
dalam tidurku yang nyenyak, aku merasakan sesorang tengah mengguncang pelan tubuhku agar bangun dari tidur kecil ku.
"sayang, kau sudah sampai", ucap Yogi membangunkan ku
aku melebarkan mata ku dan melihat keluar jendela tidak percaya, aku melangkah kan kaki ku keluar dari Busway, sementara Yogi juga ikut turun mengikuti.
"hei, darimana kau tahu kalau aku akan berhenti dirumah Sindi? dan juga.. kapan kau tahu alamat rumahnya?", tanyaku penasaran
"hmm itu mudah bagi ku, saat itu kau tidak sedang dirumah lalu aku melakukan panggilan telfon kepadamu dan kau mengatakan bahwa sedang bermalam dirumah Sindi tapi ternyata kau berbohong, kau berselingkuh dengan si tengik itu di belakang ku", Yogi berucap sambil menyunggingkan bibirnya, masih merasa marah atas kejadian yang lalu
pantas saja malam itu dia begitu agresif
"tapi kan aku tidak punya hubungan apa apa dengan Bima waktu itu", sahutku beralasan, "aku tidak pernah sekalipun menyelingkuhi mu"
"apa? kau pikir berduaan dan menyukai lelaki lain di belakang kekasih mu itu bukan suatu masalah bagi mu?", jawab nya marah dan malah memojokkan ku, membuat ku merasa bersalah serta merasa malu
"apaan sih, itu kan sudah menjadi masalalu", jawabku ketus tidak ingin memperpanjang keributan kecil yang kita buat dan berpaling melangkah pergi, tapi Yogi lagi lagi menahanku, "apa lagi?" tanya ku kesal
"jangan lupa nanti kau harus menghubungi ku jika kau sudah pulang!", ucapnya sambil tersenyum manis membelai rambutku
Ngg apa dia sedang sakit atau lupa ingatan??
"cihh, kau pikir dirimu itu siapa, kau bahkan lupa statusmu sekarang", aku membecinya yang berlaku lembut seperti ini, "pergilah! jangan mengikutiku lagi, aku bahkan membenci mu saat ini, dan mulailah hidup baru dengan wanitamu itu", aku membuang muka dan lagi lagi dia menahan ku pergi
"apa lagi hah?", aku menggertakkan gigi ku, begitu kesal karena dia begitu keras kepala
"sekarang cuacanya sangat dingin, jangan lupa memakai syal untuk menghangat kan tubuhmu, kau rapuh dan mudah sakit, kau harus benar benar menjaga dirimu dengan baik", dia berucap dengan lembut sambil mengalungkan sebuah syal hangat di leherku, dia masih memperlakukan ku dengan hangat dan tidak memperdulikan ucapan kasar yang aku lontarkan,
dengan sikapnya seperti ini membuat hatiku terasa terpukul, seakan tak percaya bahwa ia masih dekat denganku, begitu dekat aku melihat wajahnya dengan jelas, tampan
ah apa sih yang sedang ada di otakku, aku tidak bisa menerimanya.
aku menundukkan kepalaku dengan kesal karena pikiran anehku, seharusnya aku harus sangat membencinya
tiba tiba saja ke dua telapak tangannya memegang pipiku, mendongakkan pandangan ku lalu mengecupku membuatku membelalak kaget atas tindakan nya yang tanpa aba aba,
karena kaget aku mendorong tubuhnya yang kokoh tapi percuma, "kau", aku kesal di buat nya
tanpa sadar Sindi sedang asik berdiri mengawasi kami berdua, seperti nya sudah sedari tadi
"Bela", teriak Sindi mengagetkan ku, aku pun segera berlari kearah Sindi dan menundukkan wajahku merasa malu seperti sedang kepergok orangtua bahwa anaknya sedang Nakal, "Yogi, kau pergilah!", ucap Sindi dingin kemudian
berbeda dengan Yogi yang merasa tidak terjadi apa apa, dia pun hanya menanggapi Sindi dengan senyum menyebalkan nya itu, "baiklah, selamat malam", ucap Yogi lalu pergi sambil melambaikan tangan
****
****
__ADS_1
aku duduk di bangku belajar milik Sindi, mempersiapkan hati untuk di interogasi oleh sahabat baik ku
Sindi sedang duduk ditepi ranjang, menyilangkan tangannya di dada dan menatap ku tajam menunggu penjelasan yang baik dari ku
ehemm , Sindi memberi kode kepadaku untuk memulai percakapan, sudah tak sabar ingin mendengarkan langsung dari mulutku
bukankah aku kesini untuk menjenguknya, tapi kenapa malah berakhir seperti ini?
