
malam pun kian berlalu, diselimuti oleh kegundahan hati.
bagaimana bisa aku mampu berpaling, lalu memasukan Yogi dalam ke hatiku?
apa aku sudah jahat terhadap Diki yang sudah baik dan cukup sabar kepadaku?
apa karena selama ini aku ragu kepadanya? bisakah aku lebih menerima Diki dan membiarkannya memilikiku seutuhnya?
pertanyaan itu selalu berputar dalam otakku tak mau berhenti. sial.
****
Matahari sudah naik ke permukaan untuk menyambut pagi dan menerangi bumi,
sinarnya yang tajam mampu menusuk mataku yang begitu terlelap hingga terasa silau nan perih.
inilah kecerobohanku, lupa untuk menutup jendela pada malam hari hingga di pagi hari seperti ini bisa menyiksa mataku yang masih lelah.
aku menggeliat lalu baranjak dari tidurku dengan berat.
aku meraih gelas yang biasa berisi air untuk ku teguk di pagi hari, tanpa ku sadar. ku cecap gelas kosong. Argghh
tak ada pilihan lain selain aku keluar kamar lalu mengambil minum di dapur.
aku melangkahkan kakiku yang masih lemah tapi aku terhenti seketika mendengar seolah ada perdebatan hingga aku menajamkan pendengaranku.
ku lihat dan intip darimana suara debatan itu berasal dari balik tembok ujung, ternyata tak lain ada Yogi dan Diki yang tengah saling menatap tajam.
"kenapa kau tega melakukan semua ini pada kakakmu?" tanya Yogi membentak
"aku hanya mengembalikan semuanya dari awal, karena aku tak terima jika kau yang mengenalnya lebih dulu daripada aku"
"kau pikir dengan melakukan hal ini dapat mengubah semua hah?"
"kita lihat saja nanti siapa yang akan dia pilih, kau atau aku?" sahut Diki menyeringai
"kau bedebah sialan, karena kegilaan mu, kau sampai membunuh anakku dan menghancurkan kebahagiaan kakakmu!"
"ha ha kau tidak salah berbicara? bukankah kau sendiri yang membunuhnya, kau sendiri yang berhubungan dengan wanita mengerikan seperti Jean? kau lah pembunuhnya!"
"tutup mulutmu, sialan!"
BUGH
Yogi melayangkan tinjunya hingga Diki tergeletak, dan Yogi masih diatasnya mencengkeram kerah Diki lalu memukulnya lagi.
"kembalikan! kembalikan semuanya padaku" teriak Yogi sambil memukul Diki yang sudah lemah berlumur darah
"kau tidak akan pernah bisa memaksanya" sahut Diki masih menyeringai.
aku yang sedari tadi hanya menguping pembicaraan mereka, sontak langsung kaget dan berlari kearah Diki yang sudah di t*ndih oleh Yogi.
"Yogi, hentikan!" teriakku lalu mendorong tubuh Yogi agar berguling dari atas tubuh Diki.
aku pun langsung mendekap Diki yang sudah lemah dan meringis saat darah mengucur dari mulutnya akibat pukulan Yogi yang sangat keras.
"sayang, kau tidak apa apa?" tanyaku pada Diki yang sedang ku kedap wajahnya di pelukku.
"iya, aku tidak apa apa", sahut Diki parau
"Bela, kenapa kau masih membela bajingan ini hah?" teriak Yogi padaku membuatku tersentak ngeri, pasalnya baru kali ini aku mendapati sesorang berteriak lantang kepadaku.
"aku Ella bukan Bela mu!" sahutku lantang
"arghh sial", Yogi bergumam kesal lalu menendang meja untuk melepas rasa kekesalannya.
"minta maaf pada Diki!" pintaku membentak
"apa? maaf? ha ha" Yogi tertawa ngeri frustasi, "kau menyuruhku untuk meminta maaf pada bajingan ini?", jemarinya menunjuk Diki yang didekapku, "untung saja aku hanya memukulnya dan tidak membunuhnya!" ucapnya lalu melangkah pergi begitu saja.
"kau!"
aku tidak menyangka Yogi akan melakukan hal yang serendah ini, aku tak paham apa yang sedang mereka perdebatkan tapi sepertinya itu adalah hal yang sangat penting bagi mereka.
