
"maafkan aku sayang, aku mohon jangan seperti ini! sungguh kau yang terpenting dalam hidupku", ucap nya parau, "aku tak kan melepasmu lagi, aku akan menikahi mu, tunggulah aku kali ini saja"
menikahiku? menjadi istri simpanan? Gila
aku tak menjawab, masih saja terus menangis karena gejolak di jiwaku, merasa sudah di rendahkan begitu rendahnya, bagaimana bisa aku tidur dengan calon suami orang lain?
aku menangis hingga aku merasa kelelahan dan tertidur dengan pulasnya, ini juga akibat aku terlalu banyak minum anggur dan hangover.
****
kurasakan jemari membelai anak rambut yang menutupi sebagian wajahku, membuatku tersadar dari mimpi panjangku, membuka mata secara perlahan
"sayang, selamat pagi", ucapnya membelai rambutku saat aku mulai menggeliat dan membuka mata,
aku membelalak kaget karena aku kira kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi, ternyata saat aku terbangun, tubuh ku telanjang bulat hanya di bungkus dengan selembar selimut dan juga Yogi duduk membungkuk di sisi ranjang yang sedang aku tiduri,
aku masih tidak percaya, dan melirik ke kanan dan kiri berharap ini hanyalah mimpi, mimpi buruk
"kau tidak sedang bermimpi, sayang", ucapnya lembut sambil memberi senyum, menebak apa yang aku pikirkan
"kau..", suaraku tersekat, tak mampu berkata kata, rasa sesak itu menimpa lagi hingga aku menangis lagi sekencang kencang nya hingga membuat Yogi menjadi panik
ia mencoba merangkul ku tapi aku tepis dengan kasar, "jangan sentuh aku!", aku berteriak, lalu dengan cepat aku mengambil bajuku yang berserakan dan lari ke kamar mandi lalu mengunci nya
aku mengguyurkan tubuhku yang ku anggap hina di bawah air dingin shower, ku usap kasar seluruh sisi tubuhku, ku cakar, ku jambak rambutku sendiri tanpa sadar dan menjerit sehingga membuat Yogi panik dan berulang mengetuk pintu kamar mandi, "sayang", memanggil ku panik dan berulang
aku membenturkan kepalaku di sisi tembok tempatku bersandar dari guyuran air dingin, berharap pikiran ku menjadi tenang tapi tetap semakin tak terkendali
"sayang, hentikan", ucap Yogi yang sudah berhasil mendobrak masuk pintu kamar mandi dan menutup tubuhku yang masih telanjang dengan jubah mandi, lalu mengusap telapak tangan nya dengan kasar ke kepala yang baru saja ku benturkan, "aku mohon jangan begini", ucapnya serak
aku telah hilang kendali
Yogi membantu ku berjalan keluar dari kamar mandi, menopang tubuhku yang lemah dengan tubuhnya yang kekar.
kini aku membanting tubuhku dan duduk disisi ranjang, pandangan ku menjadi kosong menahan kemarahan hasil ulah ku sendiri.
Yogi datang mendekatiku, duduk berjongkok di bawah kaki ku, melingkarkan tangan nya tiba tiba dan menenggelamkan wajahnya di pahaku yang terbungkus, ia menangis
"apa kau puas?", tanyaku lemas kemudian, tak bertenaga lagi, sudah hilang semangat di jiwaku
Yogi menggelengkan kepalanya, menatap wajahku yang membeku, "aku tidak bermaksud menyakitimu", ucapan nya membuat ku geli, ingin menertawakan nya dalam tangisan seperti orang yang sudah hilang akal, "aku akan menikahimu, sayang"
"menikah?", aku mengulang katanya sembari bertanya, aku tertawa mendengar nya, menertawai diriku sendiri yang sudah tak tahu diri ini, "kau ingin menjadikan ku wanita simpanan mu? dan hanya untuk memuaskan nafsu birahi mu saja, hah?... begitu kah maksud mu?"
dengan sigap Yogi langsung memelukku erat hingga penolakanku tak ada artinya, "tidak, bukan seperti itu, maafkan aku", ucapnya serak, "aku akan menjadikan mu satu satu nya wanita dalam hidupku, jadi ku mohon tunggu lah aku", ucap nya penuh pengharapan
"Lepaskan!", aku berteriak kembali lalu mendorongnya menjauh dari tubuh ku, "kau pikir aku akan tertipu dengan janji manismu yang nyata nya busuk itu, kau tahu? kau sudah menghancurkan bahkan harga diri ku dengan memaksakan kehendak mu kepada ku, aku memiliki rencana dan kebahagiaan ku sendiri jadi pergilah dari hidupku",
"tidak, jangan katakan itu, sayang!", ucapnya tetap keras kepala, "Bima tidak bisa membahagiakan mu, jadi aku tidak akan melakukan hal bodoh dengan melepas mu lagi"
"lalu, kau pikir dapat membahagiakan aku dan merasa lebih baik dari Bima? lihatlah dengan jelas diri mu, kau itu sudah menjadi milik wanita lain, seharusnya kau lebih tahu diri!", ucapku dengan ketus, "keluarlah!, aku akan mengganti baju"
mungkin ucapanku terlalu kasar sehingga membuatnya sedih membisu, menahan amarah yang terlihat jelas di wajahnya sehingga matanya berkaca kaca, tanpa menjawab ia mengindahkan ku dan langsung pergi keluar dari kamar
segera aku memakai pakaian ku dengan cepat, lalu berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga.
