Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Terasa sesak


__ADS_3

Layla melepas semua atribut yang melekat di tubuhnya, menggantikan dengan baju kaos longgar berwarna putih yang menjadi warna favorit, tak lupa celana pendek di atas lutut. Penampilan yang sangat berbeda dari sebelumnya, setidaknya dia bisa menampilkan kesederhanaan dari ciri khas yang jarang di ketahui orang lain. 


"Huh, seluruh tubuhku sangat sakit terutama di bagian kepala." Keluh Layla yang duduk di atas kursi empuk seraya menyandarkan tubuhnya. Sedikit memberi pijatan di kepala mengurangi rasa sakit yang di rasakan, mencepol rambut yang di hias dengan beberapa aksesoris memang terlihat indah namun amat menyakitkan. 


Terlihat cincin putih yang tersemat di jari manis, sebuah permata yang berkilau indah dan sayangnya memiliki pasangan membuatnya merutuki hidup yang mulai terkekang. "Cincin ini memborgolku, semua orang sudah menganggapku nyonya Alex Anderson." Lirihnya menghela nafas jengah. 


Terdengar suara ketukan pintu, langkah gontai yang menyertai di ikuti rasa lelah menyelimuti seluruh tubuhnya. Terlihat seorang pria tampan yang masih menggunakan pakaian formal tadi, menatapnya dengan jengah. 


"Oh kau, ada apa?" cetusnya. 


Alex menyusuri pandangan dari ujung kaki hingga ujung rambut, inilah penampilan yang melambangkan watak asli seseorang, tak habis pikir mengapa dirinya terjebak dengan Layla. "Tadi kau terlihat cantik, tapi sekarang sangat berantakan." 


"Mulai sekarang kau harus terbiasa, yang penting aku tidak dekil. Hah, mau apa kau ke sini?" Layla masih memegang pintu yang terbuka seperempat saja, celingukan mencari keberadaan orang lain yang tak ditemukan. 


Tanpa menunggu waktu, Alex mendorong pintu serta tubuh wanita itu dan menyudutkannya ke dinding. Tatapan keduanya saling bertemu satu sama lain, terhipnotis dengan pancaran netra mata indah yang secara tak sengaja terkesima. 


"Ini terlalu dekat." Layla menolak tubuh pria itu agar menjauh darinya, tapi tetap tak berhasil melawan tenaga seorang lelaki sehebat apapun dia yang sebagai perempuan. 


"Aku baru mengingat dan menyadari ini, rekan bisnisku ternyata Roy Immanuel."


"Memang. Jika kau hanya mengatakan itu saja, sebaiknya kau pergi."


"Hem, ini akan lebih menarik lagi." Ucap Alex yang melepaskan tubuh Layla yang berada dalam kungkungannya. 


Alex berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi, sedangkan Layla menatap kepergian pria itu dan segera mengunci pintu kamar. "Dasar pria aneh." Gumamnya yang disertai umpatan. 


Alex pergi dengan ekspresi yang tidak bisa di gambarkan, terus berjalan menuju ke sebuah tempat dimana dirinya merasa lebih baik dari sebelumnya. 


"Argh." Alex menumpahkan seluruh kekesalannya, tak menyangka jika mantan kekasih Layla yang dimaksud adalah Roy, rekan bisnisnya. "Aku pikir masalahku akan teratasi dengan baik, nyatanya malah menambah masalah baru." Ucapnya di dalam hati, mengepalkan kedua tangan seraya meninjunya ke dinding. 


****


Pertemuan dua perusahaan ternama yang sudah terikat kerjasama, ruangan ber AC tetap tidak menghilangkan hawa panas yang mendera. Layla menelan saliva saat melihat dua pimpinan yang saling berhadapan, dan sialnya keduanya adalah pria yang merebutkannya. 

__ADS_1


Cukup lama Alex dan Roy bertatapan mata yang menyirat sesuatu, mempertahankan harga diri mereka supaya tak di injak-injak satu sama lainnya. 


"Ya Tuhan, tolong selamatkan aku dari dua pria gila ini." Batinnya yang tidak nyaman dengan situasi sulit. "Resiko orang cantik dari kecil." Sambungnya sesekali terkekeh. 


Alex menatap pria yang ada di depan mata, sepasang bola mata yang pernah dia jumpai di suatu tempat. 


