AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Sebuah Rahasia


__ADS_3


aku kembali ke ruang kerja ku dengan menekan perut yang masih terasa sakit,


"Bela, kenapa wajahmu pucat sekali?", tanya Dina salah satu karyawan perusahaan Yogi yang duduk bersebelahan dengan ku, "sebaik nya ku antar kau ke klinik perusahaan"


seketika aku kaget dan memiliki rasa takut yang teramat mendengar kata klinik perusahaan. Karena tantu dia akan tahu rahasia ku,


jadi? aku harus menahan nya.


"ah, saya tidak apa apa. sebentar lagi laporan saya sudah selesai", sahut ku sambil meremas baju di perut ku untuk menahan sakit, sesekali aku terpaksa mengerang kesakitan walau sudah coba aku tahan tapi tak bisa.


mata ku mulai berkunang kunang tapi aku masih sadarkan diri,


"Bela, benar kau tak apa apa? kau pucat sekali!", ucap Dina panik karena menyaksikan ku kesakitan yang tak dapat ku tahan lagi


aku terus berusaha menolak upaya kebaikan nya karena aku benar benar takut bahwa ia akan tahu tentang kehamilan ku,


"Baiklah kau tetap disini, selagi aku mengambil air hangat untukmu!", Dina langsung berlari pergi dengan tergopoh gopoh hingga menabrak seseorang di depan pintu


"maaf Tuan, saya tidak sengaja!", ucap Dina panik dan gemetar karena tidak sengaja telah menabrak seseorang yang berdiri didepan nya, "Bela sedang kesakitan dan sa...", belum selesai Dina menjelaskan, pria itu langsung masuk ke ruang kerja ku


"Bela", sapa seseorang itu langsung mendekat kepadaku dan memegang kedua sisi pipiku yang sudah pucat, "kau kenapa?", ucapnya bertanya, kemudian langsung tanpa pamit menggendongku membawa ku keluar dan melangkah cepat menuju ruangan kerja nya yang terdapat ruang khusus untuk ia beristirahat sejenak,


ia pun membaringkan ku di sofa nya nya yang luas, aku pun sudah tak dapat menolak pertolongan nya lagi karena aku terlalu fokus pada perut ku yang terasa perih dan merintih


"cepat panggilkan dokter!", perintah Yogi yang langsung di indahkan


"baik Tuan!"


Yogi langsung ikut naik ke sofa, melebarkan pahanya sambil duduk miring agar pas dengan posisi kepalaku untuk menjadi sandarannya,


"argghhhh sakit", aku merintih kesakitan, sesekali ku lihat bahkan tak ada bercak darah keluar dibalik rok ku, membuat ku sedikit lega walau masih kesakitan teramat sangat


"dimana yang sakit, sayang?" tanya Yogi sembari melihat tangan ku yang menggenggam baju di bagian perut, jemari nya pun ingin ikut bergerak dan ingin merasakan tempat dimana sakit yang aku derita dan ingin mengobati nya pula walau tidak cukup hanya dengan sentuhan.


melihat tangan nya ingin menggapai perutku, dengan reflek aku menepisnya agar menjauh, "jangan sentuh!", aku berteriak


"maaf sayang, tenanglah!", Yogi sangat panik dengan sikapku yang kasar, dia tahu betul bahwa aku tak sengaja melakukannya


aku mencoba untuk bangkit sekuat tenaga walau Yogi tidak membolehkan ku karena kondisi ku yang tak boleh banyak bergerak


"aku tidak mau diperiksa!", cetusku membuat Yogi menegangkan rahang


"sayang, kau sedang kesakitan, bagaimana bisa kau tidak mau memeriksakan dirimu?", Yogi marah kepadaku sambil menahan tubuhku di pangkuannya dan memeluk erat


kalau begitu tak ada cara lain


aku mengambil ponsel yang berada di kantong rok ku, "Sin, tolong jemput aku!"


dan ya, aku belum selesai berbicara Yogi sudah merebut ponselku dan melemparkan nya sesuka hati.


