Alex Sang Pewaris

Alex Sang Pewaris
Persaingan


__ADS_3

Semua orang akan iri dan ingin sekali menjadi Layla, tunangan Alex sang pewaris keluarga Anderson. Tapi fakta tak selamanya benar, hanya segelintir orang menyukai tanggapan itu. Pernikahan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini membuatnya tak bisa berkutik selain mematuhi perintah, semua berawal dari dirinya sendiri yang mencoba mengambil misi dan malah membuatnya terjebak dalam pertunangan yang sangat konyol. 


Layla meraih ponsel saat mendengar suara deringnya, mengangkat telepon setelah melihat nama di layar benda pipih di genggaman tangan. 


"Halo." 


"Maya, tumben kamu meneleponku?" 


"Aku terpaksa meneleponmu, ada yang memaksaku." 


"Siapa?" 


"Roy."


"Kenapa tidak langsung meneleponku? Apa dia sudah bangkrut dan telah menggadaikan ponsel mahalnya?"


"Mana aku tahu, kau tanyakan langsung padanya." 


Layla mengerutkan dahi tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, berusaha mendengarkan keluhan dari pria di seberang sana. 


"Halo. Kenapa kau memutus akses ku untuk menghubungiku?" 


Seketika Layla terdiam, dia tidak tahu menahu mengenai permasalahan itu. Dia menggaruk kepala yang tidak gatal, tak memahami perkataan Roy yang langsung menyerbunya dengan desakan pertanyaan. 


"Benarkah?" 


"Hem, apa kau benar tidak tahu?" 


"Tidak. Terakhir kali Alex melempar ponselku saat kedapatan berkirim pesan denganmu." 


"Ck, pasti dialah orangnya." 


Layla semakin tidak mengerti saat sambungan telepon terputus, mengangkat kedua bahunya dengan acuh seraya melanjutkan ritual mandi yang belum di mulainya. 


Di seberang sana, Roy menyerahkan ponseo kepada Maya dan berpamitan untuk pergi dari tempat itu. Dia sangat kesal jika pelaku yang memutuskan aksesnya menghubungi sang wanita pujaan adalah Alex Anderson, sang rival. 

__ADS_1


"Berani sekali dia melakukan hal ini, aku akan menyerangnya." Putus Roy yang sudah kehabisan kesabaran saat di permainkan Alex, pria yang merebut wanitanya. 


****


Diam-diam Alex melirik penampilan Layla yang sangat cantik, sangat berbeda saat melihatnya pertama kali menerobos kamar sang tunangan di pagi hari. Pemandangan yang menyejukkan mata, polesan make up natural membuat wajah itu cerah alami. 


"Apa lihat-lihat!" cetus Layla yang menyadari jika Alex memperhatikan dirinya, segera melihat penampilan di cermin kecil dan berpikir jika ada sesuatu yang terselip di gigi atau dandanannya berantakan.


"Kau terlihat cantik." Puji Alex seakan memahami isi hati Layla. 


"Sejak kapan tuan Alex Anderson pintar memuji?" 


"Itu alamiah keluar dengan sendirinya." 


"Ck, sangat kuno." 


Mobil terus melaju ke sebuah jalanan sepi, dimana hanya beberapa kendaraan saja yang lewat dan bisa dihitung jari. Keheningan segera di pecahkan oleh Layla yang memutuskan untuk memutar musik, membuat dirinya sedikit rileks. 


Sesampainya di kantor, Alex turun dari mobil dan dengan sengaja menggenggam tangan tunangannya di hadapan semua orang. Entahlah, dia sangat suka melakukan itu, apalagi terlihat kedatangan seseorang yang sangat tidak ingin dia temui. 


"Good morning, Baby." Roy menyapa Layla dengan mengedipkan sebelah matanya, dengan berani mendekat hendak memeluk wanita itu. 


Alex dengan sigap membentenginya, mencuri balas pelukan dari Roy menggunakan teknik kasar khas pria yang sudah menjadi rival. "Pagi juga, Baby." Balasnya sembari melepaskan pelukan, mencubit kedua pipi pria tampan di hadapannya dengan gemas. 


"Aku hanya ingin menyapa Lala, bukan kau!" Roy sangat kesal namun menahannya. 


"Menyapanya berarti kau menyapaku juga, tapi apa yang kau lakukan di pagi ini datang ke kantorku? Aku rasa kita tidak memiliki temu janji." Alex melirik jam, memberitahu Roy datang di waktu yang salah. 


