Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Kekesalan Jimmy


__ADS_3

Alex menghela nafas saat berusaha untuk membujuk istrinya, namun dirinya di hinggapi rasa tak tega saat membangunkan Layla yang masih tertidur. Dengan terpaksa dirinya menahan hasrat atau mengeluarkannya dengan cara bermain solo, hanya itu solusi untuk menghilangkan hasratnya yang menggebu-gebu. 


Alex segera beranjak dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi, klagi dan lagi menghela nafas berat mengingat nasibnya yang malang harus mengeluarkan hasrat dengan bermain sendiri. 


"Ya Tuhan, malang sekali nasibku ini." Gumam Alex. 


Beberapa menit kemudian, Alex keluar dari kamar mandi setelah menuntaskan hasratnya sedikit merasa lega setelah menyelesaikannya dengan tuntas. Dirinya langsung berbaring sambil memeluk istrinya dengan sangat erat, mencium aroma yang masih sama membuatnya begitu candu dan tidak ingin jauh terlalu lama. 


Di pagi hari yang sangat indah, sinar mentari masuk ke dalam ruangan melalui jendela, menyentuh pori-pori kulit hingga membangunkan seseorang yang terbangun dari tidurnya. Layla menggeliat sambil tersenyum dan sesekali menguap, merasakan tubuhnya terasa sesak segera melihat akar permasalahannya. 


Perlahan Layla menyingkirkan tangan suami dari pinggangnya, kembali menjalankan rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Dulu begitu membenci rutinita yang hanya di rumah itu, namun sekarang dia jalani dengan sepenuh hati setelah melahirkan twins F. 


"Kau mau kemana Sayang?" tanya seseorang dengan suara khas bangun tidur. 


Layla menoleh setelah beranjak dari tempat tidur, tak lupa mencepol asal rambutnya terlihat semakin indah. "Aku ingin mempersiapkan bekal untuk anak-anak." 


"Lalu, bagaimana denganku?" 


"Aku akan membuatkannya untukmu, sarapan pagi khusus." 


"Tapi aku tidak menginginkan sarapan yang itu." 


Layla menaikkan sebelah alisnya, tak paham maksud perkataan dari suaminya. "Lalu, kau ingin apa?" 


"Menjenguk bayi kita, apakah boleh?" pinta Alex dengan mata yang berbinar sangat cerah, bahkan tersenyum menawan hanya untuk mendapatkan keinginannya. 


"Tapi Sayang, kau masih belum pulih." 

__ADS_1


"Hanya sebentar saja, aku mohon!" Alex merengek agar mendapatkan keinginannya, sangat merindukan bagian itu, sedangkan Layla bingung untuk menjelaskannya dan memilih untuk pergi dari kamar. "Tega sekali dia." Gumamnya oelan seraya beringsut dari ranjang. 


Terdengar suara pintu yang terbuka, Alex menoleh dengan senyum di wajahnya berpikir jika itu Layla yang berubah pikiran, tapi dia salah saat melihat dua gadis kecil tengah tersenyum cerah. 


Flo dan Fio berjalan menghampiri Alex, melihat kondisi sang ayah membuat mereka ikut bersedih. "Apa Ayah masih sakit?" 


"Tapi, bagaimana luka itu mengenai Ayah?" sambung Flo yang penasaran. 


Alex terdiam beberapa saat untuk mencari jawaban yang pas, takut jika dirinya salah mengatakan yang membuat kedua gadis itu kembali bertanya. "Saat bekerja, Ayah tak sengaja di dorong dan terluka." 


"Benarkah? Kenapa bekasnya sangat banyak?"


"Namanya juga musibah, andai bisa memilih Ayah juga tak ingin ini terjadi." 


Keduanya mengangguk mengerti, sedangkan Alex merasa bersalah karena setiap kali luka yang di bawanya pulang akan selalu ditanya oleh kedua putrinya. Pekerjaan sebagai Don benar-benar membuatnya menjadi semakin rumit saja. 


Alex menatap kepergian anak-anaknya yang menghilang di balik pintu, raut wajah nanar masih saja terlihat berekspresi di sana. "Dengan keputusan kakek yang menghentikan mengoperasikan obat terlarang juga senjata ilegal akan kembali menenangkan Mansion ini." Ya, dia berharap penuh jika pekerjaannya tidak akan mempengaruhi keluarganya, mengingat menjadi seorang Don sangatlah berbahaya. 


