
Alex membersihkan diri yang penuh dengan percikan darah segar mengenai dirinya, selesai bertarung membuatnya merasa kotor dan juga lengket. Pekerjaan di dunia bawah tanah sangatlah melelahkan dan juga berbahaya, mengingat dirinya hampir setiap hari memegang senjata tajam dan juga api, membunuh dan membantai seluruh musuhnya.
Terkadang dia takut jika pekerjaan kotornya melibatkan keluarga, terutama kedua putrinya yang masih kecil. Ingin sekali meninggalkan pekerjaan yang sangat berbahaya, tidak adanya pengganti menyulitkan dirinya.
Alex mengusap rambut dari depan ke belakang seraya mengangkat wajahnya, menutup kedua mata sembari menikmati guyuran air shower yang membasahi tubuhnya. Menikmati pancuran air menghilangkan bercak darah musuh yang selalu dia tuntaskan dengan segera.
Kedua tangan berpegangan di dinding seraya berpikir mengenai kematian ayahnya yang tidak maksud akal, dalam artian adanya sebuah rekayasa yang tidak dia ketahui sebab dan akibat. "Aku sangat yakin jika ayahku masih hidup, tapi dimana dia berada dan mengapa tidak pernah menemuiku sekali saja." Gumamnya di dalam hati.
Selesai mandi, Alex meraih handuk dan melilitkannya menutupi bagian pinggang ke bawah. Kemudian dia keluar dari kamar mandi, seraya bersiap-siap menuju Mansion Anderson. Dirinya tidak ingin jika kedua putri kembarnya melihat tubuhnya penuh dengan percikan darah manusia, usia seperti anak-anaknya sangat ingin tahu mengenai segala hal.
Alex meraih ponsel menghubungi asisten Jimmy.
"Halo."
"Iya fon, ada apa?"
"Apa kau sudah menyelidiki mengenai senjata yang di plagiat?"
"Sudah don, aku mendapatkan lokasi keberadaan mereka secara terperinci dan juga data lengkap."
"Bagus."
"Apa kita akan menyerang mereka tuan?"
"Tidak selamanya kita memakai tenaga namun juga otak untuk berpikir dalam melumpuhkan mereka."
"Jadi, maksud don kita memanfaatkan data mereka?"
"Yap, tepat sekali. Aku tidak akan mengatakan hal yang banyak, karena kau pasti sudah tahu apa yang harus kau lakukan."
"Tentu don."
"Hem."
Setelah sambungan telepon selesai, Alex segera bersiap-siap keluar dari apartemennya menuju Mansion Anderson. Dia sangat merindukan istri tercinta dan juga kedua putrinya yang begitu menggemaskan.
Di sepanjang perjalanan, dia selalu melirik jam yang melingkar di tangan berharap jika dirinya kali ini tidak terlambat. "Bagus, masih ada waktu untuk sampai ke Mansion." Ucapnya pelan, dia berpikir untuk singgah ke toko kue dan memberikannya sebagai oleh-oleh pulang bekerja.
Tercium aroma kue yang begitu menggugah selera, Alex masuk ke dalam dan disambut ramah oleh karyawan yang bekerja di sana.
Dia berjalan sambil melihat-lihat kue yang disukai oleh kedua putrinya, walaupun sederhana namun senyum di wajah Flo dan Fio adalah yang paling utama.
"Berikan aku kue coklat itu." Alex menunjuk kue itu dengan bersemangat, dan beberapa varian rasa lainnya.
Dua paper bag yang ada di tangan segera dia jinjing dan membawanya menuju ke mobil yang terparkir, dia menyetir mobil sambil menyetel lagu kesukaannya agar membuat dirinya rileks setelah melakukan pekerjaan berbahaya.
Dia selalu saja tersenyum bagai orang yang jatuh cinta, memiliki tiga orang wanita cantik yang menghiasi harinya yang selalu berwarna cerah. "Ternyata menikah tidaklah buruk, hidupku lebih terarah dan bahkan mempunyai tujuan. Ingin sekali aku berhenti menjadi seorang don, tapi kakek melarangku. Andai saja kakek mengerti kalau aku hanya menginginkan keluargaku baik-baik saja, pekerjaan berbahaya pasti suatu saat nanti akan melibatkan mereka." Ucapnya di dalam hati.
