
aku duduk didepan cermin dengan Yogi yang masih lembut menyisiri rambutku.
"bukannya baju ini terlalu resmi untuk kita kenakan sehari hari, jika hanya untuk bersantai saja?" omelku yang hanya mendapat tanggapan senyum manis dari Yogi
"ikat rambutnya mana?" Yogi meminta ikat rambut untuk membantuku merapikan rambut yang biasa ku urai.
"memangnya kau bisa mengikat rambutku?"
"bisa, aku sudah mempelajarinya di loutube", sahut Yogi sembari mengikat rambutku menjadi satu
"aku seperti ini seperti bocah saja, atau kita ini lagi mirip adegan romantis di drama korea"
Yogi terkekeh menanggapiku, "memangnya kenapa? aku hanya ingin berusaha bersikap hangat dan manis padamu"
"ya aku juga sebenarnya suka, tapi lama lama aku seperti akan hidup tanpa bisa mandiri. bergantung terus padamu"
"itu malah akan semakin bagus, aku malah ingin kau terus bergantung padaku"
"benarkah? apa kau tidak bosan dengan sikapku yang suka menyebalkan?", tanyaku sambil melirik Yogi yang terkekeh dari cermin, "aku sendiri saja merasa sebal pada sikapku"
Yogi menjitak kepalaku hingga aku berseduh kesakitan, "makanya kau ubah sikapmu itu, bagaimana urusannya nanti ketika anak kita mirip dengan sikap angkuh dan menyebalkanmu itu?"
"ah kau tenanglah, anak kita akan memiliki sifat yang keren sepertimu asal jangan murahan sepertimu sih"
lagi lagi Yogi menjitak kepalaku.
"apa apaan sih?"
"kau tahu dari siapa kata kata seperti itu? aku hanya menjajakan tubuhku padamu" sahut Yogi kesal
"ah baiklah baiklah aku percaya", aku memutar bola mata kesal, "Sindi yang memberi tahu ku, kalau kau dulu itu playboy. kan sama saja dengan murahan"
"hei", Yogi memberiku nada tinggi, "berhentilah mengatakan itu! yang terpenting sekarang aku ini milikmu yang utuh"
"aduh, kenapa kau terdengar begitu manis", ucapku menggoda
Yogi membalikkan tubuhku untuk menghadapnya, bersitatap langsung dengan wajahnya yang tampan dan rupawan.
"aku akan mengajakmu ke suatu tempat", ucap Yogi serius, "kau harus mempersiapkan dirimu"
"apa tidak sebaiknya kita bergelut terlebih dahulu diatas kasur?"
"astaga", Yogi menempelkan telapaknya didahiku, "suhu tubuhmu normal normal saja, kenapa ya?"
"hei, aku tidak sedang sakit. aku cuma butuh ingin segera punya anak"
Yogi terkekeh lagi menanggapiku yang sedari tadi berbicara datar seakan tanpa dosa.
"sayang, pasti semua pria akan tertarik jika wanitanya suka meminta seperti ini tapi kali ini aku benar benar harus membawamu ke suatu tempat"
"kemana?" tanyaku penasaran pasalnya pagi pagi Yogi sudah membangunkanku, menyuruhku untuk berdandan serapi mungkin dan juga mengikat rambutku yang biasa ku urai.
"nanti kau akan tahu sendiri", jawabnya membuatku semakin penasaran lalu Ia mengecup bibirku sekilas.
"sepertinya bagus jika kita memiliki anak perempuan", ucapku tiba tiba
"kenapa dengan anak laki laki?"
"karena kalau perempuan dia juga bisa bermanja denganmu", aku beralih duduk dipangkuan Yogi yang tengah duduk ditepi ranjang, "katanya kalau anak perempuan itu lebih sayang pada Ayahnya, dan juga sebaliknya jika anak laki laki maka akan lebih sayang dan manja pada ibunya"
"lalu kenapa kau memilih anak perempuan ketimbang laki laki?"
"karena aku saja tak bisa hidup tanpamu, apalagi anakku kelak"
Yogi terkekeh geli sebelum melumat kembali bibirku.
"aku juga sudah menyiapkan nama yang bagus untuk anak kita"
"benarkah? bahkan kau belum hamil kau sudah lebih dulu merencanakannya", Yogi tersenyum menanggapiku
"ah aku hanya ingin membangun kembali keluarga kecil kita dengan cepat" sahutku
"lalu nama apa yang sudah kau persiapakan?"
"jika anak kita perempuan maka akan aku beri nama Yuki yang artinya salju"
"kalau laki laki?"
