AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Dio, Neraka?


__ADS_3


aku mebelalak tak percaya bahwa yang datang bukan lah Yogi melainkan wanita yang aku kenal kejam, Jesi.


"kau.. untuk apa kau kesini?", ucapku gugup karena melihat ekpresi wajahnya yang sudah bertatap tajam padaku,


lebih gilanya lagi, aku melihat dia menggenggam sebuah belati di tangannya, apakah dia akan membunuhku?


segera ku tutup pintu kembali tapi dengan cepat Jesi mendobraknya dengan tubuhnya sehingga aku terpental jatuh


tangan nya mengambil rambutku, menjambakku, lalu menyeret tubuhku yang lemah. aku meronta serta menjerit meminta pertolongan tetapi percuma karena ruangan ini kedap suara serta satu lantai khusus milik Yogi.


"Jes, apa yang kau lakukan, lepaskan aku!", pintaku ketika Ia enggan melepaskan jambakannya yang masih menyeret tubuhku


lalu Ia menghempaskan ku pada sebuah meja hingga membuat kepalaku terbentur dan pecah bersimba darah.


raut wajah merah, mata membulat serta gertakan rahangnya terlihat jelas, membuatku meringis. Ia memajukan belati nya di pipiku hingga membuatku bergidik dan gemetar ketakutan,


sorot mataku tak lepas dari tajamnya belati yang ia dekatkan di wajahku, aku pun hanya bisa pasrah karena jika salah langkah. bukan tidak mungkin dia akan langsung menerkamku.


"kau wanita sialan, apa bagusnya dirimu hingga Yogi lebih memilihmu dari pada aku?", tanya nya dengan mata melotot diarahkan dekat kepadaku,


aku pun tak bisa menjawab perihal aku juga tidak mengerti mengenai hal itu


"aku bahkan rela mengemis menawarkan tubuhku padanya, tapi dia terus saja menolakku", ucapnya seperti sedang menghina dirinya sendiri, dia benar benar Gila.


"padahal selangkah lagi dia akan menjadi milikku tapi kau.. kau menghancurkannya", kali ini dia benar benar merah padam dan hendak menggores belati pada wajahku tapi langsung aku tangkis hingga melukai tanganku,


aku pun mendorongnya hingga terjatuh lalu aku bangkit mencoba berlari pergi menjauh dari nya tapi lagi lagi dia menahanku, memegang satu kakiku yang hendak melangkah hingga aku juga jatuh tersungkur.


ku rasa perutku mulai kram karena dihentakkan ke lantai tanpa sengaja saat jatuh, aku hanya bisa menahannya karena jika Jesi tahu bahwa aku tengah mengandung, dia akan lebih gila lagi


aku hanya bisa bergerak mundur dengan wajah pucat pasi serta gemetar saat dirinya mulai bangkit dan senyum menyeringai.


"aku takkan membunuhmu kali ini, ini hanya permulaan ku", ucapnya masih menatap tajam membuatku ngeri


dengan gemetar, aku bertanya "apa mau mu sebenarnya?"


dia tidak langsung menjawabku tetapi pergi ke arah pintu lalu menutupnya, memastikan tidak ada seorangpun yang akan mengganggu pembicaraan.


Ia kemudian kembali lalu menarik sebuah kursi lalu duduk diatasnya, penuh angkuh menyilangkan kakinya serta tangannya bergerak memainkan belati. menatapku lagi dengan tajam


"apa kau tahu siapa yang membuat Pria yang sudah menjebakmu itu mengaku?", tanya Jesi membuatku tak mengerti


apakah Pria yang pura pura sudah meniduriku?


aku menggelengkan kepala, "aku tidak tahu, tapi Yogi mengatakan kepadaku bahwa Pria itu datang sendiri dan mengaku kepadanya"


mendengar jawabanku Jesi malah tertawara, terkekeh membuatku semakin bingung, "dan kau percaya itu? hahaha", dia semakin tertawa kencang menahan perutnya, "kau bahkan tidak tahu bahwa Yogi sudah menipu mu, kau terlalu polos Bela"


aku membelalak tak mengerti, "aa...apa maksudmu, Jesi?"


Jesi kemudian datang mendekatiku dan mencengkeram daguku agar mendongak padanya menunjukkan senyum sinisnya padaku, lalu beralih ke sisi pipiku, "dia tidak sebaik yang kau pikir!"

__ADS_1


Deg! Deg! aku menepis tangannya penuh emosi, lebih baik aku mati daripada mempercayai ucapannya


"Diam! aku tidak mempercayaimu, aku sangat mengenal Yogi melebihimu", ucapku dengan nada tinggi, "ingat perkataanku, sampai kapan pun Yogi tidak akan menyukai wanita iblis sepertimu"


"Kau", mendengar ucapanku Jesi hendak menancapkan belatinya kepadaku tetapi terhenti karena


Bel pintu rumah berbunyi, Jesi pun beralih mendekat ke arah pintu dan melihat siapa yang datang melalui kamera pintu.


entah siapa yang datang, Jesi tersenyum menyeringai lalu datang mendekatiku lagi yang tengah duduk dilantai menahan sakit bahkan darah masih terus megalir diluka ku,


"aku akan memberitahu mu sesuatu yang menarik, seseorang yang sedang berdiri di depan pintu adalah orang yang sudah menjebakmu. NERAKA MU AKAN SEGERA DI MULAI, BELA!", bisik Jesi sebelum meninggalkanku


melemparkan belatinya lalu dengan santai nya membuka pintu untuk seseorang yang datang.


aku pun segera mengelus perutku yang sedari tadi terasa kram, tapi masih dengan perasaan was was penuh kehati hatian karena ucapan Jesi membuatku meringis


siapa orang itu? siapa yang datang? apa benar dia yang sudah berniat jahat kepadaku?


