
aku terhenti seketika, terasa berat rasa sesak di dada.
tidak tidak, aku harus percaya
"Nona, kenapa tidak masuk saja?" tanya Dio
"tidak, lebih enak makan diluar saja"
aku berbalik arah, menaruh nampan pada meja kosong yang tak jauh dari pintu.
lalu Dio juga datang dan duduk di depanku, entah mungkin dia akan mengejekku lagi kali ini.
kue yang biasanya menggugah seleraku membuat ku tak lagi bernafsu, serasa tenggorokanku kering dan berat sekali untuk menelannya walau hanya secuil.
"Nona yakin tidak apa apa?"
"ah, apa? aku? aku tidak apa apa", bohong sekali diriku, jelas saja tanganku gemetar sedari tadi tapi ku tahan
mencoba makanan yang tak dapat ku telan dengan benar hingga membuatku jatuh tersedak.
uhuk uhuk
Dio menepuk menepuk pelan punggungku
"jika Nona keberatan, kenapa tidak masuk saja!"
aku menggelengkan kepala, "tidak, aku akan mencoba percaya"
Dio terkekeh menanggapi ucapanku, "masih ada ya wanita seperti Nona"
"Yogi selalu mengajariku akan hal itu, jadi aku akan mempercayainya"
"walau Nona akan terluka pada akhirnya?"
Deg!!
jantungku ingin meledak rasanya, kenapa Dio selalu membuat emosiku naik turun. Ia memang pantas menjadi seorang Idol sekaligus aktor berbakat.
"kau tahu kata kata ini?", Dio mengangkat alis menatapku bingung, "ada empat persyaratan dalam pernikahan, yang pertama iman dan sisanya adalah kepercayaan" ucapku
lagi lagi Dio tertawa mendengarnya, "ya Nona benar sekali tetapi yang pasti, jujur itu adalah hal yang paling utama"
"langsung saja! apa yang sebenarnya kau ketahui?"
"wahh Nona tidak suka basa basi ternyata", ucap Dio masih tertawa penuh bangga padaku, "kakakku dan kak Jean pernah menjalin hubungan khusus, dan sangat dekat sekali. Nona sendiri melihat kan bagaimana reaksi kakakku saat bertemu kembali dengan Kak Jean?"
"ya aku sudah tahu"
"jadi Nona sudah tahu semua, tapi Nona tetap berdiam diri saja? ha ha", Dio berubah kecut kepadaku, "sungguh menggelikan"
"cih, aku malah lebih penasaran tentangmu", ucapku menelisik, "untuk apa kau mencampuri urusanku?"
"ah, aku sebenarnya hanya penasaran saja pada wanita yang selalu dieluhkan oleh temanku, dan ternyata benar", Dio berbisik, "Nona tidak bisa ditebak"
"teman?", tanyaku penasaran
"Nona pasti akan bertemu lagi nanti dengannya", ucap Dio menyeringai, "sejak kapan Nona tahu tentang hubungan kakak dan Kak Jean?"
__ADS_1
"aku baru saja tahu", jawabku jujur karena aku sejujurnya sangat percaya dengan perkataan Yogi bahwa Jean adalah teman lamanya, "dari mulutmu"
sungguh aku ingin menangis dan berteriak dengan kencang sekarang tapi aku tidak ingin terlihat lemah, aku akan mencoba membicarakannya dengan baik.
melelahkan sekali jika sudah jatuh kedalam perasaan lalu kau dibohongi layaknya kau tengah di hianati, rasanya ku ingin mati saja seketika.
"ha ha Nona memang pandai bicara rupanya, aku jadi tertarik"
"tolonglah jaga bicaramu!", ucapku dengan nafas naik turun.
sungguh aku menahan emosi saat ini, sesekali aku menatap pintu melihat kenapa Yogi belum keluar juga untuk mencariku. bukankah aku sudah meninggalkannya cukup lama?
kegetiranku sungguh mulai ku rasa. aku menggenggam garpu dengan tangan gemetar tak bisa ku tahan.
Dio yang menyadari hal itu lantas langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung masuk begitu saja mengganggu percakapan Yogi dengan Jean.
sedangkan aku begitu kaku, rasanya begitu lemas dan air mata sudah mengambang di mata tak dapat ku tahan.
saat Yogi keluar, cepat cepat aku menunduk menghapus air mataku dengan punggung tanganku. "ahh aku sepertinya flu", gumamku agar Yogi tak curiga
"sayang, kenapa kau disini?", tanya Yogi mendekatiku
"ah aku hanya ingin duduk disini saja, mungkin ini bawaan karena aku sedang hamil he he"
"baiklah, kalau begitu kita pulang saja. sepertinya kau sudah sangat kelelahan"
aku pun mengangguk, mengindahkannya saja.
aku juga belum melihat Jean dan Dio keluar, tapi sekelibat aku melihat Jean sedang menunduk menjambaki rambutnya sedangkan Dio tak jauh dari sisinya.
