AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Pelindung Rahasia


__ADS_3


aku membuka mata ku, matahari sudah mulai naik ke permukaan, aku merasakan tubuh ku begitu kaku dan remuk.


aku ingin menggeliat, meringankan otot otot ku yang tegang tapi ada beban berat menindih ku, "Bima"


ah aku melupakan nya


dia tidur memelukku tubuh ku dari belakang, menopang tubuh nya yang kekar ke tubuh ku yang kecil hingga ku rasakan kaku di sekitar sendi sendi ku


aku perlahan mencoba melepaskan tangan nya yang melingkar dengan pelan agar tidak membangun kan nya,


aku berjalan pergi ke supermarket dekat rumah ku guna membeli roti dan selai untuk sarapan, "Bima tidur dalam ke adaan perut kosong, seharusnya aku membeli lebih dari ini" gumamku


betapa bahagia nya hari ini, langit begitu cerah, aku berjalan sambil mengunyah roti mini berisikan keju lembut di dalamnya


tapi mengingat kejadian kemarin, awas saja jika aku menemukan pelaku nya


aku berjalan santai ke arah rumah ku tapi ku lihat ada beberapa mobil terparkir di halaman rumah ku, dan juga tidak asing


mungkinkah, tante?


aku mempercepat langkah ku, dan menemui wanita paruh baya berpenampilan elegan man mewah sedang berdiri tepat di depan rumah ku bersama dengan Niken, beberapa pengawal juga berdiri tegak disamping nya dengan sikap sigap


"tante", ucapku seraya bertanya lalu menunduk memberi salam, "sedang apa tante kesini?"


"apa Bima ada di dalam, Bela?", tanya tante masih dengan sikap nya yang lemah lembut, berkebalikan dengan Niken yang menyambutku dengan ketus


"benar tante, mari silahkan masuk!", ucapku mempersilahkan, tante dan Niken kemudian masuk ke dalam rumahmu, mengitari setiap sudut ruangan rumahku dengan tatapan jijik


ya memang tidak sesuai selera nya


"Bela", Bima berucap sambil keluar dari pintu kamar ku, membuat tante dan Niken membelalak kaget, "mama, untuk apa kesini?"


tanpa ku sangka hal ini mengundang ke salah pahaman, Niken merengek menangis dan bermanja kepada tante seolah disakiti.


"Jelaskan sekarang, kenapa kalian bisa berduaan semalam, dan kalian bisa tidur di kamar yang sama?", tanya tante dengan nada tinggi, matanya melebar dan memerah di kedua mata nya, ia sungguh marah besar


tak terbantahkan lagi karena aku memang hanya mempunyai satu kamar untuk tempat tidur, sedangkan satu kamar untuk menaruh beberapa barang dan perpustakaan mini untuk mengisi hobi membaca ku,


dengan sikap murka Tante, Bima malah memilih mengacuhkan dan membuang wajah nya, menunjukkan bahwa ia tidak dapat diatur, "aku sudah dewasa ma, aku akan menikahi Bela", jawab Bima sengaja mengindahkan kesalah pahaman


aku kaget dan merasa tak enak hati karena yang mereka pikirkan salah, aku mendekati Tante dan coba menjelaskan yang sebenarnya tapi seketika


Plakkk!


tamparan menyakitkan itu jatuh ke pipiku, tangan ku bergetar menahan kesakitan yang diberikan oleh mama Bima hingga membuat bibir ku pecah mengeluarkan darah, "Tante tidak pernah mengajarkan mu menjadi pribadi yang buruk seperti ini Bela, tante menyayangi mu layak nya putri kandung tante sendiri tetapi kau malah menusuk Tante dari belakang", ucap nya tajam penuh penekanan hingga membuat tubuh ku tak sanggup mengeluarkan kata untuk membela diri,


tak hanya itu Niken mendorong tubuh ku hingga terjatuh dan merasa puas karena nya, memaki ku layak nya wanita murahan.