Di Mansion Anderson..
Alex tersenyum dan segera turun dari mobil, membawa dua paper bag di tangannya, masuk ke dalam kediaman mewah itu dengan senyuman yang mengembangkan.
"Flo…Fio, Sayang." Panggil Alex berteriak memanggil istri dan juga kedua putri imutnya.
"Ayah!" pekik kedua gadis kecil yang berlari ke arah Alex dan memeluknya erat, mereka menyambut kedatangan sang ayah dengan penuh cinta seperti biasa.
Alex menggendong kedua putrinya di tangan kanan dan kiri tersenyum secara bergantian menatap keduanya dengan penuh cinta, tak lupa mencium pipi dengan begitu menggemaskan. "Ayah bawakan sesuatu untuk kalian, coba ditebak."
Flo dan Fio saling berpandangan dan mulai menebak.
"Pasti boneka Barbie." jawab Fio yang begitu bersemangat.
__ADS_1
"Salah."
"Ayah tidak mungkin membawakan mainan ataupun boneka Barbie seperti yang kau katakan, apalagi kalau bukan kue coklat." Cetus Flo. "Apa aku benar Ayah?" tanyanya sambil melirik Alex.
"Tepat sekali, tapi bagaimana kau tahu kalau Ayah membawakan kue coklat?"
"Tercium dari aromanya." Jawab Fiona yang baru menyadari hal itu.
Alex menurunkan kedua putrinya itu dan memberikan dua paper bag masing-masing mendapatkan satu. "Di mana Ibu kalian?" tanyanya yang selingkuhan mencari keberadaan sang istri tercinta. Namun sudut matanya tak sengaja menangkap sosok seorang wanita yang tidak pernah di lihat sebelumnya, hanya mengabaikan hal itu dan lebih mementingkan keberadaan Layla yang tidak dia temukan.
"Mengapa Ayah selalu pergi terburu-buru tanpa mendengarkan jawaban dari kami?" ujar Fiona menghentikan langkah Alex yang menaiki tangga.
"Apa?" Alex segera menoleh ke sumber suara dengan kening berkerut.
"Jangan berpura-pura tidak mendengarnya, Ayah."
"Tanpa kalian katakan Ayah juga sudah tahu kalau ibu pasti ada di kamarnya atau tempat kedua yaitu dapur." Jawab Alex sombong seraya melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga.
Alex dengan penuh percaya diri membuka pintu kamar dan benar saja jika dirinya menemukan sesosok wanita cantik yang selalu menemani hari-harinya, mantan sekretaris dan juga wanita bayaran berhasil merebut hatinya dan juga cintanya. Berjalan menghampiri seraya melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang ramping itu mencium aroma tubuh yang begitu membuatnya candu hingga sekarang.
"Aku sangat mencintaimu." Bisik Alex.
"Aku juga mencintaimu, tumben hari ini kau tidak pulang terlambat." Layla berbalik badan, tersenyum dan mengaitkan kedua tangan di leher sang suami.
"Hanya demi dirimu dan juga kedua tuan putriku."
Sepasang suami istri kembali bersikap romantis tidak pernah di lekang oleh waktu, walau umur pernikahan mereka sudah menginjak lima tahun lebih, cinta yang semakin tumbuh dan mereka juga tak terpisahkan, menciptakan keharmonisan yang begitu membuat orang lain iri.
"Siapa wanita yang ada di ruang tamu?" tanya Alex penasaran, apalagi ini sudah malam dan tidak pernah mengenal orang itu mungkin saja itu adalah teman dari istrinya atau sepupu jauh.
"Aku juga tidak mengenalnya, dia baru sampai dari Paris."
"Tidak, tapi yang aku dengar dia adalah dia adalah putri dari paman John yang dari Paris."
"Lalu, apa yang dia lakukan di sini?"
