
Kedua bocah itu berlari untuk bersembunyi, mereka mengintip di balik tembok seraya cekikikan melihat sang pelayan memberikan cangkir yang berisi minuman kepada semua orang sesuai dugaan Flo jika cangkir yang telah mereka campurkan dengan pencuci perut tepat sasaran, mereka sangat puas melihat Clarissa yang meminumnya. Mereka saling melirik satu sama lain dan bertos ria mengenai keberhasilan mereka yang mengerjai gadis genit itu.
"Jangankan menatap mata Ayah secara langsung, bahkan melihat fotonya saja aku tidak memberikan wanita itu izin." Flo sangat bahagia dan keduanya menunggu reaksi yang akan bekerja setelah setengah jam mengkonsumsi minuman yang dicampurkan dengan obat pencuci perut.
Di tempat lain, Layla celingukan mencari keberadaan putrinya yang tidak terlihat dimanapun. Dia mendekat sambil berbisik pada suaminya. "Aku tidak melihat Flo dan Fio, kau melihat mereka?"
Alex menatap sekeliling dan tidak melihat keberadaan putri kembar mereka. "Tidak. Mungkin saja mereka ada di lantai atas."
"Hem, aku harap begitu." Layla kembali fokus pada asal suara, memperhatikan Clarissa yang begitu cerewet menceritakan kehidupannya yang sangatlah membosankan ketika mendengarkan dongeng yang tidak bermanfaat.
Alex menghela nafas jengah dan segera beranjak dari tempat itu, menarik tangan Layla karena ini sudah larut malam dan dirinya ingin meminta jatah kepada sang istri.
"Kalian mau kemana?" tanya Clarissa menatap kepergian sepasang suami istri, padahal dia hanya ingin melihat wajah tampan Alex dan diam-diam menyukainya.
"Menambah anak." Jawab Alex singkat tanpa tahu malu, menyeret tangan Layla dan membawanya masuk ke dalam kamar meninggalkan semua orang.
"Oh." Clarissa sedikit kecewa melihat Alex yang begitu dingin padanya, padahal dia hanya mengagumi pria itu tanpa berniat untuk merebutnya.
"Ini sudah malam, sebaiknya kita semua beristirahat." Ucap David yang berlalu pergi, dirinya sangat mengantuk mendengar cerita a sampai z dari Clarissa yang tidak ada habisnya. "Dan kau! Antarkan putrimu ke kamar tamu."
"Baik Tuan." John melirik Clarissa dingin. "Ikuti aku!"
Clarissa mengikuti kemana John membawanya pergi, terlihat dari jarak beberapa meter sebuah pintu yang sangat mewah terbuka membuat kedua matanya berbinar cerah.
"Ini kamarmu! Aku harap kau tahu diri dan segera pergi dari tempat ini." Ucap John dingin tanpa ekspresi.
"Jadi Ayah tidak menyukaiku berada disini?" Clarissa memperlihatkan raut wajah sedihnya, membuat John menghela nafas.
"Bukan seperti itu, aku disini bekerja dan kau tidak akan mungkin tinggal disini semaumu. Apa kau ingin aku di pecat?"
"Ouh, aku pikir Ayah mengusirku. Aku akan mencari tempat yang dekat dengan Ayah." Clarissa kembali tersenyum sementara John tetap dingin tanpa ekspresi.
"Kau bisa tinggal di apartemenku setelah menginap beberapa hari disini." John segera pergi dari tempat itu tanpa menoleh ataupun mendengarkan jawaban yang keluar dari mulut Clarissa karena baginya itu sangat tidak penting. Dia bersikap baik bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengawasi gadis itu agar tidak membuat ulah di Mansion Anderson.
Clarissa menatap kepergian John penuh arti segera mengeluarkan beberapa pakaian dan memasukkannya di dalam lemari putih, kedatangannya di tempat itu semakin membuatnya bersemangat bisa melihat foto Alex yang terpajang begitu tampan dan juga menghipnotis bahkan yang aslinya lebih daripada itu.