"kau, pulang dengan siapa kemarin?", tanyaku memecah keheningan antara aku dan Sindi
"aku tidak ingat, aku terlalu mabuk dan itu sangat memalukan", jawab Sindi menyesal dan mengusap wajahnya dengan kasar, "seharusnya di acara sepenting itu aku harus menahan diriku, argggghhh"
Sindi membanting tubuhnya hingga setengah berbaring diatas kasur, menghembuskan nafas panjang untuk menetralkan pikiran nya yang tak karuan, sejenak ia lupa tentang Yogi
aku sempat merasa merasa lega dia tidak menginterogasi ku lagi, tapi hal itu cepat memulihkan ingatan nya lalu bangkit dengan cepat untuk kembali duduk di posisi nya
"lalu kau semalaman bermalam dimana?", tanya Sindi tajam
Degg! aku bingung bagaimana harus menjelaskan nya
"kau tahu darimana?", tanya ku gugup, karena Sindi tahu betul bahwa aku tidak ada tempat lain untuk pulang selain rumah ku sendiri
"Bima mengejarmu malam itu, saat kau pulang sendirian",
Degg! apa maksudnya Bima mengikutiku?
"lalu, apa dia kembali lagi ke pesta malam itu?" tanyaku ingin memastikan dugaan ku
"tidak, dia tidak pernah kembali", sahut Sindi sedikit mengernyitkan dahi, tidak paham apa yang ku maksud
"Bima pagi buta menelfonku, menanyakan apakah kau pulang ke rumahku"
Brakk!! seketika tubuhku roboh, lemas tidak bertenaga, dadaku terasa ingin meledak dan tak percaya
Bima sudah tahu semua nya!!
"Sin, maaf aku harus pergi dulu untuk menemui Bima!", ucapku lalu pergi tergesa gesa
perasaan bersalahku, perasaan menyiksa ku.
ku ingat jelas pagi itu dia menunggu di depan rumahku, semalaman masih memakai setelan jas yang ia kenakan di pesta, matanya merah dan bengkak bekas sedang habis menangis, kenapa aku begitu bodoh tidak menyadari nya
****
****
aku memberanikan diri ku datang ke apartemen milik Bima, dan memencet bel rumah nya, aku menunggu dengan gelisah bagaimana aku harus menjelaskan nya
seseorang membukakan aku pintu apartemen milik Bima, "Bela, kenapa kau kemari?", tanya Niken ketus sambil berdiri menyilangkan ke dua tangannya dan menyandarkan tubuhnya tepat di pintu, berdiri penuh kesombongan bak tuan rumah
__ADS_1
"aku ingin berbicara dengan Bima", sahutku tidak memperdulikan nya, aku ingin menerobos masuk tapi Niken menghalangiku
"Bima sedang mandi, jadi kau lebih baik pulang saja!", ucapnya pedas juga ingin menegaskan kepadaku bahwa mereka sudah saling bercumbu, tapi aku tidak sebodoh itu mempercayai nya
"minggir!", aku langsung saja mendorong tubuhnya ke pinggir agar tidak menghalangi langkah ku,
aku melangkah masuk dengan cepat hingga Niken tidak mampu menghentikan ku, aku mencari nya ke seluruh ruangan bawah tapi tak menemukan nya.
aku melangkah masuk ke kamar atas, tepat aku menemukannya tengah berdiri di balkon sedang melihat pemandangan luar.
"Bima", sapaku mendekati Bima, aku melangkah kan kakiku yang mulai terasa berat saat melihat nya
"Bela, tumben kau datang kemari?", Bima tersenyum bahagia menyambut kedatanganku, lalu memelukku, "aku kira kau akan meninggalkan ku"
aku melepaskan perlahan pelukan nya dan menatap wajah nya dengan pilu, mencoba mengeluarkan suaraku yang tertahan nan bisu, "kau,.. tahu semua?", tanya ku kemudian membuat air mataku jatuh tak tertahan, "kenapa kau masih bodoh untuk mempertahankan ku?"