__ADS_1
ku lihat Yogi berdiri memasukkan telapak tangannya kedalam kedua saku celana nya, serta pandangan nya tertunduk sedih, tidak sekalipun menahanku untuk melangkah pergi dari apartemen nya.
aku membuka dengan kasar pintu apartmen miliknya dan tak sengaja berpapasan dengan tunangan nya yang sebentar lagi akan menjadi istri nya, "Bela, kenapa kau pagi pagi begini keluar dari apartemen Yogi?", tanya Jesi tanpa basa basi
dengan perasaan geram serta amarah, aku tidak bisa menjawabnya, "aku permisi", hanya itu yang bisa ku ucapkan dengan ketus lalu aku pergi tanpa menoleh sekalipun
****
****
sepanjang perjalanan aku mendekatkan wajahku dekat jendela, melihat setiap pemandangan kota dan menghirup udara segar di pagi hari yang sangat sejuk.
bagaimana aku bisa sebodoh ini? membiarkan tubuhku digunakan lagi oleh lelaki brengsek sepertinya, dan Bima yang aku percaya telah mendapatkan cintaku malah terang terangan bergandeng tangan dengan perempuan lain didepan mata ku dan sahabatku, membuatku merasa frustasi dan tak sanggup membayangkan nya.
aku masih menghirup udara segar sampai akhirnya tiba di depan rumah ku,
"Bela?", ucap Bima yang sedang berdiri didepan pintu menungguku, "dari mana saja kau semalam?"
"bukan urusanmu!", jawabku ketus dan meminta nya untuk minggir agar tak menghalangi ku untuk membuka kunci pintu rumahku
aku membuka kunci pintu rumahku dan hendak masuk tapi Bima mengambil lenganku erat serta menahan ku, "kau tidak menjawab ku, kemana saja kau semalaman?", tanya Bima lagi memintaku segera menjawabnya
"kau tuli, itu bukan urusanmu!", aku menepis tangannya lalu masuk ke dalam rumahku, ia mengikuti ku masuk
"Bela, apa kau masih marah kepadaku?", ucapnya parau dan mendekatakan diri dekat dengan ku
"tidak, aku hanya ingin sendiri", ucapku sambil merebahkan tubuhku ke kasur, aku mengelus perutku yang perih karena lapar.
"apa kau lapar?", tanya Bima menebak gerakan tangan ku yang mencolok
Tidak tahu apa yang terjadi Bima langsung melangkah pergi tanpa pamit
aku pun segera membersihkan tubuh ku lagi yang masih terasa lengket dan mengganti pakaian ku yang sudah kotor,
tak lama kemudian setelah aku selesai menggangi baju, aku dengar suara ketukan pintu, membuatku tegang dan gugup, apa itu Yogi?
aku memberanikan diri untuk membuka pintu rumah ku, ternyata Bima datang kembali, "hai" sapa Bima lalu langsung ku tutup kembali pintu,
dia mengetuk pintu lagi, "ada apa?" tanyaku kesal, justru ia langsung menyodorkan sebuah plastik berisi kotak makanan
"ambil lah!", aku mengambilnya karena merasa tak enak hati, "aku tunggu kau di kampus nanti siang, aku pergi dulu!", ia langsung pergi tanpa sempat aku mengucapkan rasa terimakasih
mencium bau nya seperti makanan yang tak asing di hidungku, lalu aku segera meletakkan di meja dan membuka nya dan ternyata berisi mie kesukaan ku, mie yang sering aku dan Bima nikmati berdua.
"dia jauh jauh pergi hanya untuk membelikan aku mie kesukaan ku", gumamku dalam hati membuat ku merasa terharu
lalu segera aku melahap mie yang ia belikan dan menghabiskan nya hingga perutku terasa begitu kenyang, tak muat suatu apapun, dia membelikan ku dua mangkok jumbo sekaligus.
****
walaupun tadi pagi aku mengalami hal buruk, tapi aku harus tetap giat belajar demi masa depan ku, karena nasib ku tak seberuntung mereka yang terlahir dengan sendok emas di mulut nya.
aku ingat hari ini ada kelas bersama dengan Sindi, tapi aku cari cari ia tidak ada, atau jangan jangan tadi malam ia juga mabuk berat?
aku menjitak kepalaku pelan, karena aku tidak ingat meninggalkan nya begitu saja di pesta, lalu aku berinisiatif untuk menghubungi Sindi.
