
Layla menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk, rasa lelah dan malas melakukan apapun setelah dirinya menjadi ajang rebutan dari dua orang pria yang sama-sama menidurinya. "Kenapa ini terjadi padaku? Oh ya ampun…aku sangat stres memikirkan semua ini." Keluhnya seraya mengusap wajah dengan frustasi, tak ada jalan untuk dirinya bebas dan semakin berat pula beban yang di pikul.
Telepon berdering dengan sengaja dia acuhkan, melihat siapa yang menghubunginya berulang kali. Terpaksa mengangkatnya setelah pendengaran terganggu oleh suara berisik ponselnya.
"Ada apa?" ketus Layla yang tidak ingin diganggu.
"Kami sudah berada di bawah dan menunggumu, turunlah!"
"Aku mohon untuk memberikan aku waktu, kenapa aku tidak di izinkan menuruti perkataan hatiku?" Layla semakin meninggikan suaranya hampir berteriak, tinggal bersama dengan dua pria yang menikmati tubuhnya masih belum bisa di terima oleh akal sehat.
"Hanya tiga bulan saja dan memastikan apakah kau hamil anakku atau dia."
"Tapi aku tidak hamil." Layla langsung memutus sambungan telepon, raut wajah kesal mengetahui nasibnya yang begitu tragis.
Layla dengan sengaja mematikan ponsel agar tidak ada lagi yang memghubunginya terutama dua pria yang menunggu kabar kehamilannya. Keringat dingin dan ketakutan saat membayangkan dirinya benaran hamil salah satu anak di antara keduanya, hal gila di luar nalar tak mampu di resapi oleh orang awam seperti dirinya.
"Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Kedua pria brengsek itu ingin sekali aku hamil anak mereka, memangnya apa yang akan di pikirkan oleh orang lain kalau mereka menggandeng satu wanita? Astaga…ya Tuhan tolong bantu aku." Monolognya yang sambil mengacak-acak tatanan rambutnya.
Alex melirik jam mewah yang melingkar di tangannya, dengan sengaja dia pergi lebih awal di kediaman Yudistira, kakek Layla. Tapi sialnya Roy juga berada di sana untuk menemui Layla yang menjadi perebutan dari keduanya.
Hawa di dalam ruangan terasa panas dikala keduanya kembali di persatukan sesuai dengan tuntutan keadaan, Yudistira juga bingung bagaimana untuk memulainya, apalagi kedua pria yang tak jauh darinya bukanlah seorang orang sembarang melainkan mafia besar.
"Aku akan menemuinya." Alex sangat bosan menunggu duduk diam di sana, berdiri dari duduk hendak menyusul Layla yang belum ingin turun walau dia sudah menghubunginya.
"Aku saja." Kini Roy juga ikut serta, tak akan memberikan ruang pada Alex dalam merebut Layla darinya.
"Tolong mengertilah bahwa cucuku tidak ingin menemui kalian."
__ADS_1
Alex membuang nafas kasar seraya menatap sinis dan tajam mengarah pada Roy. "Sebaiknya kau mundur, aku calon suaminya."
"Apa kau bercanda?" Roy tersenyum saat Alex memintanya mundur dan tidak akan pernah dia lakukan. "Tiga bulan waktu yang pas mengetahuinya."
Ada rasa di hati yang bergejolak ingin di keluarkan Alex, tapi dia menghargai pemilik rumah untuk mengambil hati Yudistira.
"Kau bertanggung jawab dan mengira Layla akan hamil anakmu, tapi aku mencintainya. Tanggung jawab dalam bentuk pernikahan tidaklah cukup, jika di tengah-tengahnya tidak ada cinta."
"Jangan samakan obsesimu sebagai cinta." Alex tersenyum miring seraya membuang muka.
"Aku tahu cara memberikan cinta, bukan sepertimu yang hanya mengharapkan benihmu yang lahir di rahim Lala."
Baik Alex maupun Roy tidak ada yang ingin mengalah, tetap yakin jika benih mereka akan muncul di dalam rahim Layla.
