AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Festival Lampion


__ADS_3


Seketika ada sesuatu yang menggelitik di saraf otakku. Ada sesuatu yang beda tak pernah ku rasakan, bersamaan dengan detak jantungku yang mulai berdetak lebih kecang.


Ia tiba tiba menciumku, melumatku dengan lembut. tapi bukankah ini melukai harga diriku karena kita baru saja bertemu? bukankah ini juga bentuk pengkhianatan kepada Diki tunanganku?


arghh kenapa aku segila ini?


****


BUUGH


ku lemparkan koper yang sudah berisi baju bajunya di depan pintuku,


"Nona.. Nona kenapa mengusirku?"


"kenapa kau masih bertanya? aku memecatmu!" sahutku sembari melotot kepadanya


"atas dasar apa Nona memecatku? aku saja belum mulai bekerja", ucap Yogi memprotes


"hei", bentakku "kau sudah melanggar norma norma kesopanan kepada atasanmu!"


"apa karena tadi aku menciummu? bukankah kau juga menikmatinya?", sahutnya menyeringai memberikan nada sensual kepadaku


Deng!!


tentu saja pipiku mulai memanas karenanya, kenapa aku sebodoh itu.


"cih, dasar kau gila! aku tidak ingin berdebat denganmu, pergi sana menjauh!"


"Nona, ku mohon jangan mengusirku, kau akan menyesal jika mengusirku!", teriak heboh Pria aneh tersebut ketika aku meninggalkannya pergi tapi aku tak menghiraukannya.


dan kini hari mulai naik kepermukaan dan dengan malas aku membuka toko ku kembali,


tapi anehnya, aku masih melihat Yogi si pria aneh tersebut duduk bersindakap di seberang jalan menghadap persis ke toko ku.


sungguh aku tidak bisa konsentrasi ketika mulai menata bunga bunga di rak, karena dia melambaikan tangan dengan girang kepadaku.


sungguh aku membenci senyumnya yang selalu menggelitik pikiranku.


dengan reflek aku juga tak henti menoleh kepadanya.


"bodoh!" aku menepuk jidatku


entah apa yang sedang aku pikirkan tadi, kenapa aku membalas spontan ciumannya. sialan.


aku tak hentinya mencibir diriku sendiri yang kehilangan kontrol dan juga menyipitkan mataku ketika menoleh kepadanya yang terus saja memanggilku dari kejauhan,


membuatku malu saja ketika orang orang lewat dan melihat tingkah konyolnya yang ditunjukkan kepadaku.


tapi kali ini bagai sihir, bagaimana bisa di pagi hari menjelang siang banyak pembeli berdatangan silih berganti.


lebih tepatnya datang bersamaan membuatku pusing, bukan hanya itu, mereka suka komplain kepadaku membuatku panik serta kewalahan. aneh saja mereka mengatakan bunga yang baru dibelinya beberapa detik lalu kemudian mengatakan bahwa bunganya layu.


ada juga yang mengatakan bahwa bunganya tidak sesuai dengan yang dia beli, padahal mereka sendiri yang memilih.


sungguh kenapa pembeli berdatangan sangat banyak sekali serta ocehan ocehan aneh keluar dari mulut mereka.


"Nona, aku beli yang ini!"


"Nona, kenapa bunganya tidak sesuai dengan yang aku pilih?"


"Nona, bunganya sudah layu, bagaimana kau masih bisa menjualnya?"


"Nona, aku sudah menunggu lama, layani aku terlebih dahulu"


"Nona.. Nona.."


argghhhhh sungguh aku ingin pingsan seketika.


aku tak ada pilihan lain selain meminta pria yang tengah tersenyum dengan angkuh itu untuk membantuku.


dengan berat aku pun melangkah menghampirinya yang sedang bersindakap angkuh kepadaku.


