AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Ancaman


__ADS_3


ku lihat tanggal di ponsel ku dan mengingat ngingat, "ini sudah bulan ke dua aku belum menstruasi", gumamku dalam hati, dan aku menggelengkan kepalaku, "tidak, tidak, ini tidak mungkin terjadi"


aku memegang kedua lengan Sindi dengan panik, "Sindi, apa yang harus aku lakukan?"


"tenanglah Bela, mari kita periksa langsung ke rumah sakit terdekat untuk memastikan", ucap Sindi memberi saran, tapi aku langsung menolaknya


"tidak, Sin", jawabku tegas, karena aku tahu sudah pasti Yogi akan mengetahui tentangku jika ke khawatirkan ini benar, mengingat bahwa beberapa rumah sakit adalah milik keluarga nya, ia bisa menemukan ku karena hal itu


"lalu bagaimana?", tanya Sindi yang sama bingungnya, "kalau begitu, kau tunggu disini! aku akan membeli test kehamilan untukmu!", ucap Sindi berlari pergi


Aku menundukkan pandangan ku dan mengelus pelan perutku yang mulai padat tak seperti biasanya, aku hanya bisa menunggu Sindi dengan cemas, berharap hal ini tidak benar ada nya.


aku melangkahkan kakiku kesana kemari dan menggigit kuku jariku dengan gemetar, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika hal ini benar, sementara Bima?


mengingat nya membuat kepalaku semakin berkecamuk ingin pecah rasanya, dia menerima kekurangan ku karena sudah tidak gadis lagi, lalu sekarang? bagaimana jika ia tahu bahwa aku mengandung bayi dari orang lain?


aku hampir Gila karena memikirkan hal ini


Bep Bep Bep, dering ponselku berbunyi menandakan ada panggilan telepon.


aku mengambil ponsel yang aku letakkan di atas meja kamar Sindi yang tak jauh dari posisi ku, aku lihat layar depan muncul nama Yogi


untuk saat ini, aku tidak ingin berbicara dengan nya, aku lempar kembali ponsel ku ke atas kasur tanpa mengangkat panggilan Yogi.


dia memaksa memanggilku berkali kali, mengganggu konsentrasiku yang sedang panik dan berfikir, tapi akhirnya dia menyerah juga dan berhenti menggangguku


selang beberapa menit ponselku berbunyi lagi, ku lihat panggilan masuk dari Bos


segera aku mengangkat nya.


"hallo bos, ada yang bisa saya bantu?", sapaku sambil menawarkan bantuan


"Bela, kau sekarang ada dimana?", tanya Bosku yang jauh di seberang


"saya sedang berada di luar kota, di kota A Bos, ada hal yang perlu saya lakukan",


"bagus kalau begitu, besok kau sekalian pergi ke kantor pusat milik Tuan Yogi untuk menandatangi berkas kerja sama", suruh Bos membuatku panik kembali,


"maaf Bos, tapi saya sudah meminta ijin sebelumnya bahwa akan libur bekerja untuk sementara waktu", ucap ku tegas menolak, "apa tidak bisa Mira saja yang datang?"


"maaf Bela, saya juga ingin nya seperti itu tetapi ini permintaan langsung dari Tuan Yogi", ucap Bos ku, dan aku mengerti bahwa pasti Yogi yang sudah mendesaknya, "saya juga tidak enak kepadamu, tapi ini adalah hal yang sangat penting demi perusahaan"


"baiklah Bos, tidak masalah, aku akan datang besok siang untuk menemui menemui pimpinan mereka langsung", ucapku lalu memutuskan sambungan telpon ku, aku membanting ponselku ke kasur kembali


mataku bergerak berputar, ke gelisahan masih menimpaku, aku diduk ditepi ranjang sambil menggigiti kuku ku hingga tumpul .


tak lama kemudian Sindi datang kembali membawa kantor kresek hitam kecil dan berisi satu set alat test kehamilan, dengan seksama aku membuka dan membaca aturan pakai lalu segera aku ke kamar mandi untuk mengikuti intruksi dari alat test kehamilan.


kini aku sudah mencelupkan alat test kehamilan ke dalam urinku sampai ke pembatas sambil berharap bahwa tidak akan muncul garis merah dua


aku memejamkan mataku dan mengambil nafas dalam dalam, kini alat test kehamilan sudah aku genggam dan belum ku lihat hasilnya, "semoga tidak, semoga tidak"


ku guncang test kehamilan yang aku guncang lalu dengan berat aku melihatnya, dan ternyata benar


muncul dua garis merah yang artinya bahwa aku positif tengah hamil.


seketika badanku lemas, dan jatuh terduduk sambil meremas rambutku tak percaya dan penuh penyesalan, apa yang harus aku lakukan?


