AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
inikah akhirnya?


__ADS_3


banyak sekali tumpukan berkas yang harus aku periksa satu persatu, sangat melelahkan


ku usap keningku kasar yang sudah mulai terasa panas dan juga kelelahan, ku lihat jam dinding kantor masuk menunjukkan pukul empat lebih dua puluh menit sore hari.


tok tok tok suara ketukan pintu


"ya silahkan masuk!", jawab ku tanpa menoleh siapa yang datang, aku terus memantau komputer yang ada di depanku dan menguap karena kantuk


"sayang, kau sedang apa?", suara Yogi menyapa ku


aku membelalak kaget, sejak aku pindah kesini, dia selalu datang kepada ku tanpa memikirkan omongan sekitar.


tumben saja dia mempunyai tata krama dengan mengetuk pintu terlebih dahulu


"kau tidak lihat? kerja lah", jawab ku ketus dan serak


"istirahatlah! bukankah aku sudah menyiapkan sofa panjang nan empuk untuk kau gunakan jika kelelahan?"


aku menggelengkan kepala, "aku tidak mengantuk", setelah menyangkal aku langsung menguap begitu saja hingga mata ku berair karena nya


sungguh, badanku menolak jalan pikiran ku.


Yogi tertawa melihat diriku yang begitu keras kepala terhadapnya, ia langsung saja menarik lenganku, menuntunku untuk duduk di sofa panjang yang berada di dalam ruangan ku.


"duduklah, kemudian luruskan kaki mu!", perintah nya mambuat ku malu serta canggung


"ah tidak perlu, aku hanya ingin memejamkan mataku sejanak", sahutku menolak


tanpa permisi ia melepaskan sepatu hak yang aku gunakan, lalu mengiring kaki ku naik ke atas sofa lalu melangkah ke belakang punggung ku.


"kau mau apa?", tanya ku membelakangi nya


"diamlah!", entah apa yang akan ia lakukan tapi aku hanya bisa menurut saja


tak kusangka jemarinya menekan nekan kepalaku ringan, mejijit bahuku pelan hingga terasa tubuh ku ringan.


sungguh aku sangat di perhatikan oleh nya, bagaimana aku akan membalas nya? menyedihkan


"sayang, kau agak berisi ya sekarang?", tanya Yogi masih memijit bahuku pelan,


tentu, karena aku sudah berbadan dua


"apa besok malam kau ada waktu?", tanya Yogi mendekatkan wajahnya kepadaku


"tidak, aku ada janji dengan Bima", sahutku tegas, ia malah berhenti memijiti ku padahal sangat nyaman


"kemana?", tanya nya kemudian sambil melanjutkan pijitan nya


"dia mengajakku makan malam", ucapku tenang perlahan memejamkan mata, aku sudah tak tahan karena kantuk mendera, "kenapa kau bertanya?", tanyaku serak


"tak apa, aku juga akan mengajak tunanganku untuk makan malam bersama", sahutnya seraya berbisik ditelingaku, membuat ku tidak konsentrasi untuk tidur,


aku mengerutkan keningku menahan kesal, dia bahkan tidak pernah membicarakan tunangan nya itu lalu kenapa tiba tiba memberi tahu ku, kesal

__ADS_1


"sudah jangan memijiti ku lagi, aku tambah tidak bisa tidur!", ucap ku kesal, lalu memejamkan mata lagi


tiba tiba saja sesuatu yang lembut melumat bibirku lagi, aku membelalak melihat dagunya sudah berada di depan mataku, menunduk untuk melumat bibirku. aku pun kaget ingin beranjak dari tempat duduk tapi lagi lagi dia menahanku dengan melepas pagutannya


"sayang, istirahat lah! aku tak kan mengganggu mu lagi, aku hanya meminta sebuah hadiah saja darimu", ucap nya lembut kemudian melangkah meninggalkan ku yang memerah karena marah


apa, hadiah? bodoh bodoh, kenapa aku membiarkan nya kalau pada akhirnya dia mesum juga


****



****


sebelum pulang kerumah aku mampir ke rumah Sindi terlebih dahulu, seperti biasa dia hanya sibuk dengan seni lukis nya.


"hai, Sin?", sapa ku kepadanya tapi ia acuh


aku berusaha membujuknya, memberikan senyum dan pelukan semampu yang aku berikan kepada nya tapi marah nya juga tak kunjung reda,


"itu", ia merujuk pada perutku, "apa kau sudah membunuhnya?", tanya nya sinis memalingkan wajah seakan sudah tidak ingin lagi melihat ku


aku menggapai jemarinya dan menyatukan nya ke perut ku yang sudah agak buncit, "dia sehat",


ekspresi Sindi langsung berubah tersenyum dan memeluk ku, "syukurlah, kau sudah melakukan keputusan terbaik", ucapnya tak lagi marah kepada ku


*maafkan aku yang sempat berfikir bahwa akan lari dari tanggung jawab


"duduklah dan ceritakan kepadaku apa yang akan kau rencanakan selanjut nya*!", ucap Sindi menepuk ranjang, memberi kode agar aku duduk di dekat nya


"itu keputusan yang terbaik", jawab Sindi tak ku sangka, "kau harus mengikuti kata hatimu, hati mu lah sumber kebahagiaan mu", ucap Sindi sambil menunjuk telunjuk jari nya dekat dadaku, "awalnya aku kira Yogi memang seorang yang playboy tapi setelah aku mendengar cerita darimu, tentu juga aku mencari tahu. tapi setelah di pikir pikir, dia adalah orang yang tepat untuk mu",


