
kini aku duduk di depan cermin menunggu waktu tiba.
menatap wajahku yang mulai berseri dihari pernikahan ku, tubuhku berbalut gaun indah nan mewah.
tapi, sejenak pikiranku melayang entah kemana. ada perasaan gusar dan aku tak dapat menerka, aku membutuhkan keluargaku tapi aku tak memilikinya.
"Bela", sapa seseorang yang aku kenal mengenakan setelan tuxedo untuk acara pernikahan ku
"Bima", seketika aku melangkah padanya, memeluknya dengan erat, tak terasa air mata menetes dengan sendirinya
aku merindukanmu, aku akan meninggalkanmu
Ia kemudian melepaskan pelukanku, jemarinya menghapus air mataku yang menetes tak henti walau sudah ku tahan, "kau seharusnya tersenyum Bela! bagaimana jika make up mu luntur dan berantakan? Yogi pasti tidak akan mau lagi denganmu", ucapnya bercanda
aku memanyunkan bibirku, "aku tak peduli", ku peluk lagi dirinya
ku dengar detak jantungnya kencang, sama sepertiku saat ini yang sesekali serasa sesak.
ku pandangi lagi wajahnya tapi ia berpaling tak mau menunjukkannya, menghapus jejak air mata yang mau tak mau ia meneteskannya.
"aku akan mendampingimu Bela, aku akan mengantarkanmu sebagai walimu", ucapnya memberikan senyuman pilu untukku, "aku akan melepasmu hari ini, bersamaan dengan rasa cintaku padamu"
kata kata itu menyesakkan dadaku, tapi begitu lega karena dia akan melupakanku.
"maafkan aku"
"ssst, kau tidak boleh berkata seperti itu, aku disini tegar berdiri untukmu, untuk kebahagiaanmu yang akan menjadi kebahagiaan untukku juga", ucapnya membuatku haru, memeluk serta mencium keningku untuk terakhir kali, "hapus air matamu, sungguh aku bahagia hari ini, kau begitu cantik"
"kau bohong!", sahutku sambil menangis
lalu ia memegangi kedua sisi pipiku, menatapku dengan lembut mencoba menunjukkan bahwa Ia baik baik saja, "sungguh", hanya itu sahutnya membuatku tersenyum
"jangan menangis lagi! kalau tidak aku akan menculikmu saja", ucapnya bercanda membuatku terkekeh
"haha kau jahat sekali!"
"berbahagialah di hari pernikahanmu, berjanjilah untuk hidup bahagia karena aku akan mati rasanya jika melepasmu dengan penyesalan"
"iya, aku berjanji padamu"
"baguslah, mari kita keluar!", ucap Bima tersenyum dan memberikan lengannya padaku untuk ke gandeng,
aku mencoba menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya dengan perlahan.
kini aku menggenggam sebuah buket bunga pernikahan, dan melingkarkan tanganku di lengan Bima. langkah demi langkah menuju Yogi yang sudah berdiri menunggu ku di hadapan pendeta.
ku coba kuatkan hati, sekilas menatap wajah Bima yang mencoba untuk tegar, aku hendak pergi tak sanggup meneruskan tetapi Bima menahanku.
__ADS_1
satu langkah, mengingat senyumnya yang berharga
dua langkah, mengingat tawa kita bersama
tiga langkah, mengingat lagu yang sering kita nyanyikan bersama
empat langkah, mengingat perhatiannya yang tak terduga
lima langkah, mengingat bahwa dia selalu ada sebagai penghapus air mata
enam langkah, mengingat kesedihan bersama
tuju langkah, aku akan menghapus semuanya.
Bima mencoba melepaskan tanganku yang melingkar dilenganku, ku tahan, tapi dia lagi lagi memberiku isyarat bahwa aku harus melepasnya.
Ia kemudian meraih tanganku, lalu memberinya kepada Yogi yang sudah berdiri tepat dihadapanku, "ku titipkan harta yang paling berhargaku kepadamu, jagalah dia!"
