
Di ruangan pantry, Layla fokus menyeduh secangkir kopi dengan tambahan gula sesuai dengan takaran biasa dibuat. "Semoga saja sesuai dengan seleranya," gumamnya seraya berjalan menuju ruangan atasan, membawa nampan yang berisi secangkir kopi buatannya.
Layla menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, mengetuk pintu sebagai tata krama dan sopan santun sebagai bawahan. "Silahkan diminum!" ucapnya yang manis setelah dipersilahkan masuk, sangat menjengahkan harus berakting bersikap baik.
"Sekarang kau boleh keluar!" usir Alex tanpa menoleh, fokus pada layar monitor.
Layla tak ingin mengambil pusing, memutuskan untuk pergi demi kewarasan dan juga mood di pagi hari. "Sabar, ini ujian untukmu. Jalani sesuai dengan misi yang diberikan tuan David, setelah masa kontrak selesai? Maka kau akan terbebas dengan pria menyebalkan ini." Ungkapnya di dalam hati menyampaikan perasaan dongkol.
Segera pergi meninggalkan ruangan CEO menuju ruangannya, namun tempat itu masih terasa asing dan membuatnya menjadi kebingungan.
"Anda butuh sesuatu?" tanya seseorang yang mengagetkan Layla.
"Eh, aku tidak tahu dimana ruangan ku." Layla tersenyum menutupi perasaannya.
"Maaf, siapa nama anda dan ada keperluan apa?" tanya seorang pria tampan bernama Dinu, mendekati wanita yang kebingungan dan mencoba untuk membantu.
"Saya sekretaris pribadi tuan Alex."
Seketika itu pula Dinu mengulurkan tangan sebagai perkenalan pertama mereka. "Maaf, aku tidak tahu mengenai anda. Saya Dinu, asisten tuan Alex."
"Layla." Sambutnya yang meraih tangan pria itu, tak lupa tersenyum sepersekian detik.
"Ada yang bisa di bantu?"
"Begini, aku tidak tahu di mana ruanganku."
"Itu mudah, ikuti aku!" tutur asisten Dinu yang menuntun jalan.
Layla mengikuti kemana perginya pria itu, hingga berhenti di sebuah ruangan dan masuk kedalam.
"Ini ruangan mu, jika ada sesuatu kamu bisa menghubungiku lewat telepon yang di sana." Tunjuk asisten Dinu.
"Terima kasih." Sahut Layla yang tersenyum.
"Sama-sama."
Layla menatap kepergian asisten Dinu yang menghilang di balik pintu, mengalihkan pandangan sekeliling yang tampak nyaman. Meletakkan setumpuk berkas di atas meja kerja seraya mengeluarkan ponsel, mengabari seseorang menjadi tugas pertamanya.
Dia membaca pesan, apa saja yang boleh di lakukan ataupun tidak, memastikan dirinya tak ceroboh juga tidak akan berbuat kesalahan.
Sementara Alex masih terpaku pada layar monitor, banyak pekerjaan yang harus selesai tepat waktu. Perubahan yang begitu drastis dirasa olehnya, dari seorang pria peternak menjadi pemimpin di perusahaan Anderson juga seorang pimpinan di bawah tanah.
__ADS_1
Tentu saja nasib baiknya akibat liontin yang ditemukan olehnya dan juga kertas berisi kode rahasia yang ternyata tempat khusus untuk dirinya mengasah kemampuan dan masih banyak barang berharga lainnya.
Alex menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menyeruput kopi, namun langsung memuntahkannya dengan perasaan juga ekspresi wajah sulit digambarkan. "Astaga, mengapa dia menambahkan gula cukup banyak di kopi ku?" gumamnya seraya melihat-lihat cangkir itu, dia mengambil telepon menghubungi Layla.
"Halo."
"Iya, ada apa?"
"Ke ruangan ku sekarang juga!"
"Tapi, ada apa?"
"Jangan banyak bertanya, cepat ke ruanganku!"
"Baiklah."
Alex memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa menghiraukan bagaimana kesalnya Layla yang bahkan menyumpahinya. "Dia tidak becus menjadi sekretaris pribadiku, sangat ceroboh sekali." Umpatnya kesal.
"Ada apa memanggilku?" tanya Layla yang langsung berkontak mata saat bertemu dengan Alex, berada di ruangan yang sama benar-benar membuatnya merasa sesak. Tapi apa dayanya? Misi yang harus di selesaikan dalam jangka waktu dengan David Anderson, jika mengikuti ego dia sudah pergi dari sana.
