
aku hanya mampu memukul mukul dadaku yang sesak, yang sakit bahkan patah akibat terluka.
apa aku sudah terlambat? terlambat bagi kita?
malam tak lagi hening karena suara tangis ku masih nyaring, tak terkendali hingga lepas kendali. mengambil sebuah vas bunga yang terletak di bufet minimalis untuk mempercantik ruangan lalu ku lemparkan pada cermin yang memperlihatkan wajah kesedihan yang ki derita.
KRANGGG!!!
Terpecah belah berhamburan dimana mana, ku pecahkan karena ia menampakkan diriku, memecahkan nya seakan memecah dan mencabik diriku yang tergambar, perasaan hancur karena penyesalan, keterlambatan dan jatuh cinta yang aku takutkan.
bagaimana caraku menghadapi dunia yang kini seakan sunyi?
ya aku hampir lupa, sudah ada nyawa yang bergantung kepadaku, ada dalam diriku, darah dagingku. aku sudah berjanji untuk menjaga nya, aku tak ingin menyesal di kemudian hari karena ke egoisan ku.
ku bungkuk kan badanku, tenggelam di lengan yang melingkar di lutut yang aku tekuk, seakan sudah kering air mata untuk mengalir, hanya ada suara sesegukan yang masih tersisa dan mata terasa perih karena kekeringan.
"Bela", tiba tiba seseorang datang begitu saja, melihat kondisi ruangan di kamarku yang ambu radul, serpihan kaca bertebaran dimana yang mampu menggoreskan luka bagi siapa saja yang menapakkan kaki diatasnya.
aku terkejut melihat seseorang itu yang tak lain adalah Bima, ia pun menghampiri ku, menundukkan dirinya kepada diriku yang tengah rapuh, "Bela, apa terjadi sesuatu yang buruk?", tanya nya sambil mengusap wajah penuh dengan peluh dan air mata yang hampir kering masuk ke dalam pori pori kulit.
aku tak mampu menjawab, mulutku bergetar menahan tangis yang masih tersisa tanpa air air mata yang deras. aku menatap matanya yang seakan ikut bersedih untukku. "sudah, tenangkan dirimu, aku disini untukmu!", ucap nya lembut sambil memelukku
ia menenangkan jiwaku yang terasa hampir mati karena di kuliti oleh rasa cinta, ia menuntun langkahku, menopang tubuhku agar dapat kuat melangkah dan duduk di tepi peristirahatan ku.
dia menghembuskan nafasnya panjang, ingin menemukan kelegaan di dalam hatinya sebelum memutuskan untuk menatapku kembali yang sedang dalam kondisi tak baik.
"apa ini karena Yogi?", ucapnya menuduh tapi tak dapat ku dipungkiri,
aku hanya terdiam tak dapat mengelak,
"mari kita menikah!", ucapnya tiba tiba tak kusangka membuat kedua bola mataku melebar, membelalak tak percaya
"mari menikah!", ucapnya sekali lagi menyakinkan ku, ucapnya tegas tak main main
tidak mungkin
aku menggelengkan kepalaku, "tidak bisa"
"kenapa tidak bisa?", tanya Bima seakan menghakimi
"aku tidak bisa", jawabku serak lalu menundukkan kepala
"apa kau akan membiarkan anakmu tumbuh besar tanpa seorang ayah?"
Deg!! lagi lagi dia tahu
aku membelalak kaget, sedangkan tanganku mulai gemetar memegangi perut yang terisi, lagi lagi aku menangisi diriku. aku mengecewakan orang yang berharga bagiku.
"sejak kapan?", tanyaku disela isak tangisku, "sejak kapan kau tahu?"
"itu tak penting sekarang, Bela, tatap mataku!", Bima memegang kedua sisi pipiku agar wajahku tegak menatap nya, "apa kau masih mencintai ku?"
pertanyaan itu menghantam diriku, hal yang selalu aku ucapkan padamu, kata cinta yang selalu aku lontarkan untukmu. itu hanya kebohongan, karena aku tak dapat menerima perasaanku yang sudah berubah kepadamu.
aku meyakinkan diriku bahwa masih ada cinta untukmu, tapi semua itu hanya semu
cinta pertama ku, keluarga ku satu satunya, pelindung diriku, kenapa kita selalu berakhir seperti ini? aku selalu saja menyakiti mu.