****
****
"sayang, kau kenapa?"
"ah aku tidak apa apa, hanya saja aku sepertinya mulai flu", sahutku berbohong karena sungguh memang panas menahan tangis tapi yang lebih panas lagi adalah hatiku yang dirasa hancur ini.
"kenapa kau baru mengatakannya sayang? ini karena tadi kita berlama main salju", ucap Yogi lalu menyandarkanku di bahunya yang lebar.
"maaf", sahutku lirih.
Kini aku benar benar menangis, mencoba menahan suara agar tak terdengar dengan bibir bergetar. sungguh kenapa harus sesakit ini.
"sayang, apa kau menangis?"
ya, Yogi pasti tahu karena bajunya yang sudah basah tersentuh kulitnya dan terasa.
"tidak, aku hanya merasa pusing saja ingin beristirahat", masih saja aku mengelak
****
saat mobil tiba dirumah, segera aku turun mendahului Yogi dengan mata membengkak karena tangis.
aku segera mengunci pintu kamar mandi dan mengguyurkan tubuhku pada air dingin agar menetralkan otakku.
bertahanlah, kau belum tahu pasti
__ADS_1
aku berbicara pada diriku sendiri, meyakinkan diriku sendiri.
saat selesai mandi, aku sudah melihat Yogi duduk di atas sofa memandangiku.
aku pun menundukkan mataku, lalu duduk didepan cermin dan mencoba menyisir rambutku sendiri.
"sayang", Yogi melangkah mendekatiku mengambil sisir yang ku pegang, mengganti menyisiri rambutku dengan pelan seperti biasa, "bicaralah jika ada hal yang ingin kau ketahui!"
aku merampas sisirku kembali, "aku sudah mendengar sendiri dari mulutmu, lalu untuk apa lagi aku harus mengulangi pertanyaan yang sama?"
Yogi melemparkan tubuhnya lagi di sofa dan duduk dengan malas, tapi dia akhirnya berbicara jujur padaku tapi itu sudah percuma.
"apa ini tentang Jean?"
ya, hanya mendengar namanya saja dia sebut dengan mulut nya, membuat perasaanku menjadi hancur mendidih.
"aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya"
"bukan itu yang ingin ku ketahui!", aku manaruh sisirku lalu melangkah duduk disebelah Yogi, "rahasia apa lagi yang belum ku ketahui? kau terlihat sempurna, tentu itu untuk menutup kekuranganmu bukan?"
Yogi membelalak tak menyangka akan pertanyaanku yang bertubi, Ia tetap kaku tak mampu mengungkapkannya
"jika kau hanya berdiam diri saja, baiklah! kau simpan saja sendiri", aku meninggalkan Yogi yang terpaku penuh sesal.
aku menutup pintu kamar dengan kasar dan mempercepat langkah menuju kamar calon bayiku yang akan lahir, kamar bernuansa Pink.
aku menumpahkan segala rasa sedihku didalam kamar seorang diri, berbaring tidur diatas sofa tunggal.
rasa yang ku takuti setelah bersama Yogi, akhirnya terjadi juga.
****
Kriekkk!! suara pintu terbuka
aku tahu bahwa itu adalah Yogi, berlari pun aku sudah tak dapat melakukannya. yang aku bisa sekarang hanya berpura pura tertidur untuk menghindarinya.
kurasakan jemarinya mengusap anak rambut yang menutup wajahku, lalu sesuatu yang kenyal menyentuh keningku. Ia menempelkannya begitu lama, kemudian juga ku rasa sesuatu yang basah jatuh di pelipisku, Yogi terisak.
"sayang", ucapnya serak berbisik kepadaku, "kau benar, aku bukanlah orang yang sempurna, aku selalu berusaha sempurna dimatamu dan tanpa aku sadari aku telah melakukan salah. aku ingin jujur padamu tapi itu menorehkan luka lama bagiku, aku sudah lama berjuang sendiri", Yogi memelukku dalam tangis, "aku akan menceritakan semua pelan pelan kepadamu tapi saat aku sudah siap, tunggulah aku! aku meminta itu, tak lebih"
tak terasa air mataku juga ikut menetes, ikut merasakan kepedihan yang Ia alami walau aku tak tahu akan hal apa itu tapi aku yakin dan percaya, semua ada alasannya tersendiri.
Yogi beranjak lalu mengangkat tubuhku, membawaku dalam gendongannya hingga ke kamar pribadi kami.
lalu Ia membaringkan ku disana, kita berbaring bersama. aku tahu bahwa Ia tahu aku sedang pura pura tertidur.
aku bergerak memunggunginya, lalu Ia memelukku dari belakang. "maafkan aku", ucapnya dalam tangis
hanya kata itu, dan malam terlah berlalu.
****
Kamu mungkin ditipu jika kamu terlalu mempercayai, namun kamu akan hidup dalam siksaan jika kamu tidak cukup percaya
****
__ADS_1