
Denger - denger nih tgl 25 ini bakal ada Vote POIN dari Mangatoon,
mohon dukungannya dengan cara menyisihkan POIN yang kalian punya untuk Author ya, Author ga berharap lebih sih.
kalian udah komentar dan Like aja, Author udah seneng banget.
Authority ini sebenernya Owner Klinik Kecantikan dan Penjual Alat Kecantikan.
eiiiittsss jangan malah komen konsultasi tentang wajah ya hehe
Nulis karena hobi aja, dan sukur sukur kalian pada suka. untuk give away atau apalah. liat aja nanti.
Jangan lupa baca juga "IM NOT A GAY" krn Author UP tiaphari
miss u :*
hari menjelang petang, tubuhku terasa sangat lelah dan tak nyaman karena seharian bergelut bahkan tak ingin beranjak dari tempat tidur jika bisa.
aku membuka mataku dengan enggan ketika aku merasakan jemari seseorang mengelus lembut pipiku yang masih menempel didada bidang seseorang, suamiku.
"apa kau tidak lapar?" tanya Yogi masih mengelus dan tersenyum padaku
hal ini masih bagaikan sebuah mimpi untukku, sebuah mimpi yang tak mungkin terbayang hanya dalam lamunanku.
"apa ini mimpi?" tanyaku parau belum bisa membuka keseluruhan mataku
Yogi terkekeh geli lalu mengecup lembut pipiku, "apakah jika didalam mimpimu aku bisa memelukmu dan menciummu seperti ini?" tanyanya sembari mengecup lagi bibirku
"ah, he he ternyata aku tidak sedang bermimpi" sahutku sekilas tapi ingin kembali menutup mata karena terasa begitu lelah
"hei, jangan tidur lagi!" mengelus pipiku untuk menyadarkanku, "kau perlu mengisi perutmu yang kosong"
"tidak!" aku mengeratkan pelukanku, "aku bisa menahannya, aku masih merasa kantuk"
Entah apa yang terjadi, ucapan dan tubuhku menolak. seketika itu pula perutku berbunyi menandakan bahwa perutku sangat lapar dan minta di isi.
"lihatlah! kau lapar, kau harus bangun sayang!"
"arghhh"
aku melepas pelukankanku lalu merebahkan tubuhku, mencoba membuka mata yang berat kemudian menatap langit langit dinding.
"apa semuanya sudah berakhir?!" tanyaku masih tak percaya
"apa yang sedang kau pikirkan?" Yogi balik bertanya padaku sembari memiringkan badannya dan menghadapku.
"semua hal yang sudah terjadi, kegundahan, penderitaan dan perpisahan. apakah semua sudah berkahir?"
"jika kau menanyakan tentang kesedihan, segalanya sudah berakhir", Yogi menatapku dibawahnya lalu mengecup dahiku, "segala cinta", mengecup kedua mataku, "segala kebersamaan", mengecup kedua sisi pipiku, "segala kebahagiaan", mengecup hidungku, "segala suka duka", mengecup bibirku sekilas, "mari kita bangun bersama dari awal, aku tak keberatan jika harus memulainya dari awal lagi bersamamu"
Aku hanya membalasnya dengan anggukan penuh haru, serta air mata kebahagiaan berlinang dipelupuk mata.
Yogi mengelus rambutku, mengusap anak rambutku yang menghalangi kulit wajahku. Ia memandangiku lamat lamat dan penuh cinta serta pengharapan, begitu jelas tergambar dimatanya yang bening.
Ia mendekatkan wajahnya lebih, menggesek hidung serta bibirnya dengan bibirku.
"mari kita bangun keluarga kecil kita lagi!" ucapnya penuh pengharapan
"mari kita hidup sampai tua dan bersama selamanya", sahutku kemudian mengalungkan kedua lenganku dilehernya,
menekan kembali tengkuknya agar lebih dekat dan dengan leluasa mengecap bibirku kembali untuk membangkitkan gairahnya.
__ADS_1
"kenapa berhenti?" tanyaku heran ketika Ia melepas pagutannya
Yogi hanya terkekeh menanggapiku, "sayang, sebaiknya kita mengisi perut kosong kita terlebih dahulu!"
aku pun tak mampu menahan malu hingga kurasa kedua pipiku sudah merona karenanya.
"aku akan membantumu!" ucapnya lalu melepas selimut yang menutupi sebagian tubuhku yang telanjang, kemudian diangkatnya aku menuju kamar mandi dan membersihkan diri yang sudah terdapat banyak keringat karena pergulatan tadi.
*****
kami sudah mengganti pakaian kami berdua dengan piyama kembar polos berwarna hitam ke emasan. dan pergi mengisi perut yang kosong di meja makan.
"apa tidak sebaiknya kita mengganti warna piyama?" tanyaku membuat Yogi mengerut kening
"kenapa? apa kau tak suka?" tanyanya heran sambil mengunyah makanan
"suka, piyama ini terlihat sangat mewah tapi sebaiknya kita mulai besok mengganti warnanya dengan warna cerah seperti Pink misalnya"
"Ng, piyama kembar ini juga usulan darimu dahulu dan kau sendiri yang memilih warnanya"
"kau keberatan ya jika aku harus mengganti pakaian tidurmu dengan warna Pink yang tak sesuaikan dengan image mu yang arogant?"
"kau bilang apa? aku Arogant?" Yogi terhenyak kaget dengan pertanyaanku
"kau memang seperti itu, entah kenapa aku merasa kali ini kau sangat menyebalkan"
tiba tiba Yogi mendekat dan menekan kedua sisi pipiku hingga bibirku manyun layaknya seekor bebek, "aku curiga, sepertinya kau tidak sedang hilang ingatan! sifat mu lebih parah dari sebelumnya"
"aku tidak sedang pura pura dan sifatku tidak seburuk yang kau kira", sahutku ketika Yogi melepas jemarinya dikedua sisi pipiku.