"Aku ingin–."


"Sebaiknya kau kembali ke habitatmu." Alex menyela perkataan Roy yang belum selesai, mendorong tubuh pria itu agar keluar dari kantornya. 


Roy menatap Layla dengan sendu dan sedih, hatinya begitu sakit melihat kebersamaan wanitanya dengan pria lain. Tatapan tajam juga menyirat sesuatu, dan hanya satu orang paham jika dirinya segera membuat perhitungan. 


"Gawat." Batin Layla yang sangat cemas, tahu kalau Roy pasti menghabisi Alex dengan sangat mudah, menatap pria yang bersikap aneh. "Pria yang malang, sebentar lagi dia akan mati." 

__ADS_1


"Kenapa kau melihatku seperti ini?" tanya Alex penasaran. 


"Sedang melihat masa depanmu." 


"Aku tidak mengerti." Alex mengerutkan dahi. 


"Sudahlah, hal semacam ini sudah pasti jauh dari jangkauan otakmu." Jawab Layla seraya berlalu pergi keluar dari kantor, berlari menemui Roy. "Jangan mengikutiku atau aku tidak akan berbicara padamu lagi!" kecam nya seraya menunjuk wajah Alex agar tidak mengikutinya. 


"Tapi aku__."


"Sudahlah, biarkan ini menjadi urusanku." Layla berlari meninggalkan Alex, mengejar Roy yang hendak masuk ke dalam mobil mewah. "Tunggu!" pekiknya seraya mengatur nafas. 


Roy menyunggingkan senyuman lebar, berjalan mendekati sang mantan kekasih dengan sumringah, merentangkan kedua tangan ingin sekali memeluk tubuh ramping karena sangat merindukannya. 


"Eits." Layla menunjukkan kelima jari sebagai tanda bahwa penghalang, menatap Roy yang sudah seperti anak kecil merindukan orang tuanya. "Jangan pernah berpikir untuk memelukku." 


"Jika tak ingin aku peluk, lalu mengapa kau datang menemuiku?" Roy menaikkan sebelah alisnya seraya menggaruk pelipis yang tidak gatal. 


"Aku tahu apa yang ada di otakmu, jangan mentang-mentang kau itu pimpinan mafia dan mencoba untuk menyakiti Alex. Berhentilah mengejarku mulai saat ini dan jalani kehidupanmu anggap kita tidak pernah saling mengenal." 


Spontan Roy meraih kedua tangan lentik di hadapannya, sepasang mata yang takut kehilangan. "Jangan pernah mengatakan itu, aku sangat mencintaimu dan aku masih kekasihmu." 


"Hentikan semua ini Roy, kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Terserah mau kau terima ataupun tidak, jangan pernah mengusik kehidupan dan jalani masing-masing."


"Apa kau mencintai Alex?" tanya Roy untuk meyakinkan hatinya, Layla terdiam tidak tahu mau menjawab apa, sejujurnya dia tidak ingin pernikahan konyol itu terjadi. "Heh, aku sangat tergila-gila padamu dan selalu membunuh pria yang mencoba untuk mendekatimu, Sayang."


"Itu yang aku takutkan, jangan melakukan tindakan nekat mu demi obsesi yang hanyalah ilusi belaka. Jangan pernah kau sakiti Alex demi egomu itu." 


Roy mengeraskan rahang seraya menggerakkan gigi, sangat kesal mendengar pernyataan Layla melindungi Alex yang menjadi sasaran targetnya. "Dia harus mati." 


"Jangan mencoba lakukan itu." Tentang Layla. 


"Kau hanya milikku Sayang, tidak akan aku biarkan pria lain masuk menggantikan aku di hatimu." Roy membingkai wajah Layla, berusaha tetap tenang namun hatinya sangatlah gelisah. 


"Jika kau melakukan itu? Selamanya kau tidak akan pernah melihatku lagi." Layla menepis kedua tangan kekar yang berada di pipinya, berlalu pergi meninggalkan Roy yang berputus asa, ultimatum yang diberikannya begitu menusuk penuh ancaman. 

__ADS_1


"Tapi aku tidak akan rela jika Alex menikah denganmu." Lirih Roy dengan raut wajah menyedihkan, rasa kecewa, sedih, ketidakberdayaan bercampur menjadi satu.


__ADS_2