AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Diki


__ADS_3


aku membuka mataku yang berat, dengan kepala sedikit pening. aku mengawasi sekitar mencari tahu sedang berakhir dimana aku.


"sayang, kau sudah bangun?", sapa Yogi sambil membelai rambutku


aku pun berusaha untuk bangkit, Yogi membantuku untuk duduk dan mengambilkan gelas berisi air untuk ku teguk.


aku memikirkannya lagi, mengingat yang dikatakan oleh Ibu tiriku, "Ayah", aku menangis mengingatnya,


Yogi memelukku agar aku menangis dipelukannya, "aku ingin menemui Ayah, aku ingin datang ke pemakaman nya!"


"baiklah sayang, aku akan mengantarmu!", ucap Yogi masih memanjai ku, mengelus rambutku dan memelukku erat seperti juga merasakan apa yang sedang aku rasakan.


****


kami pun berangkat, sepanjang perjalanan Yogi memberikan bahu serta dadanya untuk ku topang, sesekali mengecup keningku dengan lembut.


sedangkan aku masih lemas tak bertenaga, kepalaku pun masih terasa pening dan buram pada penglihatan ku.


tiba tiba aku mendengar suara dari ponselku berbunyi tapi aku tak dapat mengangkatnya, Yogi pun mengambil alih untuk mengangkat panggilan telefon entah dari siapa.


"hallo", Yogi menjawab, "iya, Bela sedang bersamaku, dia syok mendengar kabar tentang kematian Ayahnya. kita sedang berada diperjalanan menuju kesana"


suara di telefon walaupun terdengar samar tapi aku bisa menebaknya,


"siapa?", tanyaku memastikan ketika panggilan itu berakhir


"Bima, dia menanyakanmu", sahut Yogi, membenarkan dugaanku, "dia akan segera menyusul kita"


"ah, iya", aku pun masih tenggelam di pelukannya dan tertidur


****


"Ayah!", aku menangis tersedu sedu, bahkan untuk terakhir kalinya pun aku tak bisa melihatnya, aku hanya meratap diatas kuburnya yang masih basah.


memeluk batu Nisannya, menciuminya, mendoakan nya, menangisi kepergiannya. aku masih berdosa sebagai anak, belum cukup pengabdianku, aku belum dapat membalas budi dan menjadi anak berbakti. "maafkan aku Ayah, maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakan mu! maafkan aku!"


walau perkataan maaf itu sudah terlambat, walau penyesalan itu sudah terlambat, tapi aku tak dapat memungkirinya.


meski Ayahku meninggalkanku, mengabaikanku, tapi ia lah tetap orang tua yang telah membesarkan ku dengan penuh kasih sayang, menyayangiku se waktu masih kecil. darah itu lebih kental.


ia menggendongku dengan senang, menciumi pipiku tanpa henti karena kegemasannya kepadaku, aku begitu menyayanginya.


"sudah sayang, relakanlah! ayahmu sudah pergi dengan tenang di alam sana, kau masih memiliki ku", Yogi memelukku, menenangkan ku.


****


aku melihat Ibu tiriku di ujung kamar, menunduk dan menangis dengan sedih. "mama", aku datang lalu memeluknya, kita pun menangis bersama


"Bela", hanya itu yang diucapkan Ibu tiriku lalu kembali memelukku


"ma, katakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?", tanyaku ketika melepaskan pelukan


"Ayahmu mendadak terkena serangan jantung, Bela! Ayahmu meninggalkan mama terlalu cepat", ia menangis lagi, aku pun hanya bisa pasrah, ini mungkin sudah kehendak Tuhan.


kemudian aku pun beranjak pergi setelah Ibu tiriku mulai mengontrol emosinya,

__ADS_1


aku melihat foto Ayah yang terpanjang di meja hias ruang tamu, aku mengambilnya lalu menatapnya sedih.


"sayang", Yogi datang merangkul dan mengecup sisi keningku


"lihatlah! ini Ayahku", aku memberitahu foto Ayahku yang aku pegang, "dia adalah ayah yang baik, kau tahu waktu aku masih kecil. aku rewel sekali, dia kemudian menggendongku sepanjang malam, menjaga matanya agar tidak terlelap dan menggondongku tanpa mengeluh, setiap kali ayahku lelah dan duduk. Aku menangis, lalu ia kemudian bangkit lagi untuk menggendong ku tanpa mengeluh. aku sangat berdosa padanya", aku tersenyum mengingatnya dan juga sedih karena aku belum bisa membahagiakan nya


Yogi lalu memelukku dari belakang, mengusap perutku dengan pelan, "ayahmu adalah ayah baik, aku juga akan berusaha lebih baik darinya. demi bayi kita"


kata kata itu membuatku sangat lega


"kau juga sudah menjadi anak yang baik, kau rela pergi demi kebahagiaan Ayahmu walau dirimu sendiri sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtua", ia lalu membalikkan tubuhku dan menatapnya, "kau sudah berhasil membuatnya bahagia, sayang! kau juga sudah berkorban"


aku tersenyum begitu lega, sangat lega. aku memeluknya, memeluknya erat dan hangat, aku beruntung mendapatkan Yogi disisiku.


"Bela", suara itu tak asing ditelingaku, aku melepaskan pelukanku pada Yogi lalu menoleh padanya


aku berlari kemudian memeluknya, menangis di dadanya. dengan ragu dia membalas pelukanku, mengelus punggungku dan menenagkan ku. "Bela, jangan seperti ini!", ia memegang lenganku kemudian hingga aku melepaskan pelukanku


Deg!! tanpa sadar aku mengabaikan Yogi, aku menoleh kearahnya tapi ia sudah tak ada.