"mama, apa yang kau lakukan! Bela tidak bersalah", ucap Yogi tidak mengira bahwa ucapan nya akan berujung menyakiti ku, ia hendak merangkul ku untuk berdiri tapi dua body guard menahan nya lalu menyeret nya paksa agar keluar dari rumah ku dan memasuki mobil


"Bela, aku akan bertunangan segera dengan Bima, sebaiknya kau jangan mengganggu nya!" ucap Niken pedas lalu beranjak pergi meninggal kan ku bersamaan dengan Tante yang lebih dulu membelakangi ku


hanya isak tangis yang bercampur pedih bisa aku rasakan sekarang, kenapa hal ini bisa terjadi pada ku, mencintai tanpa restu


****

__ADS_1


aku berjalan menunduk menghindari kontak mata secara langsung, takut jika ada yang tahu bahwa pipi bawah dekat rahang ku sedikit lebam dan bibir pojok ku pecah, jadi aku menutupi nya menggunakan syal


siang ini aku ada kelas


mungkin aku sedang sial, tiba tiba saja aku berpapasan dengan Yogi tapi dia bersama dengan Jesi calon tunangannya


aku mempercepat langkah ku kemudian, dan berlari ke arah Sindi yang sedang duduk sendiri membaca buku, "Sin", ucap ku menyapa


"Hai Bel, kau sudah mengumpulkan tugas makalah?", tanya Sindi tersenyum tanpa curiga kepada ku, membuat ku begitu lega, berkat syal ini


"iya sudah kemarin ke pak Anto", jawabku sambil duduk bersebelahan dengan Sindi,


"Bel, kau sudah lihat berita di web kampus?", tanya Sindi lalu mneyodorkan ponsel nya kepadaku


aku membelalak kaget, dan sedikit tenang dalam hati karena berita gosip ku kemarin sudah di atasi dengan menyebut nya gambar editan, walaupun konyol tapi ini boleh juga


dan tak kalah menarik nya bahwa pria yang berada bersama ku di foto mengaku bahwa foto itu sengaja dan di rekayasa, kenapa begitu mudah nya?


"kau tahu siapa yang mengunggah berita ini di portal?", tanyaku pada Sindi tapi tak mendapat jawaban dari nya


"ini ada sebuah email nya tertulis di bawah foto, kau bisa langsung menghubungi nya", ucap Sindi memberi tahu, "tapi cukup aneh, kenapa pria ini mengaku dengan mudah nya?", ucap Sindi yang tak kalah penasaran nya juga dengan ku


"kau benar, aku tidak mengenalnya tapi ini aneh", aku berpikir begitu keras tapi tak menemukan jawaban satupun


Bima mengatakan kecurigaan nya pada Niken, tapi itu tidak mungkin, Niken tidak mungkin senekat ini karena dia sudah bisa mengambil hati Tante


"sayang, aku ingin berbicara dengan mu sebentar!", tiba tiba Yogi berdiri didepan ku


"hei, kau tidak salah memanggil teman ku dengan sebutan seperti itu?", ucap Sindi yang justru dibalas senyum oleh Yogi, "lagian urus saja calon tunangan mu sana!"


tanpa di duga Yogi menundukkan pandangan nya, memandang remeh Sindi tapi cukup membuat Sindi ketakutan di buat nya, "kau memang teman yang baik, tapi aku harus berbicara dengan nya"


Yogi mengawasi raut wajahku yang tak ingin di pandang nya, "kau kenapa?", tanya Yogi menatapku tajam


aku menggelengkan kepala, "kau mau bicara apa?", aku tergesa gesa nan gugup


"kau sudah membaca berita nya?", tanya Yogi merujuk pada pengakuan pria yang di foto bersamaku, aku mengangguk, "dia sudah di kantor polisi, aku sudah mengurusnya"


"lalu? apa dia mengaku siapa yang menyuruhnya?"


"sayangnya tidak, dia terlihat sedang mengalami syok dan ancaman. aku tidak bisa menemui nya lagi", ucap Yogi yang tak mampu menebak, "menurut mu siapa yang berani mengancam nya agar mengaku?"


aku membelalak kaget pendengar pertanyaan itu, aku juga kebingungan, siapa orang yang ada di balik ku


"aku tidak tahu, aku kira itu diri mu", jawabku masih menunduk


"aku memang berniat mencari tahu tentang pria itu, tapi pria itu datang sendiri kepadaku dan mengaku dengan mudah nya"


benar benar aneh, siapa yang melundungi ku?


