
aku berbaring diatas tempat tidur luas nan empuk milik Yogi, begitu nyaman.
aku tak sabar ingin segera menyantap kue yang sudah terngiang di ingatan serta lidahku, "kenapa dia belum juga kembali? apa sudah tutup ya?", aku berpikir sambil mengelus perutku, "seharusnya aku tidak membuatnya kerepotan seperti ini"
aku melirik jam dinding yang terletak di dinding kamar, "hah, sudah se jam dia belum juga muncul! apa dia pergi membeli sampai ke luar negeri?", aku pun bergumam kesal pikiran kemana mana
tak lama kemudian Yogi akhirnya datang,
"sayang, aku datang!", ucapnya terengah engah karena berlari, "ini!" sambil menyodorkan kue persis yang aku inginkan
bukannya berterimakasih aku malah menanyainya ketus, "kenapa lama sekali sih?"
"hmm tadi toko nya sudah tutup", jawabnya mengerut kening, "aku memohon mohon merendahkan diriku agar bisa membeli kue yang diinginkan anakku"
ppffff kali ini aku terkekeh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara dia membujuk pemilik toko agar bisa luluh dan terbangun ditengah malam hanya untuk membuka toko kue nya kembali.
dia mengerut kening, cemberut melihatku yang menyebalkan
"sudah puas menertawakan aku? hayo kita duduk dan makan kue nya!"
akupun duduk sambil menyantap kue bersama, tersenyum melihat ketulusannya.
dia seperti suami siaga (siap antar jaga), sekelibat pikiran itu menggelitik pikiranku hingga aku tertawa puas, lagi lagi Yogi mengerutkan keningnya melirikku aneh.
"kau mau?", tawarku memberikan potongan kue padanya,
dengan enggan dia membuka mulutnya kemudian melahapnya, dia tidak suka kue tapi mau menuruti permintaan bahkan hanya tawaranku, aku lebih suka jika menindasnya, pasti sangat menyenangkan haha
****
"kemari!", Yogi menepuk sisi kosong disebelahnya, akupun datang naik keatas ranjang bersamanya
kita didalam satu selimut bersama, dia memelukku hangat.
jemarinya membelai rambutku dan mengecup pipiku, "sayang", tanya nya lembut
"iya", jawabku dengan mata terpejam
"aku masih tidak percaya bahwa aku bisa memelukmu seperti sekarang", ucapnya sambil mempererat pelukannya, "aku bahagia"
"benarkah?", tanyaku tersenyum malu mendengarnya, "aku juga, aku kira kau akan meninggalkan ku dan menikah dengan Jesi"
"huss", nada lembut, "jangan membicarakan hal itu lagi, bersiaplah untuk besok aku akan membawamu kepada keluargaku!"
Degg!! jantungku berdetak lebih kencang
"kau gugup?", tebaknya seperti mendengar detak jantungku yang cepat, "hanya bertemu dengan Ayahku dan Ibu tiriku, Dio pun sudah mengenalmu"
mendengarnya sedikit lega, seperti halnya diriku yang memiliki Ibu tiri tapi perbedaannya, Diki bukanlah anak kandung dari Ayahku.
"aku hanya sedang memikirkannya!", sahutku lirih, "tidurlah, kau mungkin lelah!"
ia kemudian memejamkam matanya, Yogi terlihat sangat lelah, dalam tidurnya ia seperti wajah lelaki polos tanpa dosa, begitu tampan dan ku ingin sekali mengecup bibirnya
ku sentuhkan jemariku di pipinya guna mengetahui ia sudah terlelap dalam tidurnya atau tidak, nafasnya pun teratur. dia sudah tertidur
aku membelai wajahnya yang tampan, ingin mengungkapkan kata kata yang aku pun malu untuk mengakuinya secara langsung, "sayang, maafkan selama ini aku selalu bersikap angkuh kepadamu dan terimakasih untuk tadi, aku merepotkanmu"
akupun bergerak mengecup bibirnya yang sedari tadi ingin ku cium, aku ingin beranjak tapi tiba tiba jemarinya menekan tengkuk leherku hingga bibirku masih menempel lalu menggerakkan bibirnya untuk melumatku lagi,
"hei, kau apa apaan", ucapku kesal
dia pura pura tidur
"haha sayang, kau ternyata bisa bersikap lembut juga kepadaku. aku makin cinta padamu", ucapnya tersenyum tengil
__ADS_1
"idihhh, sudah ah aku mau tidur!", aku pun membalikkan badan memunggungi nya dan menutup tubuh dan wajahku dengan selimut.
