AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Meluruskan Kesalah Pahaman


__ADS_3


hujan tiba tiba menyerbu tapi aku terus berlari memberanikan diri di dalam kegelepan, seperti nya sang dewi hujan juga tengah menangis Hari ini.


aku menangis hingga bertekuk lutut bukan karena mereka yang menatap ku masam tetapi karena seseorang yang aku cintai tidak percaya kepadaku, ya aku memang kotor tetapi aku tidak akan menjual tubuh ku demi kesenangan dunia, ya aku memang se munafik itu


kurasakan rintihan hujan lebat mengguyur tubuhku yang mulai kedinginan, begitu nyeri dan menyakitkan hingga menjadi bekas merah kontrak dengan kulitku yang pucat


tiba tiba rintihan hujan yang menyiksa itu tak ku dapati lagi, "Yogi", dia memayungi ku


entah kenapa hanya dengan melihat wajahnya, tatapan mata nya membuatku menjadi tenang


tapi seketika, Brakkk!!! tubuhku terjatuh dan pandangan ku hilang


****



****


ku rasakan hangat di tubuh ku, tak lagi dingin. begitu nyaman hingga tak ingin rasa nya aku membuka mata.


saat aku membuka mata, remang remang


aku berada di sebuah ruangan gelap hanya ada cahaya lampu menyinari, ku lihat seorang pria yang aku kenal sedang tertidur di sisi ranjang tak melepaskan genggaman tangan nya,


sama seperti saat ia melepaskan ku dulu, dirumah sakit


dia merawat dan memakaikan baju nya untuk ku


"Yogi", suaraku lemah mencoba membangunkan nya pelan dengan membelai rambut nya yang masih basah dengan tangan ku yang satu nya, "kau bangun?"+


"Bela", sapa nya tersenyum kepada ku dan mengecup jemariku yang di genggam nya,"apa kau masih kedinginan,sayang?"


aku mengangguk, "tapi ini sudah lebih baik", sepertinya ia sudah menjaga ku sangat lama, ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, aku tertidur begitu lama


"kau lapar? seharian kau tidur jadi mungkin saat ini kau begitu lapar", tanya yogi masih mengelus rambut ku, "kalau begitu aku akan memesan makan dulu", ucap Yogi lalu beranjak dari tempat duduk nya di sisi ranjang ku


"tidak..tidak perlu", ucapku menahan Yogi pergi, "aku memang lapar tapi aku masih dingin", ucapku berbohong untuk menahan nya pergi


aku tidak ingin berada jauh dari nya


"kau dingin?", Yogi mengerutkan kening nya, seperti nya ia tahu bahwa aku hanya ingin dia menemani ku, "baiklah, apa kau ingin aku peluk?"


aku mengangguk senang, ia lalu berguling naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut bersama ku.


kedekatan yang aku rindukan


Yogi melingkarkan tangan nya di bawah lenganku dan lengannya berada di bawah kepalaku, untuk menjadi penopang kepalaku agar begitu rapat di sisi nya, "Bela" ucapnya seraya bertanya


"iya", jawabku serak, memejamkan mata dalam kehangatan tubuh nya


"apa aku benar melepasmu dengan Bima? apa kau bahagia?", pertanyaan itu seperti duri bagi ku, menusuk jantung ku begitu keras hingga berdarah dan tak bisa bekerja lagi untuk memompa


"iya aku bahagia", jawab ku parau, "kenapa kau tidak bertanya kepadaku mengenai kejadian tadi malam?", seketika aku mengingat nya kenapa ia begitu berbeda dengan Bima, hingga membuatku tidak bisa untuk tidak bertanya


"aku mempercayai mu", ucapan itu yang seharusnya aku dengar juga dari mulut Bima, membuatku semakin sedih, "aku sangat mengenal mu, sayang"


"kenapa kau seperti ini kepada ku?", tanyaku yang bingung karena jelas Yogi seperti orang orang bilang, seorang playboy. walau akupun tak mempercayai nya, membuatku salah paham


apa dia masih menyukai ku?


