
"sayang, ikut aku sekarang!", tiba tiba Yogi menarik tanganku menuju ke dalam mobil
"ada apa?", tanyaku bingung
"Bima akan pergi, kita ke Bandara sekarang untuk menyusulnya!", jawab Yogi membuatku tidak percaya, dengan tiba tiba tanpa mengabariku, tanpa memberitahuku dia akan pergi begitu saja.
dia pasti akan pergi ke kota kelahirannya, mengurus perusahaan cabang yang sudah Ia impikan begitu lama demi mendiang Ayahnya.
aku masih ingat perkataannya dulu waktu Bima membawaku kesana.
****
"Bima", aku berlari mengejar Bima yang hendak melangkah pergi di bandara.
untunglah Yogi memberitahu ku juga menemaniku untuk menemui Bima sebelum dia pergi.
langkah ku terhenti memandanginya yang sudah berdiri berbalik menghadap ke arahku dengan mata nanar, aku juga menghapus air mataku dengan kasar yang sedari tadi menetes dengan sendirinya.
saat di perjalanan hatiku rasanya begitu terpukul, bagaimana jika aku datang terlambat? bagaimana jika aku tidak bisa mengucapkan kata selamat tinggal walau untuk terakhir kali?
ku coba menghubunginya tetapi ponselnya sudah tidak aktif lagi, dan aku mengerti bahwa dia saat ini sedang berjuang keras untuk melupakanku, begitupun diriku.
Bima membentangkan tangannya dengan lebar, aku pun berlari kearah nya ketika Ia menyambut pelukan dariku.
kita pun menangis bersama, aku berusaha tegar tapi tak bisa karena sungguh terlalu pilu, dia bagaikan belahan jiwaku.
kita saling menghapus air mata yang membasahi pipi masing masing, menyentuh dengan lembut dan mentapnya lebih dalam.
"apa kau akan pergi?",
Bima hanya mengangguk tak dapat berkata
"apa aku boleh menghubungimu jika aku rindu?"
Bima mengangguk lagi, "tentu"
"apa kau akan kembali?"
Bima terdiam sejenak, kemudian dia menggelengkan kepalanya, "aku tidak akan pernah kembali, tapi aku janji. aku akan mengabarimu dan juga aku ingin melihat gadis cantik yang akan lahir nanti"
aku pun tertawa kecil, "darimana kau yakin kalau ini perempuan?"
"haha aku sangat yakin karena tingkah lakumu saat hamil, kau begitu cengeng dan manja", sahutnya membuat ku kesal lalu mencubit pipinya
"kau bisa saja,Bim! haha"
"Tuan muda, kita harus berangkat!", beritahu pak Gugum kepada Bima, yang artinya bahwa kita akan benar benar berpisah.
aku sedikit memalingkan wajahku menahan tangis dan nafas terpenggal,
lalu untuk terakhir kali Bima memegang kedua pipiku lalu mengecup keningku, "selamat tinggal"
kata itu yang ku dengar untuk terakhir kalinya sebelum dia benar benar pergi, pergi dari pandanganku tidak dari hidupku karena dia terlalu berharga untukku.
melihatnya berbalik, melangkah pergi jauh dari pandanganku, tanpa bisa melambaikan tangan karena aku yakin, ini juga berat untuknya.
( hikkksss mimin nangis lagi )
"sayang", Yogi yang sedari tadi hanya melihat dan mendampingi ku, dia datang untuk menjadi sandaranku. merangkulku dan mengusap air mataku.
****
kini sudah beberapa hari sejak kepergian Bima meninggalkanku.
sekarang aku berada dalam pelukan suamiku masih sedih atas kepergian Bima, Yogi mempererat lagi dekapannya kepadaku.
"maaf", ucapku lirih
"kenapa minta maaf, sayang?", Yogi memandangiku yang sedang sedih dan tenggelam dalam pelukannya.
__ADS_1
"kau pasti cemburu"
Yogi tersenyum pasi, "aku tidak sebodoh itu sayang, aku juga pernah merasakan hal yang sama saat di tinggalkan oleh orang yang kita sayang"
aku kaget terperanjak, "apa? siapa?", tanyaku spontan
"ah aku keceplosan", gumam Yogi terdengar
"siapa?", tanyaku lagi mempertegas, "siapa orang yang kau sayang selain aku?"
dengan enggan Yogi pun menjawab, "dia cinta pertamaku"
bodoh bodoh bodoh, kenapa aku menanyai nya sih, jelas jelas itu pasti orang yang pernah bersamanya. dia kan mantan bajingan
"oh"
Yogi mengernyitkan kening mendengar jawaban singkatku, "hanya itu? kau tidak cemburu?"
"untuk apa?", jawabku ketus membuang muka, "seharusnya aku pergi dengan Bima saja waktu itu", ucapku membelakangi nya masuk dalam selimut
"tidak begitu sayang", Yogi memegang lenganku dan mengguncangnya, "jangan cemburu!"
"apa sih, aku tidak cemburu tahu!"
"tapi kau marah"
"aku tidak marah, cuma malas saja melihatmu"
"ya itu artinya kau marah", Yogi akhirnya menarik lenganku paksa agar aku memiring menghadapnya.
lalu dia mendekapku lagi dalam pelukannya, "dia sudah menjadi masalalu, hanya ada kau sekarang untukku", ucapnya mengelus rambutku sementara wajahku sudah tenggelam di dada bidangnya, "kau juga harus belajar sepenuhnya mencintaiku"
aku memang mencintaimu, tapi aku masih malu untuk mengatakannya padamu
"iya akan ku coba", sahutku tanpa berpikir, padahal bukan kata ini yang ingin aku lontarkan
Arrrgghhhh hayolah Bela, dia sekarang suamimu.