Yogi pun mengangguk, lalu menuntunku agar bersanding dengannya di depan mimbar.
Pendeta telah mengajukan beberapa pertanyaan yang telah kita jawab bergantian
kemudian kita saling berdiri berhadapan, saling mengucapkan janji nikah yang di pandu oleh pendeta yang juga di saksikan oleh semua orang yang hadir dalam pernikahan.
"Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku, selamanya"
kita sudah sah menjadi sepasang suami istri, aku dan Yogi, akan hidup bersama.
Yogi menyibakkan kain halus yang menyamarkan wajahku lalu kita akhiri dengan sebuah ciuman lembut nan hangat, sebuah tepukan oleh orang orang yang hadir meramaikan suasanya tak terkecuali Bima, dia mentapku dengan ketulusan, dengan mata nanar serta kebahagiaan.
aku akan bahagia untukmu, inilah janjiku.
kita pun pergi menaiki mobil yang sudah di persiapakan dan dihiasi dengan bunga, mobil melaju lalu berhenti pada sebuah rumah besar namun elegant. terdapat halaman luas di depannya.
"ini rumah baru kita, kita akan hidup disini bersama dengan anak kita", ucap Yogi membuatku haru, lalu ia menggendongku menuruni mobil kemudian melangkah masuk ke dalam rumah baru kita yang luas.
menuruniku diatas ranjang luas yang sudah dihiasi oleh bunga merah bermekaran.
****
****
Flasback
"Bela anak pungut, Bela anak pungut!", ketika teman teman membully ku, aku hanya bisa menangis.
__ADS_1
tapi kala itu seorang anak laki laki tampan, tak lain tetangga baruku datang menolongku, "apa kalian semua? mau ku hajar ha?", Bima mencengkram kerah baju anak yang membully ku tanpa takut walau ia lebih besar dan tinggi darinya, "awas kalau kau berani mengganggu Bela, ku habisi wajahmu!"
pembully ku pun langsung ciut dan melarikan diri, saat itulah ku mulai tersenyum lagi dan tak ada yang berani membully ku.
"Bela, aku akan melindungimu", ucapan itu yang masih terngiang di telingaku.
kau pelindungku
saat kepergian Nenek, dia juga selalu ada pendampingiku.
"Nenek, jangan pergi! bagaimana dengan Bela? Bela takut sendirian Nek",
aku menangis, merengek diatas makan Nenekku yang masih baru.
bagaimana denganku yang tak punya siapapun? sedangkan aku masih berumur tujuh tahun.
"Bela, kau masih punya aku! tinggalah bersamaku", ketika itu, kita mulai hidup bersama dalam satu atap.
aku juga mendapatkan kasing sayang dari mamanya.
kita bermain bersama, tertawa bersama, tumbuh besar bersama, bahkan menangispun selalu bersama, sama sama merasakan kesedihan dihati masing masing lalu menguatkan.
dan kini, kita akhirnya saling melepas, berpisah. walau aku sudah mencoba untuk bertahan tetapi garis takdir menentangnya.
****
maaf kalau kata kata author ada yang kurang atau rancu karena tanpa sadari masuk ke dalamnya, masuk ke dalam perasaan Bima sampai tidak dapat mengungkapkan lebih detail dengan kata kata.
ya bisa kalian bayangkan sendiri, merelakan wanita yang di cintai untuk dilepas, mengantarkan sendiri pula.
duhh author bener bener pilu, nangis juga hehe
bukan lebay, tapi bener bener ga kebayang jadi Bima.
kebetulan author juga lagi galau sih hehe
sebenarnya author juga ga rela lepasin Bima, tapi takdir sudah seperti itu, juga cinta tak bisa hanya berdiam diri saja.
dan maaf mungkin kedepannya bakal ada konflik, tapi ringan karena ini romance. terimakasih**
****
__ADS_1