
Aku tidak dapat mengira apa yang telah terjadi selama ini, siapa yang harus aku percaya?
aku mencoba memutar otakku untuk mengingat semua yang terjadi padaku tetapi hanya sakit dan keraguan yang ada dan menyiksa.
Tuhan, bisakah kau membantuku kali ini?
Aku menatap langit dari jendela kamarku, mencoba mengingat semua yang dikatakan Yogi kepadaku, bahkan Bima yang dimana saat kita bertemu, dia menyebutku "Bela"
benarkah itu aku? apa ini hanya bualan Yogi? tapi mengapa matanya sangat jujur dan terisak saat mendapatiku?
"Arrghhhhhh" aku menggaruk kepalaku yang mulai panas.
****
tok tok tok
suara ketukan pintu kamar lalu aku membukanya, ya Diki sedang berdiri didepanku mengulas senyum manisnya uang seperti biasa.
masa sih pria sepolos dan sebaik ini tega membunuh ayah dan juga bayiku?
seketika aku masuk dalam lamunan tanpa peduli apa yang tengah di ucapkan Diki kepadaku.
"sayang", sapa Diki berulang kali
"eh, iya apa? he" tanyaku canggung
Diki mendekatiku, melingkarkan pelukannya di tubuhku, "apa yang sedang kau pikirkan? kenapa melamun?"
"ah ituu.. aku terfikir perkataan Yogi padaku"
"apa kau mulai ragu sekarang padaku?"
aku menggelengkan kepala, "tidak, aku percaya padamu, bagaimana selama ini aku hidup bersamamu dalam damai dan tanpa kekangan"
sejujurnya aku mulai ragu, aku juga mempercayai Yogi tapi selama tak ada bukti, aku tak dapat mempercayai apapun.
Diki mengelus anak rambutku, "terimakasih kau mempercayaiku", ucap nya penuh senyum serta mendekatkan diri untuk menyentuhku
dengan sigap aku menolehkan wajahku hingga bibirnya mengenai pipiku.
sekilas aku mendapatinya tersenyum menyeringai kepadaku, sedikit membuatku begidik ngeri tapi saat bersamaan pula. Dia memberikan senyum manis lagi kepadaku.
seakan Ia mempunya dua ke pribadian berbeda, ada apa?
"maaf" kata terlontar dari mulutku
"tidak apa apa", Diki masih mengelus rambutku, "mari kita pergi jalan jalan!"
"hmm kemana?" tanyaku
"terserah padamu, agar pikiranmu tenang kembali maka aku dengan senang hati ikut apa maumu"
"aku ingin ke wahana permainan, menaiki keranjang putar dan melihat pemandangan sepertinya menyenangkan"
Diki mengangguk, "baiklah!"
****
****
Tapi begitu aneh sekali saat aku pergi ke tempat ramai seperti ini.
Diki tak lupa memakai masker hitam, topi hitam serta kacamata hitam untuk mengelabui fansnya.
tapi tak apalah yang penting dia bisa menemaniku untuk menenangkan pikiran sejenak.
yang ku lakukan salah atau tidak, aku masih ragu. aku takut jika apa yang dikatakan Yogi itu benar adanya, sedikit ketakutan dalam hatiku tapi aku juga tak ingin mengecewakan Diki yang sudah lama menungguku.
"sayang, kita melihat pemandangan terlebih dahulu, bagaimana?" tanya Diki
aku mengangguk, "boleh"
Kita pun menuju bukit yang dimana kita melihat pemandangan kota dari atas, begitu indah dengan sinar lampu warna warni yang terlihat. serta hembusan angin sepoi sangat ku sukai ketika menerpa rambutku yang terurai.
Deg!
__ADS_1
Sekilas kenangan dimana aku pernah melakukan hal yang sama berputar kembali di ingatanku, tapi hanya samar samar tak ku lihat wajah siapa yang sedang bersamaku.
"apa kita pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?" tanyaku memastikan
"ini pertamakalinya kita kesini, kau suka?"
"iya"
jika ini pertamakali nya bagi kita, lalu siapa pria dalam ingatanku?
aku pun mulai ragu akan Diki kepadaku, rasanya aku membelah kepalaku saja.
setelah lama kita menikmati pamandangan, akhirnya kita turun pada tempat keramaian, wahana permainan yang selalu ku suka, sepertinya aku sudah melekat pada tempat ramai seperti taman hiburan.
aku berjalan bergandeng tangan dengan Diki, hendak menaiki keranjang putar yang sangat mencolok dari kejauhan.
"kita coba naik ini ya?" pintaku
"hayo!"
tapi sayangnya kita harus menunggu, mengantri untuk menaiki keranjang putar karena begitu banyak di minati jika di malam hari.
"rame sekali"
Tiba tiba bergandengan tangan kita terlepas karena seseorang sengaja menarik tubuhku dan jatuh dalam dekapannya.
"Yogi" ucapku membelalak
"hai sayang", ucap nya memberi senyum menjengkelkan kepadaku
"kenapa kau disini?"
"kan sudah ku bilang, kita akan berkencan hari ini", ucap Yogi enteng sembari merangkulku
"hei singkirkan tanganmu dari tunanganku!" bentak Diki di hadapan Yogi yang bahkan pasi melihat wajahnya
"tidak!" jawab Yogi enteng
"ku bilang singkirkan tanganmu, jangan menguji kesabaranku!" gertak Diki mengeratkan rahangnya.
"kalau tidak mau, kenapa?" Yogi menantang
tapi aku dengan sigap menengahinya.
"sudahlah, kalian jangan ribut! aku kesini untuk menenangkan pikiranku bukan malah mempekeruh saja"
"kau dengar? sebaiknya kau pulang saja!" ucap Yogi
"kau yang seharusnya pulang!" sahut Diki kembali.