"sayang, kau marah?", tanya nya merengek seperti anak kecil memegang lenganku lalu mengguncangnya,
akupun masih terdiam menahan kesal serta malu didalam selimut
"sayang, jawab aku!", ia masih merengek
"emm", jawabku singkat
"apa? kau berkata apa?"
huh, menyebalkan sekali
akupun membalikkan tubuhku, memeluknya kemudian tenggelam didada nya yang bidang, "sudah puas?"
Yogi tersenyum senang padaku lalu balik memelukku erat, kami pun tidur dalam kehangatan bersama hingga pagi tiba.
****
dalam tidurku, aku merasakan jemari sedang menari di pipi ku dan jelas saja saat aku mulai membuka mata, Yogi sudah bangun dan menatapku sambil memainkan jemarinya mencubit cubit pipiku
setiap bangun tidur tubuhku terasa tegang dan lelah, mungkin efek karena kehamilan.
akupun menggeliat merengangkan tubuhku, tanpa peduli jika tanganku terkena ke wajah Yogi
"arrrggghh, sayang, aku di dekatmu!", ucapnya sambil mengelus pipinya yang terpukul
"aku tidak sengaja", ucapku enteng
ia pun mengerutkan keningnya karena rasa tak peduliku, aku menggulingkan tubuhku dan beranjak dari tempat tidur tapi ia menahan langkahku hingga aku berakhir duduk ditepi ranjang.
Yogi melingkarkan kakinya di pinggangku, mengecup lekukan leherku hingga terasa geli dan mengerang.
"ini hukumanmu yang pura pura tak peduli padaku", Ia pun langsung menggelitik ku menggunakan jemarinya hingga aku tertawa menahan geli yang teramat.
"ampun haha, ampun", aku pun ingin lari tapi ia menahanku dan terus menggelitik ku hingga aku terengah engah, "geli hahaha, hentikan tolong!"
aku mengangguk, sangat menyerah. "iya, aku berjanji"
akhirnya dia melepas pelukannya dengan ekspresi puas, aku berdiri menoleh kearahnya yang sudah dalam keadaan rapi. "kau mau bekerja?", tanyaku cemberut
Yogi mendekatkan diri dan melingkarkan tangannya di pinggangku, "aku hanya pergi sebentar untuk menemui klient"
"tunggu aku, aku juga akan berangkat kerja!"
"tidak, kau tidak perlu bekerja lagi!", tegas Yogi sambil mengelus pipiku, "kau sedang hamil, tidak baik jika bekerja, apa lagi sampai mengganggu kesehatan mu dan juga bayi kita"
"tidak, aku bosan. aku ingin bekerja!"
"sayang, jangan membantah! kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik",
huh, dia tidak mau menurutiku, kalau begitu tidak ada pilihan lain kecuali aku keluarkan jurusku.
aku merengek dan menangis, walaupun ini melukai harga diriku tapi ini begitu darurat
"sayang, jangan menangis! baiklah, kau boleh ikut denganku tapi kau hanya boleh menemaniku"
"tidak, aku mau bekerja!", sahutku masih mengeyel
Yogi pun mulai frustasi dan *** rambutnya untuk berfikir, "baiklah, kau akan tetap bekerja tetapi ruangan mu pindah bersamaan dengan ruanganku, kau tak boleh menolaknya! kalau tidak, aku tidak menyetujui apapun"
"hmm baiklah, aku mau", aku senang sekali, lalu ku kecup pipinya untuk rasa terimakasih lalu bergegas untuk membersihkan diri.
