
Hari ini tubuh ku terasa segar kembali, kesehatan ku pun sangat baik sekali, tetapi kali ini aku begitu tegang dan gugup.
tanganku gemetar, mengingat penolakan dari mama Bima waktu lalu, dan kali ini apakah bernasib sama atau tak jauh beda?
untung saja kemudian sebuah jemari lembut menyatu di dalam jemariku tanpa ku minta, senyuman lembut penuh ke yakinan menembus di jantungku, begitu nyaman melihatnya tersenyum.
ku tatap wajahnya lagi lebih dalam, menggandeng tanganku lalu berjalan beriringan, dan kini aku kuatkan hati penuh tekad.
aku hanya wanita biasa bahkan seorang anak yatim piatu tetapi kali ini aku takkan menyerah pada cinta yang penuh harap padaku, bagaimana mungkin aku memilih kalah dalam berperang jika tanpa melihat senyumnya saja sehari rasanya aku ingin mati?
ya, aku benar benar merasakannya kali ini. aku telah jatuh cinta berkali kali kepadamu.
saat kau pergi, baru aku menyadari bahwa kau berarti tapi dengan semua itu, aku lebih tahu bahwa cinta ku padamu tidak mudah dan penuh perjuangan serta pengorbanan, jadi, jika hanya karena sebuah restu, itu takkan bisa mampu menggoyahkan ku kali ini.
"sayang, apa kau gugup?"
aku menggelengkan kepalaku, "tidak, mari kita menyapa calon mertuaku", ucapku penuh yakin yang pasti mengundang senyum sumringah dari Yogi.
kini aku memasuki ruang keluarga, tepat disana Ayah dan Mama Yogi sedang duduk menunggu kedatangan kami, karena sebelumnya sekretaris pribadi Yogi sudah memberitahu mereka terlebih dahulu sehingga mereka sudah mempersiapkan diri untuk menyambutku.
aku terkagum dengan kecantikan Ibu tiri Yogi, dia benar benar cantik, Dio persis seperti dirinya.
"selamat siang Ayah, Mama", ucapku memberi salam tentu dengan senyum termanis
seharusnya aku memanggilnya begitu kan? mengingat bahwa aku akan segera menjadi menantunya.
"duduklah!", ucap Ayah Yogi tanpa membalas sapaan ku.
kami pun segera mengindahkan nya dan duduk didepan tepat berhadapan kedua orang tua Yogi.
"Ayah, ini adalah Bela wanita yang akan aku nikahi"
"apa kau bilang? lalu bagaimana dengan pernikahanmu dengan Jesi?", tanya Ayah Yogi dengan marah, "seharusnya kau mempertimbangkan lagi keputusanmu karena Ayah sudah mengetahui latar belakang gadis ini, tidak pantas sekali dengan keluarga kita",
"aku sudah mengurusnya, lagian aku kesini bukan sedang meminta ijin dari Ayah tapi hanya sekedar ingin memberi tahu saja", sahutnya acuh lalu menarik tanganku tiba tiba hingga aku berdiri mengikutinya, "kami pamit dulu!"
aku tak menyangka bahwa Yogi tak perlu banyak berdebat, langsung memutuskannya begitu saja.
akupun menunduk memberi hormat, ingin memberi salam tetapi Yogi sudah buru buru menarikku dan melangkah pergi meninggalkan Ayahnya yang tengah marah dan memanggil namanya dengan sumpah serapah,
berbeda dengan Ayahnya, Mama Yogi atau Ibu tiri nya bersikap lebih lembut dan mencoba menenagkan emosi suaminya yang tersulut walau sekilas saat kepergianku, ku lihat ia sempat menyunggingkan bibirnya padaku dengan tatapan sinis sekilas, dia mengerikan
segera kita memasuki mobil yang dimana pintunya sudah dibuka dan dipersilahakan oleh supir sekaligus sekretaris pribadi Yogi, "sayang", ucapnya sembari bertanya
"iya, kenapa?"