"sama, Yuki"
__ADS_1
Yogi lagi lagi terkekeh, "aku kurang setuju, berikan nama Dion saja, lalu berikan nama belakang keluargaku MOTEGI"
"ah tidak tidak, jika perempuan ataupun laki laki namanya tetap harus YUKI"
"ya sudah terserah padamu saja, sayang! nanti akan ku rubah akta kelahirannya tanpa memberitahumu"
"iiih" aku memukul dada Yogi hingga dia mengaduh kesakitan.
****
aku sebenarnya tidak ingin menanggapi Yogi yang tengah berbicara serius dan menghimbauku untuk tetap tenang, aku hanya tidak ingin bersikap gusar dengan keterpaan ketakutan yang akan menyerang.
lalu sekarang, benar saka dugaanku. kita berhenti pada gedung pemerintahan. Pengadilan.
aku datang disini sebagai penggugat sekaligus saksi atas kejahatan adik tiriku, Diki yang aku sayangi.
ketika aku memasuki ruangan, dan Diki keluar mengenakan baju tahanan yang tak cocok dengan wajah polosnya yang rupawan.
begitu sesak berkecamuk dalam hati yang aku rasakan, memandangi Diki uang hanya menunduk sedih dengan segala gundah dan salah yang tampak di raut wajahnya yang mulai kusam.
"apa kau baik baik saja?"
sejenak pertanyaan itu terbesik di otakku, membuat air mataku tergenang lalu menetes tanpa aku sadari.
"sayang, tangguhkan hatimu!" ucap Yogi mengusap airmata ku
aku menoleh menatap Yogi yang duduk mendampingiku, segala rasa syukur dan terimakasih akan hadirnya pada kehidupanku yang malang.
penuh syukur dan begitu bersyukur, untung bukan dirinya lah yang dihadapi pilihan seperti ini. tetapi diriku.
bagaimana jadinya jika dia melupakan kenangan akan ku?
pasti akan susah jika aku lah yang harus terbang menggapai dirinya yang jauh, dan dikelilingi wanita kelas atas yang mampu menyihir pandangan matanya.
bukannya aku ragu akan cinta nya, tetapi aku tak se istimewa dirinya dan aku pun tak setangguh cintanya.
lihatlah sekarang buktinya! aku sendiri saja belum mampu membenci pembunuh ayah kandungku sendiri.
bukannya aku tak mau dan tak mampu, tapi aku hanya tak menginginkan hal itu. aku hanya ingin bahagia, berkumpul dengan keluarga harmonisku.
layaknya sebuah Novel yang mempunyai banyak cinta walau semua itu tak mudah seperti realita.
dan Ketika palu di ketuk, vonispun dijatuhkan. aku sedikit merasa lega karena aku dapat menunggunya, menunggu kembali agar kita berkumpul menjadi keluarga. walau semuanya tak akan pernah kembali seperti semula, Apakah aku salah jika menginginkan sebuah keluarga bahagia?
"Bela", sapa seorang wanita paruh baya ketika aku sudah diluar ruangan karena semuanya sudah selesai.
"mama", tangisku pun pecah, kita saling berpelukan
"maafkan mama Bela?", mama terisak dipelukku, "maafkan perbuatan Diki, dia sebenarnya adalah anak yang baik"
"Bela sudah memaafkan mama ataupun Diki, Bela tidak ada sedikitpun dendam. Bela sangat tahu bagaimana Diki sebenarnya, aku juga makin terisak, "Bela menyayangi mama dan Diki"
"terimakasih Bela", mama mencium keningku, "kau memang anak yang baik, maafkan mama dulu pernah meninggalkanmu"
"tak apa ma, yang penting semuanya akan berproses kembali pada awal, walau Diki suatu hari nanti tak akan menerima Bela lagi sebagai kakaknya"
"tenang sayang, kita berdoa saja untuk keluarga kita kembali dan semakin erat tak seperti dulu", ucap mama sembari memegang kedua jemariku
"iya ma, Bela sayang kalian"
****
****
hari sudah memasuki malam, aku berhias dan memakai gaun yang telah disediakan.
gaun panjang hitam tapi terbuka bagian punggung juga dada, terlihat dengan jelas lekuk tubuhku juga kulit putih mulusku.
Kini aku lebih terkesan dewasa.
Entah apa yang direncakan Yogi malam ini, tiba tiba dia meninggalkanku. mengajakku mengunjungi suatu tempat yang dimana dia sudah lebih dahulu menungguku.
Aku sudah memasuki pintu gerbang luas dan para penjaga membungkuk memberi salam dan hormat padaku, tapi aku belum menemukan siapapun disana. termasuk Yogi.
aku menyusuri sebuah taman, tampak sepi dan remang.
tapi saat aku berada ditengah, ketika aku melangkahkan kakiku. lampu lampu taman hidup satu persatu mengikuti langkah kakiku yang tengah berjalan hingga kemudian aku menemukan nya, Yogi.
Ia telah berdiri di kejauhan, memakai setelah jas yang senada dan serasi dengan lekuk tubuhnya yang kekar dan idaman.
