AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Selamat Tinggal


__ADS_3


aku pergi keluar dari apartemen Bima, dan aku tahu pasti Niken sedang berdiri menungguku untuk memaki dariku,


aku melangkah mendekatinya yang sedang mengepalkan tangannya dan menatapku tajam, tapi itu pun tak berpengaruh pada reaksi ku, aku tak peduli


"Bela, ikut aku, aku ingin berbicara dengan mu!", ucap Niken yang aku indahkan, menuntunku berjalan ke sebuah lestoran cepat saji yang terletak tak jauh dari apartemen Bima


aku pun duduk dengan tatapan kosong, pikiran ku pun kacau, aku tidak akan pernah melihatnya lagi, hanya bayangan itu lah yang muncul di benakku tak mau pergi


Niken yang duduk didepan ku, masih menatapi ku dengan tatapan tajam seolah akan membunuhku ditempat, sedangkan aku masih sibuk dengan lamunanku dan tatapan ku yang kosong, plong


aku tidak ingin mendengar kata, menahan suara agar tangisku tidak pecah saat aku membuka mulutku, aku pasti akan menangis ketika mulutku terbuka, aku menahan nya


Niken menatap tajam padaku yang tengah menatap kosong, dengan angkuh ia menyilangkan kedua lengannya di dada dan menatapku penuh ancaman, "Bela, sekarang ceritakan padaku apa yang sedang kalian bicarakan tadi?", mendengar pertanyaan Niken mamacu mulutku untuk terbuka dan bersuara, seketika tangis ku pun pecah


aku menangis dan merengek sejadi jadinya seperti layaknya anak kecil yang kehilangan mainan nya yang berharga, sampai sampai Niken panik dan kebingungan, juga menanggung malu akibat ulah ku, "Bela, aku kan belum memarahi mu?", tanya Niken kebingungan dan malu


orang orang di dalam restoran semua mata tertuju pada ku yang tengah menangis tersedu sedu, dengan sigap Niken mendekatiku dan mengelus pelan bahuku agar aku tenang, "sudah Bela, jangan menangis!", ucap Niken lembut serta merasa bersalah karena merasa karena diri nya aku sampai menangis seperti ini


aku tahu bahwa Niken adalah anak yang baik, dia berlaku kasar kepadaku hanya karena rasa cemburu, takut aku akan merebut Bima dari nya.


aku berbalik dan memeluk erat Niken, aku mencoba menetralkan perasaanku yang berkecamuk agar aku bisa berbicara dengan baik dengannya , "Niken, tolong jaga Bima dengan baik untukku", ucapku penuh harap, "jika kau selalu bersikap baik seperti ini kepadanya, suatu saat, dia pasti akan juga mencintaimu"


ucapanku membuat Niken keheranan, tapi tak urung dia juga membalas pelukan ku, mengerti akan perkataan ku yang berharap padanya, "aku akan menjaga dia dengan baik tanpa kau suruh sekalipun, karena aku mencintai nya", ucapnya lembut walau sedikit menyebalkan


sekarang perasaanku mulai lebih tenang, membuatku tersenyum dan begitu lega,


aku menetralkan perasaanku, mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan panjang,


"aku pergi dulu, maaf jika nanti aku tidak bisa datang ke pesta pertunangan kalian", hanya itu yang dapat aku ucapkan kepada Niken lalu aku melangkah pergi


kini aku bisa melepas Bima dengan tenang, ku harap Niken adalah memang orang yang tepat.


****



****


aku sedang duduk melamun menatap formulir yang sedang aku pegang,


"hei", suara hentakan Sindi membuat jantungku seakan copot, astaga


Sindi menertawakan ekspresi ku yang sedang kaget dibuat nya, dan seketika matanya tertarik untuk melirik kertas yang sedang ada di depan ku, "kau mau cuti?", tanya nya tak percaya


aku menganggukkan kepalaku, "aku harus cuti sementara", sahutku bimbang


"tahun depan sudah memasuki akhir semestermu, jika kau cuti selama 4 semester, umur berapa kau akan wisuda?", ucapan Sindi yang mengejek tapi ada benar nya, sekarang umurku hampir menginjak dua puluh satu tahun, seharusnya aku sudah melanjutkan pendidikan ku ke jenjang s2, payah, "apa ini karena Bima?"


