
perasaan saat ini yang aku rasakan tak dapat ku gambarkan, seperti layaknya bunga yang bermekaran di musim semi. tumbuh dan bermekaran menghiasi keindahan dengan warna warni yang terpancar.
saat ia memejamkan mata, memberi kelembutan dibibirku, air mata berlian mengenang dipelupuk matanya dan saat itu pula aku pun merasakan hal yang sama, tanpa dia ungkap dengan suara pun aku dapat mendengarnya.
apa kau bahagia?
seakan tak peduli bahwa kita sudah menjadi pusat perhatian di pesta panjang malam ini, dia tetap mengeratkan tubuhnya untuk memelukku saat ciuman indah itu berakhir, ia mendekapku lebih hangat dari sebelumnya, "terimakasih", ucapnya serak sambil mengelus rambutku masih didalam pelukannya,
"untuk apa?", tanyaku lirih
"terimakasih untuk menjaganya, maafkan aku karena kurang memperhatikanmu", ia tenggelam dalam pelukan dan menangis di dalamnya, kali ini, pertama kalinya aku melihat Yogi dengan perasaan bersalah.
apa aku terlalu buta? sampai tak melihat dirinya bahwa selalu ada.
ku ingat pertamakali saat pertengkaran hebat kami karena rasa kecemburuan yang membakar, aku sempat melontarkan kata kasar yang mungkin tak dapat dimaafkan dan juga aku memang ingin menyerah dengan berfikir bahwa membunuh bayi ini lebih baik.
aku terlalu buta dan tuli, kenapa aku tidak pernah mau melihat ketulusan yang selalu ia berikan kepadaku? kenapa selalu aku tak mau mendengar ucapan hangat dari hatinya?
ahh, aku tak menyadari selama ini bahwa hanya bersamanya lah yang dapat membuatku bahagia.
"ikut aku!", ia menggenggam erat jemariku menuntunku keluar dari keramaian pesta yang heboh karena ulah kami.
ia membawaku ke ruangan yang tak lain ruangan kerjanya sendiri yang luas serta ada ruang khusus untuk ia beristirahat,
"duduklah sayang, aku akan membuatkanmu minum"
"sebentar!", aku menyeka, menghentikan langkahnya
"hmm, apa yang ingin kau katakan?", tanyanya mendekatkan diri kepadaku, dan menatap penuh kelembutan
aku ragu tapi aku harus memastikannya, "apa.. apa kau sudah tahu?"
ia membalasku dengan senyum lalu mengusap perutku dan menciumi nya, "kalau bukan karena ibu pengasuh, aku tak akan pernah tahu"
Deg!! aku bersalah
"maafkan aku!", ucapku lirih manunduk dalam kesedihan
jemarinya bergerak mengelus pipiku, dan bibirnya mengecupku sekilas, "tak apa, aku tahu bahwa kau tidak punya keberanian untuk mengatakannya padaku tapi aku juga tidak bisa berbohong bahwa aku sedang marah kepadamu, aku tak pernah mengatakan apapun padaku dan malah terikat dengan pria lain"
"tidak, kau salah! aku sudah pernah ingin mengatakannya kepadamu tapi malam itu kau.."
"apa saat aku memberikanmu undangan?", sahutnya menyeka
aku mengangguk, "ya Tuhan, maafkan aku sayang. maafkan aku", ucapnya sambil memelukku erat
kau selalu bersikap hangat padaku
"aku harus berterimakasih kepada Bima", ucapnya tersenyum
barukali ini aku melihat dia menyebut nama Bima tanpa menyatukan alisnya, "untuk apa?"
"karena dia sudah menjagamu, ia begitu tulus kepadamu sampai berani mengikatmu seperti itu padahal ia tahu kau sedang mengandung bayi dari oranglain"
ya karena itulah, aku sedih
"ya, dia selalu mengorbankan dirinya untuk kebahagiaanku", ucapku pilu
"hei sudahlah jangan bersedih, jika kau sedih seperti ini. Bima juga pasti akan sedih melihatmu, pria rapuh itu pasti lebih memilih melihatmu tersenyum", ucapnya sambil mengelus lembut pipiku, "hiduplah bersamaku!"