"Mana aku tahu mengapa kau sangat penasaran dengannya? Apa kau sekarang lebih mencintai daun muda, begitu?" ketus Layla yang kehilangan mood untuk bersikap romantis saat sang suami malah membahas wanita lain.
Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tahu jika dirinya salah dalam berbicara, dengan inisiatifnya sendiri mencium bibir sang istri dengan begitu lembut memberikan kenyamanan dan juga sensasi yang berbeda, keduanya hanyut dalam kemantisan yang tiada tara yang selalu berujung pada adegan ranjang. Ciuman yang baru dimulai beberapa menit lalu, terpaksa dihentikan saat melihat dua gadis kecil ada di ambang pintu yang sialnya lupa dia kunci.
"Sial!" umpat Alex di dalam hati karena dirinya lupa bagian yang terlihat sepele namun sangat penting.
Kedua gadis kembar itu menatap kedua orang tuanya dengan tatapan polos tidak mengerti mengenai apapun. Alex segera memegang wajah istrinya, meniup mata berpura-pura jika dirinya sedang menolong sang istri yang kelilipan.
"Apa yang Ayah dan Ibu lakukan?" tanya Flo penasaran, sedangkan Fio hanya mencermati karena pertanyaannya telah diwakili.
"Mata ibu kalian kelilipan, jadi ayah mencoba untuk mengeluarkan debu pengganggu." Jawab Alex seraya menekan kedua pipi Layla hingga terlihat seperti mulut ikan.
"Oh, jadi begitu."
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Alex tersenyum kaku.
"Tidak ada, kakek John memanggil Ibu dan Ayah." Jawab Fio.
"Ya sudah, kalian pergilah dahulu nanti kami akan menyusul. Apa kuenya sudah habis?"
"Tidak, kuenya masih banyak dan menyisihkan untuk semua orang."
"Bagus."
Kedua gadis kecil itu segera berlari menuruni tangga mereka bermain kejar-kejaran dan tidak pernah diam, berteriak hingga terdengar seisi Mansion. Fiona dan Flora sangat aktif, mereka selalu melakukan apa yang mereka inginkan hingga membuat dan merepotkan orang lain seperti David dan juga John.
__ADS_1
"Twins F, jangan berlarian nanti kalian jatuh." David memijat kepalanya yang begitu pusing melihat tingkah kedua cicit kembarnya.
"Ini sangat menyenangkan Kakek buyut." Jawab Flora yang terus mengejar adiknya.
"Flo…Fio, bisakah kalian berhenti berlari? Jangan lakukan kebiasaan buruk jika ada tamu." Layla dan Alex menuruni tangga seraya menatap kedua anak mereka yang sulit diatur, dunia dan imajinasi dari kedua gadis kembar itu tak jauh berbeda dari anak laki-laki.
"Baik Bu." Jawab Flora dan Fiona yang langsung duduk di sofa menata tamu yang tidak mereka kenali.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Layla ikut duduk di sofa ndak bergabung sebagai sang pemilik dari tempat itu, tersenyum dengan begitu anggunnya ke arah tamu.
"Tidak masalah."
Seseorang yang paling ditunggu telah datang, kedua mata gadis yang tidak ada yang mengenalnya itu tersenyum bahagia saat melihat kedatangan John. Dia berlari seraya memeluk erat tubuh pria yang selalu dipanggil papa, ya dia adalah Clarissa yang datang tanpa menunggu jawaban dari John.
John diam tanpa berekspresi wajah dingin bagai tak tersentuh, dia bahkan tidak menyentuh kepala Clarissa maupun membalas pelukan itu, dia sangat jengkel jika gadis yang tengah memeluknya begitu keras kepala.
"Papa aku sangat merindukanmu, kenapa selama ini Papa tidak pernah menelponku atau mengunjungiku di Paris?" Clarissa menenggelamkan wajahnya di dada bidang John.
John alias Arden yang tengah menyamar itu sangat tidak rela jika gadis yang memanggilnya sebutan papa memeluknya dengan sangat erat, bahkan dirinya jarang sekali memeluk Alex yang notabene sebagai anak kandungnya sendiri.