"baiklah kalau kau tetap memaksa"
Yogi tanpa ku duga langsung menarik topi, masker serta kacamata milik Diki sehingga orang ramai disekitar melihatnya.
"Diki Idol disini, Diki Idol disini. hayo siapa yang mau tanda tangan dan foto bersama!" teriak Yogi lantang pada orang orang
"sialan!" geram Diki
Seketika Diki lari ketika orang orang mulai menyadari kedatangannya, Diki dibuat kerepotan dan tak lagi mempedulikan aku.
juga semula orang orang yang ikut mengantri menaiki keranjang putar, malah ikut berlari mengejar Diki seorang Idol berbakat dan terkenal.
"ah, ada gunanya juga dia datang kesini, jadi membuat kita tidak perlu susah susah untuk mengantri", ucap Yogi tertawa dengan kemenangan, "yukk Naik!"
"tapi Diki bagaimana?"
"sudah tidak perlu mencemaskannya, dia bisa melindungi dirinya sendiri"
akhirnya aku pun menaiki keranjang putar berdua dengan Yogi, aku bisa melihat keseluruhan taman ini dari atas. sangat terlihat mengagumkan.
"kau menyukai taman ini?"
aku mengangguk, "aku sering datang ke taman ini bersama Arumi"
dan seketika itu pula aku melihat Diki sudah berganti pakaian memakai jaket orang asing serta wajahnya tertutup kain, tapi aku tahu jelas bahwa itu Diki.
Ia melambaikan tangan padaku, memintaku untuk turun dari wahana.
"kita sebaiknya turun", aku menoleh pada Diki, "Diki ada disana!" ucapku menunjuk
__ADS_1
tiba tiba tanpa permisi kedua jemari Yogi memegang serta mendongakkan wajahku agar menoleh padanya, seketika itu pula Dia langsung melayangkan bibirnya ke bibirku.
aku kaget dan membelalak ketika Ia dengan lembut melumatku.
"tutup matamu!" pintanya ketika melepas pagutannya.
entah kenapa aku menuruti saja, aku memejamkan mataku menikmati sentuhannya yang sangat lembut dan hangat.
telah lama kita berdua berciuman sampai aku lupa akan Diki yang tengah menatap kesal padaku.
"jangan pernah kau menoleh lagi!" ucap Yogi memegangi kedua sisi pipiku dengan lembut.
aku hanya bisa terdiam menatap matanya yang berbinar.
"jika kau ragu, maka ikutilah kata hatimu" Yogi memegang jemariku lalu mendekatkan pada dadaku, "hatimu takkan berubah, sekalipun kau melupakanku"
ya, kau benar. sekali melihatmu, aku langsung jatuh hati padamu
"aku sekarang tidak butuh ingatanmu kembali kepadaku, yang ku butuhkan sekarang hanyalah hatimu yang masih jujur tentangku", Yogi membelai rambutku, "aku mencintaimu"
Ia lalu memelukku dengan hangat.
"jawablah dengan hatimu yang terdalam, percayalah padaku Bela!"
saat rasa pelukan itu menghangatkanku, hatiku juga ikut terasa perih ketika aku tak dapat mengingat apapun tentangnya tapi Ia benar, hatiku langsung tertuju padanya.
"aku juga mencintaimu", seketika lontaran itu keluar begitu saja dari mulutku.
Yogi semakin mengeratkan pelukannya padaku.
"terimkasih", ucapnya serak kali ini.
tak bisa ku gambarkan lagi ke bahagiaan malam ini, keputusan ku malam ini.
aku benar benar mengikuti kata hatiku saja yang tak dapat ku bohongi walau begitu keras ku coba melawan, hanya sakit yang ku dapat ketika aku mencoba untuk pergi darinya.
****
kini malam kian larut dan kita hendak pulang kerumah tapi Yogi berhenti disebuah penginapan.
"H O T E L" ucapku menganga
"iya, kita beristirahat sebentar disini, aku tidak suka jika harus bertatap muka lagi dengan si Brengsek itu"
"tapi..tapi kau yang sepertinya brengsek! kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?"
"ha ha kita kan suami istri, jadi tidak masalah kan?"
"tapi aku bahkan belum tahu kebenarannya!"
"aku sudah meminta anak buahku dan juga di bantu Bima untuk melakukan autopsi dan menyelidiki semuanya, Dia itu sangat cerdas dan bersih jadi sulit untuk menangkapnya"
"hah?" aku tak mengerti
"sudahlah! hayo kita masuk"
Yogi menuntunku memasuki Presidential Suit Room, dimana banyak fasilitas mewah yang disediakan, tidak hanya ada satu ruangan di dalamnya.
"sayang, kau tidak merasa lelah seharian berjalan jalan?", tanya Yogi sambil memelukku dari belakang
"lelah, bahkan keringat sudah membanjiri tubuhku sedaritadi"
"bagaimana kalau kita berendam bersama?" bisiknya menggoda ditelingaku
"ki...kita?" tanyaku gelagapan
"ha ha kau malu malu sekali, dulu kita melakukan hal ini setiap hari, bahkan kau tidak membolehkanku mandi jika tidak denganmu"
"benarkah? aku dulu begitu? cih, kau bohong."
"ha ha benar, bahkan pipimu memerah sayang, membuatku gemas saja", Yogi mencubit pipiku lalu mengecup bibirku sekilas, "mari kita mandi dan berendam bersama"
****
Cinta itu bagaikan api, apa saja yang melewatinya pasti akan terbakar. Seperti cahaya yang selalu memancarkan sinar kepada benda yang dikenainya, dan juga ibarat langit selalu menutupi apa saja yang ada di bawahnya
****
__ADS_1