"kau apa apaan hah?", teriakku kesal,


"diamlah, kau membuatku curiga, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?", tanya Yogi yang tak kalah kesal nya, dan menatapku tajam


"tidak ada, aku hanya tidak ingin dekat dekat denganmu!", aku memberontak sekuat tenaga agar lepas dari pelukannya, "aku sudah baikan, aku tidak perlu dokter lagi!"


aku lekas berdiri ingin keluar dari ruangan nya tapi dia menahanku, mencengkram kedua pendakku dan menggoncangkan nya, "katakanlah! apa yang kau sembunyikan?", ucap Yogi mendesakku


"pelankan suaramu, bagaimana karyawanmu jika mendengar? jangan pedulikan aku, aku akan merasa sangat malu sekali jika nanti karyawan lain tahu dan menggunjing ku sebagai penggoda tunangan orang lain, apalagi kau Bos ku disini"


"apa? kau berfikir se jauh itu?", Yogi melepaskan cengkeramannya dan mengusap wajahnya kasar serta frustasi


"aku pergi dulu!", aku melangkah keluar dengan cepat sembari menahan perutku yang sedang sakit, dan untunglah aku keluar bertepatan dengan dokter yang masuk keruangan Yogi


aku berlari menaiki lift yang langsung menuju ke lantai satu dan naik taksi yang terparkir di depan gedung, aku langsung menuju kerumah Sindi

__ADS_1


****



****


"Bela, kau kenapa?", Sindi panik melihatku turun dari taksi dengan wajah yang sudah pucat dan tak sanggup berjalan karena perutku kaku juga sakit


Ia menuntun ku masuk kerumah nya yang sederhana, dan menyandarkan tubuhku di sofa yang terletak diruang tamunya.


"Sin, tolong panggilkan bidan atau kesini saja! aku sudah tak tahan", pinta ku lemas,


segera Sindi mengindahkan dan pergi berlari ke klinik terdekat untuk meminta pertolongan secara pribadi.


aku menyandarkan kepalaku menatap langit langit rumah Sindi tapi pikiranku jauh terbang tinggi entah kemana, air mata ku jatuh menetes tak tertahan


ada rasa sesak yang aku rasakan dalam hati, dan aku tak mampu menafsirkan nya


tak lama kemudian Sindi kembali membawa seorang bidan wanita paruh baya memakai kecamata, ia masih terlihat cantik walau sudah tampak garis kerut di kedua mata nya.


ia langsung mengeluarkan alat pendeteksi jantung untuk bayi dalam kandungan yang ia letakkan dalam koper, kemudian memeriksa ku secara teliti, "kehamilan Anda sudah memasuki usia sembilan minggu", ucap bidan memberitahu,


mata ku membelalak kaget, akan sangat sulit jika aku gugurkan.


"Anda harus lebih berhati hati, untung saja bayi Anda selamat walau tadi jantung nya sempat melambat", ucap bidan paruh baya itu sembari memberi resep obat yang harus aku tebus di apotik, "ini adalah resep obat penguat kandungan agar janin Anda dapat tumbuh dengan sehat, dan sementara Anda meminum obat ini guna untuk menghilangkan rasa sakit serta kaku yang Anda alami saat ini"


Sindi membawakan aku gelas berisi air dan membantuku untuk menelan obat penghilang rasa sakit ku


"terimakasih ibu bidan, Anda sangat membantu saya"


"sama sama Nak, jaga kesehatan dengan baik agar bayi Anda juga menjadi anak yang sehat", seketika perkataan itu seperti menampar ku


aku mengelus perutku dengan perasaan sedih dan bersalah, "maafkan aku", gumamku dalam hati dan meneteskan air mata


"Bela, kenapa kau menangis?", tanya Sindi yang berada di dekatku, aku langsung memeluknya, menangis tersedu sedu untuk melegakan perasaan ku, "sudah jangan menangis lagi", Sindi mengelus penggung ku untuk menenangkan ku


****



****


"hallo", sapa ku


"Bela, kau ada dimana?", suara Bima di seberang


"ah, aku sedang berada di rumah Sindi", jawabku


"aku sudah pulang ke rumah, biar supir ku menjemput mu ya!"


"ah, baiklah aku akan bersiap dahulu"


"sampai jumpa, sayang", salam Bima menutup penggilan telefon nya


aku pun bergegas mandi dan dan mengganti pakaian yang aku pinjam dari Sindi


"kau akan pergi menemui Bima?", tanya Sindi kepadaku yang sedang duduk di depan cermin yang tengah menghiasi wajah ku


aku mengangguk, "iya"


"apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?",


aku membalikkan badan ku menatap Sindi yang bersindakap, "tanya apa?"


"bagaimana perasaan mu sebenarnya untuk Bima?", tanya Sindi dengan tatapan serius kepadaku, aku pun ragu untuk menjawab nya


aku kembali membalikkan badanku dan menatap cerim sembari mengoles lipstik di bibir ku, "entahlah, aku tak peduli dengan perasaan ku saat ini", ucapku menghembuskan nafas panjang

__ADS_1


"kau harus bertanya pada dirimu sendiri, jangan sampai kau menyesal"


perkataan Sindi memang benar, seakan menghujam jantungku hingga membuat nya berhenti berdetak


****


di dalam mobil pun aku merasa cemas, pikiran dan perasaan tak karuan dalam diriku,


sepanjang perjalanan aku hanya melihat ke luar jendela penuh dengan pikiran bermacam macam dengan wajah Yogi yang tampak jelas


apa keputusan ku benar? aku memutar mutar kepalaku, ingin ku menyangkal nya tetapi tak bisa.


dan tibalah aku di rumah Bima, Tante menyambut ku di depan rumah nya yang luas.


ia melebarkan lengan nya untuk menyambut ku lalu memeluk ku, "Bela sayang", ucap Tante yang memelukku penuh kasih sayang, "mari masuk, Bima sedang menunggu mu!"


aku pun masuk ke dalam dan langsung di suguhkan dengan berbagai macam makan yang sudah tersaji di atas meja makan yang luas.