"Kenapa kau datang tanpa mendengar persetujuan ku lebih dulu?" John alias Arden itu sangat tidak menyukainya, ada rasa yang mengganjal di hati apalagi mengingat sikap nenek dan kakek dari Clarissa yang selalu bisa mencari celah memanfaatkannya di saat dia memakai identitas John.
Andai dia tidak mengingat amanat dari asisten setianya itu, sudah pasti dia akan melupakan orang tua renta itu.
"Jangan marah Pa, aku sangat merindukanmu."
Semua orang hanya menatap interaksi antara John dan juga Clarissa, menjadikan keduanya pusat perhatian.
John menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan menatap semua orang sudah saling berhadapan, terpaksa dia harus bersandiwara agar misinya tetap berjalan, tapi dia memastikan jika itu tidak akan bertahan lama dan akan mengungkapkan kebenaran kepada semua orang mengenai dirinya dan juga identitas aslinya.
"Dia putriku satu-satunya, Clarissa." John memperkenalkan diri gadis itu kepada semua orang.
Clarissa tersenyum melihat keluarga harmonis yang ada di depannya terutama kepada Alex, ketampanan dari pria itu membuatnya sedikit tergoda dan bahkan menyukainya pada pandangan pertama.
"Mengapa pria tampan seperti Alex itu mempunyai istri yang terlihat gemuk dan juga tidak cantik, sangat disayangkan jika dirinya mendapatkan istri yang jauh dari ekspektasi." Pikir Clarissa yang tersenyum ke arah dia tampan di hadapannya dan memandang Layla dengan rendah.
Flora dan Fiona saling melirik satu sama lain, perhatian mereka kembali tertuju kepada Clarissa yang diam-diam mengagumi ayah mereka dan itu sangat mengganggu penglihatan.
"Kau lihat dia?" bisik Fiona.
"Ya, dia sepertinya menyukai ayah, dan lihat bagaimana ketika dia menatap ibu." Balas Flora yang juga berbisik.
Keduanya saling berpandangan beberapa detik kemudian tersenyum jahil, memikirkan sesuatu yang ada di otak kecil mereka untuk mengerjai Clarissa yang telah berani menatap ayah dan ibu mereka seperti itu.
Mereka berlari menuju dapur dan diam-diam masukkan obat pencuci perut ke dalam minuman yang akan ditujukan kepada Clarissa, tentu saja kecerdasan yang mereka miliki berguna disaat seperti itu.
"Eh, Nona Flo dan Nona Fio. Apa kalian butuh sesuatu?" tanya salah satu pelayan yang melihat kedua bocah itu ada di dapur.
"Hanya ingin mengambil susu." Jawab Flo dengan cepat, pelayan itu menganggukkan kepala seraya ber "oh" ria saja dan melihat kepergian dari bocah itu tanpa berprasangka buruk.
"Apakah ini akan berhasil? Aku sangat takut kalau sampai semua orang tahu terutama ayah dan ibu, alamat kita akan terkena masalah." Fiona bergidik ngeri saat dirinya membayangkan pelototan mata sang ibu ketika marah, tanpa mengeluarkan taring saja sudah membuat mereka takut, apalagi terjadi sebaliknya.
"Kau jangan mengatakan yang sejujurnya, ini untuk memberi pelajaran pada wanita itu berani sekali dia menatap ayah tampan kita seperti itu."
"Apa kau punya rencana mengenai CCTV?" Fio mengingatkan saudara kembarnya mengenai rekaman mereka yang pasti terlihat sangat jelas disana.
"Aku sudah memikirkan ini." Flora tersenyum lebar saat dirinya sudah lebih dulu merusak CCTV di dapur saat melihat kedatangan Clarissa dan sudah memikirkan rencana untuk mengerjai gadis malang itu.
"Jangan katakan kalau kau merusak CCTV nya."
"Yap, mau bagaimana lagi. Aku sudah cukup cerita dengan gadis itu apalagi saat dia melihat foto ayah yang terpajang di depan, aku sangat membenci senyumannya itu. Kita akan melihat bagaimana wanita itu bolak-balik ke kamar mandi." Ujar Flo dengan rencananya.
__ADS_1