"tapi Sin", jawabku menyeka


"apa kau memikirkan Bima?", dia menebak benar pikiran kacauku, "kita ini sahabat sejak sekolah, bahkan kau sejak kanak kanak dan pernah satu atap dengannya, bagaimana kau tidak mengenalnya dengan baik?", sahut nya menohok, "kau tahu?, dia sudah sejak di bangku sekolah sering memperhatikan mu, ia tersenyum saat kau bahagia tapi ia juga ingin mati rasa nya ketika kau sedih. saat Yogi selalu mendua dan kau buta karena cinta, dia yang selalu ada untukmu, memberi mu kehangatan tapi kau juga tidak pernah peka terhadap dirinya, kau tidak mencintai Bima lagi, Bela! kau hanya merasa bersalah kepada nya. Tanyalah pada hati kecil mu, siapa yang lebih kau butuhkan bukan yang kau inginkan, kau akan menemukan jawaban nya"


jawaban dari Sindi menyadarkan ku bahwa jika terus begini dengan hanya membohongi Bima, dia lah yang akhirnya terluka. aku terlalu egois pada nya, "Terimakasih, kau sudah memberi jawaban nya untukku", aku memeluk Sindi erat dengan rasa lega dalam hati ku


"Yogi, aku mencintai mu", gumamku dalam hati


****



****


aku berjalan perlahan sembari menatap langit di malam hari, tubuh ku terasa kaku dan nyeri.


aku menginginkan kue lagi, setiap hari tanpa manis manis rasa nya menyiksa.


ku berjalan perlahan dari gang sempit menuju rumah ku, ku dengar ada langkah kaki seolah mengikuti ku tapi saat aku menoleh tak ada seorang pun di belakang ku.


apakah seorang penjahat lagi? apa mereka sebenar nya masih hidup?


seketika tubuh ku bergidik ngeri, aku menajamkan pendengarkan ku guna memastikan dan ternyata benar.

__ADS_1


tiba tiba seseorang datang dari arah belakang lalu langsung menyergapku, memelukku. langsung saja aku memberontak dan memukulinya menggunakan tas kulit yang aku bawa, tanpa ampun aku terus memukulnya walaupun ia meronta kesakitan dan meminta pengampunan,


"sayang, ampun", seketika aku tertegun, suaranya tak asing bagi ku, dan jelas saja aku membelalak kaget karena ternyata dia Yogi


ah lagi lagi dia mengganggu ku


aku menghembuskan nafas lega dan mengusap dada ku perlahan, untung lah bukan seorang penjahat seperti yang sudah sudah


"kenapa kau mengikuti ku?", tanya ku ketus pada Yogi yang masih menunduk kesakitan


"aku hanya ingin memberi tahu sesuatu", sahut nya berdiri sambil memegang pipi nya yang berbekas merah karena terkena sambatan dari tas ku, "awww", dia kesakitan membuat ku menjadi panik


"kau..kau tidak apa apa? maaf, aku sungguh tidak sengaja", ucapku panik mengelus pipi nya yang memerah, "apa ini sangat sakit?"


ah bagaimana aku seceroboh ini, dia pasti sangat kesakitan dan aku tak tega serta merasa bersalah pada nya


dengan lancang dia memanfaatkan situasi, langsung mengecup pipi ku begitu saja, aku hanya terteguk membelalak kan mata ku karena tak mengerti


aku seolah hanya diam mematung melihat nya tersenyum manis ketika ia selesai mengecup pipiku sekilas, ada rona merah di wajah ku yang aku rasakan saat ini


aku akan berterus terang malam ini kepada nya, aku sudah tak sabar menunggu ekspresi kebahagiaan dari nya yang sudah lama menunggu jawaban ku kepadanya,


dengan malu malu aku ingin mengutarakan perasaan ku dan jujur dengan keadaan ku yang tengah mengandung anak nya, setelah cukup lama dalam keheningan akhirnya aku memberanikan diri.


"hmm a..", ketika aku ingin bersuara tiba tiba ia menggapai tangan ku, membuatku berhenti berbicara.


lalu kemudian dia memberiku selembar kertas tebal nan cantik, menaruhnya di dalam genggaman tanganku yang ia gapai sebelumnya. aku hanya bisa melebarkan mataku tak percaya.


"ini adalah undangan pernikahan ku, ku harap kau akan datang. walau semua sudah berakhir, aku tetap akan menunggu mu datang", ucap nya tersenyum padaku membuatku sakit, "kau harus datang ya!" ucap nya dia kemudian membalikkan badan dan meninggalkan ku yang berdiri mematung.


ya, aku sudah tak bertenaga, terkulai lemas mendengar ucapannya sehingga tak sanggup menggenggam surat undangan yang baru saja ia letakkan di genggaman tangan ku, undangan nya terjatuh tanpa ku lihat isi nya, itu saja cukup memperjelas semuanya.


"semua sudah berakhir?", ucapku mengulang kata nya yang menusuk.


Deg!! musnah sudah


apakah ini akhir nya? apa akhir nya akan seperti ini? dia akan meninggalkan ku setelah aku menyukai nya? setelah aku ....,


aku tersekat dalam tangis ku, tak mampu memikirkan nya yang sudah cukup menghancurkan jiwa ku, "jika akhirnya begini, kenapa kau merantai ku? kenapa pula kau masuk ke dalam hidupku? dan kenapa pula aku harus menanggung sakit karena mencintai mu!", teriak ku kesal dalam tangis yang tak terbendung


"aku membenci mu"


****


Kau peluk aku, tersenyum melihatku, merenung melihatku, kau menungguku, menunggu ku terjatuh sebelum kau meninggalkan ku


****



****



****

__ADS_1



__ADS_2