AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Cemburu


__ADS_3


aku membalas pelukan nya yang tenang, tapi ku rasa ada sesuatu yang membasahi jemari ku saat menyentuh tubuh nya, "darah"


aku membelalak kaget, dan seketika pula Bima ambruk pada tubuh mungil ku, ia tidak sadar hingga membuat ku cemas.


tanganku bergetar mencoba meraih asal mula darah yang mengalir, ku coba tutup luka nya dengan telapak tangan ku, aku hanya dapat memikirkan hal itu


"bertahanlah!", ucapku serak bersamaan dengan derasnya air mata yang mengalir di pipi ku


aku harus meminta bantuan


aku merogoh baju serta kantong baju Bima guna mencari ponsel yang mungkin ia bawa, jemari ku bergetar, mencari dengan panik dan tergesa gesa hingga ponsel milik Bima jatuh dari kantong celananya,


ku gapai ponselnya yang sekarang bahkan sudah tak berfungsi normal pada layar sentuh nya karena tangan ku yang penuh dengan noda darah tak sengaja mengotori nya, langsung saja aku menekan nomor layanan gawat darurat, melakukan panggilan telefon guna meminta bantuan, "tolong segera kemari, teman saya sedang luka parah", ucap ku gemetar lalu memutuskan panggilan.


aku lihat Bima pucat pasi masih tak sadarkan diri, ku angkat dia dalam pangkuan ku, "bertahanlah, jangan tinggal kan aku, aku membutuhkan mu!", aku menangis tersedu sedu serta melingkarkan kedua lenganku untuk memeluk kepalanya yang bersadar


ia masih terkulai lemas tak sadarkan diri, membuat ku menyalahkan diriku sendiri.


hingga akhirnya ambulan dan mobil polisi datang untuk menjemput kami serta memeriksa tempat kejadian perkara


sepanjang perjalanan di ambulan, aku hanya bisa berdoa dan menatap wajahnya dengan rasa bersalah, selalu itu yang aku pikirkan.


****


kini aku menunggu Bima di depan ruang operasi dengan cemas, serta mendapati rasa sesak di dada yang ingin meledak tak bisa ku jelaskan. aku gelisah


"Bela, apa yang terjadi?", tanya Tante yang datang dengan wajah penuh tangis dan tak percaya akan kejadian yang tengah menimpa anaknya karena melindungi ku


"maaf Tante, ini semua karena aku", hanya kata itu yang mampu terlontar dari mulutku, hingga aku tak sanggup melihat kesedihan yang tergambar di wajah Tante, itu sangat menyiksa ku


"ini bukan salah mu, Bela! tenanglah!", jawab Tante lalu memelukku, ia rela menjadi penghiburku, menenangkan ku, mempercayai ku pada hal jelas aku sangat tahu, ia sama khawatir nya dengan ku


****


aku masih menunggu nya hingga operasi nya usai dan di pindahkan ke kamar bangsal,


"untung saja luka robekan nya tidak terlalu dalam dan cepat di bawa kerumah sakit. saudara Bima pasti akan segera sadar", pernyataan dokter membuat ku lega, hampir saja jantung ku ingin berhenti karena ketakutan akan kehilangan diri nya


"untunglah"


****


"Bima, kau sudah sadar?", ucapku seraya bertanya kepada Bima yang sadar dan berusaha untuk memposisiskan dirinya untuk duduk dan bersandar di papan bed rumah sakit, "jangan banyak bergerak, lukamu masih belum sembuh betul"


"aku sudah tidak apa apa kok, Bel!", ucapnya tersenyum kepadaku sambil mengusap air mata yang masih membasahi pipiku, "jangan menangis lagi!"


"maafkan aku, semua gara gara aku", ucapku sesegukan


"lihatlah! aku sudah tak apa apa, ini hanya luka kecil, besok juga pasti sudah sembuh", ucap Bima sambil tersenyum merekah kepadaku, dia selalu memberi ketenangan untuk ku


bagaimana cara ku untuk membalas budi atas kebaikannya?


walaupun ia berkata begitu serta menghiburku, aku tetap tak tahan untuk menangis sambil sesegukan.


****

__ADS_1



****


Bima tak butuh waktu lama untuk memulihkan diri, untunglah dia lekas sehat kembali


aku menunggu kabar dari kepolisian untuk informasi yang lebih lanjut mengenai kedua orang penjahat yang mencoba ingin Membunuhku,


Tapi anehnya aku mendapatkan kabar bahwa mereka telah tewas saat berada di dalam sel tahanan, dan yang lebih mengenaskan lagi mereka mati dalam keadaan bunuh diri.


pikiranku tak dapat menerka, Aku hanya bisa menunggu informasi dari pihak yang berwajib.


"sayang, kau baik baik saja, Apa ada yang terluka?", tanya Yogi khawatir sembari membolak balikkan tubuhku guna melihat bahwa tidak ada satu hal pun yang tergores di kulit tubuhku, " ah sukurlah", ucapnya ketika memastikan bahwa aku sedang baik-baik saja


Aku hanya terdiam menahan nafas ketika melihatnya bertingkah konyol seperti ini, kurasakan pipiku memerah lagi serta jantungku terasa ingin copot dan meledak ledak.