Namun khayalannya tidak bisa mendalam karena tiba-tiba merasakan perut yang sedikit mulas hingga dia tidak tahan lagi dan berlari menuju toilet. Sudah lima kali dirinya bolak-balik ke toilet dan merasakan perut yang sangat sakit, dan berpikir jika dirinya salah makan.
"Ada apa dengan perutku? Tadi baik-baik saja kenapa ini sangat sakit dan juga mules?" gumam Clarissa tanpa disadari jika dua makhluk kecil yang cekikikan seraya melihat rekaman CCTV di ruangan khusus.
"Ternyata rencana kita tidak sia-sia walaupun tadinya sedikit gagal karena reaksi obat yang terlalu lama, tapi kali ini bekerja dengan sangat baik rasakan kamu nenek Lampir, itu akibatnya jika terus menatap ayah Alex." Fiona mencibir.
"Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum ayah menyadarinya atau kita akan terkena masalah besar." Flo menarik tangan adiknya menuju kamar.
Clarissa membaringkan tubuhnya yang sangat lemah karena cairan tubuh yang sedari tadi keluar banyak, sudah lelah dia bolak-balik kamar mandi.
John tidak sengaja melihat kedua gadis kecil kembar itu keluar dari ruangan CCTV, di mana dirinya sangat penasaran dan mencoba untuk mencari tahu apa yang mereka lakukan. "Apa yang mereka lakukan dan terlihat sangat bahagia sekali?" gumamnya memeriksa.
"Sejak kapan CCTV di kamar tamu hidup?" gumamnya seraya berpikir, dirinya tidak mengerti mengapa kedua bocah kembar itu sangat senang. Kedua pupil matanya tak sengaja melihat anak John yang bolak balik ke kamar mandi, berpikir maksud dari yang di lihatnya.
John alias Arden, kakek kandung dari twins F mencari akar permasalahan membuatnya menyunggingkan senyuman di wajah, melihat dengan jelas bagaimana kedua cucunya itu sangatlah pintar mengerjai orang lain tanpa di sadari olehnya.
"Ya Tuhan…ternyata mereka sangat jahil sekali, tidak ada yang mengira wajah yang terlihat imut dan menggemaskan itu melakukan semua itu." John alias Arden menggelengkan kepala saat mendapatkan hiburan, ternyata bukan dirinya saja yang tidak menyukai kedatangan Clarissa melainkan si kembar Flo dan Fio. Dia segera menghapus jejak bukti yang di perbuat, dan berharap tidak ada yang mengetahuinya. "Sepertinya mereka akan menjadi partnerku agar anak John itu tidak betah tinggal disini."
__ADS_1
Layla menolak untuk bercinta dengan Alex sebelum mengamankan Flo dan Fio terbelih dahulu, kedua anaknya itu sangat jahil yang membuatnya pusing tujuh keliling.
"Hei, aku sangat merindukanmu. Kau mau kemana?" Alex sengaja memasang ekspresi sedih di wajah agar mendapat simpati dari istrinya itu.
"Sabarlah dulu, aku harus mengamankan Flo dan Fio. Aku takut mereka kembali berbuat jahil, jika diam begini dan tidak datang ke kamar itu berarti mereka tengah bersenang-senang." Ungkap Layla khawatir.
"Biarkan saja bersenang-senang."
"Aku tidak mempermasalahkannya bersenang-senang tapi mereka selalu merugikan orang lain." Layla nekat untuk mencari anaknya di kamar dan memeriksa, apakah kedua putrinya itu sudah tidur atau malah membuat ulah.
Akhirnya Layla bisa bernafas lega saat kedua putrinya ada di atas tempat tidur dan memejamkan kedua mata, berjalan masuk kedalam dan menyelimuti tubuh Flo dan Fio, tak lupa mengecup kening putrinya yang tampak terlelap. Sebelum pergi tak lupa dirinya mematikan lampu dan tersenyum di iringi pintu yang tertutup.
Lampu kamar kembali menyala, kedua bocah kecil itu tersenyum sambil menari-nari di atas tempat tidur. Mereka sangat puas mengerjai Clarissa, tidak ada seorang pun wanita asing yang boleh melirik ayah mereka.
