Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Keputusan Alex


__ADS_3

John sangat marah mendengar penjelasan Alex, ternyata Jessie melakukan tindakan nekad dengan mencampurkan obat perangsang pada minuman. Sekarang dia mulai paham, apa yang di inginkan gadis berambut ikal. Sebuah kejadian di luar kendalinya saat melihat Rudra juga ikut serta menampakkan diri setelah sekian lama tak muncul. 


Dia terdiam memikirkan semua ini, menggunakan akal sehat setelah mengontrol perasaan amarah terpendam. Kedatangan Rudra yang tiba-tiba sangatlah aneh, apalagi berani menunjukkan batang hidungnya setelah sekian tahun lamanya. 


Suasana tampak hening, Alex juga memikirkan hal yang sama. "Aku mencium konspirasi, Paman." 


"Kau benar, aku juga merasakan hal yang sama." 


"Jessie di rawat ruangan mana? Apa ada salah satu pengawal yang menjaganya?" tanya Alex mulai memahami situasi yang terjadi. 


"Ya, aku menempatkan dua pengawal di ruangannya."


"Lalu, bagaimana kondisinya saat ini?" desak Alex.


"Kau masih bersimpati padanya setelah apa yang terjadi?" John menaikan sebelah alisnya menatap Alex lekat. 


Dengan cepat Alex menggelengkan kepala, memang masih ada rasa sebagai seorang kakak. Tapi, rasa itu mulai memudar melihat perilaku asli dari Jessie. "Aku hanya ingin memberinya pelajaran dan mencari tahu alasan apa yang membulatkan tekadnya, itu saja." 


"Apa kau yakin?" 


"Aku sangat yakin."


Obrolan terputus saat seseorang yang mengenakan jas putih keluar, Alex mendekati dokter dan bertanya mengenai kondisi sang kakek. 


"Bagaimana kondisi kakek saya, Dok?" 


"Keadaan pasien semakin membaik, beruntung dengan cepat membawanya ke rumah sakit, kalau tidak hanya Tuhan yang tahu." Dokter menghela nafas sejenak dan pamit. "Permisi." 


Alex langsung masuk ke dalam ruangan melihat kondisi sang kakek yang terbaring lemah di atas brankar, air mata menetes dengan sendirinya. Dia tak memiliki siapapun lagi, dan tidak rela jika kakeknya mengalami kondisi serius. 


"Apa hubungan Rudra dan Jessie, aku pasti mengetahuinya." Alex meremas sprei yang ada di hadapannya, tatapan tajam tersimpan amarah yang meluap. 


John memegang bahu Alex pelan. "Apa yang kau lakukan?" 

__ADS_1


"Mencari tahu hubungan Rudra dan Jessie." 


"Masalah ini cukup rumit, aku harap kau bisa menuntaskannya." 


"Jangan pikirkan itu." Alex segera keluar dari bangsal, berjalan penuh keyakinan melewati koridor rumah sakit. 


Mobil melaju dalam kecepatan tinggi, tak peduli lampu lalu lintas dan menerobosnya, menyalip beberapa kendaraan menghalangi jalannya menuju markas. Kali ini dia sangat serius untuk mengetahui hubungan Rudra dan Jessie. 


"Cari informasi mengenai Rudra dan Jessie, apa hubungan mereka ataupun kesepakatannya. Aku ingin detail mereka dan jangan sampai ada yang terlewatkan!" titah Alex menyorot asisten Jimmy tajam. 


"Baik Don Alex." Asisten Jimmy keluar dari ruangan menjalankan misi mencari tahu kebenaran yang belum terkuak. 


Tubuh yang lelah itu kembali dipaksakan ke rumah sakit menjenguk kakeknya, namun sebelum kesana dia memutuskan untuk mampir melihat keadaan Jessie. Melihat kondisi gadis malang yang mengalami patah tulang akibat bertarung dengan Layla. 


Sudut pandang Jessie tak sengaja menatap kakak angkatnya yang berada di ambang pintu, jujur saja dirinya malu diselimuti rasa benci dari gagalnya rencana. Alex masuk ke dalam ruangan dengan penuh kharisma, melihat kondisi gadis yang ada di hadapannya. 


"Bagaimana kabarmu?" tanya Alex yang datar. 


"Berhentilah bersikap lembut padaku, kau sudah mengetahui rencanaku. Jadi, tidak perlu repot-repot untuk menemuiku disini." Ujar Jessie yang tak berani menoleh. 