"maaf untuk tadi, kau jangan marah ya?", Ia sambil menenggelamkan jemarinya di jemariku
aku menggelengkan kepala, "ah tidak kok, tapi begitu tiba tiba aku belum sempat mengatakan apa apa pada orang tua mu"
lalu Yogi tersenyum mendengar ucapanku, mengusap pelan rambutku lalu mengecup keningku sekilas, "dengar ya, hubunganku dengan Ayah memang tidak baik tapi dia menyayangiku dan aku tahu itu"
"lalu bagaimana hubunganmu dengan Mama mu?", tanyaku sambil mengingat kembali tatapan seram dari wanita itu
"ah, wanita itu. kau tidak perlu mempedulikan nya"
Nggg apa maksudnya? aku tidak mengerti
__ADS_1
aku sedikit menggaruk tengkuk leherku, masih tidak dapat menelaah apa yang coba Yogi jelaskan kepadaku, dan itu tertebak
"dia tidak menyukai ku", ucap Yogi memberikan jawaban atas pemikiranku,
pantas saja pikirku
kemudian kita berhenti di sebuah boutique khusus menyediakan baju pengantin yang di rancang oleh designer ternama,
aku pun terpana saat memasuki ruang yang banyak terdapat gaun putih mewah dikenakan oleh manekin manekin menjulang.
kini aku mencoba memakai gaun yang sudah ku pilih, dress putih sederhana namun mewah yang sangat pas dengan tubuh mungilku
sedangkan Yogi juga mencoba setelah jas hitam resmi yang memang sudah dirancang untuk ia kenakan,
kita pun akhirnya saling pandang dan berdecak kagum, calon suamiku sangat tampan.
kata kata itu terlintas di pikiranku dan itu membuatku geli dan senyum sendiri, begitupun dengannya yang terpesona dengan ku. kemudian kita akhiri dengan bergandeng tangan serta foto bersama.
setelah itu Yogi menganjakku datang ke toko perhiasan, "untuk apa kita datang kemari?", tanyaku tak mengerti
"bukankah kita akan menikah, jadi kita memerlukan sepasang cincin pernikahan untuk mengikat"
aku menggelengkan kepala, Yogipun mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"kenapa sayang, kau tidak mau?"
"bukan, tapi kita sudah memilikinya bukan?", aku berbicara tentang cincin pasangan yang pernah dia berikan kepadaku
"tapi, cincin itu begitu sederhana juga tidak ada sebuah berlian di dalamnya"
"tapi ada sebuah ketulusan didalamnya", sahutku membuatnya tersenyum dan tak bisa menolak permintaanku, tapi aku ragu "cincin itu masih bersama mu kan? tidak kau buang"
"masih ku simpan, hayo kita pulang!", Yogi pun tersenyum semeringah kepadaku
tak hentinya di dalam mobil dia mengelus bahkan menciumi pipiku berkali kali tanpa henti, hingga membuatku begitu malu di buatnya.
"sayang", ucap Yogi sembari bertanya
"iya, ada apa?", jawabku serak yang tengah berada di dalam pelukannya
"aku penasaran dan ingin bertanya sesuatu padamu",
aku mengedipkan mataku, mendongak padanya yang sedang menatap lurus, "soal apa?"
"hmm kenapa dulu kau mau bersamaku?"
Deg! aku pun langsung ciut, tidak mungkin aku mengatakannya
"itu kan sudah menjadi masalalu", sahutku kemudian merapatkan posisiku lagi di dadanya yang bidang
"ya sudah, jika kau tidak ingin mengatakannya tidak apa apa",
aku tahu dari cara dia menghembuskan nafas panjang, dia pasti kecewa dengan jawabanku.
aku tak ingin mengecewakannya jadi aku harus berterus terang padanya,
"hmm itu.., waktu itu aku sedang cemburu karena orang yang aku suka dekat dengan wanita lain, lalu kau datang menawarkan diri padaku", ucapku gelagapan menahan gugup berhati hati agar tak menyakitinya, "tapi aku sudah mulai menyukaimu", ucapku meyakinkan
__ADS_1
"aku tidak marah sayang, jujurlah!"
ah dia tahu
"ya begitu saja, kenapa kau penasaran?"
tanpa dijawab, dia malah balik bertanya padaku, "apa aku adalah kesalahan untukmu?"