****
__ADS_1
****
kini aku pun tiba didalam kantor, banyak mata yang melirikku dengan tatapan mencemooh.
sengaja aku minta di turun kan di pinggir jalan agar yang lain tak curiga bahwa aku datang bersama Yogi, Bos perusahaanku.
aku malu, tapi juga tak peduli.
"Dina", aku memanggil Dina yang tak jauh dari pandanganku
ia pun menoleh, "Bela, bagaimana keadaanmu?", tanya Dina sumringah sambil melebarkan matanya
"aku baik baik saja, yukk kita ngobrol di cafe perusahaan!"
kita pun akhirnya duduk berdua, saling bercerita. karena dia penasaran, aku pun mulai bercerita dari sejak awal aku mengenal Yogi dan Bima. untunglah dia bisa memahamiku.
tapi hanya ada satu tanggapan darinya yang tak dapat ku tebak, "aku punya kesempatan untuk deketin Bima dong!"
dia benar benar terlalu jujur dan serampangan, tapi aku menyukai kejujurannya.
seandainya aku seberani dia, mungkin aku tidak akan menyakiti hati Bima. aku iri
****
kini seperti biasanya aku memeriksa beberapa laporan pengiriman barang seperti invoice serta packing list agar benar benar akurat dan tak terjadi kecurangan lagi yang dapat merugikan perusahaan.
"sayang, kau sepertinya sangat sibuk! apa perlu bantuanku?" tanya Yogi sambil menopang dagunya didepan ku
"tidak, aku hanya perlu kau menaikkan gajiku!", sahutku masih fokus pada layar komputer didepanku
ia mengernyitkan dahinya, "sebentar lagi kita akan segera menikah, kau akan menjadi Nyonya disini jadi.."
"tidak, aku akan tetap bekerja, aku menyukai pekerjaanku"
Yogi menggertakkan giginya, lalu mendekatiku, "baiklah, kau akan tetap bekerja sampai hari pernikahan kita saja!"
aku ingin memprotes nya tapi dia tanpa permisi langsung membungkam mulutku dengan melumat paksa bibirku,
akupun membalasnya spontan, dan ikut tenggelam didalamnya. lalu aku melingkarkan kedua lenganku dilehernya.
Yogi langsung mengangkat tubuhku hingga ku lingkarkan kakiku dipinggang nya, ia melangkah pada sebuah sofa panjang luas tanpa melepaskan ciuman panas kami.
ia membaringkan ku, mengecup sisi telingaku hingga geli kemudian beralih ke arah leherku, membuatku mengerang kenikmatan.
kemesraan itu tak berlangsung lama setelah aku mendengar suara ponselku berbunyi, kita pun terhenti. segera aku raih ponsel yang aku letakkan diatas meja,
membelalak melihat nama tampilan di layar kaca, seakan tak percaya karena mengingat bahwa sudah berapa lama ia tidak menghubungiku.
"hallo ma", jawabku sembari bertanya
"Bela", jawab ibu tiriku dengan serak bergetar, ia menangis semakin membuatku panik.
"ada apa ma? apa terjadi sesuatu?", tanyaku panik, entah pikiranku sudah sampai kemana mana
"ayahmu Bela", suaranya tersekat karena isakan tangis, "ayahmu meninggal"
Dorr!! seperti pistol, membidik tepat dijantungku, perih tak terkira.
aku kaget membelalak tak percaya mendengar kabar dari Ibu Tiriku hingga ponsel yang semula ku genggam terjatuh ke lantai.
tubuhku langsung lemas dan ambruk, hampir saja aku tergeletak tapi untunglah dengan sigap Yogi menangkap tubuhku yang lunglai.
"sayang", suara Yogi samar samar saat mendekapku sebelum aku kehilangan kesadaran, Gelap
****
__ADS_1
****