aku menangis menatap test kehamilan yang masih aku genggam dan tak percaya, kemudian Sindi datang berlari dengan panik mengetuk pintu dikamar mandi, "Bela, kau tak apa apa?", tanya Sindi panik


aku masih sanggup menerima kenyataan dan terus menangis tak menjawab Sindi, aku kemudian mencoba menetralkan pikiranku, menenangkan perasaanku yang berkecamuk

__ADS_1


aku harus bisa mengendalikan diri


ku buka pintu kamar mandi kemudian, "Bela, kenapa kau menangis?", ucap Sindi sambil meletakkan tangannya di kedua pipiku, "bagaimana hasilnya?"


tak bisa ku jawab, aku langsung memeluk sahabatku itu lalu menangis. menumpahkan semua perasaan ku kepadanya, Sindi juga ikut bersedih karena ku.


jika orang lain, mendengar hal seperti ini maka mereka akan berbahagia, tapi tidak denganku yang tidak menginginkan nya, "aku ingin mengugurkan kandungan ku", ucapku serak, membuat Sindi kaget dan langsung melepas pelukanku


"kau gila! apa kau ingin menjadi pembunuh?", ucap Sindi kasar dan mencengkram kedua pundakku dan sedikit mengguncang nya


"tapi aku tidak ada pilihan lain", ucapku menangis sambil menggenggam kedua tangan Sindi guna untuk memohon, "tolong bantu aku"


aku menangis se jadi jadinya, aku langsung hilang ke warasan ku


"ku mohon bantu aku, aku benar benar tidak bisa membiarkan nya", ucap ku masih memohon bantuan,


Sindi kemudian memelukku, "baiklah, aku akan membantu mu", jawab Sindi akhirnya membuat ku tenang


****



****


kini hari sudah pagi dan aku bersiap siap untuk pergi menjenguk Bima sebelum pergi ke perusahaan milik Yogi guna untuk melakukan kontrak kerja sama


mataku masih saja bengkak dan ada lingkar hitam di mata ku akibat semalaman aku tidak bisa tidur terlelap.


"selamat pagi sayang", sapaku sambil mengecup kening Bima yang tengah duduk diatas bed rumah sakit, "kau sudah sarapan?


"pagi", jawabnya sambil tersenyum merekah, "sudah, bagaimana denganmu? tumben kau bangun se pagi ini?"


"ah, aku ada janji siang ini jadi aku mampir kesini terlebih dahulu", jawabku tersenyum sambil mengelus jemarinya yang sudah hangat,


"iya aku lupa memberi tahu mu, aku bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang jasa kirim ekspor impor", jawabku sambil tersenyum menatapnya yang sudah benar benar segar kembali hari ini


"Bela, duduklah", Bima menepuk bed, mengintruksi ku agar duduk di dekatnya, aku pun langsung datang di dekatnya


aku duduk di dekat nya yang masih memakai jubah pasien rumah sakit, sedangkan jemariku dan jarinya bersatu.


berada di dekatnya membuatku tenang, dan sedikit menyandarkan kepalaku yang terasa berat di bahunya yang lebar.


jemarinya yang masih menempel selang infus di punggung tangannya, bergerak mengusap anak rambutku yang menyesap di wajahku dan mengarahkan nya di belakang telinga.


"Bela", sapanya membuat ku meluruskan kepalaku, yang sebelumnya ku sandarkan di bahunya dan mentap wajahnya, tanpa permisi ia melayangkan bibirnya dan menciumku sampai bersuara


aku hanya bisa memejamkan mata menikmati dan membalasnya walau perasaanku sekarang masih hambar,


tak berlangsung lama ia kemudian melepaskan ciumannya dan menatap kedua bola mataku dari jarak dekat dan tersenyum manis, tapi, "apa kau kurang tidur semalam?", tanya Bima tiba tiba


aku mengangguk tak bisa membantah, ia hanya mengelus rambut ku kembali lalu memelukku, "jika bersamaku nanti, aku akan membuatmu nyenyak tidur dan memelukmu seperti ini sampai akhir", ucap nya seperti sedang menggodaku, aku sampai malu di buatnya


"benarkah?", dia mengangguk, "ku tagih janji mu nanti"


****


aku datang ke perusahaan besar, sangat besar milik keluarga Yogi, tak bisa digambarkan karena mempunyai banyak lantai dan juga fasilitas lengkap, lebih besar dari perusahaan cabang yang pernah aku datangi


"silahkan Nona, masuklah!", ucap wanita paruh baya seperti nya adalah orang kepercayaan keluarga Yogi, kemudian aku melangkah masuk ke ruangan kerja nya yang besar nan luas


ya, Yogi sedang duduk menunggu ku sambil memegang gelap berisi anggur di dalam nya.