*


*


Lain halnya dengan asisten Jimmy saat melihat bagaimana seorang gadis yang dia renggut keperawanan akibat tragedi di malam itu, dia terlihat uring-uringan melihat betapa joroknya Clarissa yang membuang sampah kuaci sembarangan.


"Jika kau ingin tinggal disini, biasakan dirimu untuk membersihkan tempat ini. Ingat! Aku paling tidak suka jika kediamanku kotor." Kecam asisten Jimmy. Clarissa yang masih mengunyah kuaci sambil menonton televisi menghela nafas jengah dengan banyaknya aturan selama tinggal di sana.  


"Aku hanya membuang kulit kuaci, bukan bom yang menghancurkan tempatmu ini." Balasnya yang terus menguoas kuaci dan membiarkan sampahnya tergeletak di lantai.

__ADS_1


Asisten Jimmy sangat kesal mendengarnya. "Jika kau tidak ingin membersihkannya? Pergilah dari sini!" 


"Kenapa kau cepat sekali tersinggung? Tidak bisa di ajak bercanda sama sekali, sangat kaku." Tentu Clarissa tak ingin pergi dari sana, kesempatan hanya terjadi satu kali untuk mendapatkan hati pria tampan yang usianya sangat jauh berbeda.


"Bersihkan atau kau ku usir dari sini!" asisten Jimmy tak peduli dan bersiap untuk pergi ke markas dan menyelesaikan masalah. 


Clarissa segera membersihkan lantai yang penuh dengan kulit kuaci, mulut komat-kamit seperti membacakan sebuah mantra, tapi dirinya bukan sedang melakukan ajian ilmu hitam karena dia tidak mempercayainya, itulah caranya jika ingin bertahan disana dan hidup satu atap dengan pria yang menjadi pujaannya. 


"Dia sangat galak, untung cinta kalau tidak? Sudah aku tendang pantatnya itu." Gumamnya seraya mengepel lantai agar terlihat lebih bersih juga kinclong. 


"Aku galak?" 


Duar!


Clarissa terkejut saat mendengar suara itu dan tak sengaja reflek melemparkan kain bekas pel lantai mengenai wajah Jimmy, tindakan itu yang membuatnya menggali lubang sendiri. Dengan cepat dia meraih kain lap kotor dan menyembunyikannya, membersihkan wajah pria tampan dengan tangannya. 


"Maaf, aku refleks." Clarissa tersenyum gugup saat kedua manik mata tajam melotot ke arahnya membuat suasana semakin mencekam.


"Berani sekali kau!" Jimmy menarik lengan Clarissa dengan kasar dan menyudutkan wanita itu tanpa memberikan celah sedikitpun untuk kabur. 


Clarissa menelan saliva dengan susah payah, kemarahan dari pria yang mengurungnya itu terlihat menyeramkan. "A-aku tidak sengaja." 


"Tidak sengaja kau bilang? Mari aku jelaskan apa itu yang tidak sengaja. Pertama kau menjebakku hingga kita melakukan hal itu, hanya melancarkan niatmu. Apa aku benar?" 


"Sungguh, aku tidak menduga jika itu benar-benar terjadi, sangat jauh dari ekspektasi ku." Clarissa kembali menelan saliva dengan susah payah, hembusan nafas mint membuatnya sedikit terbuai hingga lupa akan pembahasannya. "Aku akan mengurus masalah ini nanti." Jimmy segera berlalu pergi meninggalkan wanita itu, pagi hari yang di rusak. 


Jimmy tidak akan tinggal diam dan menyusut bagaimana dirinya di jebak oleh bocah itu, apalagi dia mengenal keluarganya yang begitu terobsesi pada Alex. "Sebelum aku bisa memecahkan rencana wanita itu, aku harus mencari tahu kebenarannya dan setelah itu mengusirnya." Gumamnya di dalam hati. 

__ADS_1


"Astaga…kenapa aku merasa mulai menyesal sekarang? Ternyata dia pria yang menakutkan, jika tahu begitu lebih baik aku mendekati Alex saja. Hanya asisten tapi sangat menyebalkan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Monolog Clarissa yang menyesal, namun nasi sudah menjadi bubur dn menyesalpun tiada guna. 


__ADS_2