
Pesta ulang tahun di gelar dengan sangat meriah, dimana semua pebisnis rekan kerja, dan tamu penting turut hadir meramaikan acara. Semua orang di undang, suatu kehormatan bagi sang pemilik acara dapat merayakan hari ulang tahun. Kemewahan luar dan dalam, makanan hidangan sampai ke dekorasi sudah di persiapkan sesuai dengan permintaan David Anderson. Kerja keras dari asistennya John patut untuk di berikan apresiasi, mengingat bagaimana pria itu telah berjasa pada keluarganya selama puluhan tahun.
David terus mengukir wajah senyum khas saat beberapa orang yang datang memberikan hadiah juga selamat, namun tak melihat dimana keberadaan sang cucu. Berjalan menghampiri John yang tak jauh darinya, menepuk bahu pria paruh baya yang tengah mengobrol dengan tamu.
"Ada apa Tuan?" tanya John yang tersentak kaget, mempersilahkan tamu untuk duduk karena acara sebentar lagi akan di mulai.
"Kau lihat Alex?"
"Tidak? Mungkin ada di sekitar sini."
"Aku sudah menyusuri pandangan di sekitar sini tapi tak menemukannya." David merasa khawatir tidak menemukan cucunya. "Apa mungkin dia tersinggung dengan permintaanku tempo hari? gumannya di dalam hati.
"Akan aku cari." John segera berlalu pergi dari tempat itu, menaiki tangga dan mencari setiap ruangan.
Alex sangat bingung memilih hadiah apa yang akan diberikan kepada sang kakek, karena semuanya telah dimiliki. "Astaga…bahkan di hari H nya aku belum menemukan hadiah yang cocok untuk kakek." Gumamnya seraya menggaruk kepala dengan kasar.
Pintu kamar yang terbuka meninggalkan celah, seseorang tak sengaja lewat melihat kegelisahan Alex yang masih belum mendapatkan hadiah. Suara ketukan pintu membuat keduanya saling bertatap wajah, diam beberapa saat seraya melukiskan wajah penasaran.
"Boleh aku masuk?" Layla tersenyum saat mengetahui kegelisahan di hati atasannya itu, mencoba membantunya.
"Masuk saja. Ada perlu apa?" tanya Alex yang terpesona dengan penampilan sekretaris pribadinya, sangat cantik, elegan dan penuh keanggunan. Baju berwarna pastel selaras dengan make up tipis juga aksesoris yang menempel di tubuh wanita itu, kulit putih membuat penampilan lebih dominan.
"Maafkan aku yang tak sengaja lewat dan melihatmu uring-uringan, ada yang bisa dibantu? Katakan saja, siapa tahu aku bisa meringankan sedikit bebanmu."
"Ya, kebetulan sekali. Aku belum memilih hadiah untuk kakek."
"Kau belum menyiapkan hadiahnya? Acaranya sebentar lagi akan dimulai."
"Aku tahu itu, memangnya hadiah apa yang harus kuberikan pada kakek? Dia memiliki segalanya." Ujar Alex menghela nafas pelan, memikirkan hal itu semalam suntuk dan sampai sekarang belum menemukan hadiahnya.
"Kau benar, apa kakek pernah meminta hadiahnya padamu?"
"Ya, dia ingin aku menikah."
"Kalau begitu kau menikah saja!"
"Ck, cukup mudah mengatakannya tapi sulit menjalankannya. Aku tidak akan menikah!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Apa aku perlu menjawab rasa penasaranmu itu? Sebaiknya kau pergi saja, tidak ada gunanya kau disini." Kesal Alex yang tak suka bila di sudutkan.
"Aku hanya bercanda saja. Tunggu sebentar! Ada yang ingin aku berikan padamu." Layla berlari keluar dari kamar bosnya, berlari kecil mencari sesuatu yang hampir saja terlupa.
"Hum." Alex mencoba menghubungi asisten Jimmy dan asisten Dinu secara bergantian untuk meminta pendapat hadiah, dirinya sangat pusing apalagi kakek nya memiliki segalanya.
Usahanya menghubungi kedua asisten yang berbeda profesi itu juga tak memberikan jalan keluar, mendelik kesal dan lupa untuk bersiap-siap mengingat beberapa menit lagi acara akan segera dimulai.
