
Alex terus melihat jam yang melingkar di tangannya, dia sangat tidak sabar pulang dari kantor langsung menuju kediaman Yudistira. Dia sangat bersemangat jika berkaitan dengn Layla dan calon anak di dalam kandungan, walaupun belum mengetahui milik siapa itu.
Setelah selesai berkutat di layar monitornya, Alex beranjak dari kursi dan buru-buru keluar dari kantor. Meraih ponselnya yang ada di saku celanan, mencari nomor kontak di dalamnya dan menghubunginya. Senyum di wajah tak pernah sirna, apalagi setelah dirinya merasakan tendangan dari baby twins yang menggetarkan hati seorang calon ayah. Dia juga tidak peduli dengan keberadaan Roy, jiwa persaingan di antara mereka perlahan ikut mengendur.
Dia belum bisa berdamai dengan keadaan namun tak bisa memaksakan kehendak, demi menjaga perasaan Layla yang tengah hamil.
"Halo."
"Alex, kau lagi?"
"Memangnya kenapa?" tanya Alex pura-pura tidak tahu, menahan tertawa karena berhasil membuat wanitanya jengkel.
"Aku tahu kau berpura-pura bodoh, jangan lakukan itu karena tidak pantas. Apa kau tidak lelah meneleponku setiap satu jam sekali?"
"Demi kebaikanmu."
"Hah, kau sangat menyebalkan."
"Pasti kau terlihat sangat cantik jika marah, terlihat cubby dan menggemaskan."
"Oho, jadi kau ingin mengejekku gendut. Akal bulusmu sudah aku baca, sangat menyebalkan."
"Kapan aku mengejekmu gendut? Aku mengatakan kalau kau cubby dan sangat menggemaskan. Oh ayolah, apakah mood wanita hamil selalu saja berubah? Kasihani kami para pria." Kian hari sikap Alex semakin melembut penuh cinta jika berhadapan dengan Layla.
"Tidak perlu menyangkalnya tuan Alex Anderson, aku tahu dan hafal dengan pola pikirmu."
"Jadi kau sudah mengenalku sejauh ini? Wah, itu sangat bagus sekali dan aku harus mengapresiasikan ini."
"Sudahlah, aku tidak ingin berbicara padamu!"
Alex tersenyum dan mengganti letak ponsel yang semula di sisi kiri ke kanan, menggelengkan kepala sudah hafal dengan ibu hamil yang satu itu. "Baiklah, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
__ADS_1
"Tanyakan saja."
"Apakah kau bersikap seperti ini pada Roy, maksudku apa kau nyaman berkeluh kesah padanya juga?" Alex berharap jika pertanyaannya tidak menyinggung ibu hamil yang kadar mood sering berubah-ubah.
"Tidak. Aku tidak begitu terbuka padanya, apalagi setelah dia memperk*sa ku dengan paksa secara terencana. Sebagai wanita aku merasa terhina dengan tindakannya, tapi apa boleh buat saat pria itu juga berhak atas anak yang aku kandung ini."
Alex menghela nafas berat, dilema begitu membentangkan jarak yang cukup sulit di raih. "Tapi aku berharap jika baby twins milikku."
Setelah sambungan telepon terputus, Alex segera memutar arah menuju toko perlengkapan bayi.
Di dalam toko, Alex masuk ke dalam dan menjadi perbincangan hangat oleh orang-orang yang kurang kerjaan, terus bergosip dengan menyebarkan rumor. Sambutan dari pegawai dengan sangat ramat, karena dirinya cukup terkenal dan sering menjadi tranding topik.
Alex sangat senang dan bahagia saat melihat perlengkapan bayi, terus berjalan dan mulai melihat-lihat satu persatu. Dia mengambil dua pasang gaun kecil yang sangat indah, lengkap dengan bando yang berbentuk pita.
"Gaun ini sangat mungil sekali, lucu dan terlihat menggemaskan. Apa aku belu ini saja?" batin Alex yang begitu tertarik dengan dua gaun putih itu, namun dia tidak tahu jenis kelamin anak Layla.
