
ini seperti mimpi, bagaimana dia selama ini berpura pura bahkan memakai topeng agar sifat asli nya tak terlihat, dia sungguh wanita yang mengerikan.
"Nona, kau tidak apa apa?", suara seorang pria sedang membantu ku untuk mendiri, dan ketika aku menoleh dan mentap wajahnya
"kau", ucap ku tak percaya bahwa kita akan bertemu kembali, "pria cantik?", aku keceplosan
pria itu cantik kemudian tersenyum terkekeh karena aku tak sengaja memanggilnya dengan julukan sesuai dengan wajah nya, "maaf", ucapku menyesal, aku merasa tak enak karenanya
"tidak apa apa Nona, banyak yang memanggilku seperti itu karena parasku ini", ucapnya masih tertawa dan menunjuk wajahnya sendiri, "ohya, Nona sedang apa disini?", tanya nya kemudian
"ah, aku sedang ada urusan disini, tapi sudah selesai", jawabku canggung, lalu aku mengingat sesuatu, "mantelmu, bagaimana aku bisa mengembalikannya padamu?"
"besok malam kita bertemu di caffe dekat toko saat kita berteduh, bagaimana?", tanya pria cantik itu memberi saran
aku memikirkan dan meng iya kan, karena lokasi caffe tersebut dekat sekali dengan rumah kontrakan ku dan juga aku harus membalas kebaikan nya, "baiklah", ucapku menyanggupi
"Baiklah Nona, sampai ketemu besok malam", ucapnya lalu pergi,
aku juga lupa belum menanyakan namanya, tapi besok malam juga bakal bertemu, kita akan berkenalan disana, tapi ku lihat dari penampilannya yang lebih seperti seorang idol, seperti nya dia bukan salah satu staff di kantor ini. ah terlalu tampan
****
****
arrrgggghhhh perutku begitu sakit, untung hari ini aku libur.
aku mengelus perutku yang mulai kaku, "apa ini karena aku terjatuh kemarin? tapi itu kan hanya kejadian kecil", aku bergumam kesal mengingat kejadian wanita bertopeng itu kasar terhadapku
aku membuka bajuku dan bercermin, melihat seksama tubuhku yang makin berkembang, "wahh payudaraku makin padat saja", ucapku sambil memegang buah dadaku yang makin besar
tok tok tok, suara ketukan pintu
kemudian lekas aku memakai pakaianku kembali
tanpa pikir panjang aku membuka nya, menerima tamu yang datang berkunjung kerumahku, "Yogi, untuk apa kau kesini?", tanyaku ketus
"apa aku boleh masuk?", injin nya tanpa menjawab pertanyaan ku
dengan sigap aku langsung melebarkan kedua lenganku agar dia tidak bisa menerobos masuk, "tidak boleh", ucapku ketus, tapi dia malah mengambil kesempatan untuk memelukku dan mencium paksa bibirku sehingga langkahku langsung mundur
"hei, kau apaan sih?", aku marah tak percaya, dia malah menertawakan ku
"sayang, bukankah kamu berniat untuk ingin aku peluk?", sahutnya mengejek sikapku yang menghadang nya dengan melebarkan kedua lenganku,
"bukan seperti itu, kau sungguh..", ucapku berhenti mengingat tak ada gunanya berdebat, "ah sudahlah, untuk apa kau kesini?", tanyaku tanpa basa basi
"aku ingin mengajak mu keluar nanti malam?",
apa dia gila?