"duduklah!", ucap Yogi mengarahkan ku duduk di sofa yang berada di depan nya, aku pun mengindahkan nya dan duduk dengan posisi tegap penuh was was

__ADS_1


Yogi menyeringai melihatku yang cukup gugup dan menelan ludah, langsung saja aku menyodorkan beberapa berkas, "ini surat kontrak kerjasama kita, silahkan dibaca lalu di tanda tangani", ucapku tanpa menatap wajah nya


kemudian Yogi menaruh gelas yang semula ia pegang lalu melangkah ke arahku dan membungkuk kan badan nya lalu melebarkan kedua tangannya memegang sofa yang ku duduki dan menatapku dekat, "aku akan langsung menandatangani nya"


"baiklah, terimakasih", ucapku tak mau menatap wajah nya


lalu ia melepasakan pegangannya dan berakhir duduk di sebelahku, "kapan kau balik kesini?"


"itu bukan urusanmu", jawabku ketus, Yogi langsung melebarkan senyuman nya lagi kepadaku, menatap ku dengan pesan yang tersirat tak bisa ku tebak


"mulai besok kau harus bekerja disini!", ucapnya membuatku tak mengerti


"untuk apa?", tanyaku kaget


"bukankah kita harus bekerjasama, jadi kau yang harus mendata semua barang yang perlu untuk dikirim dan juga kita terima",


"aa...apa? itu tidak ada dalam perjanjian, aku hanya bertugas untuk mengurus dokumen perijinan agar barang lolos dari pihak bea cukai", sahutku sedikit gelagapan dan mengernyitkan dahi


tapi ia malah tertawa, dan memberiku selembar kertas untuk ku baca, surat perjanjian kerjasama yang tak masuk di akal tapi bagaimana pun aku tak dapat menolak nya,


"baiklah, mana yang harus aku tanda tangani?",tanya ku ketus dan menatap nya tajam, lalu ia memberitahu ku


dia kadang baik, kadang juga menjadi menyebalkan, tak bisa ku tebak


"sayang, kenapa kau tidak mengangkat panggilan telfonku semalam?", tanya Yogi dengan suara lembut dan menatapku


"emm itu, aku sudah tidur", jawabku terlontar begitu saja


"matamu bengkak seperti habis menangis juga terdapat lingkaran hitam, itu artinya kau kurang tidur", ucapnya menohok tak terbantah, "apa kau menangisi Bima? bukankah dia sudah baik baik saja?"


ya, pasti dia juga mengetahui nya


"tidak, bukan karena dia", jawabku tegas


"lalu? apa kau merindukan ku?", pertanyaan nya menggoda, membuat wajahku memerah


"ti..tidak, siapa juga yang merindukan mu", jawabku masih ketus dan tak mau menatap mata nya


lalu ia menggerakkan jemarinya menyentuh dagu ku lalu mengecup bibirku membuat membelalak kaget, "kau bohong, kau juga merindukan ku, sayang", ucapnya tersenyum, membuat ku jengkel


tapi, lagi lagi Jesi datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, "sayang, aku membawakan mu makanan", ucap nya manja lalu duduk di samping Yogi, tapi tak ia tanggapi


keadaan ini membuatku tak enak, "aku permisi dahulu jika ada hal lain"


"baiklah, asisten ku akan membawa mu ke ruang kerjamu, kau bekerja mulai hari ini", ucap Yogi lalu aku keluar dari ruang kerja nya


entah kenapa perasaan ku begitu panas tak tahan melihat mereka berduaan dan saling bermesraan begitu, aku melangkah masuk ke dalam toilet guna untuk menetralkan pikiranku


tiba tiba ku lihat dari cermin Jesi sudah berada di belakangku bersindakap, lalu melangkah dan menjambak rambutku dari belakang hingga aku kesakitan, "Jesi, lepaskan! apa yang kau lakukan", teriakku pada Jesi tapi tak ada seorang pun yang mendengar karena toilet sudah Jesi kunci terlebih dahulu dan memastikan tak ada orang lain yang melihat kelakuannya yang kejam


ia kemudian melepas jambakan nya lalu mendorong ku kuat hingga perut ku terbentur wastafel, aku kesakitan dan memegangi perutku, menahannya agar tak ketahuan bahwa aku tengah mengandung


"sudah ku peringkat kau tidak boleh dekat dekat dengan Yogi, awas saja jika kau mengulangi nya lagi, aku akan membunuh mu!", ucapnya tegas penuh penekanan dan ancaman, dan pergi begitu saja meninggalkan ku yang tengah kesakitan


tak terasa air mataku menetes, penuh penyesalan saat aku memegang perutku dan mengusapnya, "kau tidak berdosa tetapi aku juga tak bisa mempertahan mu, maafkan aku", gumamku pada bayi di dalam rahimku


****


Cinta itu bagaikan api, apa saja yang melewatinya pasti akan terbakar. Seperti cahaya yang selalu memancarkan sinar kepada benda yang dikenainya, dan juga ibarat langit selalu menutupi apa saja yang ada di bawahnya


****


__ADS_1



__ADS_2