AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
jatuh cinta lagi


__ADS_3


Ku rasakan jemari lembut mengelus pipiku, membangunkanku yang tengah terlelap di tidurku pagi hari.


"selamat pagi, sayang" ucap Yogi lalu mengecup keningku


"pagi" sahutku serak lalu menggeliat.


ku rasa badanku terlalu lelah untuk bangun menyambut pagi.


Yogi mengecup dahiku, turun ke dua mataku, lalu pipi kanan kiriku, hidungku dan berakhir di bibirku yang hanya Ia kecup sekilas.


aku hanya bisa tersenyum senang dengan perlakuan hangatnya padaku, ketika aku ingin beranjak dari tidurku.


Ia menarik lenganku dan tubuhku jatuh kembali pada ranjang empuk nan luas.


"apa?" tanyaku pada Yogi yang tiba tiba bergerak sudah diatasku.


Ia mendekatkan wajahnya lebih hingga hidung kita saling bergesekan.


"aku mau lagi" bisiknya menggoda ditelingaku


"tadi malam kan sudah, aku harus ke toko sekarang!"


"tidak" Yogi menggelengkan kepalanya penuh manja, "itu tidak cukup"


"tapi.. tapi aku sudah lelah"


Tanpa memperdulikan penolakanku, Yogi kembali lagi mengecup leherku lalu turun kebawah hingga akupun tak tahan untuk menolaknya.


"astaga"


Sinar Cerah di pagi hari, kita Nodai dan Nikmati.


****


setelahnya kita pun membersihkan diri bersama kemudian aku buru buru meneringkan rambutku terlebih dahulu.


"sayang", sapa Yogi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


"sini kau duduklah!", pintaku menarik lengan Yogi untuk duduk didepan cermin.


kemudian aku mengambil sebuah sisir lalu mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakan hairdyer,


ku lihat Yogi senyum senyum menatapku lewat pantulan cermin didepannya.


"kenapa?" tanyaku sambil tersipu malu


"aku tidak mengira bahwa kau bisa berlaku semanis ini padaku" sahutnya tersenyum lebar padaku


"kenapa tidak? bukankah kau suamiku?"


"ya kau benar, aku menyukai dirimu yang seperti ini"


mmm?


setelah selesai mengeringkan rambutnya lalu menata rapi, kemudian dia membelikkan tubuhnya menghadapku. melingkarkan ke dua lengannya di pinggangku yang tengah berdiri hingga badanku begitu lekat dengan wajahnya.


"apa aku dulu selalu kasar padamu?", tanyaku sedikit gelisah


"tidak", Yogi meletakkan wajahnya diperutku sambil menempelkan pipinya, memeluk pinggangku begitu erat, "tapi aku yang selalu melakukan hal ini padamu, karena kau gadis yang ceroboh dan manja padaku"


pantas saja aku selalu sesak ketika sehabis keramas, ternyata aku kehilanganmu.


ku gerakkan jemariku untuk menggapai ke dua sisi pipinya untuk mendongakkan kepalanya agar menatapku yang sudah berdiri menunduk, bersitatap dengannya.


lamat lamat ku pandangi wajah serta matanya yang bening lebih dalam. ketika ku memandanginya, tak bisa ku tahan senyum kebahagiaan di bibirku.


ku dekatkan wajahku hingga hidung kita saling bergesek satu sama lain.


"kini aku tahu mengapa aku dahulu jatuh hati padamu", ucapku sembari memandangi wajahnya


"kenapa?", tanya Yogi


"karena kau jelek" sahutku penuh canda


"aa aaahhh", Yogi memelukku erat penuh protes layaknya anak kecil yang sedang memanja


perasaan bahagia seperti ini sudah aku rindukan, begitu beruntungnya aku.


walau aku masih belum mengingat apapun tapi aku yakin bahwa pilihan serta keputusanku saat ini tak salah.


bagaimana bisa aku melupakan wajah ini?


bagaimana bisa aku melupakan momen indah kita berdua?


bagaimana bisa tak sekalipun memikirkanmu walau hanya sebatas samar?


bagaimana hidupmu selama ini tanpaku? aku begitu sesak dalam kehampaan, lalu kau?


tak dapat ku bayangkan saat pertamakalinya kita berjumpa, kau memelukku erat, menangisi ku yang tengah dipelukanmu, wajah pucat pasi, bibir pecah berdarah tanpa kau rawat.


maafkan aku yang telah membebanimu


"aku mencintaimu"


hanya kata itu yang mampu menggambarkan perasaanku padanya saat ini.


kau mengajarkanku kesetiaan serta pengorbanan yang dahulu ku anggap itu tak pernah ada.