"Bima, maafkan aku!"


Bima menggerakkan jemariny mengusap lembut pipiku yang basah, "tidak perlu minta maaf, kau masih dalam keadaan berduka jadi kau tak berfikir jernih"


"bukan seperti itu, tapi aku dan Yogi", aku tak bisa menjelaskannya


tapi ia mengangguk senyum, seperti sudah mengerti semua yang ingin ku ucapkan. "aku sudah mengerti, bukankah aku sudah katakan, bertanyalah pada hatimu dan sepertinya kau sudah menemukan jawabannya"


"lalu, bagaimana denganmu?"


dia menyentil dahiku, aku kesakitan. "kita ini keluarga, dan juga seorang teman. kau ingat?", ucapnya tersenyum, membuatku lega


aku pun memeluknya lagi dengan erat.


semoga kau bahagia, mendapatkan lebih daripada diriku yang selalu menyakiti hatimu.


****



****


Bima pun berpamitan pergi terlebih dahulu juga kepada Ibu tiriku, karena kehamilan ku aku tidak bisa berlama lama dalam perjalanan yang singkat jadi aku memutuskan untuk menginap di sebuah hotel bersama dengan Yogi.


tapi entah kenapa, aku tidak menemukan Diki sama sekali


"ma, Diki, aku belum melihatnya sama sekali?"


"adikmu pergi belajar ke luar negeri!, dia masih sibuk dengan pendidikannya, jadi mama masih belum memberitahu nya"


aku mengangguk mencoba mengerti, "kalau begitu Bela dan Yogi pamit pergi!", Yogi pun juga ikut berpamitan walaupun ekspresi nya tampak muram tapi ia mencoba tersenyum dan dipaksakan, "mama yang tabah ya ma, maaf Bela tidak bisa menemani mama disini!"


"tak apa sayang, mama juga butuh untuk menenangkan diri"


aku sungguh sangat bersyukur, Ibu tiriku sangat menyayangi Ayahku.


****

__ADS_1


sepanjang perjalanan Yogi tidak menatapku, membuang wajahnya terhadapku. aku juga memutar kepalaku bagaimana caranya aku meminta maaf,


"berhenti berhenti!", ucap Yogi menghentikan mobil yang dikendalikan oleh supir pribadinya


"kenapa?", tanyaku penasaran


"aku tadi seperti melihat adikmu Diki", ia menajamkan penglihatan, membuka kaca mobil


"ah mana? tidak mungkin, Diki kan lagi berada di luar negeri", aku pun melihat pada apa yang Yogi tuju tapi tidak menemukan Diki.


"hmm ya, mungkin aku salah lihat", mobil pun melaju lagi sampai pada sebuah hotel berbintang.


sepertinya ia sudah melakukan pemesanan terlebih dahulu sehingga kita langsung masuk dan tertuju pada kamar kelas VIP yang luas megah, terdapat dua lantai di dalamnya juga tak lupa sebuah mini Bar yang elegant berhiaskan serpihan emas juga marmer.


Yogi berdiri memunggungi ku, membuka kancing baju kemejanya untuk membersihkan diri, aku pun datang memeluknya dari belakang, "sayang, kau mau mandi? mari kita mandi bersama!", tawarku tersenyum mencoba merayunya


"tidak, kau mandilah terlebih dahulu!", ucapnya datar


"sayang, aku akan menggosok tubuhmu, memijit kepala juga bahumu, bagaimana?"


tawaranku pasti sangat menggiurkan, dia tidak akan menolakku kan?


"tidak, aku akan ke lantai bawah meneguk anggur terlebih dahulu"


arghhh dia menyebalkan, masih saja marah padaku


dia melepaskan lingkar tanganku, tapi dengan sigap aku memeluknya lagi kali ini berhadapan dengan dadanya yang kekar.


"kau marah?", tanyaku mendongak padanya yang jauh lebih tinggi


dia tidak menjawab, hanya memanyunkan bibirnya


"aku tidak seperti yang kau pikirkan", ucapku


"tidak seperti yang dipikirkan bagaimana? jelas jelas kau mengabaikanku lalu memeluk Bima didepan mataku", sahutnya memuncak,


"kau cemburu?"


"tidak", sahutnya singkat


"lalu? kalau bukan cemburu"


"aku hanya kesal saja, dia lebih berarti bagimu, kau selalu bersikap lembut padanya, bahkan kau pasti pernah mengatakan kau mencintai nya. hal yang tak pernah aku dengar langsung dari mulutmu", ia mengoceh kesal dengan mata memerah, "kau tak pernah mengatakannya walau hanya sekali kepadaku"


kali ini aku menyerah, aku menunduk sedih, aku tidak tahu bahwa hal itu sangat berarti baginya, "maaf", hanya kata itu yang bisa terlontar dari mulutku lalu menangis


ibu hamil itu sensitif, bahkan aku baru kehilangan Ayahku dan sekarang, Yogi seperti sedang memarahi ku. bagaimana aku tidak menangis?


"sayang, jangan menangis! apa aku keterlaluan?", Yogi pun panik merasa bersalah karena sudah membuatku menangis, dan ia membalas memelukku, "sudah jangan menangis lagi! baiklah, hayo kita mandi bersama"


"tidak, aku mau kue coklat!"


****


Jika kau menemukan rintangan, hal yang harus kau lakukan hanya melewatinya, maka rintangan itu akan berubah menjadi jembatan


****

__ADS_1



__ADS_2