****
****
aku membantu Diki untuk membersihkan darah serta mengoles salep agar bekas pukulannya tidak keunguan dan membekas pada wajahnya.
"kenapa kalian sampai bertengkar hebat seperti ini? seharusnya kalian berbicara dengan baik tanpa harus main pukul? iya sih, Yogi memang kasar tapi kan tidak seharusnya dia sampai memukulmu seperti ini?" ocehku ketika mengoles salep di wajah lebam Diki.
__ADS_1
"aku tidak apa, hanya pukulan kecil" sahutnya membuatku jengkel
"Aww" jeritnya ku tekan dengan sengaja.
"sakit kan? jadi diamlah!", aku menggertakkan rahang, "sejak kapan kalian saling kenal?"
"sudah lama, dan kita mempunyai sedikit masalah"
"ah begitu", aku masih mengolesi salep ke wajah Diki dengan hati hati, "apa masih sakit? tanyaku
Diki mengangguk, "cium aku agar cepat sembuh!" menunjuk pipi yang tak terpukul.
CUP
"sudah"
"disini!" pintanya lagi menunjuk Kening
CUP
"dimana lagi?" tanyaku karena aku tahu dia tak cukup dengan itu
"di bibir!"
"astaga, bibirmu kan luka, bagaimana bisa aku menciummu!" aku pun terkekeh dengan tingkahnya
"hemm baiklah, aku akan memintanya nanti malam padamu"
"ha ha baiklah, baiklah", aku hanya dapat meng iya kan
****
aku kali ini menyiapkan banyak makanan diatas meja untuk mereka agar makan malam bersama.
aku dan Diki sudah duduk di meja makan menunggu Yogi masih di kamar atas belum juga turun.
"mari kita makan!" ucap Diki
"apakah tidak sebaiknya kita menunggu Yogi?" tanyaku
"sudah tak apa, sebentar lagi dia juga akan turun untuk menemui kita"
dan ya benar saja, Yogi menuruni tangga dengan mimik wajah kesal menyeramkan lalu dia menarikku agar beranjak membuatku kebingungan.
lalu ia menuntunku duduk di kursi lain yang dekat dengannya dan menjauh dari Diki.
Yogi mengambil sepotong daging, mengirisnya halus lalu Ia berikan padaku tanpa berbicara atau menoleh padaku.
aku merasa bingung berada diantara ke sunyian dua pria ini.
setelah lama sunyi akhirnya Diki memecah suasana.
"oh ya sayang, besok kita berangkat untuk berlibur seperti yang sudah ku janjikan padamu"
"aku tidak mengizinkan!" sahut Yogi menyela
"hei, apa hak mu? aku sendiri yang memintanya"
"sekali aku bilang tidak ya tidak" sahutnya lagi setengah berteriak
apa apaan sih dia, kenapa dia mengaturku dan ingin menjauhkanku dari tunanganku? tapi, aku juga tak mungkin meninggalkan mereka pada kesalah pahaman. mungkin mereka akan bisa saling berbaikan jika sering bertemu.
"semua terserah padamu sayang, kau ingin berlibur bersamaku atau tetap disini juga untuk menemaniku!"
"cih!" decih Yogi sambil meneguk minuman
"emm sebaiknya kita tunda saja liburnya, kau kan lelah karena sepekan sangat sibuk dan juga luka lebammu masih terlihat dan itu tak bagus jika kau bertemu dengan penggemarmu nanti"
"ah, baiklah, kau sangat peduli padaku. aku mencintaimu sayang" ucap Diki sembari ingin mengelus pipiku dari kejauhan.
"singkirkan tangan kotormu!", Yogi langsung menepis tangannya dari pipiku, "jangan menyentuhnya, kalau tidak aku akan memotong tanganmu!", ancamnya tak main main
astaga, ada apa sih antara mereka? sungguh aku tidak mengerti lagi.
aku hanya bisa menggelengkan kepala frustasi mendengar lagi perdebatan mereka berdua.
****
Kini malam pun semakin larut dan aku menyiapkan diri hendak tidur tapi..
tok tok tok
segera aku membuka pintu dan ternyata Yogi datang padaku.