Jessie terdiam, sedikit merasakan penyesalan melakukan hal itu, dirinya juga korban dari Rudra dan menghalalkan segala cara untuk menyelamatkan sang ibu dari cengkraman pria licik itu. 


"Apa memang bodoh, dibutakan oleh kasih sayang sebagai seorang kakak. Aku gagal dalam mendidikmu saat masih kecil, kenangan kita tak pernah kau anggap, aku gagal menjadi seorang kakak. Cinta seorang kakak apakah itu tidak cukup aku berikan padamu? Bahkan aku selalu membela dan bersamamu dalam suka maupun duka, apa itu tidak berarti?" Alex segera menyeka air mata yang hampir menetes, tertawa saat melihat bulir bening di tangan telunjuknya. "Aku sudah mengeraskan hati untuk membencimu, tapi tidak bisa. Mengapa kau melakukan pengkhianatan sebesar itu?" 


Jessie merasakan sesak di dalam hati, terharu dengan perkataan Alex tapi dia memilih menangis dalam diam. 


Brak! 


"Mengapa kau menusukku dari belakang, JAWAB JESSIE!" Alex menendang nakas yang ada di dekatnya, membuat gadis itu tersentak kaget sambil meneteskan air mata penyesalan. 


"Hah, dunia ini benar-benar aneh, aku selalu menjadi bahan hinaan dan cacian semua orang. Apa karena harta? Kau menginginkan harta? Jawab aku, mengapa kau diam saja?"


"A-aku__." Tangisan Jessie kembali pecah, harta membuat dirinya silau. "Aku terpaksa melakukan itu." Jujurnya. 

__ADS_1


"Apa hubunganmu dengan Rudra?" Alex kembali mengintrogasi Jessie setelah melihat informasi yang diberikan asisten Jimmy, dirinya hanya ingin mendengar secara langsung. 


"Dia ayah tiriku."


"Hal sebesar ini kau sembunyikan dariku." 


"Aku dan Rudra berniat untuk merebut harta keluarga Anderson, dia menjadikanku sebagai pion dengan mengancamku dan menyekap Ibu kandungku." Jelas Jessie menundukkan wajah, mengungkapkan kebenaran yang baru saja di ketahui Alex dari asistennya. 


"Andai saja kau memberitahuku pasti aku bantu, tindakan mu ini tak bisa ku maafkan." 


"Maaf, aku tahu kau pasti muak melihat wajahku. Posisi ketidakberdayaan membuatku nekat melakukan itu." 


"Karena ulahmu, aku memperk*sa Layla." Alex berlalu pergi meninggalkan tempat itu, baru beberapa langkah dia berhenti dan menoleh. "Aku akan membebaskan ibumu, setelah itu jangan tunjukkan lagi wajahmu di hadapanku." 


Lagi dan lagi tangisan Jessie pecah, penyesalan pun sudah tak berguna saat melihat kepergian seorang pria yang selalu ada di saat suka dan duka. 


"Terima kasih." Lirihnya. 


Alex kembali menemui sang kakek, di dalam ruangan juga ada John, keduanya menyorot ke arahnya menjadikan pusat perhatian. 


"Kakek." Alex hendak memeluk tubuh David, tapi di tolak. 


"Jangan memanggil diriku Kakek jika kau tidak adil." 


"Apa maksud Kakek?" 


"Aku sudah mendengarnya dari John, apa yang kau lakukan pada Layla seharusnya tidak terjadi. Jangan mengulang kesalahan yang sama dengan alur berbeda dari kehidupanku, jadilah pria gentleman dan bertanggung jawab." 


"Ini semua salahku yang menyeret Layla dan ikut terlibat." Celetuk John menyesal. 


"Apa maksud Paman?" 


"Ya, Layla bukan gadis sembarangan, dia adalah wanita bayaran yang memata-mataimu dan juga mengawasi gerak-gerak Jessie. Dari awal bertemu, aku sudah menduga jika adik angkat mu bukanlah gadis baik-baik, sekarang dia yang menjadi korbannya." Jelas John. 

__ADS_1


"Aku tidak peduli bagaimana pendapat mu saat ini, tapi aku minta agar kau menjadi pria gentleman dengan bertanggung jawab padanya." Ujar David tegas.


"Aku akan menikahi Layla." Putus Alex. 


__ADS_2