AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Pesta Penyambutan


__ADS_3


pekerjaanku terhitung sangat ringan, tapi harus dalam ketelitian. mengecek laporan serta perhitungan dan membuatku duduk begitu lama.


"Aduh", aku merasakan tegang dan nyeri di pinggangku.


entah kenapa sejak aku hamil, aku tidak bisa terlalu memaksakan diri dalam beraktifitas penuh, apalagi duduk dalam waktu sangat lama. tidak cukup kuat lagi bagiku.


"sayang, kau kenapa?", Yogi beranjak mendekatiku serta menghiraukan kesibukannya, "apa yang sakit?"


"ah tidak, hanya pinggangku sedikit kaku karena berlama lama duduk", jawabku sedikit kaku pasalnya aku takut sekali jika Yogi marah dan melarangku untuk bekerja lagi.


Yogi hanya memberi mimik wajah menahan kesal kepadaku yang tak patuh akan perintah nya. tanpa banyak bertanya Ia langsung menggendongku lalu melangkah membawaku keruang istirahatnya yang terdapat ranjang luas, Ia membaringkanku disana dengan penuh kehati hatian.


"miringkan badanmu", ucapnya datar sedikit menekan, membuatku tak mampu menjawab kecuali menurut saja.


tak ku duga, jemarinya menekan nekan pinggangku dengan lembut memberikan kenyamanan pada setiap tekanannya dan membuat rasa sakitku sedikit demi sedikit menghilang.


"terimakasih", ucapku lirih


"tidak usah datang ke kantor lagi!", ucapnya tegas penuh penekanan


"aku hanya tidak bisa duduk berlama lama saja kok", aku mengelak, "bukankah itu salahmu yang tidak menyediakan aku kursi lebar nan empuk untuk ku duduki dengan nyaman"


"wah sekarang kau malah menyalahkanku", ucap Yogi menyipikan mata menatapku kesal, "baiklah akan ku ganti tempat dudukmu dengan desain yang pas untukmu, tapi mulai hari ini kau tidak boleh datang ke kantor"


"hah?", aku kaget melongo, "lagi lagi kau ingin membodohiku, jika aku tidak datang kesini lagi lalu untuk apa kau mengganti tempat dudukku? huh, kau menyebalkan sekali", aku pun beranjak dari rebahanku, melepaskan jemari Yogi yang menekan pinggangku, "aku baik baik saja, aku mau kembali bekerja!"


saat aku mulai melangkah dengan sigap Yogi menarik lenganku hingga aku berakhir jatuh di pangkuannya, "sayang, kenapa kau selalu membantahku?" tanya nya lembut sembari menyingkirkan rambut yang menutup tengkuk leherku agar Ia leluasa mengecupnya.


"maaf, aku hanya bosan saja jika dirumah sendirian. aku tidak bisa jika semenit saja tidak melihatmu"


"benarkah? kau tidak lagi mencoba menggodaku bukan?"


"he he, ya intinya aku akan selalu menemanimu"


"berbalik!", perintahnya lalu menuntunku untuk duduk di pangkuannya, mengangkat rok mini ku agar bisa melebarkan kedua pahaku agar Ia berada ditengahnya. "sayang, jika kau hanya ingin menemaniku ya cukup dengan kau berada disisiku seperti sekarang"


Kini jemari Yogi mulai bergerak masuk ke sela sela bajuku, mengelus pinggang dan pungguku serta bibirnya tak berhenti mengecup leherku yang telanjang tepat di depan matanya.


"ah emmss, aku lihat kau begitu sibuk jadi..emmss biarkan aku menyibukkan diri juga, aku berjanji akan berhenti dan istirahat jika aku sudah merasa kelelahan", sahutku setengah mendesah karena Yogi tak berhenti menggrayangiku.


Kini jemarinya berganti membuka kancing bajuku satu persatu, lalu mengecup dadaku yang sudah terdapat banyak tanda akibat aksi liarnya.


"aku hanya bisa mengalah saja untuk saat ini, aku tidak ingin berdebat denganmu tapi ini juga peringatan terakhir bagimu untuk membantahku!" ucapnya sembari melumat dadaku.


"baiklah aku mengerti"


mau tak mau aku harus menurutinya, juga begitu lega karena dia masih mengizinkanku walau harus membantah setiap perkataannya.

__ADS_1


ku lihat sebagian orang berbicara layaknya seorang kekasih saling lembut nan mengasihi, berbeda dengan kita yang kadang saling angkuh tak mau mengalah bahkan berkahir pada percekcokan kecil yang membawa hubungan menjadi lebih berwarna, layaknya seorang teman, ya teman untuk mendampingi sampai tua nanti.


ku harap dia takkan pernah berubah terhadapku, aku pun demikian karena rasa cintaku sudah begitu lekat tak dapat tertahan.


bahkan jika takdir memisahkan kita suatu saat nanti, ku harap. di kehidupan kita selanjutnya nanti, aku yang akan lebih dahulu menemukannya, memeluknya serta mencintainya terlebih dahulu.


kenapa kau begitu sempurna dimataku sayang?