"aku tidak mau, aku sudah ada janji dengan seseorang", jawabku dingin
dia mendekatkan diri kepadaku yang sedang berpaling muka, "siapa?", tanya nya tajam
"kau tidak perlu tahu", ucap ku masih ketus kepadanya
"aku berniat mengenalkanmu pada seseorang, tapi jika kau tak bisa, mungkin kita bisa bertemu lain kali", sahutnya tenang dan lembut, kemudian duduk dan mengambil novel yang pernah kita baca, "apa kau akan datang ke acara pertunangan Bima?",
Degg!! jangtungku seperti terhantam batu dengan sangat keras
aku bergegas mengambil air dengan tangan bergetar dan tergesa gesa, kemudian meneguknya dengan kasar guna menetralkan perasaanku yang mulai kacau
setelah agak tenang aku mulai berbicara, "tidak, aku tidak ingin menemui nya", jawabku tegas
__ADS_1
Yogi tersenyum menyeringai dan menatapku tajam, melihat diriku yang mulai gelisah, "bagaimana bisa seorang sahabat yang tumbuh bersama sejak kecil tidak mau hadir ke pesta paling penting dari teman nya", ucapnya penuh provokasi dan licik
membuatku marah tapi aku tak akan kalah oleh trik nya, "ya kau benar, aku bahkan tidak akan datang ke pesta pernikahan mantan kekasihku", ucapku kesal membalik memprovokasi nya, memberi dia jawaban menohok yang akan membuatnya marah
ya benar saja dia menggertakkan giginya, menahan amarah yang akan meledak. dia bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan cepat mendekatiku yang duduk di sofa dan membungkukkan tubuhnya sehingga membuatku mendongak dan menatap kesedihan yang terlihat jelas dimatanya
"kau benar, kau tidak akan datang ke pernikahanku dengan Jesi tetapi itu pernikahanku dengan dirimu sendiri", ucapnya lembut tepat di depanku, mendekatkan hidung miliknya dekat dengan hidungku dan hampir bersinggungan.
tubuhku menegang dan gugup, jantungku berdetak kencang tidak karuan karena kata kata nya yang membuat ku bimbang
"apa kau sudah makan siang?", tanya nya kemudian kembali tenang seperti tak ada percekcokan
"sudah", jawabku berbohong, entah apa karena ekspresi wajahku yang mudah ditebak atau karena dia yang lapar,
dia pergi ke arah dapur tanpa ku suruh, langsung mengambil beberapa bahan yang bisa dimasak, "kau mau masak apa?", tanyaku penasaran mendekatinya
"aku ingin bikin siomay", ucapnya sambil membuat adonan dari tepung, san dengan ahli dia mengaduk dan membentuk
"kau bisa membuatnya?", tanyaku tak percaya, wahh luar biasa, "pasti akan sangat enak"
"mendiang mamaku suka membuatkan ku siomay jadi aku belajar untuk membuatnya sendiri, apa kau juga ingin membuatnya, sayang?", tanya lalu menarik tubuhku agar berada didepannya, membentuk adonan siomay dan memotongnya sesuai bentuk
"mama mu sudah meninggal?", ucapku menyesal, dia mungkin akan bersedih karena pertanyaanku yang bisa membuatnya mengingat mamanya yang telah tiada, "maaf, aku tidak tahu", hanya itu yang bisa aku ucap
dia hanya tersenyum tenang dan mengecup pipiku sampai membuatku kaget, "tidak apa apa, kau tidak salah"
****
****
kemudian siomay isi daging dan beberapa sayuran sudah tersaji, entah sudah berapa banyak aku menghabiskan nya.
sangat enak, karena aku menginginkan makanan ini jauh hari tapi tidak tahu harus memesannya dimana perihal aku tidak tahu banyak tentang daerah ini.
aku mengangguk, "iya, kau tidak makan?"
"tidak, aku sudah kenyang", sahutnya lembut dan tenang, "jangan telat untuk makan apalagi sampai menahan lapar, tubuhmu sangat rapuh!", ucapnya tak bisa lagi aku bantah
"iya aku akan mengingatnya", jawabku enteng
"baguslah", dia beranjak dari duduknya lalu mendekati ku, "kalau begitu aku pamit dulu, sayang, aku harus bersiap datang sendiri karena kau tidak dapat menemaniku nanti malam", ucapnya lalu mengelus rambutku dan mengecup keningku dengan tiba tiba, membuatku membelalak
kemudian dia langsung pergi dengan memberi senyum kepadaku
****
hari sudah memasuki waktu malam, aku datang ke caffe dekat rumahku karena untuk memenuhi janji
"hai Nona", sapa pria cantik duduk menunggu ku
"hai, ini mantelmu aku kembalikan"ucap ku langsung memberikan mantelnya yang sudah aku cuci bersih
"mari kita makan malam dulu, Nona mau pesan apa?", tanya nya
"ah, aku tidak makan", aku kenyang karena memakan siomay terlalu banyak, "aku memesan latte saja!"
kemudian dia memesankan nya dan mengembalikan daftar menu kepada waitress di caffe
"oh ya Nona, maaf aku sebelumnya tidak memberitahu mu? aku mengajak kakak ku untuk bertemu, katanya dia akan mengenalkan kekasihnya kepadaku tapi kekasihnya tidak bisa datang", ucapnya lembut bersedih, membuatku tak tega, "dia sekarang dijalan menuju kemari, apa Nona tak masalah?"