Yogi menundukkan pandangan nya menatap ku dengan senyum mengejek nya yang khas, seolah menebak apa yang aku pikirkan


"kau ternyata memang seorang playboy ya?", ucapku kesal, "kenapa aku bodoh bisa menyukai mu"


aku kesal, kenapa juga aku menjadi salah paham begini, Yogi selalu kasar dengan ku dan tiba tiba menjadi begitu lembut dan perhatian kepadaku, dia selalu memperlakukan wanita begitu juga bukan?


aku menjauh dari pelukan Yogi, dan duduk, berniat beranjak dari tempat tidurku lalu pergi tapi dengan sigap Yogi menarik lengan ku hingga terjatuh berbaring di ranjang, dia menindih ku


tanpa permisi langsung melumat bibirku, begitu lembut, terasa berbeda hingga membuat ku merasakan sensasinya dan memejamkan mata utuk menikmatinya

__ADS_1


aku kehilangan akal


aku mendorong nya, melepaskan ciuman nya yang aku rindukan, "maaf", hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut ku


terlihat jelas dari mimik wajah nya bahwa ia kecewa atas penolakan ku


"tidak, seharus nya aku yang meminta maaf, hanya karena kamu mengatakan bahwa kau menyukai ku, itu membuatku jadi lupa diri, aku tahu posisi ku di hati mu tidak sepenting Bima, aku hanya bisa menyakiti mu", ucap nya tertunduk begitu muram, bagaimana bisa kali ini aku melihat nya begitu berbeda, terlihat sangat tulus walau aku tidak dapat mempercayai nya lagi


"aku tunggu kau di bawah", ucap Yogi sambil menggulingkan badan nya lalu pergi meninggalkan ku,


****


aku turun mengitari tangga, ku lihat Yogi sedang menyiapkan makanan di atas meja, "duduklah!"


aku pun duduk di depan meja yang sudah di siap kan nya, sebuah makanan lunak yang mudah di cerna, tekstur basah dan lengket dengan warna kekuningan terlihat creamy dan gurih, yah seperti perpaduan bubur dan tepung maizena, aku belum pernah memakan ini sebelumnya, "apa ini bubur?", tanyaku begitu polosnya


justru di balas nya dengan senyuman, seperti menjek, lagi lagi dia mengelus rambut ku layak nya aku seorang anak kecil yang ingin minta di sayang oleh orang tua nya, "aku memesan beberapa khas makanan italia, yang sedang kau makan itu adalah Risotto nasi khas italia",


Ngg pantas saja, tidak sesuai dengan perut ku yang kampungan ini.


"lalu, jika makanan italia, kau seharusnya memesan Pizza juga kan?", tanyaku penuh harap sambil membayangkan sebuah hidangan yang bisa aku telan, sungguh aku memaksakan untuk menelan bubur ini. sedangkan diri nya tengah asik memakan spaghetti dan sebuah anggur yang tertuang di dalam gelas, "apa aku juga boleh minum anggur?"


Yogi menggelengkan kepala nya, menarik kursinya menjadi begitu dekat dengan ku, aku menjadi curiga tatapan nya begitu mudah di tebak, dia melumat bibir ku lagi tanpa permisi dan memainkan lidah nya hingga bersinggungan dengan lidah milikku dengan begitu lihai, menahan kepala ku dengan telapak tangan nya agar tak bisa menghindar


ah membuat ku sesak nafas di buat nya


"kau sudah merasakan anggur juga bukan?, ucapnya setelah melepas ciumanan nya yang memaksa itu


"bukan, bukan seperti ini maksud ku, hah kau benar benar ya!", aku kesal di buat nya, "bilang saja tidak boleh, apa susah nya sih"


Yogi hanya tertawa geli melihat wajahku yang cemberut di buat nya, "aku merindukan mu yang seperti ini", ucap nya membuat ku yang semula kesal menjadi tidak karuan, perasaan yang aku rasakan kenapa begitu sedih saat mengingat kenangan.


kemudian aku mendengar Bel rumah Yogi berbunyi membuat ku yang tenggelam ke dalam kenangan jadi tersadarkan , "kita kedatangan tamu", ucap nya tersenyum sambil membuka kan pintu


tak ku sangka tamu itu ternyata Bima, seseorang yang tidak ingin aku temui sekarang ini tapi malah muncul di hadapan ku, "Bela", ucap nya sembari mendekati ku yang tengah memaksakan lidah ku untuk mengunyah


aku tidak sanggup menatap wajahnya, tidak bisa pula untuk menghindari nya, "bagaimana kau tahu kalau aku disini?", tanya ku kemudian dengan ketus