****



****


hari ini aku menemani Yogi datang ke pesta perayaan salah satu temannya, aku juga tak habis pikir kepada orang kaya yang selalu menghamburkan uang untuk sekedar berpesta ria.


aku memang terlahir apa adanya, tapi itu bukan berarti aku kehilangan arogansiku dan memandang rendah diriku sendiri, aku sama berharganya, apalagi dimata suamiku.


kini aku berjalan bergandeng dengan suamiku yang memakai setelan tuxedo begitu sangat rapi nan sempurna di posture wajahnya yang tegas.


banyaknya orang orang yang menghadiri bahkan tak sedikit pula yang menatapku penuh iri serta cibiran yang tergambar jelas di bibir mereka, Yogi selalu menjadi pusat perhatian semua orang, bukan hanya karena tampannya tetapi serta kuasanya.


aku sudah sedikit lebih tahu akan suamiku ini, aku beruntung mendapatkan cintanya dari ribuan wanita yang menginginkannya tetapi aku hanya ingin memiliki cinta yang sederhana, yang hanya aku dapat memilikinya. tak bisa seorang pun.


"hei kawan, sudah lama tidak berjumpa!"


mereka saling berpelukan sebagai kawan dan saling melempar tepukan pelan di punggung masing masing.


"hai nama saya Bela", kita saling bersalaman


"saya Rendy, teman semasa kecil Yogi", jawabnya dengan pandangan menelisik kepadaku hingga membuatku begitu risih


mereka pun saling meng akrabkan diri karena sudah lama tidak bertemu bahkan banyak para tamu, tak lain teman Yogi juga berkumpul untuk mengobrol bersama mengingat masalalu yang membuat mereka mengocok perut.


"sayang, aku sebaiknya duduk disana ya!" aku menunjuk sebuah sofa tunggal yang kosong si sebuah ruangan sebelah yang sepi, "kau bersenang senang dulu dengan temanmu"


"tapi benar tak apa kau ku tinggal?", tanya Yogi tak yakin


aku mengangguk, "tidak apa apa sayang, lagian aku tidak kemana kemana"


"ah baiklah, aku hanya akan mengobrol sebentar saja!"


setelah mendapat ijin aku memesan sebuah jus jeruk lalu duduk santai di sofa tunggal nan luas.


"cih, kau datang juga rupanya!" ucap wanita yang tak asing telingaku yang tak lain adalah Jean.


"kau mau apa?", tanyaku ketus tanpa perlu basa basi


"hei, karena kau berhasil merebut Yogi jadi kau menjadi angkuh ya sekarang", Jean memaksa menarik lenganku tapi ku tepis dengan kasar, "tinggalkan Yogi!" bentak Jean

__ADS_1


"ya Tuhan, kau tak tahu malu ya menyuruh aku sebagai istrinya untuk pergi dari suamiku!", sahutku menyeringai, "seharusnya kau yang pergi jauh jauh dari hubungan kami, kau sendiri yang menyerah dan meninggalkan Yogi, tapi sekarang kau tiba tiba datang lalu menyuruhku untuk meninggalkannya. kau masih waras?"


Jean menggertakkan giginya, mengepalkan tangannya menahan segala emosi kepadaku. Ia sadar bahwa kedatanganku disini menjadi pusat perhatian, jadi dia tidak mungkin teledor dengan mengakui kekesalannya kepadaku.


Sudah lama dia menahan nafas tersenggalnya menatapku dengan melotot, Jean mendekatiku dan berbisik. "kau lihat saja apa yang akan ku lakukan terhadapmu!" ucapnya membuatku begidik ngeri.


aku hanya menanggapinya dengan memasang raut acuh tak acuh padanya.


Jean akhirnya pergi meninggalkan ku yang tengah bersantai tengah meneguk jus jeruk yang menggoda mataku,


"hai Nona Bela", tiba tiba suara pria yang baru ku kenal datang menghampiriku


"Tuan Rendy", sahutku sedikit tertegun, "kemana Yogi?"


"ah dia sedang asik dengan teman lainnya", Rendy tanpa sungkan duduk disebelahku dengan begitu rapat hingga membuatku canggung, "dia menyuruhku untuk menemani istrinya yang sedang kesepian"


hah, maksud dia apa sih?


"maaf Tuan, tapi saya ingin sendiri!" jawabku! sambil menggeser tubuhku yang sudah terpojok.


"hei jalang, kenapa kau sok jual mahal seperti ini?", Ia berbicara sambil memelototiku, "bukankah kau sendiri yang mengatakan kau menyukaiku?"


"apa maksud Tuan?", aku tak mengerti


aku ingin mencoba keluar tapi entah siapa menutup pintu dari luar membuatku tak dapat keluar,


Rendy kemudian langsung menggenggam kedua lenganku yang rapuh dengan paksa, mendorong tubuhku hingga terhimpit di papan sofa.


aku mencoba meronta meminta pertolongan tapi karena deguman musik sangat keras, serta pintu ruangan tertutup. membuat teriakanku percuma.


dengan kasar pria tersebut mengkoyak gaunku, membuatku merasa sangat terhina.


aku masih meronta mendorong tubuhnya dengan keras.


PLAK!!


Dia menamparku dengan kasar, habis sudah air mataku jatuh menetes tak tertahan serta rasa ngeri yang teramat hingga aku membulatkan kedua bola mataku karena begitu takut akan apa yang akan terjadi.


Yogi, aku selamatkan aku


****


kata bijak haru ini adalah :


BACA IM NOT A GAY, KOMEDI ROMANCE.


hehehe


****

__ADS_1



__ADS_2