__ADS_1


CUP


ku kecup bibirnya sekilas lalu mengelus wajah tampannya yang tengah menatapku dengan dalam, tak terasa air mata menetes dipelupuk mataku lalu jemarinya mengusapnya.


"aku juga mencintaimu, sampai kapan pun itu" jawabnya atas perasaanku.


Terimakasih Tuhan, kau hanya menghapus kenanganku tetapi tidak isi Hatiku.


****




****


"sayang, apa kau serius mau ke toko?" tanya Yogi cemas


aku mengangguk, "tenang saja, Diki tak akan menyakitiku. aku perlu memastikan sesuatu"


"apa kau masih tak yakin padaku?"


aku membalikkan badanku lalu memeluknya serta mengecup pipinya sekelias, "aku yakin sayang, aku hanya perlu berbicara sebentar padanya"


"baiklah, tapi kau harus ingat! dia yang telah memisahkan kita dan juga mungkin dia telah membunuh ayah, ayah mertuaku"


aku mencubit pipinya gemas, "iya iya, kau tenang saja"


saat aku ingin beranjak pergi lagi lagi Yogi menahanku, "aku ikut bersamamu"


"tidak sayang, aku hanya ingin memastikan sesuatu padanya!"


"tapi..."


kebetulan itu juga kita dengar suara Bel pintu berbunyi lalu aku membukanya.


"Hai Bela" sapa Bima sambil melambaikan jemarinya padaku


"eh, Hai" sahutku canggung


"Yogi ada?"


"ada, silahkan masuk!"


kemudian Bima pun masuk kedalam presidential suit room.


dan aku mempersilahkannya untuk duduk, lalu aku ikut duduk juga untuk menemaninya bersama Yogi


"ah, kebetulan sekali kau datang tepat waktu" ucap Yogi


"hm" sahut Bima datar


"belum, akan keluar minggu depan"


"arghhh, kenapa begitu lama sekali", ucap Yogi kesal


Bima hanya mengangkat alisnya, "aku ada hal yang jauh lebih penting"


"penting?" Yogi mengulang kata, "katakan apa hal penting itu?"


"Dio ingin mengakusisi perusahaanmu, dia ingin mengadakan rapat dengan para pemegang saham untuk menggulingkanmu"


Dio? teman Diki bukan ya?


"oh"


tanggapan Yogi datar membuat mengerut kening bingung.


"kau akan memberikannya begitu saja?" tanya Bima keheranan


"tidak!"


"lalu untuk apa kau masih berdiam diri saja?kembalilah ke kota A sekarang!"


"aku tidak bisa meninggalkan istriku"


mendengar alasan Yogi, seketika aku menatap wajahnya yang sendu sambil mengusap keningnya begitu cemas.


"aku tidak akan meninggalkanmu", sahutku, membuat Yogi menoleh kearahku yang tepat berada disampingnya. ku raih tangannya lalu ku genggam penuh kelembutan, "percayalah padaku!" pintaku untuk membuatnya tenang


"aku tidak bisa jika lagi harus meninggalkanmu", ucapnya getir, "ikutlah bersamaku!"


aku menggelengkan kepala, "tidak, aku ingin menyelesaikan urusanku"


mendengar jawabanku membuat Yogi mengusap wajahnya frustasi, lalu ku pegangi ke dua sisi pipinya agar dia mentapku penuh yakin.


"dengarkan ini!", ucapku sambil menatap matanya dalam, "saat aku hilang ingatan, dan kenangan tentangmu telah terhapus. aku tetap jatuh cinta lagi kepadamu. jadi jika di masa depan aku kehilangan ingatanku kembali, Aku akan menemukanmu dan jatuh cinta lagi padamu"


mendengar perkataanku Yogi langsung memelukku erat.