"terserah padamu, apapun yang kau inginkan akan aku turuti", ucap nya sedikit ada nada kesal nan kental didalamnya
"kau keberatan ya?" tanyaku bersindakap menebalkan bibir
"apa yang kau lakukan? kau tidak akan melakukannya disini bukan?" tanyaku gugup pasalnya pelayan masih belum pulang sebelum kita menyudahi makan dan pergi ke kamar.
"dengarkan Nona!" menarik pahaku lebih dekat serta tubuhnya berada diantara kedua pahaku, "jika kau bersikap angkuh dan menyebalkan lagi, aku tidak segan segan melahapmu disini" ancamnya menyeringai
"a..aku ti..dak, tapi kau yang menyebalkan" sahutku gugup
dan seketika itu pula Yogi membungkam mulutku, melumat kasar bibirku dengan sensual serta tangannya bergerak membuka lebar piyamaku hingga dia dapat dengan leluasa menyecap sisi leher dan dadaku hingga aku yang semula menolak menjadi terbius dan terangsang mengikuti permainannya.
lalu tangan Yogi bergerak mengelus paha mulusku dan berakhir ingin melepas celana dalamku.
"ehem ehem"
suara deheman seseorang menyadarkan kita, dan membuat kita kaget akan aksi yang sedang kita lakukan.
buru buru Yogi memelukku, dan membenarkan piyamaku yang terbuka.
"kalian berdua sedang dimabuk asmara hingga lupa bahwa para pelayan kalian masih ada disini", wanita itu terkekeh melihat ku dan Yogi yang tengah gugup menahan malu
"malu kan? ini gara gara kau tahu!" ucapku kesal
"hei, kau sendiri yang memulainya dan menguji kesabaranku" sahut Yogi tak mau kalah
"sudah sudah, kalian berdua yaa", wanita itu menggelengkan kepala melihat tingkah kita berdua, "aku menebak kalian berdua sudah saling berjanji untuk hidup setia bersama, tapi malah bertengkar karena hal remeh seperti ini ha ha", wanita itu terkekeh, "kalian seperti anak kecil saja"
"hmm kau datang sendirian?" tanya Yogi kemudian memecah suasana kecanggungan
"tidak, aku bersama putriku"
kemudian datanglah gadis kecil masih berumur sekitar tiga tahun, begitu imut nan cantik berlari memeluk wanita yang sedang berdiri didepanku.
__ADS_1
"oh ya Bel, maaf mungkin kau bingung siapa aku", wanita itu mengulurkan tangannya, "aku Sindi sahabatmu dan gadis kecil ini Mina puteriku"
"maaf aku tidak bisa mengenalimu"
"tak apa Bel, aku mengerti" sahutnya tulus memberi senyum padaku
sementara Yogi mengambil Mina lalu menggendongnya.
"hai Mina, kau imut sekali" sapaku
"hai juga Tante"
"apa aku boleh menciummu?"
Dia menggangguk mengijinkanku, lalu ku cium pipinya yang bak buah apel.
"mungkin jika anak kita masih hidup, akan lebih besar dari Mina ya sekarang?"
Yogi tak menjawabku, dia hanya membalas bisu dan menatap sedih padaku. aku pun juga merasakan hal yang sama ketika melihat Mina yang menggemaskan.
"ah kalian berdua ini", Sindi memecah keheningan diantara kita, "sudah jangan larut dalam kesedihan, kalian kan masih bisa berusaha lagi"
"iya kau benar", aku pun memeluk Sindi, "terimakasih sudah menghiburku"
"iya, kau harus tetap kuat ya! menjadi Bela yang ku kenal"
aku mengangguk mengusap air mata yang mulai menetes tak terasa.
"Mina, hayo kita pulang!" Sindi mengambil Mina dari gendongan Yogi, dan sebelum itu Yogi mencium pipi Mina gemas.
"kenapa kau sudah mau pulang? tidak bisakah lebih lama disini?"
"suamiku menungguku dirumah jadi maaf aku tidak bisa berlama lama, aku sebanarnya hanya kebetulan lewat daerah sini dan mampir sebentar setelah tahu dari Bima bahwa kau sudah kembali"
"baiklah, segera temui suamimu yang sedang menunggumu itu, terimakasih atas kunjungannya ya Sin?!"
Sindi mengangguk memberi senyum padaku.
kemudian Aku dan Yogi mengantarkan Sindi dan Mina sampai kedepan rumah.
"kapan kapan aku akan mengundang kalian makan bersama, selamat malam ya?!"
"malam Sin, sampai jumpa, kita tunggu undangannya"
Aku melambaikan tangan pada Sindi dan Mina yang berlaju pergi, mengingat betapa bahagia ekspresinya ketika sedang memperkenalkan Mina yang menggemaskan sebagai puterinya.
ada perasaan berkecamuk didada mengingat bahwa aku harus kehilangan anakku dan juga kenangan dalam hidupku.
"sayang, yuk kita masuk!" ucap Yogi sembari memelukku dari belakang lalu mengecup leherku yang jenjang
"hei, jangan begini. kalau ada yang lihat lagi bagaimana?"
"makanya kita masuk, kita segera bikin anggota keluarga baru yuk!" bisiknya menggoda ditelingaku
"yuk"
****
sejatinya wanita hanya butuh seorang lelaki yang ketika bertatap dengannya ada rasa tanggung jawab.
****
__ADS_1