"Kenapa kau menatapku begitu?" celetuk Roy memecahkan keheningan. 


"Bukan apa-apa, mari kita lanjutkan proyek kerja sama ini." 


Layla merasakan sesak berada dalam satu ruangan bersama dua orang pria, antara mantan kekasih dan juga tunangannya. 


Setelah beberapa saat kemudian, Roy memperhatikan jari manis mantan kekasihnya dan juga Alex. "Cincinnya bagus." Pujinya.


"Tentu saja, ini sepasang." Jelas Alex seraya melirik Layla. 


"Aku permisi dulu." Layla memutuskan keluar dan menghirup nafas sebanyak mungkin, menyentuh dada yang amat menyesakkan. Beruntung dia bisa terbebas, dan berjalan terburu-buru masuk ke toilet untuk mencuci wajahnya. 


"Wow, aku merasa terhormat menerima undangan ini." Roy dengan elegannya meraih kartu undangan yang di desain sangat indah, terukir nama Alex Anderson dan Layla, sang mantan kekasih. "Jadi dia tunanganmu?" 


"Yup. Pernikahannya akan di adakan dua minggu lagi di mulai hari ini. Undangan belum aku sebar, kau yang pertama kali mendapatkannya." 


"Aku sungguh terkesan, tentu saja aku datang di acara istimewa ini." Roy tersenyum seraya berlalu pergi setelah berpamitan. Undangan yang berada di tangan di remas dengan sangat erat, melemparkannya ke dalam tong sampah. Dia tahu jika Alex sengaja memanas-manasinya membuatnya terbakar api kemarahan. 


"Aku harap pria itu berhenti mengejar Layla." Gumam Alex. 


Notifikasi ponsel yang bergetar mengalihkan perhatian Alex, meraih benda pipih dan melihat pesan masuk dari asisten Jimmy. 


"Kondisi kakek belum pulih sepenuhnya, bagaimana aku mengatakan masalah Rudra padanya?" Alex tampak berpikir, masih membayangi wajah keriput dan pucat di hari pertunangannya. Hingga dia memutuskan menghubungi John untuk meminta solusi selanjutnya. 


"Halo paman."


"Ada apa?" 

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan." 


"Katakan!"


"Ini masalah Rudra yang masih berada di markas."


"Lalu?" 


"Apa keputusanku sudah tepat dalam mempertemukan kakek dengan pria itu? Aku takut kondisi kakek kembali drop." 


"Ya, itu benar. Tapi mengapa kau tiba-tiba ingin tuan David menemui Rudra?" 


"Walau bagaimanapun jahatnya pria itu tetaplah anaknya kakek dan juga pamanku, kau tahu benar paman, kalau aku tak merasakan memiliki keluarga yang utuh. Sangat tidak benar jika aku menghukum Rudra." 


"Ternyata kau mempunyai sisi manusiawi." 


"Berhentilah mengejekku dan keluarkan saran!" 


"Masalahnya sukup sulit, tapi apa boleh buat, kau harus mempertemukan mereka. Kita akan mempersiapkan tim medis jika sewaktu-waktu kondisi tuan David menurun."


Alex memutuskan sambungan telepon, bernafas lega setelah mendapatkan pencerahan. "Semoga kondisi kakek baik-baik saja nantinya."


Permasalahan yang masih menjadi teka-teki yang belum dipecahkan, di tambah dengan rasa penasaran di sebuah ruangan yang sudah tidak pernah dimasuki oleh siapapun. 


"Hidupku selalu saja menjadi sibuk setelah menjadi pewaris, lebih baik aku beternak di kediaman Mateo dulu. Sayang, Mike berhasil melarikan diri yang sampai sekarang belum aku temukan keberadaannya." Alex memijit pangkal hidung, permasalahan demi permasalahan. 


****


Brak! 


Roy menendang pintu dengan sangat jeras membuat orang-orang di sekitar terlonjak kaget, amarah yang menggebu-gebu di saat Alex dengan sengaja memancingnya. 


"Dia belum tahu siapa aku yang sebenarnya, bersiap-siaplah menghitung mundur kematianmu, Alex Anderson." Roy tersenyum tipis dan akan melakukan segala macam cara merebut mantan kekasihnya. 

__ADS_1


__ADS_2