"Bela, duduklah!", ucap Bima sambil mempersiapkan kursi duduk untukku


awal kedatangan kemari aku disambut dengan tidak senang oleh Tante, tapi kali ini sangat berbeda, seperti nya ia sudah merestui kami berdua.


Bima terlihat sangat segar dan sangat tampan, senyum merekah terukir di wajahnya yang sesekali menatapku hingga membuat Tante menyipitkan pandangannya terhadap kami berdua,


"ehemmm", Tante memecah suasana , "Bela, sebelumnya Tante minta maaf atas kedatangan Bela yang sebelumnya, Tante tidak menyambut Bela dengan baik dan Tante sudah berlaku kasar terhadap Bela, Tante sangat menyesal karena Tante waktu itu dalam kondisi berkecamuk perusahaan sedang dalam mengalami kesulitan, Tante mohon Bela dapat memahami dan memaafkan Tante?", ucapnya parau sambil menahan tangis, rasa penyasalan yang amat dalam terlihat jelas dan dapat aku rasakan juga


"Tante, Bela sudah memaafkan Tante, Bela tidak pernah sekalipun marah atas apa yang Tante perbuat karena Bela sangat mengenal Tante dengan baik", ucapku mendekatkan diri dan memeluk Tante yang sedang bersedih menundukkan pandangan nya, "Bela menyayangi Tante"


mama Bima yang mengurusku sejak kecil, menyayangiku layak nya anak kandungnya sendiri, hanya karena sebuah Hinaan dan Tamparan tak akan membuatku menjadi lupa diri bahkan tak tahu balas budi, Tentu aku juga sangat menyayangi nya sebagai ibu ku sendiri.


"mama, jangan bersedih!", ucap Bima juga memeluk ku dan Tante


"Bima, Bela, lepaskan! mama ga bisa nafas nih", ucap Tante sambil tertawa


"tidak mau", ucap Bima, dan akupun begitu


kita saling berpelukan dan tertawa bersama, kalian yang aku rindukan.


****


kini aku melangkah memasuki kamar yang biasa aku tempati, lantai atas dan bersebelahan dengan kamar Bima.


aku tidak menyangka bahwa kamarku masih rapi dan tak ada satupun barang ku yang luput dari posisi nya semula,


tiba tiba tangan melingkar, memelukku dari belakang, "kau rindu kamar ini?", tanya Bima sambil mengecup punggung leher ku


aku mengangguk, "iya, suasana nya tak berubah, sama seperti saat aku menempati kamar ini"


"bermalam lah disini!", ucap Bima sambil membalikkan tubuh ku dan mendekatkan diri ku padanya, "aku merindukan mu"


aku hanya membalas dengan senyuman tanpa harus meng iya kan ke inginan nya


jemari nya membelai rambutku, mengecup dahi ku dan mulai beralih ke arah bibir ku yang merona, menciumku dan mengemut satu persatu bibirku


ku balas juga mengemut bibir nya terasa lembut, memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri guna mencari posisi yang bagus untuk memperdalam ciuman, ia mainkan lidahnya kemudian hingga bersinggungan dengan lidahku, dan tangan nya bergerak melepaskan pakaian ku lalu mengecup bagian leher dan dadaku


karena tak tahan, Bima langsung menggendong ku melangkah tak jauh dari ranjang yang sering aku tiduri waktu masih tinggal satu atap dengan nya, ia membaringkan ku dan berada diatas ku.


mengecup setiap bagian dadaku yang telanjang hingga membekas, jemarinya mulai melepaskan BH yang menjadi satu satunya penutup dada ku, kemudian datang untuk meremasnya, bibirnya beralih menjilati nya membuatku mendesah tak tertahan, ahh,


ia mulai mencoba melepaskan pakaiannya, melepas satu persatu kancing baju nya untuk bertelanjang dada, memberitahu ku tentang tubuh indah penuh otot dari nya.


****


"Kekuatan untuk melakukan hal-hal yang di luar kuasa kita, itulah cinta."


****

__ADS_1




__ADS_2