
Debaran serta rasa hangat menyentuh perasaanku yang dalam, seolah kau sudah terukir disana.
kau siapa sebenarnya? kenapa aku luluh dengan tingkah ke kurangajaranmu padaku?
saat kau menyentuh bibirku dengan lembut, seolah aku tak ingin mengakhirinya, begitu beda.
sangatlah berbeda dengannya.
bagaimana aku bisa tersihir olehmu, aku baru mengenalmu tapi seakan kau sudah tinggal lama dalam hatiku.
beginikah Gilanya mencintai?
empat tahun lamanya aku telah berada dalam rasa kehampaan, meneteskan air mata ketika sesak di dada mendera seakan aku tak ingin bernyawa lagi.
tapi sekarang, pengkhianatan ini kenapa terasa begitu nyata dan nikmat adanya, aku menginginkan mu lebih, tapi...
"bukankah kau sudah punya kekasih? jangan lakukan hal ini lagi!", ucapku lalu mendorongnya menjauh
tanpa menunggu balasan atas ocehanku, aku meninggalkannya pergi.
ku pukul dadaku dan kepalaku yang sudah tak berfungsi pada tempatnya,
bagaimana bisa aku berkhianat pada Diki? padahal dia sudah mau bersabar menungguku dan bersikap baik tanpa mau mengekangku.
"apa yang sudah ku perbuat?" gumamku pada diri sendiri
aku berlari dan bersedih karena tak seharusnya berada dalam kebimbangan perasaan seperti ini, seakan aku sudah pernah mengalaminya sebelumnya.
****
tok tok tok
suara ketukan pintu kamarku, tanpa berpikir panjang aku sudah dapat menebak siapa dibalik pintu kamarku.
tok tok tok
aku ingin mengabaikannya dan meredam perasaanku, tapi aku tak bisa terus mengabaikannya.
ku putuskan langkah kakiku untuk mendekat, membuka pintu untuknya.
"ada apa?" tanyaku memalingkan muka didepan pintu
"kenapa kau tiba tiba lari meninggalkanku?"
"aku tidak ingin menjawab, tapi aku tak suka jika kau terus kurang ajar padaku"
"jika karena itu, aku tidak akan melakukan lagi tanpa se izin mu, aku berjanji", Yogi menggapai tanganku dan mengelusnya, "karena aku tidak ingin kau membenciku"
Deg!! kenapa janjinya membuatku sakit?
"baguslah, kau seharusnya menemui wanitamu!"
Yogi terkekeh, "ya kau benar!"
benarkan dugaanku
"pergi sana pada kekasihmu, jangan padaku lagi!"
"ya baiklah!" sahutnya masih terkekeh
aku mengepalkan tanganku kesal mendengar jawabannya.
"jangan bersikap kurang ajar lagi, aku ini sudah memiliki tunangan dan aku tidak mungkin mengkhianatinya" ucapku bersindakap, "tunanganku lebih baik darimu jadi jangan harap kau mampu membuatku.."
"diam!" bentak Yogi tiba tiba mencengkram lenganku
"a..apa yang kau lakukan?" tanyaku gugup melihat tatapan tajam dan sedih di matanya
"jangan menyebutkan pria brengsek itu, apa lagi kau membandingkan aku dengannya", ucapnya melepas cengkeramannya, "kalau tidak, aku akan melanggar janjiku dan menyentuhmu lebih" ancamnya lalu pergi meninggalkanku
aku hanya bisa tertegun mendengarnya semurka itu.
__ADS_1
"apa apaan sih dia? kenapa dia bisa semarah itu?"
****
****
Kini Yogi tak lagi bertingkah tengil kepadaku, sepanjang hari dia hanya sibuk menata merapikan bunga bunga di toko.
setiap kali aku ingin menyapa nya, dia memalingkan muka menghindariku.
kebetulan aku memesan pizza dan aku ingin menawarinya untuk makan bersamaku tapi aku ragu, apa dia masih mengabaikanku?
"Y o g i ?" sapaku sedikit manja, tapi dia tetap tak menghiraukanku yang tengah duduk dan terus membersihkan lantai
"aku membeli pizza, kau mau?"
Ia masih saja mengabaikanku
"enak loh! aku membeli pizza dengan topping daging dan keju yang meleleh", aku mengambil serta menggigit pizza untuk membuatnya tertarik
tapi tetap saja dia mengabaikanku,
"ya sudah kalau kau tidak mau!"
tiba tiba ponselku berdering, menunjukkan bahwa Diki memanggilku
"hallo", jawabku
"sayang, kau dimana?"
"aku di toko tidak kemana mana, bagaimana dengan syuting mu? apakah lancar?"
"hem ya lancar seperti biasa, aku ingin segera pulang dan segera bertemu denganmu"
"syukurlah jika berjalan lancar"
"hemm kau tidak merindukanku?"
"tentu, aku juga merindukanmu" sahutku sedikit gugup, "ya sudah aku tutup dulu ya, ada pembeli"
seketika langsung aku putus panggilan telfonku, dan seketika itu pula Yogi sudah berdiri didepanku.
lalu tanpa ku duga dia membungkuk mendekatkan diri padaku, memegang daguku untuk mendongak padanya kemudian tanpa aba aba Ia langsung melumat bibirku lagi secara mendadak.
aku hanya bisa membelalakkan mata.
memukul dadanya untuk melepas pagutannya tapi Ia malah memegangi tanganku, mengunciku lagi lalu dengan jahatnya dia melumat bibirku dengan sensual.
bukan hanya itu, tangannya juga bergerak dengan lihai *** dadaku.
