AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Rahasia (2)


__ADS_3


Hal yang sudah ku peroleh adalah bagaimana cara kita memberikan kepercayaan, memberikan ruang kepada orang yang kita cintai tanpa harus saling acuh pandang.


layaknya sebuah duri, jika kita terus saja menggenggam maka diri kita akan sakit dan terluka tanpa sadar bahwa kitalah yang membuat diri kita sendiri terluka.


maka lepaskan, jaga dengan penuh ke hati hatian, rawat. bukan di genggam dan menerkam. kepercayaan itu sangat penting dalam menjalin suatu hubungan.


jika kau masih merasa dicintai, maka percayalah!


****


sepanjang hari, sepanjang jalan bergandeng tangan layaknya orang paling bahagia di dunia.


"sayang, kau akan membawaku kemana?" tanyaku


"suatu tempat, untuk mengenalkanmu pada orang yang sama berharganya denganmu", sahut Yogi membuatku mengernyitkan dahi tak mengerti


Ia membawaku ke suatu bukit yang sepi, dan terlihat dari kejauhan gundukan tanah serta batu nisan berdiri kokoh diatasnya.


"ini mamaku, Marlene Motegi", ucapnya tersenyum penuh ironi memandang makan mendiang Ibu nya yang tercinta.


aku pun duduk disamping makam mertuaku, memperkenalkan diri serta bayi dalam rahimku, walau beliau sudah tiada tapi aku yakin pasti beliau juga bisa melihatnya dari atas sana, juga ikut berbahagia melihat kita bersama.


Ku pandangi suamiku dengan secercah cahaya si sore hari, "apa kau bersedih?"


"tidak sayang, aku sangat bahagia saat ini"


begitu jawabnya lalu mengecup keningku hingga aku merasakan sangat dikasihi.


tak bisa ku gambar lagi apa yang sudah kita lalui bersama seperti kesedihan, luka, bahkan gilanya jatuh cinta.


aku sangat bersyukur dan begitu bahagia hari ini walau entah apa yang akan ku jalani, rintangan apa lagi yang akan menghalang kami tapi yang aku tahu pasti.


dalam cinta kita akan kekal selamanya.


****


"sayang, aku boleh bertanya sesuatu?" aku bertanya

__ADS_1


"ya, ingin tanya apa sayang?" tanya nya sambil merebahkan kepalaku di bahunya yang lebar untuk menjadi sandaran.


"bagaimana kabar Jesi?", sekelibat pertanyaan itu memutar diotakku, "saat kau menarik saham milik keluarga Jesi kemudian menuntutnya, aku sampai sekarang belum mendengar kabar apapun tentang Jesi"


Yogi tersenyum menanggapiku, "dia baik baik saja", jemarinya mengusap anak rambutku,


"apa dia belum mengatakan kepadamu siapa pelakunya waktu itu?"


Yogi mengangguk dengan berat, terdengar suara nafasnya tertahan begitu berat. "dia sudah mengatakannya"


aku penasaran ingin menanyakannya lebih, tapi aku tidak ingin mengungkit yang bisa menimbulkan rasa dihakimi olehnya nanti.


"kau tidak penasaran?"


"tentu aku penasaran, tapi ku harap kau tak terlalu memaksakan dirimu untuk membalas dendam"


"ya kau benar, awalnya aku memang tersiksa akan dendam yang membara. membakar tubuhku hingga kehilangan akal jika ada yang mencoba mencegahku", ucapnya dengan gemetar, "tapi disatu sisi aku merasa sangat bersalah pada seseorang"


"siapa? apakah Jesi?" tebakku


Yogi mengangguk meng iya kan, "kau tahu? karena kejadian itu membuat Jesi jadi kehilangan akalnya, membuat dia menjadi trauma dan berkarakter buruk. sedangkan aku waktu itu mencoba menenangkan diriku sendiri yang sangat bersedih juga trauma menyalahkan dirisendiri, aku melupakan Jesi"


"aku tidak mengerti maksudmu? kenapa dengan Jesi?"


"sejak saat itu temperamennya sangat buruk, bahkan bisa dikategorikan sakit pada kejiwaan. awalnya aku kira dia aneh karena setiap hari melontarkan kata maaf kepadaku padahal seharusnya kita sama sama mengobati diri dari rasa trauma, tapi ternyata.." Yogi tersekat, "dia menyaksikan orang tuanya sendirilah yang membunuh Ibu ku"


"aku merasa bersalah padanya dari itu aku mencoba melindunginya walau aku tahu keluarganya mengkhianatiku, Jesi juga baru mengatakan padaku yang sebenarnya siapa pelakunya dan aku tahu pasti kau bisa merasakan beban yang selama ini menghantui nya bukan?"


aku hanya bisa mengangguk mendengarkan.


"kau tidak dendam pada keluarga mereka yang sudah membunuh Ibu mu?"


"tidak sayang, sudah tidak", Yogi mengelus rambutku, "itu semua karena Jesi dan Jean sudah mendukungku selama ini"


aku begitu lega mendengarnya begitu sabar, serta mampu mengerti oranglain yang merasa hal yang sama.


"kau ternyata baik ya?" ucapku terlontar begitu saja, membuat Yogi tertawa akan ku


"ya Ampun, kenapa kau manis sekali sih!" ucap Yogi sambil mencubit pipiku, "lalu kau sendiri bagaimana?"

__ADS_1


"aku masih sedikit marah sih he he"


"ya wajarlah, aku juga marah karena hal itu. aku tidak ingin kau dan anak kita terluka"


setelah obrolan tentang semua hal yang belum terjawab, aku dapat bernafas lega. aku jadi tahu segala masalalu baik ataupun buruk darinya. seandainya aku mengetahui ini dari awal, aku pasti lebih baik mundur terlebih dahulu.


ya Tuhan, hari ini aku menertawakan pikiran jelekku.


"aku ingin kue coklat", pintaku yang tiba tiba terbenak dalam pikiran.


"baiklah, mari kita membelinya"


****



****


sesampainya di toko roti aku memilih kue yang banyak topping coklat didalamnya.


melihat kepada seorang pemuda dan pemudi saling berteriak dalam pembicaraan.


"astaga, kenapa mereka bertengkar sampai seheboh itu ya?" gumamku membuat Yogi menertawaiku


"ada apa?" tanya Yogi


"mereka kenapa saling berteriak satu sama lain padahal berdekatan, mereka pasti saling dengar kan?" tanyaku keheranan pasalnya memang banyak orang orang bertengkar saling berteriak satu sama lain padahal mereka berdekatan.


"itu karena hati mereka saling menjauh"


"hah, bagaimana bisa begitu? tanyaku keheranan


"begini sayang, jika kita saling bertengkar dan hati kita menjauh maka telinga kita juga ikut menjadi tuli. walaupun kita berdekatan tetapi tidak dapat mendengar sehingga kita memerlukan sebuah teriakan" Yogi mengecup pipiku sekilas, "kau tidak berfikir mereka yang jatuh hati? karena hati mereka saling dekat maka hanya dengan bisikan saja mereka akan saling dengar dan mengerti, bahkan jika hati mereka saling bersentuhan maka hanya dengan senyuman saja mereka akan saling mendengar, yang lebih hebatnya lagi adalah mereka akan saling berbahagia hanya dengan saling lirik saja. jadi.." Yogi menggenggam jemariku didekatkan dengan dadanya, "jika kita bertengkar nanti tentang apapun itu, jangan sampai hati mu juga ikut menjauh. kau mengerti?"


"iya aku mengerti he he"


****


hati \= mata \= telinga

__ADS_1


****



__ADS_2