"tapi..",
cup, ia memberiku kecupan untuk membungkam mulutku, "kita akan menemui Bima bersama nanti"
"lalu pernikahanmu dengan Jesi bagaimana?"
__ADS_1
"pernikahan akan terus berlanjut tapi itu denganmu", ucapnya membuatku tak mengerti, "awalnya aku ingin mengetahui sesuatu yang hanya ia yang menjadi sanksi kunci atas kematian ibuku, tapi karena sekarang hal yang berbeda, aku akan mencari tahu sendiri walau itu perlahan"
"ii..ibu mu?"
"ya, nanti aku akan menceritakan segalanya padamu", ia tersenyum lebar padaku, "lihatlah, bagaimana aku tersihir olehmu, bagaimana bisa kau berkencan dengan seseorang yang tak kau ketahui latar belakangnya, apa kau tidak penasaran padaku?"
aku menggelengkan kepalaku, "aku berkencan denganmu bukan dengan keluargamu"
"haha, ya kau benar tapi karena kita akan menjadi keluarga, maka kau harus tahu"
"keluarga?"
"jangan tanyakan kembali seakan kau tidak mau", ia memegangi kedua sisi pipiku agar lebih dalam menatapku, "kau cantik, apa aku boleh menciummu lagi?"
aku menepis tangannya, "bibirku bahkan sudah bengkak karenamu, tidak boleh! jangan coba coba menyentuhku!", aku geserkan tubuhku untuk lebih menjauh
"ah, kau tidak romantis sekali"
sialan, seharusnya perempuan yang mengatakan hal itu. kenapa dia jadi melucu seperti ini sih
ia terkekeh menebak ekspresiku, "haha, kau pasti sedang memakiku", tebaknya membuatku canggung, "sayang, ada hal yang harus aku bereskan terlebih dahulu. kau diam disini sebentar ya!", ucapnya sebelum beranjak pergi lalu mengecup keningku
aku hanya bisa menurutinya malam ini, ada perasaan lega dalam hatiku.
apa akhir nya aku akan menerimanya dalam kenyataan?
****
****
Pesta malam ini masih belum usai tapi Tuan nya pergi terlebih dahulu untuk mengantarkan ku pulang, walau saat di pesta ada kericuhan sedikit yang disebabkan oleh Jesi. aku mengerti bagaimana dia bisa semarah itu,
sepanjang perjalanan, Yogi duduk disampingku, menyandarkan tubuhku dipelukannya sedangkan mobil dikendalikan oleh supir pribadi nya.
"iya"
apa? dia hanya menjawab sesingkat itu?
ia menggandeng tanganku, menuntunku untuk masuk ke sebuah lift dan berhenti tepat didepan pintu rumahnya. kita kemudian masuk bersamaan dengan supir sekaligus asisten pribadinya.
tanpa banyak bicara ia langsung mengambil sebuah kunci di sebuah laci lalu melemparkannya pada asistennya, "bereskan!"
asisten itupun tanpa banyak tanya langsung mengangguk seperti sudah paham betul apa yang harus ia lakukan,
"kau pasti lelah, kita membersihkan tubuh kita terlebih dahulu sebelum tidur!", ia menarik tanganku menuju lantai atas dikamar pribadinya yang luas
"kau tidak bertanya padaku?", tanyaku canggung
"sayang, apa kau masih malu terhadapku?", ia balik bertanya padaku dan tersenyum tersirat membuatku ngeri
"bukan begitu, tapi inikan apartemenmu sedangkan aku ingin pulang kerumahku"
"mulai hari ini kau tinggal disini, asistenku akan mengemas beberapa barang yang kau butuhkan, kau tidak boleh menolak karena ini keputusan telak!",
"hah, jadi tadi?", aku berfikir
"ya, itu kunci duplikat rumahmu!", jawabnya tersenyum licik
dia selalu bertingkah semaunya
"kenapa kau masih diam saja?", tiba tiba Yogi tanpa permisi langsung menggendongku lalu melangkah mssuk kedalam kamar mandi.
ia menuruniku sesampainya, ia membuka bajunya perlahan memberitahu lekuk tubuhnya yang kekar yang sudah pernah aku nikmati.