*
*
Saat di meja makan, diam-diam John mengulas senyum tipis di wajahnya melihat keceriaan di wajah Flo dan Fio yang seakan tidak pernah melakukan kesalahan. "Mereka sangat menggemaskan, sikap jahi itu sama seperti istriku dulu." Batinnya yang mengingat dirinya selalu di jahili oleh sang istri dan melelehkan cairan es di hati, kedatangn kedua anak kembar itu semakin menghidupkan suasana Mansion yang sunyi dan juga hatinya.
"Ayah, kami ingin jalan-jalan." Ungkap Fio yang di anggukkan kepala oleh Flo.
"Jalan-jalan? Tapi Ayah sangat sibuk, Sayang." Ungkap Alex yang sedikit tidak tega.
"Ayolah Ayah, siapa yang akan bekerja di hari weekend ini? Lagipula Ayah selalu sibuk mengurus kantor, luangkan waktu kami juga." Bujuk Flo dengan kedua mata berbinar penuh harap.
"Mereka benar, kau selalu memompa tubuhmu untuk pekerjaan saja. Luangkanlah waktu untuk mereka sebentar saja, Layla juga selalu sibuk menjadi ibu rumah tangga dan membuatnya lupa untuk merawat dirinya agar kau tidak terpikat wanita lain yang lebih cantik darinya." Ucap David yang menyela, juga menyetujui permintaan cicitnya.
"Aku tidak akan tergoda dengan wanita lain selain istriku, dia yang paling sempurna dan tetap cantik di hatiku."
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya, kau selalu cantik."
"Ayah benar, ibu lebih cantik dari siapapun." Puji Fiona.
"Jadi bagaimana Ayah? Kita jadi jalan-jalan menghabiskan waktu?"
"Hem, sesuai dengan keinginan kalian." Pasrah Alex, diam-diam tersenyum melihat sorak gembira dari kedua putrinya dan tampak sangat menggemaskan.
Semua orang tersenyum melihat drama di pagi hari, sangat cerah seperti suasananya.
"Apakah aku boleh ikut? Aku juga ingin jalan-jalan." Celetuk Clarissa yang berbinar manatap Alex dan David secara bergantian.
"Ini liburan keluarga." Cetus Fiona yang tidak suka jika ada orang asing yang ikut serta dan rekreasi liburan di akhir pekan.
"Ayolah, aku baru tinggal di Indonesia dan ingin keluar jalan-jalan." Bujuk Clarissa.
"Tidak, pergi saja sendiri." Ketus Flo tak suka.
"Flo, tidak boleh seperti itu. Jika dia ingin ikut lalu apa salahnya?" ucap Layla yang menengahi perdebatan anaknya.
"Tapi Bu." Protes Fiona namun melihat gerakan jari telunjuk ibunya mengundurkan niatnya dan menjadi patuh.
"Kau boleh ikut bersama kami."
__ADS_1
"Terima kasih, kau sangat baik." Ucap Clarissa tersenyum, tapi lain di hati yang mencibir jika Layla wanita bodoh. "Dasar wanita bodoh, memberikan peluang pada wanita asing sepertiku. Aku bisa terus dekat dengan Alex, dia persis seperti pria idamanku. Aku ingin menjadi sugar daddy." Ucapnya di dalam hati.
Sementara Fio dan Flo sangat kesal jika ibu mereka mengizinkan orang lain untuk ikut serta, namun mereka tidak tahu apa yang ada di pikiran Layla.
Ya, Layla sudah tahu jika Clarissa mengagumi suaminya tapi dirinya tak begitu mempermasalahkan karena banyak wanita di luar sana juga menyukai Alex yang sangat sempurna. Namun dia sangat yakin akan cinta dari suaminya begitu besar dan tidak akan memberikan ruang pada wanita lain selain dirinya yang menjadi ratu di hati.
"Gadis yang malang, semoga dia tidak begitu nekat atau aku akan mematahkan tangannya seperti Jessie." Batin Layla tersenyum tipis, hal itu tak sengaja di lihat Alex.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alex.