"aku sudah mencari mu kemana mana saat kau pergi meninggalkan ku, dan berlari di tengah lebat nya hujan", Bima terlihat masih mengenakan pakaian tadi pagi yang aku lihat, seperti pakaian yang basah kuyup tapi sudah kering oleh suhu tubuh nya, "untung lah Yogi memberitahu ku bahwa kau disini",


"Bima, kau juga duduklah!", Yogi mempersilahkan Bima, "ada yang ingin aku tunjuk kan",


diambillah sebuah amplop coklat besar dan di Buka nya berisi foto foto ku bersama pria yang tak ku kenal tersebut, "ini bukan nya foto ku?", ucap ku tak mengerti


"ya seperti yang kalian lihat, coba perhatikan angle foto ini, diambil dari atas yang dimana bahwa tidak mungkin diambil oleh pria tersebut", ucap Yogi membuat kita berfikir dan menebak nebak kecurigaan yang di fikirkan Yogi


"artinya, juga ada orang lain?", tebak Bima dan di indahkan oleh Yogi, "aku sudah menduganya"


"apa kau sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Yogi


"saat ini hanya sebatas curiga tapi aku akan menyelidiki nya", Bima berucap dengan tatapan tajam seperti menahan kemarahan yang bergejolak di jiwa nya


"orang tersebut pasti ingin membuat hubungan kalian retak", ucapan Yogi seketika membuat Bima menoleh kearah ku dengan tatapan kesedihan dan menyesal


jemari Bima yang berkerut karena kedinginan meraba dan meraih jemari ku, "Bela, maafkan aku atas sikapku tadi", ucap nya parau


tapi aku tidak begitu saja ingin memaafkan nya, begitu pedas yang ia lontarkan hingga membuat aku sakit begitu sesak, aku melepaskan jemari ku yang di genggam nya secara reflek mengikuti suara hati ku yang menolak memaafkan,


"ahh kalian beneran bertengkar? sebaik nya putus saja!", ucap Yogi enteng penuh provokasi, memancingku untuk menentang nya.


aku hanya tidak ingin menunjukkan bahwa aku tengah marah kepada Bima didepan Yogi,


"biar kita saja yang menyelesaikan masalah ini, terimakasih atas bantuanmu", ucapku kepada Yogi dan berdiri dari tempat duduk ku, "Bima, aku ingin pulang, akan aku ceritakan semuanya kepada mu", ucap ku sambil menatap Yogi tajam


"mari Bela, aku antarkan!", ucap Bima lalu merangkul pundak ku, "Yogi, terimakasih atas bantuanmu"


ku lihat Yogi menunduk muram karena kepergian ku, entah dia sedih karena aku atau bukan


tapi, tapi kenapa dia membantu kita agar bersama kembali?


di lubuk hati ku paling dalam, aku sangat berterimakasih kepada nya

__ADS_1


****



****


kini aku sudah sampai di rumah ku, "Bima, apa kau kedinginan? kau menggigil sepanjang perjalanan"


"ini tidak masalah, Bela, apa aku boleh menumpang mandi disini?", tanya nya agak gemetar di bibir nya membuat ku panik


"iya silahkan, basuh tubuhmu dengan air hangat sementara aku akan menyiapkan mu baju ganti",


Bima langsung berlari kearah kamar mandi, sementara aku memikirkan bagaimana menghapus rasa lapar ku, makanan yang diberikan Yogi ditolak oleh perutku, seleraku kampungan


aku mengambil pakaian yang bisa digunakan oleh Bima, kemudian aku pergi ke arah dapur.


aku membuka rak lemari dapurku, mengambil sebuah mie instant untuk mengganjal perut ku yang tengah lapar, "apa Bima juga belum makan ya?", kataku bergumam dalam hati


langsung saja aku mengambil beberapa bahan makanan seadanya dalam kulkas, membuat telur gulung ke sukaan Bima.