__ADS_1
Yogi berada ditempat dimana lampu telah menyorotnya sedangkan di sekelilingnya masih padam, lalu lampu tersebut juga menyorot langkahku yang berjalan.
Ku lihat Yogi menungguku tanpa sabar, ada sebuah warna merah merona tergambar di senyumnya yang menawan, aku begitu terpukau.
ketika kita bersatu, langkah kakiku sudah terhenti tepat didepannya. seketika itu pula dia duduk bertumpu lalu mendongak padaku.
Diambilnya kotak kecil dalam saku jasnya, dibukanya lalu Ia tunjukkan padaku.
"aku bukanlah orang yang mampu merangkai kata, bukan juga orang yang mampu membisikkan kata cinta tapi malam ini aku ingin meyampaikan sesuatu yang akan bersejarah dalam hidupku. sesuatu yang ku inginkan darimu..", ucap Yogi tersenyum begitu lebar padaku, "maukah kau menikah denganku, berbagi suka duka denganku dan mendampingiku selamanya?"
saat kalimat terakhir itu terlontar, seketika lampu berhias hidup ditaman. banyak bertulisan kata lamaran, juga berbentuk hati serta kiasan.
Ah
Aku berjingkrak senang, entah aku harus mengatakan apa. aku malu namun juga senang. kenapa dia begitu seromantis ini?
seharusnya tidak perlu seperti ini, sampai membuatku menangis senang akan kebahagiaan. seakan aku sudah mendapati dirinya dan kecintaannya lebih didepan mataku.
"aku mau", jawabku senang dan malu
begitu pun dengan Yogi, entah kenapa kami layaknya anak remaja yang baru pertama kali mendapatkan pernyataan cinta. mungkinkah karena debaran itu tak hilang masih tumbuh setiap waktu di dada?
apa kau merasakannya? kau akan merasakannya jika baru pertama kali jatuh cinta.
Yogi berdiri, mensejajarkan tubuhnya berdiri denganku. mengambil benda melingkar kecil lalu Ia sematkan dijari kanan manisku.
"ini cincin milikmu, aku menyimpannya ketika aku menemukannya ditempat terakhir kali kita bertemu" ucap Yogi menjelaskan
"terimakasih"
"untuk apa?" tanya nya lembut menatapku
"untuk semua cintamu, tapi aku ragu.."
Yogi mengerut kening pada tempat yang tak seharusnya, "hah, ragu kenapa? ini hari bahagia kita"
"untuk apa kau melamarku kembali?", tanyaku, "tapi aku bahagia"
"hem", Yogi menggaruk tengkuknya bingung harus menjawab apa
"kau tidak sedang berencana untuk tidak mengembalikan ingatanku bukan?" tanyaku menelisik
Yogi tersenyum kecut, "itu hem...., kenapa jika hanya ada aku saja dalam ingatanmu?"
"kan, sudah aku duga", aku menebalkan bibir kesal, "kau tidak boleh egois, kenangan masalalu itu milikku"
"tapi sayang", Yogi memelukku, "masa depan itu lebih berarti. kita bisa memulainya dari awal"
"iya kau benar, tapi mengapa? apa kau begitu buruk dimasa lalu?"
"heisss, aku ini adalah pria yang baik dan setia kau tahu", ucap Yogi kesal, "kau dulu sangat tergila gila padaku"
"aku tidak percaya, tapi....", kemudian aku mendongak menatap lebih wajah Yogi,melihatnya lebih dekat, "sepertinya aku memang akan tergila gila padamu, kau kan tampan dan juga kaya raya"
"huh, padahal aku dulu menyukaimu karena kau tak pernah mengatakan hal itu padaku"
"jadi sekarang kau membenciku?" tanyaku tersentak kaget
Yogi kembali mengeratkanku dalam pelukannya, "aku malah lebih mencintaimu yang sekarang, kisah kita bagaikan sejarah yang sudah tertulis kekal dan akan dibaca jutaan orang"
"tapi sejarah cinta kita tak se polos yang kau pikirkan"
"kenapa bisa begitu?" tanya Yogi keheranan
"ya karena Author suka detail tiap menceritakan tiap adegan, jadinya kan plus plus"
"ya tidak apa apa Bela, untung ga jadi minus"
"ah baiklah, semoga kisah kita menjadi kenyataan dan menyenangkan ya?"
"iya semoga, karena kau juga harus tahu. CINTA YANG KUAT TERDAPAT HAL YANG SULIT, sama seperti kita, jika tak ada konflik. mana mau readers membacanya kecuali hanya adegan plus plus nya"
"SARANGHAEYO"
****END****
****
Suatu hal yang sia – sia jika menyesali masa lalu, sebaiknya sesalilah apa yang tak aka mampu kamu lakukan di masa depan
****
__ADS_1