__ADS_1
"hallo Sin, kau dimana?", tanya ku pada Sindi yang jauh diseberang
"hallo bel, aku titip TA, akibat pesta semalam tubuh ku masih terasa tidak enak dan mual", jawab Sindi serak nan lemas,
"oke, baik baik ya aku akan kerumah mu nanti", lalu aku memutuskan panggilan ku
kini aku berjalan melangkah ke kelas, tapi aku melihat Bima menunggu di depan pintu, aku ingin menyapa nya tapi lagi lagi Niken datang langsung memeluk lengan nya dan bergelantungan
aku menghentikan langkah ku dan berbalik arah, aku akan bolos hari ini
aku memilih ke perpustakaan, lagi lagi Bima datang seperti mencari ku tapi aku langsung bersembunyi dan menghindar, aku tidak ingin berbicara apa pun pada nya hari ini
"Bela", sapa Bima dari belakang, aku mencoba menghindari nya tapi semua hanya sia sia,
aku membalikkan tubuhku dan dengan angkuh mentap nya, "ada apa mencari ku?"
"kenapa kau menghindari ku? kau selalu kabur setiap melihat ku", tanya Bima
"aku bukannya kabur darimu. Aku menjauh perlahan, dan itu membunuh ku. Karena kau tak cukup peduli untuk menghentikan ku", jawabku dongkol
mendengar jawabanku dia menundukkan kepalanya yang semula sama angkuh nya, menatapku kembali dengan mata nanar seolah perkataanku menusuk ke dalam hati nya, "Bela maafkan aku, bukan nya aku tak peduli dengan mu dan lebih memilih Niken tapi ada hal di luar kemampuanku, aku harus memikirkan para pekerja yang menggantungkan nasib nya kepada perusahaan ku dan sedangkan Niken adalah anak dari relasi bisnis perusahaan ku, jadi...",
akupun mulai mengerti ucapan nya, aku memahami nya dan aku tidak jauh lebih penting dari apapun, "jadi, tinggalkan lah aku!", sahutku memutus perkataan nya
ya memang aku gila dengan segala ke egoisan ku tapi mengetahui fakta nya bahwa aku bukan hal penting bagi nya, itu lebih menyakitkan untukku
aku membalikkan badan ku dan pergi menjauh dari nya yang masih terpaku dalam tangis, sudah sering ku dengar permintaan maaf dari nya, kali ini aku akan berhenti dan mulai dengan hidup ku yang baru, tanpa Bima dan juga Yogi
****
****
tapi kemudian saat aku berada di halte Busway, Bus kini berhenti tepat di hadapanku dan aku ingin segera menaiki nya tapi tiba tiba jemari lembut menggapai jemari tangan ku, aku membalik kan badan untuk melihat siapa pemilik tangan lembut ini
"Yogi?", ucapku kaget, tak percaya Yogi sedang berada didepan mata ku, "Lepas!", aku melepaskan tangan ku paksa tapi untunglah kali ini ia tidak memaksa
Yogi langsung bergerak ke arah pintu Busway, "kenapa kau hanya diam, hanyo masuklah!", ucapnya lalu masuk ke dalam Busway
tak pikir panjang aku masuk juga ke dalam Busway yang ku tunggu, tapi juga bingung kenapa Yogi ikut naik kendaraan umum, "ini kan bukan arah rumahmu?", tanyaku pada Yogi yang tepat duduk disampingku
Yogi membalasku dengan senyuman lembut, menatapku hangat dan mendekatkan wajahnya lebih dekat seolah akan melumat bibirku, membuatku semakin membelalak, "kau..kau tidak akan melakukan nya didepan umum kan?", tanya ku gugup
mendengar ucapanku dia semakin melebarkan senyumnya dan menutup mulutnya menahan tawa tengil nya, "jika aku mau melakukan nya, itu tidak harus disini", ucapnya penuh ancaman
"cihh, kau memang selalu bersikap semau mu!", aku ketus dan tak peduli lagi, bagaimana bisa dia berubah secepat itu, aku pikir tadi pagi dengan ucapan kasarku yang menohok, dia akan menjauhi ku, dan ternyata tidak berefek apapun malah semakin menjadi lengket dan mengikuti ku.
tak terasa aku begitu kelelahan sehingga membuat mata ku terasa begitu kantuk akibat angin sepoi menerpa wajahku, aku menyandarkan kepalaku ke kursi Bus, perlahan menenggelamkan mataku dan tertidur
****
Hanya karna cinta adalah sesuatu yang indah, tapi bukan berarti akan selalu berakhir bahagia
****
__ADS_1