"Nona", sapa orang itu berlari mendekatiku yang tengah kesakitan


aku hanya bisa mematung tak percaya, aku membelalakkan mataku serta memutar otakku, bagaimana mungkin?


dia adalah Dio adik tiri dari Yogi Motegi.


Jesi pasti tengah berbohong padaku pasalnya aku dan Dio baru saja saling mengenal dan kejadianku tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengannya, tapi


semakin aku tidak ingin mempercayai nya, semakin aku takut terhadapnya karena sorot mata dari Jelas bahwa itu adalah sebuah kejujuran, arghhh aku tidak mengerti


"Nona, kenapa kau sampai terluka seperti ini? apa kak Jesi yang melakukannya padamu", tanya Dio sembari membantuku untuk berdiri lalu duduk di sofa guna merebahkan tubuhku


"tidak!", sahutku, tapi kenapa aku harus berbohong


sial


aku kini ingin meminta penjelasan lebih kepada Jesi.



Dio mambantuku mengambil kotak obat guna untuk mengobati lukaku, serta mengambil obat penguat kandunganku yang diresepkan oleh Bidan yang dulu pernah memeriksaku.


"Nona, apa tidak sebaiknya kau menghibungi kakak?", tanya Dio sambil mengobati lukaku


"tidak perlu, aku hanya luka biasa"


"Nona, kau luka cukup serius, bahkan banyak darah yang berjejeran di lantai diakibatkan oleh luka dikepalamu"


"kau, ada apa kau datang kesini?", daripada lukaku, aku lebih penasaran tentangmu


"ah aku hanya datang berkunjung saja karena kebetulan aku lewat daerah ini", sahutnya tersenyum padaku


"kau kan seorang Idol, tidak baik jika kau sering berkeliaran. orang orang akan bergosip tentangmu"


ucapanku benar tapi Ia malah terkekeh, "kau perhatian sekali padaku ya Nona"

__ADS_1


Nggg, dia membuatku ngeri


"sayang", tiba tiba Yogi sudah datang saja, melihat darah berjejeran dimana mana, "kau.. dimana yang luka, sayang?",


"kenapa kau sudah pulang?", aku balik bertanya


"perasaanku tak enak karena meninggalkan mu sendirian diapartemen, hayo kita segera kerumah sakit!"


aku hanya bisa mengangguk tak bisa menolak tawarannya yang tengah panik melihat kondisi luka ku, meraba tubuhku dengan panik serta mengelus perutku yang mulai buncit.


"kak, biar aku antarkan?", tawar Dio, tapi Yogi menolaknya


"kau sebaiknya pulang saja, tidak baik bagimu jika publik mengetahui"


kita pun bergegas pergi, Yogi menggendong ku menuju mobil.


"maaf sayang aku meninggalkan mu sendirian", ucap Yogi memeluk sambil menciumi keningku


"bukan salahmu, aku tidak apa apa"


lalu Yogi mengambil tanganku yang tergores belati yang sudah ku perban, "kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini? siapa yang menyakitimu?"


aku hanya bisa menundukkan kepala, "Jesi" jawabku, aku tak bisa berbohong padanya


kilat kemarahan terpancar dari wajah Yogi, sesekali mengepalkan tangannya dan menahan emosi. "aku tidak akan memaafkan nya",


untunglah lukaku tidak begitu parah, serta bayiku masih sehat sehat saja jadi aku bisa bernafas lega walaupun aku sendiri sangat syok dan takut akan kejadian ini lagi, tapi aku sudah merasa lebih aman karena Yogi sudah berada di sisiku


sepanjang perjalanan pulang, aku hanya bisa menatap wajahnya, mencoba menerka nerka, "apa yang dia sembunyikan dariku?"


seketika aku mengutuk diriku, "sial, kenapa aku mempercayai ucapan wanita itu", gumamku


"kau, kenapa sayang?", tanya Yogi menebak ekspresiku


"ahh, aku tidak kenapa kenapa, hanya, jangan jauh dariku", aku pun memeluknya dan ia membalas


maaf aku tidak bisa berterus terang


kini hari demi hari lukaku semakin membaik, pernikahan ku pun akan segera di mulai. aku mempersiapkan diri hari ini berbalut gaun putih mewah.


tapi sebelum itu, mengingat hari dimana Jesi melukai ku. hari itu juga perusahan milik keluarga Jesi bangkrut, pemilik saham terbesarnya menariknya hingga membuat perusahaan nya hancur serta beberapa tuntutan dari perusahaan farmasi milik keluarga Motegi, karena telah melakukan penggelapan.


Yogi ternyata bukan hanya berkuasa tapi bisa mengendalikan segalanya, aku tidak banyak tahu tentangnya, tapi yang aku tahu bahwa dia sangat mencintai ku, begitupun diriku.


aku tak peduli tentang masalalu, biarlah berlalu, yang aku tahu hari ini Dia akan menjadi suamiku dan Ayah dari anakku.


Masa lalu biarlah berlalu, karena cinta hakikatnya untuk masa depan bukan untuk dikenang.




__ADS_1


__ADS_2