****
akupun berbaring dan Yogi disebelah ku, menggenggam tanganku untuk mendampingi ku.
asisten dokter mulai membuka baju bagian perutku lalu mengoleskan gel dingin ultrasound mempelancar alat USG berjalan,
dan akhirnya terpampang wajah Bayi di layar besar, kehamilanku sudah memasuki usia dua puluh satu minggu dan bentuknya pun sudah sempurna.
ia memiliki kelopak mata, dua tangan, dua kaki yang sempurna. ku lihat kebahagiaan juga terpancar dari wajah Yogi yang tak berhenti memandangi gambar bayinya di layar.
"dokter, tolong tidak usah memberitahu kami soal jenis kelamin bayi kami!", pinta Yogi kepada dokter spesialis
"kenapa, sayang?", tanyaku
"itu tidak perlu, biar menjadi kejutan. yang penting bayi kita lahir dengan selamat begitu pun dirimu, sayang, itu jauh lebih penting"
"bayi Tuan muda sehat, Ia sudah memiliki panjang 28,5 senti meter serta berat 390 gram, detak jantungnya juga normal", sahut dokter menjelaskan di tengah percakapan kita
Yogi begitu lega, begitupun diriku.
****
"sayang, aku ada sesuatu untukmu!", kata Yogi setelah kita sampai di rumah baru yang sudah kita tempati
"apa?"
"ikutlah!", Yogi menggandeng tanganku lalu menuntun ku pergi melihat kamar tengah yang belum sempat aku lihat, "Taraaa"
aku membelalakkan mataku penuh haru ketika aku melihat bahwa kamar ini di penuhi dengan pernak pernik berwarna biru dan berkarakter anak laki laki, serta cat dinding, ranjang bayi, rak. semuanya berwarna biru.
"sayang, apa kau suka?"
aku mengangguk, "suka"
__ADS_1
"ini kamar anak kita nanti setelah lahir", ucap Yogi penuh bangga
"tapi ini kan kamar laki laki, dan jika.."
"tenanglah, ikut aku!", Yogi memotong lalu menuntun ku lagi memasuki kamar persis sebelah kamar yang kita masuki barusan.
kali ini kamarnya bernuansa pink, dari cat dinding, pernak pernik, perlengkapan dan semuanya berwarna pink.
"ini untuk anak kita jika dia perempuan", ucap Yogi tersenyum sumeringah kepadaku
akupun langsung memeluknya penuh syukur, "terimakasih"
"untuk apa?"
"kau sudah menjadi suami yang baik"
bukan membalas pekukanku dia malah cemberut, "kenapa kau baru menyadarinya?"
kan lagi lagi dia membuatku kesal, tapi melihatnya cemberut membuat dia jadi imut sekali. aku menyukainya
"cium aku!", pintaku
"apa?"
"cium aku sekarang!" aku memayunkan bibirku, tapi Yogi tak kunjung mengindahkan permintaanku. padahal aku lagi senang atas perhatiannya sekarang.
aku hitung dalam hati
1
2
3
4
Cup, aku menjinjitkan kaki ku untuk sampai pada bibirnya yang cemberut.
Yogi tersenyum malu, pasalnya aku yang lebih dulu memintanya karena biasanya dia selalu memaksaku dan mempunyai inisiatif terlebih dahulu.
"aku bahagia"
aku memeluknya dengan hangat, dia membalasku kali ini, dan menggendongku melangkah menuju kamar.
"sayang", panggil ku berbisik di telinganya
"apa?"
dengan malu malu aku memberanikan diri untuk mengutarakannya, "kata dokter tadi, aku sudah tidak apa apa jika melakukan itu dengan mu"
Yogi menahan tawa membuatku menepuk dadanya karena malu, "jadi tadi yang ingin kau bicarakan berduaan dengan dokter Hilmi adalah mengenai itu?"
aku mengangguk malu, pasalnya tadi sebelum pergi aku memang meminta Yogi untuk keluar terlebih dahulu beralasan ingin membicara hal penting dengan dokter Hilmi spesialis kandungan.
"aku kan hanya ingin menyenangkan mu", ucapku berbisik yang justru dibalas senyum oleh Yogi, "aku lihat kamu selalu frustasi saat kau menahan tubuhmu agar tidak menyentuhku lebih, lalu kau berakhir mandi! tengah malam dengan air dingin"
Yogi pun malu, wajahnya memerah mendengar ucapanku yang benar.
"baiklah kalau begitu, hayo kita melakukannya kali ini", Yogi mempercepat langkahnya menuju kasur lalu membaringkanku di atasnya
Dia sekarang berada diatasku, berusaha tidak menindihku, lalu mengecup bibirku pelan yang lama lama kecupan itu menjadi lumatan lumatan lembut dan akhirnya kasar karena nikmat.
Ia beralih di sisi pipiku dan berbisik, "aku akan melakukannya pelan"
****
CINTA ITU TIDAK HARUS MEMILIKI, TETAPI RINDU ITU MENYIKSA. LALU BAGAIMANA CARAMU UNTUK MELEWATINYA JIKA TIDAK DENGAN BERBOHONG PADA DIRIMU SENDIRI
****
Oh ya, jika suka romance komedi mampir ke Novelku yang judulnya " I AM NOT A GAY "
__ADS_1