, dia melihatku dengan wajah penuh cemas serta berkaca kaca
"Bima sudah sadar Tante", ucapku tersenyum dan seketika Tante memundurkan tubuhnya terjatuh duduk di kursi
"terimaksih Tuhan", ucapnya sambil mencengkram dadanya dan menangis penuh syukur, akhirnya kita bisa lega dan menunggu Bima untuk di pindahkan ke kamar Bangsal
__ADS_1
aku duduk mendekatakan diri, Tante langsung memelukku, "terimakasih Bela", ucapnya lemah, "maafkan Tante selama ini sudah menentang kalian berdua, sekali lagi maafkan Tante?", ucap Tante penuh penyesalan dan mengelus punggungku pelan
pelukan dari seorang mama, pelukan hangat, yang tak pernah aku dapatkan sejak mamaku meninggal, "Tante tidak usah merasa bersalah, seharusnya Bela yang harus banyak berterimakasih karena Tante sudah menyayangi Bela dan memperlakukan Bela layaknya anak kandung Tante sendiri",
"kau memang anak yang baik, Bela", kemudian kita saling berpelukan dan melupakan kejadian yang lalu, yang tak mengenakkan.
****
aku menjaga Bima semalaman saat pindah ke Bangsal, sampai lupa dan menidurkan kepalaku di sisi ranjang.
jemari yang lembut ku rasakan tengah membelai rambutku, menyadarkanku dari tidurku yang lelap, "sayang", ucap Bima serak lemah
akupun bangun, menegapkan tubuhku yang terlalu lama membungkuk, "sayang, apa kau butuh sesuatu?", ucapku sambil mengelus wajahnya yang mulai merona kembali
sudah tidak ada lagi kabel kabel yang menyiksa, sekarang hanya tersisa selang infus untuk memasukkan cairan NaCl serta vitamin untuk menutrisi
bibirnya pun mulai merah kembali dan tersenyum manis kepadaku, membuatku tak tahan untuk tidak mengecupnya walau hanya sekilas.
"aku hanya butuh kamu", jawabnya membuatku semakin malu dan panas di kedua pipiku, kemudian dia meminta bantuanku "bantu aku duduk"
ya aku mengindahkan dan membantunya untuk duduk dan bersandar pada papan bed.
"aku ambilkan minum ya?", aku lekas mengambil air minum gelas mineral dan menusukkan sedotan agar mempermudah untuk ia minum
aku pun kembali dan duduk di kursi tepat sebelah ranjangnya, serta menggenggam tangan Bima yang tak ter infus.
"Bela?", ucapnya seraya bertanya
"iya sayang, kenapa?", tanyaku memberi senyum
"apa kau kesini kembali hanya karena aku terbaring di rumah sakit?", pertanyaan Bima membuatku bingung harus menjawab apa,
"tidak, bukan begitu", jawabku tersenyum paksa, "aku ingin membersihkan tubuhku dan pergi menemui Sindi sejenak, apa kau tak apa aku tinggal?", aku mencoba menghindari pertanyaan Bima karena aku tidak ingin menyakitinya lagi dalam kondisi seperti inj
dia pasti memahamiku
Bima tersenyum, "tak apa, kau lekas pergilah karena aku sudah mencium aroma kecut di tubuhmu", ucapnya terkekeh meledek
"ah, awas saja kau kalau sudah sembuh!", aku beranjak dari tempat duduknya, lalu ku dekatkan diriku lagi dan mengecup dahinya sebelum pergi.
****
hueeekk hueeekk
"kenapa sih belakangan ini aku sering mual mual apalagi dipagi hari", gumamku kesal dan mengundang perhatian Sindi
"apa? mual pagi hari?", tanya Sindi kaget
aku mengangguk meng iya kan, "iya, apa ada yang aneh? sepertinya tubuhku kurang fit"
"tunggu, kau kapan terakhir menstruasi?", tanya Sindi tiba tiba malah membuatku panik serta membelalak
ku lihat tanggal di ponsel ku dan mengingat ngingat, "ini sudah bulan ke dua aku belum menstruasi", gumamku dalam hati, dan aku menggelengkan kepalaku, "tidak, tidak, ini tidak mungkin terjadi"
aku memegang kedua lengan Sindi dengan panik, "Sindi, apa yang harus aku lakukan?"
****
Cinta adalah kerelaan hati untuk membuat orang yang kita cintai bahagia, meski hati ini patah
****
__ADS_1