pertanyaan tiba tiba membuatku kaget serta gugup, "sebenarnya bukan hanya karena Bima, tapi ini karena biaya pendidikan ku, kau tahu sendiri bahwa ayahku tak akan selalu membantu dalam keuanganku, jadi aku harus mengambil cuti untuk melanjutkan biaya kuliahku serta hidupku"

__ADS_1


Sindi yang mengerti akan kondisi ku mengangguk kepalanya untuk mencerna apa yang sedang aku alami, "apa kau punya rencana kemana kau akan bekerja?"


"iya, aku sudah merencakan nya jauh hari, aku akan pergi sementara ke keluar kota", ucapku tersenyum tenang sambil membereskan beberapa berkas, "setelah pengajuan cutiku diterima, aku akan langsung pergi"


"apa kau tidak akan memberitahu ku kemana kau akan pergi?", Sindi memprotes, "kau harus sering sering mengabariku!"


mimik wajah Sindi cemberut membuatku tidak bisa menahan keinginan ku untuk mencubit pipi nya yang imut itu, dia sangat manis


"aku akan sering menghubungi mu, dan


.", aku mengambil jemari Sindi dan memohon, " dan aku mohon jangan pernah mengatakan kepada siapapun kalau aku akan pergi!", ucapku memohon lalu dianggukkan oleh Sindi


"terimakasih"


dia teman yang sangat baik dan perhatian kepadaku


"sayang", sapa seseorang mendekati ku, tak lain adalah Yogi


"hei kau, masih saja menyebut bela seperti kekasih mu!", ucap Sindi memarahi Yogi, yang justru hanya di tanggapi senyum oleh nya


"dia memang kekasih ku", jawab nya enteng membuat Sindi geram, dan mengepalkan tangan nya


aku yang peka dengan amarah Sindi kemudian mencoba menahan nya, "sudah, jangan emosi!", kataku menenangkan


"bagaiamana aku tidak emosi jika lelaki ini masih saja mengganggumu", ucap Sindi memprotes kepadaku,


"Sindi, aku akan menjaga temanmu dengan baik, aku mencintai nya", ucap Yogi membuat Sindi kaget, karena yang ia tahu bahwa Yogi adalah lelaki yang suka mempermainkan hati wanita dan tak pernah mengatakan kata cinta kepada siapapun, jadi saat Yogi mengatakan nya itu bahkan seperti sebuah ke ajaiban, tidak mungkin


Yogi mencengkeram kedua sisi bahu Sindi dan menatapnya tajam, "pegang kata kata ku, aku akan membahagiakan temanmu Bela, aku hanya perlu menunggu persetujuan dari nya", ucap Yogi penuh penekanan tiap kata, "aku sangat mencintai nya"


ah dua orang ini, semakain membuatku tidak mengerti


Sindi yang semula marah, luluh begitu saja karena perkataan nya yang meyakinkan, membuatku haru sekaligus jengkel.


tiba tiba aku melihat Bima dari kejauhan, berjalan menuju ke arahku


dengan sigap Yogi mengambil buku yang ku pegang, menarik tubuhku agar menempel dengan nya hingga membuat ku tegang, apa yang akan ia lakukan?


membuka buku dan menutupi wajah hingga terlihat seperti sedang berciuman, Yogi tersenyum menyeringai kepadaku, ia pasti ingin menyulut api kemarahan dari Bima.


Sindi membuka mata dan mulutnya lebar, kaget karena sikap Yogi yang serampangan di depan nya.