"Bukan apa-apa."
"Kami akan bersiap-siap dulu." Flo dan Fio berlari menuju kamar mereka menggunakan gaun dengan warna senada yaitu pink yang tampak indah di kulit putih mulus mereka.
"Kalian juga bersiaplah!" ujar David yang melirik cucu menantu dan Clarissa secara bergantian.
"Baik Kek."
Layla yang jarang berdandan itu mulai mengeluarkan bakatnya dalam bermake up, menggunakan pakaian terbaiknya dikala bersantai menghabiskan waktu bersama dengan suami dan juga anaknya.
"Semoga saja pikiran ku ini salah." Layla berusaha menepis pikiran negatif mengenai Clarisa, hanya menunjukkan skill dan bakat yang selaku membuat Alex terpukau.
"Kami sudah siap."
Semua pria mengalihkan pandangan dan melihat kedua anak kecil yang tersenyum lebar, sangat cantik menggunakan gaun pink, sepatu dan bando dengan warna senada.
"Wow, ternyata kedua cicitku sangat cantik. Semoga tidak ada mata jahat yang menatap kalian," ungkap David tertawa.
"Tentu saja."
"Aku juga sudah siap." Clarissa tersenyum kepada semua orang terutama Alex, memperlihatkan penampilannya yang sangat cantik. Dia menyelipkan rambut yang mengenai wajah ke telinga, pria tampan yang terus menatapnya tanpa berkedip. "Apa aku cantik?" tanya nya dengan pelan.
"Kau percaya diri sekali, tentu saja yang paling cantik adalah ibu kami yang sekarang berdiri di belakangmu." Ujar Flo yang menertawakan Clarissa.
"Kau sangat cantik." Alex beranjak dari kursi seraya berjalan mendekat, Clarissa tersenyum malu berpikir jika dirinya menjadi objek perhatian.
Pria itu mendekat semakin membuatnya sangat senang, namun beberapa detik kemudian malah melewati nya dan segera menoleh ke belakang. Sedangkan Flo dan Fio tertawa melihat sikapnya yang begitu percaya diri.
"Inilah aku yang sebenarnya." Ungkap Layla di dalam hati dengan penuh bangga, menghancurkan kesombongan dan kepercayaan diri dari Clarissa.
"Kau sangat cantik sekali, aku selalu saja pangling jika kau sudah berbandan."
"Terima kasih, walaupun tubuhku sedikit gemuk tapi terlihat gemoy dan menggemaskan bukan?"
"Ya, memang terlihat seperti itu."
Di sepanjang perjalanan Clarissa hanya melihat keluar jendela, membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya. Kebiasaan di Paris membuat dirinya tidak bisa berhenti, selalu menyukai suami orang dan bermaksud untuk mendekatinya menjadi sugar daddy, tapi tidak ada niatan untuk merebut pria beristri dari keluarga pihak tersakiti.
Alex tidak ingin melepaskan Layla dan terus menggenggam tangan kanan istrinya erat, sesekali menciumnya dengan mesra. Sementara Clarissa semakin panas melihat adegan itu dan malah berkhayal jika itu adalah dirinya, namun bayangan itu berubah saat Flo bersin dan tak sengaja mencipratkan air ludah ke wajahnya.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Clarissa yang jengkel seraya mengelap wajahnya dengan tisu, hingga dia menyadari telah membentak gadis kecil yang bisa berakibat fatal akan namanya menjadi jelek. "Ouh maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Tolong maafkan aku!"
Flo tahu jika Clarissa hanya berpura-pura baik saja. "Aku juga yang bersalah, jadi maafkan aku." Tuturnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
Alex tersenyum senang melihat perkembangan putrinya yang meminta maaf jika bersalah, di kira permasalahan akan semakin panjang. Tanpa di sadari, mobil telah berhenti tak jauh dari wahana permainan.
"Wah, aku sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam." Buru-buru Fio keluar diikuti oleh Flo, Layla yang sangat khawatir akan kedua anak-anak segera mengejar meninggalkan Alex dan Clarissa di dalam mobil.