Tak lama, Layla datang dengan membawa sebuah hadiah. Menyunggingkan senyuman hangat saat membawa sebuah hadiah yang berisi lukisan, menyerahkannya kepada Alex.
"Apa isinya ini?" tanya Alex yang sangat penasaran.
"Lukisan."
"Kakek sudah memiliki banyak lukisan, dan untuk apa semua ini?"
"Justru itulah yang membuatnya menarik, daripada kau tidak membawa hadiah apapun lebih baik serahkan lukisan yang sudah aku bungkus dengan sangat cantik."
"Ck, setidaknya kau mengucapkan terima kasih sudah membantu mu bukan mencela hadiah itu." Balas Layla jengah.
"Ambil hadiahmu." Tolak Alex yang merasa sanggup membeli lukisan yang sudah di bungkus dengan sangat rapi, kembali menyerahkannya.
"Hei, kau bisa merusak lukisannya."
"Rusak? Itu berarti lukisanmu sangatlah jelek dengan kualitas rendah."
"Berhentilah bersikap sombong, kau dulu juga hidup dalam gelimangan kemiskinan."
"Ck, tidak perlu mengungkit nya." Lirih pelan Alex yang menyadari kehidupan lalu. "Bagaimana kau tahu? Apa kakek menceritakannya padamu?"
Dengan cepat Layla menggeleng. "Rahasia." Tersenyum berhasil membalikkan keadaan untuk kembali berpihak padanya. "Lukisan itu pasti di sukai kakek, jangan lihat harganya tapi makna di balik lukisan yang sangat dalam."
"Baiklah, terima kasih sudah membantu masalahku." Alex tersenyum sekilas.
"Hem, sama-sama. Cepatlah bersiap-siap sebentar lagi acaranya di mulai." Layla membalas senyuman itu dan keluar dari kamar, baru beberapa langkah dari pintu luar, dia kembali mengintip. "Kau terlihat tampan saat tersenyum." Ucapnya tulus.
__ADS_1
"Ada-ada saja." Gumam Alex menggelengkan kepala, kemudian memutar tubuh ke arah cermin besar dan mencoba untuk tersenyum seperti tadi. "Apa aku kelihatan jelek jika tidak tersenyum? Tapi wajah senyum ini terlihat aneh." Monolognya serata terkekeh melihat dirinya yang kaku dalam hal tersenyum.
Alex yang telah bersiap-siap hendak keluar dari kamar dan berpapasan dengan John yang sedari tadi mencarinya.
"Kakek mencarimu!"
"Aku sudah siap, tapi kapan acaranya dimulai?"
"Tuan David ingin kau menghadirinya berdiri di sebelah, dan barulah acara dimulai."
"Baiklah, aku akan menyusul."
Alex berjalan menuruni tangga dengan penuh karisma layaknya pemimpin, raut wajah dingin menciptakan perbedaan aura yang saling bertolak belakang.
David tersenyum melihat kedatangan cucu semata wayangnya, namun senyum memudar saat melihat wanita yang berpakaian pink juga berjalan di sebelah Alex.
"Dasar lalat." Geram John yang memberikan isyarat kepada Layla untuk bertindak.
Alex cukup terkejut di kawal dua orang wanita cantik, sedangkan Layla dan Jessie saling melirik dengan pandangan tak suka.
"Selamat ulang tahun, Kek." Alex menyerahkan kado yang disiapkan Layla, berharap perkataan dari wanita itu benar dan tidak meninggalkan kesan buruk.
"Terima kasih."
"Selamat ulang tahun untuk Kakek, ini hadiah dariku dan semoga Kakek menyukainya." Ucap Jessie tersenyum, tak ada yang tahu makna di balik senyuman itu.
"Hem." Balas David tersenyum sepersekian detik.
"Selamat ulang tahun, ini dariku." Sambung Layla yang juga memberikan hadiah.
Jessie menatap hadiah pemberian dari Layla sebagai barang murahan yang tidak pantas untuk dijadikan hadiah, tersenyum mengejek melihat kotak kecil di tangan David.
"Kotak hadiahnya sangat kecil sekali, pasti ininya barang murahan."
"Jangan pandang harganya tetapi nilainya."
"Terserah." Jessie celingukan mencari Rudra yang mengatakan bergabung dalam rencana mereka.
__ADS_1