mataku selalu ternoda
__ADS_1
"sayang, apa kau mau mandi masih dengan pakaianmu yang utuh?", ia bertanya sambil mengerutkan keningnya
"ah ia, sebentar", aku gelagapan dan gemetar, hal seperti seperti sudah sangat asing bagiku
"biar ku bantu!", tawarnya membuatku lebih panik tapi aku menolak nya
"aa..aku bisa sendiri", ucapku gugup tapi tak urung aku melepaskan juga, dia sudah duduk merendamkan dirinya ke dalam bathtup kamar mandi.
"sayang, masuklah! kau masih diam saja", ia menarik tanganku agar tubuhku yang mematung bergerak masuk bersamanya,
hal ini terasa begitu canggung dan membuatku gugup, kita tidak mungkin melakukannya kan?
aku duduk memunggunginya, sedangkan ia memelukku dan mengecup punggung leherku tanpa henti.
"sayang, kenapa kau sangat gugup? bukankah kau sangat liar ketika kita melakukannya didalam bathtup?", ucapnya menyeringai membuat pipiku merona manahan malu
"bukan seperti itu", sahutku gugup tak bisa menjelaskan
"aku tidak akan melakukannya", jemarinya bergerak mengelus perutku, "jika diperhitungkan sejak kejadian itu, kehamilanmu masih memasuki usia kurang lebih tiga bulan dan itu masih rentan"
aku bernafas lega karena ia mengerti, aku pun tersenyum sumeringah
"jangan tersenyum seperti itu, kalau tidak, aku akan menggigitmu!", ucapnya penuh penekanan
ia tak senang karena menebakku yang senang karena lolos dari dekapannya yang intim, tapi tak dipungkiri aku memang begitu lega
kita lekas membersihkan diri lalu saling mengelap diri menggunakan handuk dan berganti pakaian dengan piyama couple yang sengaja disediakan.
"duduklah!", ia menuntunku untuk duduk didepan cermin lalu dengan lembut mengeringkan rambutku yang basah menggunakan hairdryer, "sayang, apa kau ingin memakanan sesuatu?"
sebetulnya aku ingin memakan sebuah potongan kue, tapi aku malu mengatakannya
"aku tidak lapar", jawabku, entah karena aku mudah ditebak atau tidak pandai berbohong, ia mengetahuinya
ia membalikkan tubuhku dan menunduk mendekatakan wajahnya yang tersenyum pedaku, pipiku memerah, "katakanlah! apa kau ingin memakan masakan italia seperti waktu itu?"
"tidak", sahutku spontan
pfff dia terkekeh berhasil mengerjaiku, "jadi kau ingin apa?"
"baiklah jika kau memaksa, aku ingin sepotong kue yang terdapat banyak cream didalamnya"
"baik, tunggu sebentar! aku akan menelfon asistenku untuk membelikan nya untukmu", Yogi pun ingin melangkah pergi untuk mengambil ponselnya, tapi aku menghentikannya dengan menarik bajunya, "kenapa?"
"anakmu.. anakmu yang ingin kau pergi sendiri untuk membeli kue", ucapku, aku hanya mengikuti keinginan hatiku.
apa seperti ini jika mengidam, sepertinya aku akan menangis jika tidak mengikuti kata hatiku. aku sensitif
"benarkah?", Yogi terkejut, aku pun mengangguk, "baiklah, aku harus membelinya dimana?"
"di toko kue dekat rumahku, aku biasa membelinya disana tapi karena ini sudah larut malam jadi aku ragu kalau tokonya masih buka",
"jika tokonya tutup, aku akan mencari ditempat lain",
"tidak, harus disana!", entah kenapa aku menangis seperti luka perih menusuk
Yogi panik melihatku, "sayang, jangan menangis! baiklah aku akan membeli ditempat biasa kau membelinya, sabar ya tunggu aku", ucap Yogi membuatku lega,
ia mengecup kening serta bayi dalam perut ku sebelum berajak pergi, masih dengan memakai piyama serta mantel untuk menghangatkan tubuhnya.
****
****
__ADS_1