Waktu terus bergulir hingga tak terasa oleh Layla, wanita yang trauma setelah pemerk*saan dari dua pimpinan mafia dalam waktu berdekatan meninggalkan kesan buruk yang mendalam di hatinya. Sudah lama dia menutup dirinya dari semua orang, dan tidak ingin bertemu siapapun baik Alex maupun Roy.
"Sudah Nona, tuan besar telah mengusir mereka."
"Selalu saja begitu." Keluh Layla yang tampak lesu, tidak bersemangat menjalani hari, bahkan pekerjaan yang begitu dia cintai seakan tak terpupuk lagi hingga layu.
"Mereka sangat mengkhawatirkan Nona, sesekali temuilah mereka."
"Tidak. Mereka hanya menginginkan anak yang ada di dalam perutku, dasar egois." Cetus Layla sembari menunjuk perutnya yang sedikit membuncit. Ya, beberapa waktu yang lalu dokter mengatakan jika dirinya hamil, entah harus bagaimana dia berekspresi antara senang ataupun sedih dicampur menjadi satu. Senang karena sebentar lagi menjadi seorang ibu, tapi juga sedih kalau benih dari dua pria tersebut tumbuh di rahimnya.
Layla bahkan pernah bertindak bodoh dengan melakukan aborsi agar kedua pria itu tidak ribut mempermasalahkan anak siapa yang ada di dalam rahimnya, tapi aksinya di gagalkan Alex.
"Aku benci situasi ini." Layla sangat frustasi jika dirinya hanya di anggap sebagai mesin pencetak anak, dan lebih gilanya dia hamil anak kembar.
__ADS_1
Pintu terketuk menghentikan aksinya, Layla meminta pelayan setianya untuk melihat siapa yang datang dan ternyata Yudistira, dan mengijinkannya.
"Sudah lama kau menutup diri, jangan membebani semuanya, kasihan bayi yang belum lahir itu." Yudistira membelai rambut Layla dengan sangat lembut, berharap jika cucunya tidak menutup diri.
"Aku tidak ingin kemanapun Kek, apalagi aku hamil dan tidak tahu siapa ayah bayi yang aku kandung."
"Siapapun ayahnya jangan menutup dirimu, kasihan bayi di dalam perut itu dia tidak bersalah. Biarkan Roy dan Alex menemuimu, aku jadi tidak tega melihat mereka yang selalu berkunjung kesini hanya ingin menemuimu." Jelas Yudistira.
Layla mengangguk pelan, entah mengapa dia juga merasa kasihan dengan dua pria yang selalu berusaha datang hanya untuk bertemu dengannya. "Kakek benar, aku akan mencoba membuka diri kepada mereka."
"Bagus."
"Kakek hanya tinggal mengatur jadwal mereka dan jangan sampai keduanya datang di waktu yang sama, ya…walaupun aku benci mengatakan ini, salah satu di antara mereka ayah biologis dari bayi di dalam kandunganku."
"Baiklah, Kakek akan memberitahukan ini pada Alex juga Roy."
"Hem."
*
*
Alex mulai berputus asa untuk menjenguk Layla yang tidak ingin menemuinya, dirinya sangat yakin jika bayi yang dikandung mantan sekretaris pribadinya adalah miliknya. Namun kenyataan masih lima puluh persen saja, karena bisa jadi itu milik Roy.
Ponsel bergetar dan segera di lihatnya, sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Yudistira. Ada secercah harapan melihat pesan itu, izin untuk menemui Layla yang sudah di dapatkan oleh sang empunya.
"Ya Tuhan, ini seperti mukjizat. Ingin sekali aku mengelus perutnya, dan semoga itu milikku." Alex tersenyum kemudian dan meninggalkan pekerjaannya, memberikan kabar bahagia itu pada kakeknya dan juga John. Dia bergegas pergi keluar dari ruangan menuju mobil yang terparkir, sudah sangat lama tidak menemui Layla yang hamil anak kembar.
__ADS_1
Tak lupa dia singgah ke toko bunga dan membeli beberapa buket bunga, hari yang indah dengan suasana hati mulai membaik.