
kini aku melangkah memasuki lift dan keluar tepat langsung tertuju ke arah pintu rumah milik Yogi, aku memberanikan diri memencet bel rumah Yogi
kini aku menunggu dengan gelisah, aku akan bertatapan dengan nya lagi
"sayang, masuk lah!" sapa Yogi menyambut ku, lalu aku masuk kedalam rumah nya yang tidak asing, berada di ruangan yang dekat dengan pamandangan luar, terlihat dari pintu kaca raksasa, "duduk lah! ada hal apa kau ingin menemui ku?"
"hmm aku ingin mengembalikan ini", jawabku sambil menyodorkan sebuah kotak yang didalam nya berisi kalung dan cincin yang pernah di berikannya,
entah kenapa dia malah tersenyum menyeringai, ekspresi nya tidak bisa aku tebak, aku melirik jemari nya masih melingkar cincin pasangan kita. tak di buka pun Yogi bisa menebak apa isi nya
"kau repot repot kemari hanya untuk mengembalikan ini kepada ku?", Yogi tersenyum simpul lalu berdiri menghadap keluar pintu dengan memasukkan kedua tangan nya dalam saku, "seharus nya kau buang saja!" ucap nya membelakangi ku
ya dia benar, untuk apa aku repot repot, jelas dia sudah melupakan ku
"sebenar nya aku kesini untuk mengucapkan selamat tinggal untuk mu, kita harus mengakhiri nya baik baik", ucap ku lemah, entah kenapa berat rasa nya untuk ku ucapkan, "aku permisi dulu!" aku langsung beranjak dari tempat duduk lalu melangkah pergi tanpa meminta ijin dari nya
mendadak sebuah tangan melingkar dan menghentikan langkah ku, ada disebuah wajah tenggelam di lekukan antara leher dan bahu, "kenapa?" tanya ku membelakangi dekapan nya
dia terdiam, tidak menjawab, aku ingin membalik tubuh ku untuk menatap nya tapi dia mencegah nya dan masih menempel di punggung badan ku, "tetap seperti ini", ku dengar suaranya serak, "ijinkan sebentar saja"
sebenar nya hati ku pun juga pilu, tetapi kita punya jalan masing masing, dia sudah memiliki calon tunangan, dan aku memilih berjuang dengan cinta pertama ku
apa lagi yang ingin aku pastikan? Bima adalah orang yang aku cintai bukan?
lama kemudian aku melepaskan genggamannya dan berbalik menatap nya, saat itu pula ia memalingkan wajah nya, sekilas aku lihat ada kesedihan di wajah nya.
hari ini tepat satu tahun kami bersama, tepat juga untuk kita meng akhiri nya
"aku tidak menangis, hanya saja angin nya begitu kencang hingga menyakitkan mata ku", ucap nya parau dan masih angkuh
"iya aku percaya", aku tersenyum
"aku juga tidak bersedih, hanya saja cuaca nya sangat panas hingga membuat mood ku buruk"
jelas jelas ini musim dingin, kau hanya ingin tidak menunjukkan nya pada ku
"iya aku juga percaya pada mu"
Yogi membalikkan badan nya, tidak mau menatap ku lagi seakan sudah tidak peduli "sekarang pergilah!"
Baiklah aku akan pergi tapi bukan dengan cara seperti ini
aku melangkah mendekat dengan cepat lalu ku tarik kerah nya dan ke kecup bibir nya, untuk terakhir kali
"selamat tinggal"
mata Yogi membelalak kaget atas sikapku yang tiba tiba mencium nya barusan, dia masih terdiam walau aku melangkah pergi meninggal kan nya.
kini aku menyelesaikan nya, walau hati ku juga sakit tapi aku yakin, keputusan ini tidak akan aku sesali.
****
****
terasa berat dan sesak, aku berjalan tertarih menangisi bahwa aku akan melupakan segala nya, kenangan tentang nya dan kehangatan sikap nya yang selalu peduli pada ku.
*aku merindu kan mu,
saat ini, kau mungkin membenci ku,
aku ingin menangis hingga bertekuk lutut,
karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk itu,
__ADS_1
kenangan tentang gila nya jatuh cinta,
aku menemukan mu di dalam sana,
kita tak mungkin bisa bersama lagi,
aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi,
tapi, aku merindukan mu setengah mati.