jemariku gemetar mengusap anak rambut diwajahnya yang tampan, bibirku gemetar menahan tangis, hanya air mata bercucuran keluar tak bisa ku bendung. "bagaimana kau masih bisa berharap seperti ini kepadaku?", tanya ku kemudian tanpa menjawab tegas pertanyaan nya, "seharusnya kau membenci diriku saja!"
ulah akibat perkataan ku, jemari yang ku gerakkan untuk mengusap wajahnya yang tampan kini basah akibat air mata terjatuh di kedua sisi bola matanya. Ia menggapai jemariku yang ingin lari dan mengecupnya lembut, menempelkan di pipi nya yang sudah basah dan menatap mataku yang memerah karena tangis, satu sisi tangannya bergerak mengelus rambut indah milikku, "cinta ku begitu besar untukmu, bagaimana bisa aku membencimu?", ucapnya tersenyum dalam tangis
"tapi..", belum sempat aku berkata, ia mehan bibirku dengan jemarinya
__ADS_1
ia kemudian mendekatkan dirinya kepadaku, memelukku erat memberiku ketenangan, "aku tak meminta mu lebih, hanya.. aku minta kepadamu jangan pernah menyuruhku untuk membenci mu karena sekuat apapun aku berusaha untuk melupakan mu, itu takkan pernah berhasil, perasaanku tak berubah sedikitpun padamu", ucapnya lembut menyentuh hatiku terdalam, mengelus rambut yang terurai di punggungku. "aku mencintai mu, Bela"
"maaf, aku tak dapat membalas nya", ucapku serak di pelukan nya, dia melepaskan pelukan nya kemudian lalu menatap mataku lagi dengan senyum tak dapat ku tebak
Bima kemudian mengambil sesuatu dibalik mantel nya, menggapai jemari tanganku lalu melingkarkan benda itu di jemari manisku. "Bim", ucapku tak percaya, ingin menolak
"maaf Bela, aku harus mengikatmu dengan ini, kau tak boleh egois sekarang hanya karena kau tak mencintaiku lagi, akan ada seorang anak yang membutuhkan seorang ayah",
"tidak Bim, ini tidak benar. aku tak lagi pantas untukmu"
"kau pantas, Bela. kau wanita yang berharga bagiku"
"tidak Bim, kau salah!", aku hendak melepas cincin yang melingkar di jemariku tapi Bima mencegahnya dengan menggenggam tanganku
"aku hanya mengikatmu sementara, kau hanya boleh memutuskan nya jika hati mu sudah berani bergerak untuk berterus terang"
"terus terang?"
aku tak memahi dan tak bisa menelaah perkataan nya, apa dia menyuruhku untuk jujur kepada diriku sendiri dan Yogi?
kau selalu memikirkan kebahagiaan ku hingga sejauh itu?
****
****
arghhh karena tangisku hingga membuat badanku kelelahan, untuk Bima datang dan menenangkan ku, dia menemaniku hingga terlelap tidur
ku lihat jemari tanganku, "ternyata bukan mimpi", sesuatu yang indah itu ternyata memang melingkar dijemari manisku
aku menggeliatkan tubuhku guna merilekskan otot otot tubuhku yang tegang, mulutku masih menguap dengan lebar dan kuat hingga mataku berair kembali karena masih didera rasa kantuk, tapi aku harus bekerja hari ini.
"hati hati Nona!", ucap wanita paruh baya itu sembari membantu tubuhku agar berdiri tegak kembali
aku membungkukkan badan guna memberi hormat dan memberi rasa terimakasih yang sopan kepadanya, "terimakasih, sudah menolong saya"
"iya, kita memang seharusnya sudah saling tolong menolong", sahutnya lembut, ia memang berhati lembut
aku memberanikan diri menatap wajahnya, ia tak asing, aku mengingat. "ah, ibu bidan, terimakasih sekali lagi atas pertolongan Anda"
dia menolongku lagi saat aku sakit karena terasa keram diperut karena benturan dan sekarang ia menolongku yang hampir terjatuh.