Bima mengusap wajahku yang basah dengan jemarinya yang lembut, mengangguk ucapanku dengan senyum penuh ironi "iya aku memang bodoh, dan seperti itu", ucapnya serak,
"lalu kenapa kau masih menunggu ku malam itu?", aku berucap sambil mengelus juga pipi dan matanya yang mulai memerah, "seharusnya kau langsung pergi, jangan pernah menoleh lagi kepadaku"
kali ini dia benar benar menagis didepan ku, sampai suaranya tersenggal, "awalnya .. aku merasa bersalah karena mengabaikan mu, lalu .. aku berniat mengantar mu pulang .. ternyata kau sudah lebih dulu memasuki sebuah mobil yang aku kenal salah satu milik keluarga Yogi dan..", Bima semakin menunduk dan menangis, tubuhnya roboh dan jatuh menopang tubunya di kursi yang terletak di balkon, "dan aku mengikuti mu .. hingga mobil yang kau tumpangi memasuki area parkir milik Yogi, aku tidak ingin percaya bahkan menunggu mu semalaman didepan apartemen milik bajingan itu .. hingga pagi menjelang, kau keluar dengan pakaian lusuh dan menangis"
aku tertegun tak percaya, satu hal yang ingin ku sampaikan tapi dia ternyata sudah melihat nya sendiri, perasaan bersalah berkecamuk di dalam hatiku
"kau.. kenapa tidak pernah sekalipun memberitahu ku bagaimana hubungan mu dengan Yogi yang sebenarnya?", tanya Bima seakan menghakimi ku yang tak pernah berterus terang kepada nya selama ini
"aku, aku takut kau akan meninggalkan ku", sahutku serak, bibirku bergetar begitu hebat karena tangisan, ku remas baju di dadaku dan menariknya, begitu sakit ku rasakan mengingat kesalahan terbesarku
tak ku sangka Bima malah memberi pelukan hangat nya untukku, "kenapa kau berfikir seperti itu Bela", ucapnya serak sambil meneggelamkan wajahnya di antara lekukan leher dan pundakku, ia mengecup leherku lembut, "bagaimana pun dirimu, aku tetaplah masih seorang Bima yang mencintai mu.. apa ada nya"
seketika tangisku begitu pecah dan tenggelam di dalam pelukan hangat nya, sekali lagi aku mencoba menyadarkan diri ku yang tak berarti ini
"Bima, seharusnya kau mengakhiri ini semua?", ucapku melangkah mundur dari pelukan nya
"apa maksudmu, Bela?", tanya Bima yang masih tidak mengerti akan maksud dari perkataan ku
"mari kita berpisah", ucapku memecah segala nya
"tidak, aku tidak mau", sahut Bima tegas dengan pendirian nya, "aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu"
aku tak menyangka bahwa Bima begitu keras kepala seperti ini
"kau jangan bodoh, kau harus meneruskan rencana pertunangan mu dengan Niken, terlebih kau juga sudah tahu bahwa aku tak pantas untuk mu lagi", aku melangkah mundur dari pandangannya, "kau harus memikirkan nya!", ucapku lalu pergi berlari meninggalkan nya
aku melakukan kesalahan terbesar ku dengan mengabaikan cinta pertama ku, salah paham dengan perasaan nya lalu pergi meninggalkan nya hingga berlari ke pelukan lelaki lain dan aku pun terjebak di dalam nya hingga membuat perasaan orang yang aku kasihi selama ini terluka, bahkan diri ku sendiri sudah menjadi hina dina
****
Di dunia ini, ada sesuatu yang tidak dapat dipaksakan. Apakah kamu tahu apa itu? Hal – hal seperti nasib, terlepas dari seberapa keras kamu berusaha untuk meraih, kamu tidak bisa mencengkeram itu. Dan bahkan jika kamu berhasil mendapatkan itu, itu tidak akan tinggal ditanganmu selamanya
****
__ADS_1