"iya tidak masalah", jawabku tersenyum pasi
ya mau gimana lagi, aku tidak mungkin menolak nya
"ah itu dia kakak ku", ucap pria cantik sambil melambaikan tangannya, "kakak, aku disini!", sapa nya memberi kode
__ADS_1
ya dengan refleks aku penasaran dan membalikkan pandanganku ke arah kakak nya yang berjalan menuju kemari
aku membelalak kaget ketika orang yang datang itu adalah, "Yogi?"
"sayang, kenapa kau bisa disini?" tanya Yogi juga tak percaya, "kenapa kau bisa bersama dengan adikku?"
hah, adik? mereka tidak mirip
"kalian berdua sudah saling kenal?", tanya Pria cantik itu juga tidak menduga
kemudian Yogi duduk disebelahku dan memiringkan senyuman nya, "dia kekasih ku yang ingin ku kenalkan kepadamu", ucapnya membuat pria cantik kaget tak percaya
"Nona manis ini?", tanya nya gugup lalu memandangiku
tentu aku membantahnya, "tidak tidak, kau salah paham, kita tidak ada hubungan apa apa", ucapku meyakinkan pria cantik didepan ku
membuat Yogi kesal dan marah karena tidak mengindahkan pengakuan nya, "sayang, kau itu kekasihku", ucapnya tegas
pria cantik terkekeh menertawakan nya, "kakak, jangan memaksa nya!", ucapnya sambil tertawa
"jelaskan kepadaku bagaimana kalian saling kenal?", tanya nya penuh introgasi seakan ingin membunuh pria yang didepannya, tidak peduli hubungan mereka berdua
"ah, itu kita kebetulan bertemu tidak sengaja di seberang saat hujan", jawab pria cantik mencoba menjelaskan, "Nona hanya ingin mengembalikan mantel ini kepadaku"
"ahh begitu, baguslah jika kalian tidak ada hubungan apapun", Yogi akhirnya melemaskan dadanya yang semula menegang karena marah.
"tunggu tunggu", kataku kemudian karena bingung, "kalian berdua bersaudara?" tanyaku penasaran
"iya, dia anak dari ayahku, bisa dibilang dia adalah adik tiriku", jawab Yogi dingin masih dengan sikap arogan nya, kemudian di indahkan oleh pria cantik
"ah begitu", ucapku masam
"oh ya Nona, kita belum sempat berkenalan", dia mengulurkan telapak tangannya, "aku Dio"
tapi uluran tangan itu malah disambut oleh Yogi, "dia Bela", jawabnya tak ingin aku bersentuhan dengan pria lain walaupun adiknya sendiri
ya disitulah kami saling mengobrol dan berbicara satu sama lain, Dio adalah adik yang periang, dan dia memang seorang Idol. gak bisa diragukan lagi
****
"Sayang, tunggu disini sebentar!", ucap Yogi menahan langkahku dan pergi
entah dia mau pergi kemana, aku tidak tahu tapi selang berapa lama dia kembali dan mendekati ku
ia memberiku sebuah bunga mawar merah indah nan harum yang ia sembunyikan dibalik badan nya lalu duduk bertumpu dengan satu kaki kemudian mendongakkan kepalanya di hadapan ku, "maukah kau menikah dengan ku?"
dia begitu tiba tiba, dan aku tidak siap. aku memundurkan langkah ku yang berat
dengan sigap Yogi menahanku, menempatkan jemarinya di sela sela jemari ku hingga menempel lalu memberikan ku ciuman, ciuman yang lembut serta hangat
entah apa yang aku rasa, tapi kali ini sikapnya menyentuh hatiku yang semula luntur dan membuatku membalas ciuman nya yang lembut
"tidak apa jika kau tidak menjawab sekarang, aku akan menunggumu untuk menghentikan ku pergi dihari pernikahanku", ucapnya lembut ketika melepaskan ciuman lembutnya
apa aku sudah jatuh hati padamu?
****
Jangan hanya lihat cintaku dari mataku, tapi rasakan dari hatiku yang paling dalam ini. Letakkan tanganmu di dadaku, maka kamu akan merasakannya
****
__ADS_1