Dia terlihat sangat khawatir kepadaku,


"minggirlah! aku harus bekerja", ucapku Ketus padanya


tapi dia malah semakin mendekatkan diri kepada ku, tatapannya tajam seolah ingin melahapku. dia begitu sangat dekat hingga membuat ku begitu canggung, "ma..mau..apa kau?", ucapku sambil memalingkan muka


Yogi malah tersenyum dan ngejek ku, "kau masih saja bertingkah keras kepala seperti ini kepadaku, kapan kau akan jujur pada dirimu sendiri, sayang? bukankah aku cukup sabar menunggu mu?", ucap nya sambil menghembuskan nafas panjang, "aku tak tahan melihat mu dengan si tengik itu"


"hei, dia itu punya nama, BIMA, kau tahu?", teriak ku kesal


"ya ya ya, aku tahu, Bima sialan itu", sahut nya mengejek


iihhh, aku ingin sekali mencakar wajah nya yang membuat ku kesal seperti itu


arggghhhh percuma berbicara dengan orang macam dia


aku ingin membalikkan badan meninggalkan dia yang telah memancing emosiku, tapi dia menggapai tanganku membuat langkah ku terhenti, "aku ingin berterimakasih padanya", ucap Yogi kemudian membuatku tak percaya


"hah, untuk apa?", tanya ku heran tak bisa menebak jalan pikiran nya


"karena dia sudah melindungi mu, maka dari itu, aku sangat berterimakasih pada nya", ucap nya lembut dengan mata yang berbinar


aku tidak mengira bahwa dia orang yang sangat..., eh apaan sih pikiranku


"sudahlah, pergi sana! bagaimana jika nanti ada orang yang masuk ke ruanganku?"


"kau lupa ya? aku kan Bos disini?",


"lalu?"


"ya aku bisa melakukan hal semau ku", ucapnya menggodaku, "apa kau ingin tahu hal seperti apa?


"cih, menyebalkan sekali, aku tak peduli!", aku memalingkan wajah dan duduk kembali di meja kerjaku, menyalakan komputer yang berada di atasnya


Mendadak Yogi sudah berada disampingku, memalingkan wajahku dengan kedua tangannya lalu melumat bibirku tanpa permisi,


aku mencoba berusaha untuk mendorong tubuhnya tetapi tak bisa, dia menahanku sekuat tenaga, ah aku sesak nafas di buatnya


"kau bajingan!", teriakku sembari mengusap bibirku yang basah karenanya, aku berucap ketika ia melepaskan ciuman nya


"sayang, apa kau marah karena aku hanya melakukan hal kecil seperti ini," ucapnya menggodaku, "apa kau menginginkan lebih?"

__ADS_1


"sialan, enyahlah dari hadapanku!", bentakku kesal kepadanya, tapi dia tak mengindahkan nya, "baik, kau atau aku yang pergi darisini?", ucapku bertekad memberi pilihan


tapi untunglah, akhirnya ia mengindahkan juga, "baiklah, aku pergi dulu!", ucapnya sambil mendekatkan bibirnya ke sisi pipiku, "aku mencintai mu"


dia benar benar melakukan nya, berucap hal itu setiap hari kepadaku, arghhh jantungnya ingin meledak karena nya, sialan


****


aku mengambil beberapa menu makanan yang tersaji di kantin kantorku, makanan yang dapat aku konsumsi


membawa nampan diatasnya ada mangkuk berisi bermacam macam jenis sayuran yang sudah diolah, karena hamil, aku tidak dapat mengkonsumsi makanan tertentu apalagi terdapat banyak rempah di dalam nya


aku duduk di bangku panjang, berhadapan dengan Dina teman sekantorku. saat tengah asikk menyantap makan siangku tiba tiba sesorang ikut duduk disebelah ku dan menjadi pusat perhatian bagi karyawan yang lain,


"sayang, seharusnya kamu mengambil lebih banyak daging agar tubuh mu kuat", ucap sesorang itu tiba tiba, membuatku tersedak karena nya


uhuk uhuk, segera aku mengambil gelas penuh air putih didalam nya lalu aku minum perlahan


"hei, makanlah pelan palan!", ucapnya menepuk bahuku pelan agar makananku tertelan sempurna


"kau kenapa disini?", tanya ku menyatukan alis


"aku ingin merasakan makan disini bersama mu, tidak terlalu buruk", ucapnya tenang, mengundang senyum sumbing di bibirku, "aku sangat memperlakukan karyawanku dengan baik"


"dihhh, lagi lagi penyakit nya kumat!", gumam ku kesal


berbeda dengan ku yang kesal karena kehadirannya, Dina malah begong sambil tersenyum mengawasi wajah Yogi yang tepat berada di depan nya, wajahnya begitu merona dan berhenti menyentuh makanan yang sudah tersaji di depan nya.


karyawan lain pun juga sama heboh nya, arghhh


"makanlah sayang! mereka memang seperti itu ketika melihat ketampanan ku secara langsung", ucapnya menggodaku ketika aku clingak clinguk melihat sekitar


ahhh bodo amatlah, aku melanjutkan makan ku


tiba tiba dering ponsel milik Yogi berbunyi, ia mengangkat nya


"hallo Jes, ada apa?",


ah dari Jesi, entah kenapa tiba tiba aku kesal sekali ketika ia menyebutkan nama Jesi dengan mulut nya sendiri.


"baiklah aku akan segera kesana", ucapnya sebelum memutuskan panggilan telfon nya, "sayang, aku harus segera pergi, makanlah dengan baik, nanti aku akan menghubungi mu kembali", ucapnya lalu beranjak pergi


"sayang?", gumam Dina yang sempat aku lupakan


"ah, bukan bukan, maksudnya bukan seperti itu, aku bisa jelaskan", ucapku gugup tapi yang pasti Dina bisa mengerti karena tak mungkin orang seperti ku bisa dekat dengan Yogi yang memiliki segala nya, "dia teman se kampusku"


Dina mengangguk pelan, mencoba menyerap apa yang baru saja ku katakan, tapi tak urung dia mengindahkan, "ah begitu"


walaupun berbohong ya se tidaknya ini mengamankan ku.


****




__ADS_1


__ADS_2