(kbs)
****
aku berjalan menuju rumah ku, masih dengan setengah hati
ku dengar langkah kaki seperti mengikuti ku, seketika aku menoleh tapi tidak ada seorang pun, "ah mungkin perasaan ku saja", gumamku dalam hati
aku kembali melangkah kan kaki ku yang rapuh dengan tertarih, melihat indah nya bulan yang masih terang menyinari
emmmm
tiba tiba seseorang membekap mulut ku dari belakang, aku coba meronta dan melawan talu tak berhasil, alhasil penglihatan ku mulai kabur, kabur, dan meng hilang
dan tiba tiba saja aku terbangun, kepalaku pening, pusing. ku pegang kepala ku yang begitu berat ingin aku lawan, dengan berat aku membuka mata sambil duduk di tepi ranjang
yah, sebuah ranjang.
Ngggg
tapi, kenapa aku tiba tiba sudah di ranjang?
aku melihat lihat sekitar, mengingat sebuah ruangan yang biasa aku kenal tapi kenapa aku sekarang terbangun di sebuah ruang asing?
aku bingung dan juga kaget, aku bertanya tanya
"Bagaimana aku bisa berakhir disebuah hotel seperti ini?", aku langsung bergerak mengambil baju baju ku yang berjejeran di tanah, dan pergi ke ruang kamar mandi untuk melihat apakah ada jejak sentuhan di daerah intimku, "tidak, tidak kotor juga tidak basah, jika aku diperkosa, mungkin aku tidak akan sempat membersihkan nya! ahh, untunglah tidak terjadi apa apa", kini aku langsung memakai pakaian ku cepat.
ketika hendak mengambil tas ku, aku menukan sebuah lembaran kertas bertuliskan "terimakasih sudah memuaskan ku", kata kata yang sangat menjijikkan kan
dia pikir aku bodoh, mahkota ku ya milik ku, tentu aku tahu, aku juga lama tidak melakukan nya, seharusnya jika sedang buang air kencil akan sedikit sakit atau membengkak
entah siapa yang merencakan ini dan untuk apa pula?
aku memutar mutar otakku mencari jawaban tapi tak menemukan nya, sampai akhirnya bunyi ponsel ku berdering
aku lalu mengangkat nya
"Bela, kau sedang dimana? cepat ke kampus sekarang!", ucap Sindi menyuruh, seperti nya sudah suatu hal yang terjadi
tanpa bertanya tanya aku langsung mengindahkan nya, langsung aku naik taxi tepat di area parkir depan hotel, "pak tolong ke kampus A"
perasaan ku tidak enak
hati ku begitu was was, ku lihat begitu banyak pesan dari Bima dan Yogi, juga panggilan yang tak ku jawab dari nya. aku tidak sanggup untuk melihat nya,
apa ini jebakan? tapi siapa dan untuk apa?
segera aku tiba di kampus ku, ku lihat orang orang sedang menatap ku sinis dan mulai membicatakan ku, membuat ku semakin frustasi
banyak teman kampus ku sedang berdiri didepan mading, entah apa yang sedang mereka lihat membuat ku bergerak maju penasaran tapi seketika langkah ku terhenti di halau oleh Yuni, *wanita yang menyukai Yogi
"kalian lihat, wanita murahan ini sudah datang*!", ucapnya penuh kebencian tak urung mereka yang terpaku di depan mading menatap ku juga dengan tatapan tak percaya nan jijik
*aku yakin, ada suatu hal mengenai aku di mading tersebut
__ADS_1
"maksud mu apa Yuni? bisakah kau minggir, aku ingin melihat sesuatu di mading*!", aku tidak peduli tatapan jijik dari mereka, aku hanya ingin menemukan jawaban tapi
mereka langsung mendorong ku dengan keras hingga aku jatuh tersungkur, "Yogi, lihat lah wanita yang kau banggakan ini, ternyata sama busuk nya, pura pura polos eh ternyata liar juga rupa nya", ucap Yuni pedas dan tertawa mengejek ku, dan justru di tanggapi tawa ejeken juga dari teman teman kampusku.
Tangan lembut itu merangkul ku dengan pelan, menuntun tubuh ku untuk kembali tegap berdiri
*aku merasa tidak bersalah dan aku memang tidak tau apa yang salah dengan ku sehingga mereka membenci dan melontarkan hinaan kepadaku, sekuat apa pun aku, aku tidak sanggup menahan keperihan dan air mata turun begitu saja, aku tidak pantas di hina bukan??