"hmm.. kembalilah bekerja!", ucapku seraya bergumam


"apa? aku tidak mendengar"


aku menggertakkan rahangku menahan kesal, sungguh malu tapi tak ada pilihan lain, "kau masih mau bekerja tidak?" tanyaku setengah berteriak


"Nona tadi kan memecatku", ucapnya menyunggingkan bibirnya dan bersindakap, "bagaimana ya?"


aku tahu dia akan mengerjaiku dan seoalah olah tarik ulur.


iih menyebalkan sekali


"huh, kalau saja bukan karena aku kewalahan menghadapi pembeli, aku tidak mungkin memintamu kembali"


"oh jadi tidak ingin meminta maaf dulu nih?"

__ADS_1


"maaf", sahutku pendek, "mau kembali bekerja tidak?"


"bagaimana ya?"


"hah, sudahlah lupakan!", sungguh aku menahan malu dan menyesal memintanya kembali, jelas saja dia hanya akan menertawaiku.


aku pun membalikkan badan untuk kembali ke toko, ya tanpa di duga Ia memang pria aneh nan tengil.


buru buru dia mengejarku dan dengan kurang ajar mengecup pipiku lalu berlari mendahului ku masuk ke dalam toko.


"huh, dasar menyebalkan!" gumamku sambil mengepalkan tangan, "sial sial sial"


dan seketika Yogi masuk ke dalam toko, ke anehan pelanggan pun tak berlangsung lama.


mereka jinak semua berkat Yogi, pelanggan pun mulai normal seperti biasanya hanya dalam hitungan menit.


"he he beres kan?" ucap nya sambil merentangkan tangan membuatku mengerti arti senyum tengilnya itu.


"hai sialan, kau mengerjaiku ya?", aku mengepalkan tanganku, "kau kan yang menyeruh mereka datang ramai ramai ke tokoku hah?"


Ia malah menanggapi tawa tengil kepadaku membuatku tak ragu untuk memberinya pelajaran.


dengan sigap dia mengerti maksudku dan berlari saat aku mengerjarnya yang hendak ingin memukulnya.


"awas kau ya!"


"ha ha ha ampun sayang"


cih, kali ini dia pun memanggilku dengan sebutan itu.


membuatku teringat saat pertama kali bertemu dengannya, dengan wajah pucat pasi seperti mayat serta lingkar hitam di matanya, begitupun bibirnya yang pecah dan berdarah.


aku tidak mengira dia bahkan saat ini bisa tertawa terbahak seperti itu, membuatku juga ikut bahagia. entahlah apa yang aku rasakan.


sepanjang hari kita bersama, dia juga tak hentinya mengacaukan segalanya.


kebodohanku telah menerimanya bekerja disini, dia tidak membantuku sama sekali.


hanya duduk terpaku sambil menopang dagunya menatapku dengan senyuman manis dibibirnya.


awalnya aku berdebar, lama lama aku jengkel juga.


Ia malah mengabaikan pembeli, malah memberi bunga dengan cuma cuma karena tidak mau menoleh bahkan mengedipkan matanya untuk menatapku.


ya Tuhan, inikah yang namanya kesalahan?


****



****


aku menggelengkan kepala, "aku tidak ingin pergi denganmu!" sahut ku ketus


"apa, kenapa? karena tunanganmu itu?" tanya nya sembari memutar ke dua bola matanya jengah, "tenang saja! aku yang akan meminta ijin kepadanya"


"tidak perlu, aku hanya tidak ingin kemana mana"


"kau tidak berubah ya? masih saja pemalas dan dingin", ucapnya lembut serta mengusap rambutku penuh kasih.


Deg! jantungku kali ini berdebar tak karuan lagi.


apa maksudnya?


"bukankah kau yang dingin dan juga angkuh?" ucapku memutar balik


"hei Nona, aku ini lembut kepadamu", protes Yogi


dan tak lama ponselku berdering yang ku taruh diatas meja. sedangkan aku sibuk menata pot.


saat aku hendak buru buru mengangkatnya, Yogi mendahuluiku.


"hallo"


"kenapa? kau kaget karena aku menemukan istriku kembali?"