"kau, apa yang kau lakukan?", kataku gugup lalu mendorong tubuh nya agar menjauh


Yogi tertawa puas, karena Bima pergi membalikkan arah ketika mengira bahwa aku telah bermesraan dengan Yogi, aku sangat kesal di buat nya


aku membuang wajahku dan menarik tangan Sindi yang mematung tidak percaya, "hayo Sin pergi", aku pun berjalan pergi meninggalkan Yogi yang tengah puas dengan rencana nya, "dasar bajingan tengik", gumamku kasar


****


__ADS_1


****


kini hari sudah tiba, aku harus membereskan beberapa pakaianku dan memasukkan nya di dalam koper, sesuatu yang menarik perhatianku, foto masa kecilku dengan Bima, ku usap wajah nya di foto, menatapanya dengan senyum luka di hatiku, satu satu nya keluarga dan cinta ku, aku akan pergi


tak terasa air mataku menetes membasahi foto kami berdua, aku mendekatkan foto kami di dadaku yang sakit, mencoba menahan rasa sakitku dan menenangkan jiwa ku yang mulai kacau.


sejenak aku di bawah lamunan ku, hanya bisa memandangi dengan luka foto kita berdua, lalu aku memasukkan nya ke dalam koper agar ketika aku merindukan nya, aku bisa mengobati hanya dengan memandang foto kenangan kita berdua.


aku pun sudah siap membawa beberapa koper dan menunggu di halte bus, aku memejamkan sejenak mataku untuk menetralkan perasaan ku yang ingin meledak


tiba tiba seseorang berdiri di hadapanku dan bertanya, "Bela, sedang apa kau disini?"


"Bima?", aku kaget, "kenapa kau disini?", tanyaku gugup


"seharusnya aku yang bertanya kepadamu, untuk apa kau disini, dan..", ucap Bima kasar dan melirik Koper besar yang berada disampingku, "apa kau ingin pergi? pergi dariku?", ucap Bima dengan marah dan kecewa kepada ku


aku tidak bisa menjawab pertanyaan nya itu, aku hanya bisa menunduk sambil lalu menunggu bus tujuanku datang, tak ku sangka Bima langsung menarik Koperku pergi.


aku berlari mengejarnya dan merebut koperku kembali, "Bima", hanya teriakan namanya lah yang bisa aku ucapkan, aku hanya mampu mengeluarkan air mataku


"kau tidak boleh pergi, aku tidak mengijinkan mu!", ucap sambil mengerutkan keningnya, menatap ku dengan perasaan kecewa


"aku tidak butuh ijin darimu, inilah keputusan ku dan ini jalan hidupku, kau pun tidak berhak!", sahutku dengan tegas memancing kemarahan nya


dia mengusap wajahnya kasar, menahan kekecewaan dalam dirinya, "apa ini karena aku?", Bima bertanya dengan mata nanar, "jika begitu, aku tidak akan menganggumu lagi"


aku mengangguk, mengindahkan pertanyaan nya yang salah, "iya ini karenamu, karena kau masuk ke dalam hidupku, seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu, kau adalah sebuah kesalahan untukmu," aku berucap tajam sambil menahan sakit karena kebohongan ku, "jangan pernah mencoba untuk mencariku, aku membencimu!",


kebohongan yang aku berikan, untuk menahannya agar bisa melepasku pergi, kilat kesedihan di matanya terlihat jelas, aku telah melukai perasaan nya berulang kali


kini Busway yang aku tunggu telah tiba, terasa berat aku melangkah tapi itu harus aku lakukan.


akhirnya aku naik ke dalam Busway dan duduk dengan tangis, aku tidak sanggup menoleh ke belakang untuk melihat nya yang terdiam karena luka yang aku beri


kini Bus sudah siap berjalan dan melaju kencang, "Bela", suara Bima terdengar dari belakang sedang berusaha mengejarku, "jangan pergi!", dia terus berlari mengejar, "jangan pergi! aku tak bisa hidup tanpamu"


kata kata itu adalah kata terakhir yang aku dengar sebelum bus melaju kencang dan tak bisa ia kejar lagi, hatiku perih


aku memukul dadaku pelan yang tengah begitu sesak, sesak se dalam dalamnya


"selamat tinggal, kau pasti akan bahagia meski tidak bersama ku"


****


Ketakutan terbesar kita bukanlah karena kita tidak mencukupi. Bukanlah kemampuan kita yang menunjukkan siapa kita sebenarnya.. Tapi pilihan kita


****



__ADS_1


__ADS_2