"Yang sopanlah berbicara dengan ku!" Alex menatap bawahannya dingin, begitu arogan jika berhadapan dengan orang asing.
"Kenapa Tuan memanggilku?" ulang Layla dengan lembut, walau setelah mengucap kalimat itu dirinya menahan rasa kesal.
"Apa yang salah dengan kopiku?" tanya Layla penasaran seraya menatap cangkir berisi kopi.
"Hem, kopimu sangat manis sekali. Apa kau ingin membuatku diabetes?"
"Aku biasa membuatkan kopi dengan takaran gula yang selalu aku buat untukku sendiri."
"Jangan samakan seleramu dengan ku."
"Ya, aku tahu itu. Hanya saja Tuan tak mengatakan apapun mengenai takaran gula, itu sebabnya aku membuat sesuai seleraku."
Brak!
Alex menggebrak meja, sedari tadi melihat sikap sang sekretaris yang begitu sombong. Sedangkan Layla tersentak kaget mendengar perubahan emosi dari bosnya.
"Harusnya kau mengerti mengenai takaran gula dalam kopiku."
"Apa salahku, Tuan? Aku sudah membuatkan kopi. Memangnya aku bisa membaca pikiran dan keinginan seseorang? Tidak. Jadi, jangan menyalahkan aku sepenuhnya."
__ADS_1
"Sudah salah banyak alasan."
"Lalu, Tuan ingin apa? Aku buatkan kopi baru? Berapa takaran gulanya?"
"Aku tidak berselera minum kopi buatanku, sangat tidak enak dan membuat eneg. Pergilah dari ruanganku, dan jangan lupa selesaikan seluruh tugasmu dengan cepat."
"Baik Tuan."
"Oh ya, singkirkan cangkir yang berisi kopi dariku. Aku tak ingin meminumnya!"
"Baiklah." Layla kembali mengalah, mengakhiri perdebatan dengan cara pergi dari ruangan itu. "Dia pikir dia itu siapa? Berani sekali membentakku."
"Apa itu yang menjadi sekretaris pribadi? Sangat tidak kompeten sekali, jika bukan karena kakek, dia sudah aku pecat." Ucap Alex di dalam hati sembari menggelengkan kepala,kembali menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Beberapa lama kemudian, Alex memutuskan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku juga pegal. Berbaring di atas sofa empuk sembari membuka layar ponsel, mencari kabar mengenai kondisi markas mafia yang di kelolanya. Namun, panggilan masuk dari John membuatnya penasaran dan segera mengangkatnya.
"Ada apa Paman?"
"Kondisi Tuan David drop dan ingin bertemu denganmu."
"Eh, tadi pagi aku melihatnya baik-baik saja. Mengapa kondisi kakek tiba-tiba berubah, aneh sekali."
"Ini bukan hal aneh, seusianya memang sering mengalami kondisi drop."
"Hum."
"Cepatlah kemari!"
"Baik."
Alex kembali menyimpan ponselnya di dalam saku, bergegas keluar dari kantor menuju Mansion. Langkahnya menjadi terhambat akibat asisten Dinu.
"Tuan mau kemana?"
"Ada hal yang harus aku selesaikan, aku menyerahkan urusan perusahaan padamu sampai aku kembali."
"Baiklah, tapi kenapa Tuan terli__." Belum sempat asisten Dinu menyelesaikan perkataannya, Alex malah pergi meninggalkannya. "Nasib menjadi bawahan," lirih pelannya mengelus dada.
Alex segera menancap gas dan menyetir mobil dalam kecepatan penuh, menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya. Perasaan khawatir dan juga cemas terus menari menyeruak membayangi pikiran, begitu banyak pertanyaan mengenai kondisi sang kakek yang tidak baik-baik saja. David hanya keluarga satu-satunya yang dia miliki, dan takut akan kehilangannya.
Kembali menambah kecepatan seperti angin, melaju dan menyalip kendaraan. Tidak membutuhkan waktu lama saat mobil berhenti di halaman luas kediaman Anderson, keluar dari mobil dan masuk ke dalam Mansion tanpa mengacuhkan beberapa pelayan juga pengawal yang menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Kakek…kakek dimana?" pekik Alex yang berjalan tergesa-gesa, berharap menemukan sang kakek di dalam kamar.