"cepatlah kemari! aku tidak sabar untuk membunuhmu"


lalu Yogi memutuskan sambungan ponselku.


aku mencoba merampas ponselku tapi tak dapat ku raih dari tangan Yogi, kilatan mata tajamnya membuatku ngeri.


kenapa ekspresinya tiba tiba berubah, lalu siapa yang menelfonku? mungkinkah Diki? lalu kenapa dia mengatakan istri dan bunuh?


banyak pertanyaan tertanam diotakku ingin ku tanyakan seketika tapi Yogi langsung melempar ponselku dan menarik lenganku dengan paksa.


"hei, lepaskan! kau mau membawaku kemana?"


"kita akan melihat festival lampion", sahutnya tersenyum ketika sudah menghentikan taxi.

__ADS_1


lalu Ia membukakan pintu mobil untukku dan mobil pun melaju menuju ke tempat ramai.


****



****


sepanjang perjalanan banyak pertanyaan berputar diotakku tapi tak dapat ku tebak tapi..


pertanyaan itu pudar sudah, ketika aku melihat pemandangan diatas jembatan, orang orang sudah berkumpul dengan membawa lampion masing masing untuk dilepaskan menyambut musim semi yang akan datang.


kita pun tak kalah dari mereka, membeli sebuah lampion dan menuliskan keinginan masing masing.


"apa keinginanmu?" tanyaku kepada Yogi yang sibuk mengukir di lampion sambil senyum senyum sendiri.


"kau", jawabnya


"cih, kau tak banyak basa basi ya!"


aku tahu dia itu hanya membual saja, jawabannya pasti bukan aku.


"kau sudah pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya?" tanyaku


Yogi mengangguk, "dia suka sekali ketempat ramai seperti ini"


dia?


"kekasihmu?"


Yogi mengangguk lagi.


entah kenapa rasanya jantungku serasa sesak ketika menyebutkan kata 'dia' aku iri sekali.


****


"Nona, kenapa kau mendiami ku?" tanya Yogi berjalan disampingku


"tidak"


"kau marah kepadaku?"


"tidak"


"kenapa wajahmu muram sekali, apa aku membuat kesalahan?"


"tidak"


Yogi menghentikan langkahku, berdiri tepat didepanku yang sedang melangkah.


"Katakan Nona, kau ingin aku melakukan apa? kenapa kau tidak berbicara sepanjang perjalanan tadi?"


"ah, sudahlah aku cuma tidak ingin berbicara denganmu"


Tek Tek Tek


terdengar suara langkah kaki, kemudian Yogi menarikku dan bersembunyi di balik tembok di gang sempit.


Ia menekan tubuhku ditembok dan bersentuhan dengan tubuhnya yang menempel membuat jantungku tak hentinya berdebar ketika menatap wajahnya yang begitu dekat dengan mataku.


"ada apa sih?" tanyaku ingin memprotes lebih tapi Yogi mengecup bibirku sekilas sehingga aku membelalak, berhenti berucap seketika.


"ada orang yang mengikuti kita!" bisiknya


"tapi menjauhlah! kau terlalu dekat dan jangan mengambil kesempatan didalam kesempitan", aku mendorong tubuhnya menjauh


dan seketika itu pula Yogi menatap perutku, menunduk sedih, sangat terlihat jelas dimatanya yang mulai berkaca kaca.


"ke..kenapa kau melihat perutku begitu?" tanyaku gugup, reflek menutup perutku, "he he aku gendutan ya? aku memang akhir akhir ini banyak makan jadi.."


belum selesai berucap Yogi menggapai tanganku yang ku buat menutup perutku, menekannya ditembok.


lalu tanpa permisi Ia kembali melayangkan bibirnya ke bibirku, kali ini Ia melumatku penuh nafsu dan kasar.


menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri agar mendapat posisi yang pas ketika memperdalam lumatannya kepadaku.


dengan keahlian menguncinya dan ciumannya yang lihai, Lidahnya berhasil menembus mulutku yang tertutup dan bermain hingga bersinggungan dengan lidahku yang semula membisu dan kini mulai membalasnya.


astaga, aku menjadi gila ketika bersamanya.


****


Cinta adalah janji. Cinta adalah suvenir. Sekali diberikan tidak pernah dilupakan, tidak pernah lenyap


****



****

__ADS_1



****


__ADS_2