"Bela, bangunlah*!", ucap Yogi merangkul dan membalikkan tubuh ku yang menangis lemah hingga jatuh ke dalam dada nya yang bidang
"untuk apa kalian masih disini? Bubar!", ucap Yogi kasar dan seketika keramaian di depan ku menjadi senyap
"Yogi, kenapa kau masih membela perempuan ini?", tanya Yuni yang tidak percaya seraya mengejek ku, "kau tidak lihat pengumuman di mading bahwa wanita ini tengah habis menjajakan tubuh nya dengan pria lain, apa kau masih mau menerima nya?" celoteh Yuni membuat Yogi makin kesal di buat nya
aku membelalak kaget, *apa maksud nya kejadian tadi malam?
"aku mempercayai nya, ia tidak mungkin melakukan hal seperti itu*", ucap Yogi tegas membuat aku terharu, dia mempercayai ku tanpa harus aku susah payah menjelas kan nya, "sebaik nya lekas kau pergi dari pandangan ku, kalau tidak, aku membuat wajah cantik mu ini tergores penuh luka!", dia memang kental dengan nada ancaman nya, tapi kali ini entah kenapa membuat ku tenang
"kau jahat!", ucap Yuni berlari sambil menagis tersedu sedu, Yogi memang mempunyai image pria bengis tapi tampan sehingga banyak wanita yang menyukai nya selain itu *dia selalu memperlakukan aku dengan hangat
"sayang, apa kau sudah merasa baikan*?", tanya Yogi sambil memegang erat kedua pundakku dan menatap ku penuh arti
aku menjawabnya dengan anggukan dan menghapus air mataku yang tersisa di pipi, "apa kau tidak ingin tahu apa yang ada di mading?" tanya Yogi
aku menggelengkan kepalaku, aku tidak sanggup tapi setelah itu aku pikir pikir lagi, aku harus menemukan jawaban nya
aku melangkah penuh hati hati, sekelibat terlihat sebuah kulit manusia saling bersentuhan saling bertelanjang dada, "ini wajah ku", seketika air mata ku jatuh lagi
begitu memalukan nya aku, aku tidak sanggup lagi melihat nya lebih
aku menunduk menangis didepan gambar ku yang tengah telanjang bersama seorang pria, ku genggam telapak tangan ku, ingin rasanya ku hancurkan gambar yang tengah di lapisi kaca begitu tebal itu tapi aku harus menahan nya
"Bela", sapa Bima yang tengah berlari mendekati ku, aku menoleh melihat dengan jelas wajah nya yang tengah muram, terlihat kekecewaan di wajah nya, aku dapat melihat nya dengan jelas. "ikut aku!", ucap Bima menarik lengan ku tak bisa dibantah
tapi aku menahan nya, "apa yang ingin kau bicarakan?", ucapku penasaran, kenapa dia bersikap kasar terhadap ku,
"kau harus jelas kan semua nya kepada ku!", ucap Bima memalingkan wajah nya tanpa menatap mata ku, "itu bukan dirimu kan?"
"itu benar aku", jawab ku enteng
"aku serius Bela, apa yang ada di foto dengan seorang pria itu dirimu?", tanya Bima gemetar, seakan tidak sanggup mendengar kenyataan
"iya itu diriku, itu memang aku tapi..", jawab ku yang tak kalah kecewa nya tapi belum aku selesai menjelaskan , Bima langsung memotong
"Bela, kenapa kau melakukan nya? apa kurang nya aku? kau ingin harta, akan aku beri, jika kau ingin ke hangatan akan aku layani, aku.."
Plakkk!
aku gemetar mendengar ucapan jahat nya, sungguh mengiris hati
"kau tahu Yogi, dia tidak sekali pun meminta penjelasan apa pun terhadap ku, dia sangat mengenal dan mempercayai ku tapi sedangkan diri mu..", suara ku tersekat tak sanggup meneruskan, "kau meminta penjelasan kepadaku tapi sebelum ku jelaskan, kau sudah menghina dan memaki ku, menyimpul kan bahwa diri ku hina hanya karena aku meng iya kan pertanyaan konyol mu itu. sebenarnya dirimu lah yang hina dina tidak mampu mempercayai orang yang kau cintai tapi malah menghina nya, kau sama buruk nya dengan yang lain", emosi ku memuncak dan gemetar mencoba menahan amarah yang meluap, aku berlari dengan isak tangis yang begitu nyeri
aku berlari di udara yang dingin, berlari sampai aku merasa lelah, ku harap juga dapat berlari dari kenyataan ini.
Bima yang ku percayai, Bima yang aku pilih ternyata
aku menyesal
****
Cinta itu sama seperti puzzle. Saat kau jatuh cinta, semua kepingannya pas. Tapi saat hatimu hancur, butuh waktu untuk menyatukannya kembali.
****
__ADS_1