"jujur ya, sebenarnya aku sempat berfikir seperti itu, tetapi tidak sekarang!", aku pun beranjak mencoba mensejajarkan tubuhku agar dapat menatapnya lebih dalam, "maafkan dulu aku sempat mengabaikanmu dan meninggalkanmu?"
"seharusnya aku lah yang meminta maaf, dan terimakasih kau masih mau menerimaku kembali", Yogi pun lebih mendekatkan diri padaku lalu mengecup keningku, menempelkannya begitu lama, "kita mulai kehidupan baru, lupakan masalalu dan hiduplah bersamaku hingga kita tua bersama"
"ya kau benar, mari kita hidup hingga tua bersama", kita pun saling memeluk dalam kehangatan walau jantung sudah terasa berdegup kencang.
dulu kau berusaha merelakanku karena mencintaiku. Tapi karena aku mencintaimu, maka aku ingin tetap mendampingimu, selamanya
hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya, menyiapkan sarapan untuknya walau hanya sekedar nasi goreng dengan bumbu seadanya, tapi hanya itu yang bisa ku masak.
aku menyiapkannya diatas meja, menunggu Yogi yang sedang bersiap diri ke kantor. sedangkan aku hari ini sudah ijin padanya bahwa aku ingin bertemu dengan teman lamaku Sindi, ingin berhabiskan waktu bersamanya.
"sayang, kau memasak nasi goreng. kelihatan nya enak",
"tentu enak, aku memasaknya dengan sepenuh hati", jawabku dengan penuh percaya diri
"baiklah, ku makan!", Yogi pun mulai mengunyah serta tersenyum sumeringah.
"apakah begitu enak?", tanyaku menebak ekspresinya karena aku sendiri tidak sanggup untuk menelannya karena terdapat bau bawang didalamnya
untungnya dia mengangguk, tersenyum dan juga dengan cepat menghabiskannya.
"kalau suka, besok aku akan memasak nasi goreng untukmu lagi"
"ah jangan!", sahut Yogi spontan sambil meneguk segelas air putih
"kau tidak suka masakanku?"
"bukan begitu, tapi kau harus banyak istirahat, aku bisa memesan saja dari restoran langgananku"
padahal memasak itu pekerjaan yang mudah, kenapa berkata "jangan", apa karena masakanku bermasalah? tapi ekspresinya menyukai begitu
"ya sudah sayang, aku harus siap siap berangkat ke kantor. aku harus mengurus beberapa hal hari ini sebelum memindahkan tugas kepada sekretarisku"
karena pernikahan kita sudah tinggal menghitung hari, dan juga Yogi berniat menghabiskan waktu panjang berdua dengan ku jadi dia akan begitu sibuk hari ini.
jemarinya kemudian bergerak mengelus perutku lalu menciumnya, sepertinya ini adalah rutinitasnya setiap hari. "Ayah pergi kerja sebentar dulu ya sayang"
Yogi pun tak luput mencium keningku sebelum pergi, membuatku memerah dan terkekeh membayangkan bahwa kita sudah layak dikatakan sebagai sepasang suami istri bahagia.
aku pun melangkah kembali ke kamarku tapi tak lama setelah itu, ku dengar bunyi Bel rumah berdering menandakan ada seorang tamu datang.
"apa itu Yogi, apa dia ketinggalan sesuatu?", gumamku lalu melangkah membuka pintu
aku mebelalak tak percaya bahwa yang datang bukan lah Yogi melainkan wanita yang aku kenal kejam, Jesi.
"kau.. untuk apa kau kesini?", ucapku gugup karena melihat ekpresi wajahnya yang sudah bertatap tajam padaku,
lebih gilanya lagi, aku melihat dia menggenggam sebuah belati di tangannya, apakah dia akan membunuhku?
kau adalah sebuah kesalahan, tapi itu adalah kesalahan yang indah
__ADS_1