"wah"
aku juga mendengar ucapan keterkejutan dari para pelanggan toko yang berdatangan membuka lalu menutup lagi pintu,
astaga, ada apa dengannya? dia tidak memberi ruang untukku bernafas.
ketika Ia melepas pagutannya di bibirku, Ia beralih menyecap leherku dan menggigitku hingga memberi bekas ke unguan pada lekuk leherku yang pucat.
"apa yang kau lakukan hah?" bentakku sambil memegangi leherku bekas tandanya
"aku hanya menyicipi pizza lewat mulutmu!" sahutnya menyeringai
"apa, kau bercanda hah? jelas jelas kau kurang aja lagi padaku", ucapku menyatukan alis, "bukankah kau sudah berjanji padaku bahwa kau tak lagi menyentuhku huh?"
"aku juga sudah mengatakan bahwa jangan lagi kau menyebut atau pun berbicara dengan si brengsek itu"
"kau apa apaan sih? apa salah dia hingga kau sangat membencinya?"
"dia sudah memisahkan kau istri..", ucap nya tersekat, "arhgg sudahlah"
Yogi mengacak rambutnya gusar lalu menendang meja didepannya, "brengsek!"
__ADS_1
"maksudmu apa, Yogi?" tanyaku masih tak mengerti
"dengarkan aku", Yogi memegang kedua sisi pundakku, "Dia bukan pria baik seperti yang kau bayangkan selama ini, menjauhlah darinya!"
"apa?", aku menepis tangannya, "yang selalu kasar dan se enaknya selama ini itu kau, aku sudah mengenalnya lebih lama darimu bahkan aku pernah memiliki anak dengannya"
"itu bukan anaknya", teriak Yogi lantang membuatku tercengang, memegangi kedua pundakku lalu mengguncangnya, "bagaimana caraku untuk meyakinkan mu? bagaimana caraku untuk mengembalikan ingatanmu? bagaimana, Bela?"
pertanyaan bertubi yang terlontar dari nadanya yang serak hanya membuatku kaku, aku tidak mengerti tentang semua yang tengah dia bicarakan.
bagaimana dia tahu tentang kehamilanku? bahkan aku yang tengah lupa ingatan?
Yogi mendekapku, menenggelamkan wajahnya yang bersedih diantara lekuk leherku.
aku hanya mampu memopang tubuhnya yang bersandar, tapi tidak mampu menghentikannya kali ini.
rasa kebingungan terserap diotakku hingga membuatku takut, takut menghadapi dunia luar yang tak ku kenal lagi.
Tuhan, kembalikan ingatanku
****
aku duduk dibangku taman belakang rumahku sambil menatap langit yang cahayanya sedikit menderang.
"kau sedang apa?" tanya Yogi mendekatiku sambil membawa kopi cup untukku dan aku berterimakasih.
"sedang melihat langit dan menghirup udara malam"
"udara malam memang sangat menyenangkan, tapi sayangnya bintang pun kali ini ikut tenggelam sehingga kita tak dapat menikmati ke indahannya"
pffft "kau pintar sekali memilih kata kata" ucapku tertawa
kali ini Yogi menatap dalam kepadaku membuatku sedikit canggung dibuatnya.
"kau tidak ingin menanyakan tentang Bela yang ku sebut tadi?" tanya Yogi menatapku penuh arti
"tidak, aku tidak ingin memikirkannya. aku sudah cukup sulit selama ini", sahutku tegas sambil menghembuskan nafas perlahan
"apa segitu berartinya Dia sampai kau ingin melupakan segalanya?"
"kau tak akan mengerti, aku tidak ingin menyakitinya"
Yogi mengusap wajahnya kasar, "baiklah, aku mungkin masih tidak mengerti tapi.. apa kau mencintainya?"
aku langsung memalingkan pandanganku ketika Yogi menanyakan hal itu.
"apa kau mencintainya?" tanya nya sekali lagi
tapi sungguh, aku tak mampu menjawabnya karena sungguh dalam hatiku sangat bimbang.
ada perasaan bergejolak didalamnya seakan aku pernah menyakiti perasaan orang yang pernah mencintaiku, lalu sekarang ketika menatap matamu, Yogi.
kenapa perasaanku berdebar dan ingin memilikmu?
saat ku tatap mata Yogi kembali, Ia pun tersenyum tanpa mendengar satu patah kata pun keluar dari mulutku.
"aku sudah mendengar jawabanmu" ucap nya tersenyum
"eh?"
Yogi memegangi jemariku lalu didekatkan dengan dadanya, "setidaknya, hatimu tak berubah kepadaku"
ya, dia sudah dapat menebaknya tapi aku masih bingung akan jawaban hidupku yang sesungguhnya. siapa yang harus ku percaya?
****
Cinta itu tidak pernah tersesat, dan cinta tidak pernah salah, karena cinta tumbuh tanpa kita ketahui dan untuk kita cari alasan mengapa kita bisa jatuh cinta
****
****
__ADS_1