Yogi langsung menutup pintu kamarku lalu Ia tanpa permisi langsung melingkarkan tangannya di pinggangku lalu melayangkan bibirnya untuk melumatku, memagutnya dengan lembut dan menggiringku melangkah keatas kasur tanpa mau melepas pagutannya.
__ADS_1
dan seketika itu pula..
tok tok tok
suara ketukan pintu dan aku yakin itu tak lain adalah Diki.
sontak aku panik seperti ketangkap basah karena berselingkuh, astaga.
aku pun langsung mendorong tubuh Yogi menjauh dan segera membuka pintu kamar agar Diki tak salah paham padaku.
"sayang, kau belum tidur?" tanya Diki sembari mengelus rambutku
"belum sayang", sahutku tersenyum tawar ketika aku melihat Diki sedang menatap kearah kamarku dengan sinis.
dan jelas saja dia begitu, karena Yogi sedang duduk ditepi ranjang sambil bersindakap angkuh penuh kemenangan.
"usir dia, aku akan tidur dengamu malam ini!" ucap Diki tak dapat ku bantah karena dia marah juga karena kesalahanku
dengan berat hati aku melangkah mendekati Yogi.
"kau tidurlah dikamarmu! ini bukan tempatmu" ucapku ketus
"tapi bagaimana ya sayang, aku sudah terbiasa setiap malam tidur disini dan memelukmu", sahut Yogi dengan nyaring seolah olah ingin membakar kecemburuan Diki.
setiap malam? jadi yang selama ini yang selalu mendekapku tiap malam itu nyata bukan mimpi.
"ihh kau menyebalkan!" aku mengepalkan tangan menahan kesal
Diki langsung masuk juga ke dalam kamarku, "kau tidak dengar? pergilah karena aku yang akan tidur disini!"
"tidak, aku yang berhak bersamanya" sahut Yogi tak kalah
hak apa?
"sudah sudah, kalian jangan berdebat!", aku memutus percekcokan mereka, "kalian berdua saja tidur disini, biar aku tidur dikamar tamu"
"tidak, kau harus menemaniku!" seka Yogi
"kau pilih saja, mau denganku apa Yogi yang hanya orang asing?", tanya Diki memutus.
arghhh kesal.
"baiklah kita tidur bersama, semua!"
inilah keputusan telak ku, berada diantara dua pria yang saling berpandang tajam tapi tak mampu ku tebak.
****
kita tidur hanya beralaskan kasur lantai dengan satu selimut lebar. aku tidur di tengah tengah mereka berdua, seakan di antara hidup dan mati.
karena sudah sangat larut dan tak dapat menahan kantuk aku pun tertidur sedangkan kedua pria disampingku saling terjaga.
entahlah siapa diantara mereka yang mungkin akan terlelap lebih dulu, aku hanya ingin tidur tanpa pusing.
****
Ketika dalam mimpiku aku merasakan tubuhku digeser sebentar lalu aku merasakan sesuatu yang lembut menyelusuri lekuk leherku.
ini bukan mimpi kan?
seketika aku membuka mata lebar dan ternyata Yogi sudah ada di tengah mengganti posisiku lalu dengan berani dia menyecap leherku.
"apa yang kau lakukan hah?" protesku lalu Yogi mengecup bibirku agar bungkam
"sssttt jangan berisik, kalau tidak tunanganmu akan bangun dan tahu kalau kita sedang mengkhianatinya", besiknya lalu mengecup leherku, "diamlah jika kau tak ingin tunanganmu tahu!"
"sialan" kata itu yang hanya terlontar ketika Yogi lagi dan lagi melumat bibirku kasar lalu mengecap setiap inci leherku memberikan banyak tanda.
tangannya bergerak dengan lihai membuka piyama didadaku, meremasnya lalu menjilatinya membuatku tak tahan untuk mendesah. Ahh,
seketika itu pula aku menutup rapat mulutku dan Yogi tersenyum menyeringai kepadaku.
Ia sungguh gila.
Yogi memiringkan tubuhku untuk berhadapan dengannya, lalu tangannya masuk mengelus paha mulusku dan menuntun pahaku untuk melingkar diatas pinggangnya.
sementara lidahnya masih gusar bermain dadaku membuatku tak henti untuk menahan desahan.
tak berhenti disitu, tangannya bergerak dengan sensual dan melepas celana dalamku tanpa ku duga.
****
Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hambanya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya
****
__ADS_1