****


saat aku kembali ke kamar, ku lihat Bima tengah berbaring maringkuk kedinginan, tapi begitu banyak keringat mengalir ditubuh nya yang sedang lemah


ku coba menyentuh dahi nya dengan telapak tanganku guna melihat suhu tubuh nya "astaga, kau panas sekali", kemudian segera aku mengambil baskom dan sapu tangan untuk mengompres nya


aku mengompresnya, menjaga nya sama seperti waktu Diki tengah meringkuk sakit, "apa dia sekarang baik baik saja?"


astaga, kenapa aku memikirkan bocah tengil itu


aku menepuk kepalaku pelan, bisa bisa nya aku memikirkan nya,


kemudian aku mendengar deringan panggilan telefon dari ponsel Bima yang ia letakkan diatas meja tidak jauh dari ranjang, kulihat layar ponsel nya bahwa ada panggilan dari Niken


aku ragu ragu untuk mengangkat panggilan nya tapi tak urung juga aku mengangkat nya, "hallo", sapa ku gugup


"Bela?, kenapa kau yang mengangkat nya, dimana Bima, hah?", teriak Niken di seberang membuat gendang telinga ku seakan mau pecah, ingin ku jawab tapi tiba tiba merampas ponsel nya yang aku genggam lalu melemparkan nya


"Bima, kenapa kau lemparkan?", tanyaku tegang, tanpa menjawab pertanyaan ku Bima langsung duduk memeluk ku, menenggelamkan wajah nya yang berkeringat dan panas kedalam lekukan leher ku


"Bela, maaf kan aku", ucap nya serak, "sungguh maafkan aku", dia memeluk ku erat sekali, menyandarkan tubuhnya yang lemah ke dalam pelukan, membuat ku tubuh ku yang kecil tak mampu menopangnya hingga aku menggerakkan tubuhku kesamping agar dia jauh terbaring lagi


"jangan membicarakan itu dulu, kau masih sakit!", aku menekan nekan pelan sapu tangan basah yang ku tempel kan lagi ke kening nya,


"tidak, aku ingin mendengar mu, berbaring lah disamping ku", ucap Bima tidak bisa dibantah oleh keras kepalanya, akupun mengindahkan dan berbaring disamping nya


dia hendak memelukku tapi aku tolak, "tubuhmu panas"


dia menyeringai, "seharusnya ku lakukan lebih dari ini biar kau ikut sakit bersama ku", ucap nya bercanda


"ah kau ya, baiklah akan aku ceritakan", aku menghembuskan nafas pelan, mencoba mengingat kejadian yang menimpa ku, dan harus menceritakan sesingkat singkatnya, "malam itu aku pergi menemui seseorang, lalu saat aku pulang tiba tiba ada yang mendekap ku hingga aku tak sadarkan diri, saat sadar aku sudah berada diatas ranjang hanya mengenakan pakaian dalam tapi aku yakin betul, dia tidak meniduri ku dan aku rasa dia menjebak ku, saat aku pikirkan ternyata..., ahh aku tidak bisa menjelaskan nya lagi"


"menemui seseorang?", tanya Bima membuat ku kaget, bukan mempertanyakan dengan jelas siapa pria yang ada di foto bersama ku tapi malah menanyakan hal lain, yang membuat ku bisu nan gugup


akankah dia salah paham lagi?


aku menelan ludah mencoba tenang, "aku menemui Yogi", ucapku membuat Bima mengerutkan keningnya lalu setengah menindih ku, "aku hanya mengembalikan pemberian nya", sambung ku spontan


"aku cemburu", cetusnya tak ku duga, "kenapa selalu ada dia untuk menolong mu, bukannya aku, bahkan kau memakai pakaian nya dan makan makanan dari nya dan juga seperti nya dia masih menyukai mu"


hah??


aku tidak bisa menahan tawaku, "tidak mungkin, dia hanya membantu ku saja, tidak lebih", ucapku setengah tertawa menahan kegelian di perut ku, "aku hanya mencintai mu"


"terimaksih Bela, aku juga mencintai mu"


****


Cinta sejati itu layaknya rumah, ia akan memberikan rasa nyaman mengalahkan tempat tempat lain


****

__ADS_1




__ADS_2