Layla sudah memutuskan untuk merahasiakan jenis kelamin baby twins, mengatakan jika itu akan menjadi surprise nanti.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" ucap salah satu pegawai dengan ramah serya membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Baiklah, apa jenis kelaminnya Tuan?"
Alex terdiam sesaat. "Aku tidak tahu, masih di rahasiakan. Bagaimana jika kau memberikan perlengkapan bayi twins perempuan dan baby twins laki-laki?"
"Baik Tuan."
"Hem."
Alex melihat kepergian pegawai itu dan melangkahkan kaki untuk berkeliling menyusuri tempat itu, melihat semua barang yang di tata rapi semakin membuatnya tak sabar untuk segera bertemu dengan baby twins yang di perkirakan miliknya, berharap jika Roy mundur untuk menjadi rivalnya.
Perlengkapan bayi tak ingin membuat Alex cepat pergi, dia rela berlama-lama disana dengan membayangkan calon anaknya yang belum lahir. Namun, terlintas bayangan Roy yang merampas segalanya darinya, tidak tahu apa yang akan di perbuatnya setelah hal itu benar-benar terjadi.
__ADS_1
Alex mengepalkan kedua tangannya, ingatan begitu jelas saat Roy dengan sengaja memperk*sa pengantinnya tepat sebelum pengucapan janji suci pernikahan. Hanya satu cara menyingkirkan Roy, yaitu menunggu waktu kelahiran dan melakukan tes DNA.
Layla yang tengah bersantai sambil memakan potongan buah segar di atas piring, menonton televisi sebagai bentuk aktivitas yang sudah menjadi rutinitasnya. Sebenarnya dia sangat kesal, baik Alex maupun Roy melarangnya melakukan apapun.
"Hah, sangat membosankan." Keluh Layla sambil menghela nafas jengah.
Terdengar suara bel pintu yang langsung di buka oleh pelayan yang berjaga di sana, Layla mengalihkan sudut pandang matanya ke arah pintu.
Kedua pupil mata membesar saat melihat banyak orang membawa barang-barang yang dia sendiri tidak tahu isinya, lalu dia menyipitkan kedua matanya melihat jelas Alex sebagai dalang.
"Hai, apa yang kau lakukan? Apa semua ini?" cetus Layla yang beranjak dari duduknya.
"Eits, jangan beranjak dari dudukmu. Tetaplah beristirahat dan biarkan aku bekerja, semua akan selesai dengan cepat." Tutur Alex membuat Layla tak bisa berkutik, sudut mata terus mengawasi banyaknya barang yang memenuhi dua puluh persen tempat itu.
"Tapi apa semua ini?" Layla mengangkat kedua bahu dan juga tangannya.
"Semua peralatan baby twins." Jawab Alex dengan senyum bangga.
"Sebanyak ini?"
"Ya, tentu saja. Kita kan tidak tahu dengan jenis kelamin baby twins, apakah mereka perempuan atau laki-laki atau laki-laki dan perempuan mix. Aku sudah mengantisipasi semua ini dan akan meminta orang merenovasi salah satu kamar khusus bayi." Jelas Alex yang sudah merencanakannya awal.
Layla menepuk keningnya, melihat tingkah Alex di luar batas kewajaran. "Ini tidak akan terpakai semua, kau hanya membuang-buangnya."
"Ck, aku sudah memikirkan ini. Jika tidak di perlukan lagi maka aku akan memberikannya pada orang yang membutuhkan."
"Terserah kau saja." Pasrah Layla tak ingin ikut dalam pemikiran Alex yang di anggap sebagai pemborosan.
"Astaga…kau ingin membangun toko peralatan bayi di kediaman mewahku?" ucap suara bariton menghentikan sejenak aktivitas Alex.
"Kakek tenang saja, semua ini aku persembahkan untuk cicitmu. Aku sudah merancang semua ini sedemikian rupa, biarkan semuanya menjadi tugasku."
__ADS_1
"Dasar aneh, semoga cicitku tidak gila seperti mu." Tutur Yudistira yang ikut duduk di sofa sambil menyaksikan Alex yang begitu sibuk dengan peralatan bayi yang belum lahir.
"Akulah ayahnya, tentu saja gen ku di warisi pada mereka."