"iya, wah apakah Anda bekerja di perusahaan milik keluarga Motegi?", tanya nya takjub
aku mengangguk, "iya benar, tapi maaf saya harus pamit untuk bekerja karena saya sudah telat, sekali lagi terimakasih", aku membungkuk kan badanku lagi memberi hormat serta terimakasih sebelum beranjak pergi
kini aku masuk, dan sedikit mengendap ngendap, menutup mataku dengan tangan agar tak terlihat karena mataku sedang bengkak tak enak jika dilihat oleh sepasang mata yang melirik.
aku berlarian kecil hingga akhirnya sampai juga diruang kerjaku yang privasi, aku menutup pintu yang ku buka dengan rasa sangat lega.
ke legaan itu tak berakhir lama setelah aku mendengar suara deheman di balik sofa panjang di ruangan ku, aku membelalak melihat seorang pria sedang menyilangkan lengannya didada dengan kaki juga tersilang angkuh sedang tampak jelas di depan mataku
"selamat pagi,Tuan!", ucapku refleks sambil membungkukkan badan, "eh, inikan ruangan ku" gumaku dalam hati
"kamari!", dia memberi isyarat dengan jemarinya agar aku datang mendekat padanya
tanpa protes aku datang padanya, masih menundukkan padanganku padanya.
"kau sedang ada salah ya?", tanya nya menebak, membuatku salah tingkah
aku menggelengkan kepalaku yang masih menunduk, "eh", aku mengangguk kemudian, "saya datang terlambat hari ini"
dia menggerakkan kepalanya, mencoba melihat wajahku yang sedang tak ingin dipandang, aku melangkah mundur kemudian dengan cepat.
__ADS_1
"kau bohong, biasanya kau mengomel jika aku berada disini meskipun aku ini Bos mu!", tebaknya membuatku canggung
bagaimana jika ia melihat mataku yang bengkak dan menuduhku menangis karena nya semalam memberi undangan pernikahnya kepadaku? dia pasti akan menertawaiku.
"benar, saya tidak bohong Tuan", ucapku ceroboh
Yogi terkekeh, baru kali ini aku berbahasa formal padanya. ia menertawaiku sampai memegangi perutnya yang sakit karena menertawakanku.
aduh, jadi salah tingkah kan?
"sudah?", ucapku kemudian dengan kesal
Yogi menenangkan dirinya dan duduk dengan angkuh kembali dan *mendehem
"mohon Anda keluar jika tidak ada perlu, saya harus kembali bekerja*!", aku harus meneruskan bahasa formalku yang sudah terlanjur terucap
Yogi malah berdiri mendekatkan diri kepadaku, otomatis aku refleks dan menjauh tapi ia dengan sigap menarik pinggangku dan menempel kepadanya, sesaat aku lupa bahwa aku harus menyembunyikan mataku yang bengkak.
"kau habis menangis?", dia menebak kemudian setelah sekilas aku menatap wajahnya yang tampan
aku membuang mukaku kembali, "tidak"
"sayang, bicaralah kepadaku!"
"sayang?", seketika aku marah mendengar panggilan lembut itu, sungguh sekarang terdengar sangat menggelikan.
aku mendorong tubuhnya dengan keras, hingga tangannya terlepas dilingkaran pinggangku
"jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, panggil saja namaku, itu tak sopan", ucapku berteriak tak terkendali
"sayang, kau marah? kau tidak membaca undangan yang ku berikan kepadamu semalam?"
"untuk apa? bukan kah semuanya jelas"
"ah, aku bodoh!", ia mengutuk dirinya, "seharusnya aku memberitahumu bahwa..", Yogi berhenti berucap ketika matanya sudah beralih dan tertuju pada benda yang melingkar di jemari manisku.
dia mengambil tanganku paksa, menariknya hingga jelas terlihat didepan matanya. "kau?"
"ya, aku sudah bertunangan dengan Bima", jawab ku angkuh, seakan sudah menang darinya
ekspresinya gelap, menatapku tajam seolah ingin menghabisi ku dengan kejam.
tak ku sangka ia menarik tubuhku mendekat, menempelkan tangannya di tengkuk leherku dan mendorongnya agar mendekat, ia melumat bibirku paksa.
melimatku dengan rakus dan amarah, ciumannya pasti akan menuntut lebih.
aku mendorong tubuhnya saat ia memberi jeda ditengah ciuman panasnya, dan
PLAKK!!
aku menamparnya dengan keras, "kenapa kau selalu bersikap seperti ini kepadaku? aku membencimu"
****
meskipun kau berfikir tak bisa melakukannya, tetaplah berjuang sampai akhir. dalam hidup banyak hal yang harus kau mulai meskipun kau tahu seperti apa hasilnya
****
LIKE KOMEN FAVORITE RATING, KOIN SE IKLASNYA YAA!
****
__ADS_1