"sudahlah, yang penting masalah ini sudah kelar", ucapku memutuskan lalu hendak pergi, "biarkan aku pergi!"


tiba tiba tangan Yogi menarik ke bawah syal yang melingkar di leherku, melihat dengan jelas luka lebam dan bibirku yang pecah, "sayang, siapa yang melakukan nya?", tanya Yogi sambil meraba pelan wajahku yang lebam dengan jemari nya


"tidak, aku hanya jatuh", aku memalingkan wajah dari tatapan nya yang tajam


"apa ini perbuatan Bima? aku akan memberi dia pelajaran!", terlihat jelas kekhawatiran dan kemarahan di wajahnya, tapi tidak seharusnya dia begini terhadap ku

__ADS_1


"bukan, dan tolong jaga sikap mu, kau tidak usah pedulikan aku lagi, aku juga bukan siapa siapa mu lagi dan", aku menarik nafas menahan gejolak, "urus saja calon tunangan mu itu, terimakasih atas bantuanmu!", aku menunduk memberi hormat lalu pergi meninggalkan Yogi


Yogi terlihat membeku dan tak menahan ku setelah mendengar kata kata ku yang tak bisa ia bantah


aku melangkah pergi dengan cepat


"hai Bela", sapa Jesi yang berpapasan dengan ku, "apa kau melihat Yogi?"


"maaf tidak, aku permisi dulu", jawabku dingin, kenapa juga aku harus berbohong, menyebalkan


****



****


"ah padahal masih memasuki musim hujan, tapi kenapa begitu dingin", gumamku kesal menatap lagit yang begitu mendung


tanpa permisi seseorang memeluk tubuh ku dari belakang, dan mengendorkan syal yang aku pakai dan masuk juga ke dalam nya, "Yogi", gumamku kesal, "apa apaan sih kamu", ucapku ingin memberontak


"tenang sayang, aku akan menemani mu menutup wajah mu yang lebam ini, dan juga menjaga mu agar tak terjatuh untuk ke dua kali nya", ucapnya menggoda dan licik


padahal jelas ia tahu kalau luka lebam ini bukan karena jatuh walau aku menyangkal nya


"lepaskan tangan mu! bagaimana kalau calon tunangan mu itu melihat nya?", ucapku ingin melepaskan tangan nya yang begitu erat di tubuh ku


"ah, bilang saja kalau kau yang takut ketahuan jika Bima melihat kita ber dua saling berpelukan seperti ini kan?", Yogi mengejek semakin mendekatkan dada nya ke punggung ku, semakin aku tidak bisa bergerak, "diamlah sayang, hari begitu dingin, aku ingin menghangat kan tubuh ku sejenak"


Yogi mendekatkan indra penciuman nya ke rambut ku, memelukku begitu erat seakan tidak peduli apa yang tengah di lakukan nya, jantung ku mulai ber degup kencang tidak karuan


semoga dia tidak mendengar nya


"Yogi?", ucapaku seraya bertanya


"iya sayang", jawabnya sambil menggerakkan tangan nya mempererat pelukan nya


"tidak bisakah kau melepaskan ku?"


"sudah ku katakan, aku kedinginan", jawab nya lembut


"bukan itu maksud ku, maksudku dari hidup mu", ucapku membuat Yogi melepas pelukan nya sejenak tertegun, tapi ia bergerak untuk memeluk ku lagi, "bukan kah kau sendiri yang mengatakan kalau kau akan merelakan diriku pergi?"


"iya benar, tapi saat kau benar benar bahagia bersama dengan Bima dan jika tidak, aku akan mengambil mu kembali", jawab nya tegas penuh penekanan


aku membalikkan badan ku untuk menatap nya, "kau bodoh", suaraku lemah, "justru dengan begini, kau yang telah menyakiti ku"


kata kata ku ini mungkin telah menyakiti nya sehingga membuat matanya berkaca kaca, "aku akan bertunangan besok, ku harap kau datang", ucapnya parau tiba tiba membuat ku kaget


seakan hatiku tersayat dan begitu pedih tapi tak urung aku mengangguk kepala ku, "aku pasti datang",


jemari nya membelai rambut dan mengusap anak rambut ku, tatapan hangat nya kini begitu menyakiti dan menyiksa ku, "ku harap kau bahagia"


****


Jika kamu benar-benar sedang jatuh cinta, apa yang nampak di luar tidak akan penting. Karena rumah terbaik adalah tempat yang kamu bangun di hati masing-masing


****

__ADS_1




__ADS_2