"selesaikan urusanmu, begitupun aku! aku ingin jawaban atas semua keruguanku padamu, jika aku benar benar yakin. aku sendiri yang akan lari ke arahmu"


"kau masih ragu?"


"aku hanya ragu tentang Diki, aku ingin memastikan tentangnya"


"ah, aku tidak dapat memaksamu", ucap Yogi mengusap rambutnya kasar.


"ehemm", Bima mendehem memutus pembicaraan, "Diki tak ada di toko jadi kau bisa tenang!"

__ADS_1


"benarkah?" tanya Yogi


Bima mengangguk, "Arumi sudah ditoko, dan aku kesini untuk menjemput Bela! kau segera balik ke kota A sekarang!"


"tapi.."


"ada Bima dan Arumi yang menjagaku, jadi kau tak perlu khawatir"


"baiklah, tapi apa kau juga benar benar melupakan pria ini?" menunjuk Bima


"hmm sepertinya begitu", sahutku tak mengerti


"jantungmu hanya berdebar untukku kan? dia hanya orang asing kan bagimu?" menunjuk Bima lagi tepat di depan hidungnya, hingga Bima menepis jemarinya


aku mengangguk sebagai jawaban.


Yogi memelukku senang, "ah baiklah, kalau begitu aku bisa tenang sekarang"


"cih, kau sialan!" decih Bima sambil bersindakap.


"hei, sainganku cukup si Bocah sialan itu. kau tak perlu membuat semakin rumit"


Bima memutar bola matanya jengah, "terserahlah, kau kekanakan sekali"


apa sih yang mereka perdebatkan?


"oh ya, apa Dio itu seorang Idol yang sama dengan Diki?" tanyaku kemudian


"iya, kau tahu?"


"aku sangat mengenalnya, dia bahkan hadir ke pesta pertunanganku"


"sial, brengsek!" ucap Yogi penuh sumpah serapah yang aku tak mengerti apa hubungan mereka berdua. "aku akan kembali sekarang!"


"keputusan yang bagus!" sahut Bima


kemudian kami pun beranjak dari duduk bersiap untuk cek out dan menjalankan urusan masing masing hingga selesai.


"sebentar!" Yogi lagi lagi mencegahku untuk melangkah, tanpa ku duga dia melayangkan bibirnya untuk memikat bibirku penuh sensual dihadapan Bima.


astaga


"pejamkan matamu!" pinta Yogi setelah melepas pagutannya


"hah?" sahutku canggung, tapi tak urung juga aku memejamkan kedua mataku


lalu Yogi lagi, melumat bibirku hingga bersuara, memainkan lidahnya penuh sensual. kita pun saling berbalas tanpa memberi jeda pada ciuman kita yang berakhir lama.


setelah lama kita berciuman, akhirnya Yogi melepas pagutannya dan memberi ruang untuk bernafas hingga aku pun terengah.


"kau jaga diri baik baik! aku akan datang kembali menjemputmu", ucap Yogi sembari mengecup keningku


"baiklah, aku akan menunggumu dengan aman. suamiku"


mendengar jawabanku dengan sebutan 'suami' yang ku tekan, membuat Yogi tersipu padaku


"baiklah, sampai jumpa istriku"


"sampai jumpa"


****



****


aku pun pergi ke toko, berharap Diki datang menemuiku.


berhari hari lamanya aku tak kunjung bertemu dengannya, hingga suatu hari saat semua terkendali.


Diki datang menghampiriku yang tengah mencium aroma manis dari bunga yang ku genggam.


"kakak"


****


Tidak ada gunanya sok bijak dan sok dewasa di Dunia Nyata maupun di Dunia Maya.


Tampilah apa adanya, Tanpa TOPENG!


Jika orang orang tak menyukai kita, Itu masalah Mereka.


Hidup itu sudah rumit, tanpa harus bermanis manis Ria.


****



sorry beberapa hari ini Author lagi ada urusan dalam pekerjaan.


Author janji akan memberikan crazy Up, karena Novel ini akan segera T A M A T.


Terimakasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya yang tak seberapa ini.


Xie Xie


Saranghaeyo, Ich liebe dich, je t'aime, aishiteru


__ADS_1


__ADS_2